Korek api itu melayang turun, berputar pelan seolah mengejek gravitasi. Waktu rasanya melambat. Aku bisa melihat nyala api kecil di ujung kayu itu, satu titik oranye yang membawa kematian. Mataku terpaku pada jatuhnya, sementara otakku berteriak panik.
Jangan sampai. Jangan sampai.
Tapi doa tidak berlaku di neraka ini.
Korek itu mendarat tepat di atas genangan bensin yang mengilap di lantai beton di bawah kami.
Bum!
Udara meledak. Suara sambaran api terdengar seperti raungan binatang buas yang kelaparan. Gelombang panas menghantam telapak kakiku seketika, menjalar naik, menggigit kulit betis meski terbalut celana panjang. Asap hitam pekat langsung membumbung, mencekik sisa oksigen yang kami miliki.
"Matilah kalian! Mati bersama cinta suci kalian!" Tawa Erwin menggema di atas sana, terdengar gila dan pecah, bersaing dengan gemuruh api.
"Adri!" teriakku, suaraku parau ditelan asap.
Tidak ada jawaban. Adrian masih terkulai di sisiku, kepalanya jatuh di bahuku. Tubuhnya yang besar dan berat sepenuhnya bergantung pada cengkeraman tangan kanannya yang kaku di pipa, dan lenganku yang memeluk pinggangnya sekuat tenaga. Panas dari pipa logam di atas mulai merambat ke telapak tanganku, membakar kulit, tapi aku tidak berani melonggarkan pegangan barang satu milimeter pun.
Jika aku melepasnya, kami jatuh ke dalam lautan api itu. Jika aku bertahan, kami akan terpanggang perlahan.
"Bangun, Adri! Kumohon, bangun!" Aku mengguncang tubuhnya, tapi ia hanya mengerang lirih. Darah dari pelipisnya menetes ke pipiku, hangat dan lengket, bercampur dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhku.
Pipa di atas kami berderit panjang, suara logam yang meregang melampaui batas toleransinya. Krieeet...
Jantungku serasa berhenti. Pipa ini tidak akan bertahan lama. Panas api di bawah mulai melunakkan strukturnya. Kami harus bergerak. Sekarang.
Mataku menyapu sekeliling dengan liar, mencari celah di antara asap hitam. Dinding kaca di lantai 24. Itu satu-satunya jalan. Kaca itu sudah retak akibat benturan kami sebelumnya. Di baliknya ada lantai beton yang belum jadi, dingin, keras, tapi aman dari api. Jaraknya hanya sekitar dua meter dari posisi kami menggantung.
Tapi bagaimana caranya? Adrian pingsan. Aku tidak bisa mengayunkan beban dua orang sendirian tanpa momentum.
"Adrian Mahardika!" bentakku tepat di telinganya, menyalurkan semua rasa takutku menjadi kemarahan. "Kau berjanji akan melindungiku! Kau bilang kau tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhku! Buktikan, brengsek! BANGUN!!!"
Kelopak matanya bergerak sedikit. Sedikit saja, tapi itu cukup memberiku harapan.
"Rini..." Suaranya terdengar seperti gesekan kertas pasir. Lemah. Hancur.
"Dengar aku, Sayang. Dengar aku baik-baik," isakku, air mata menguap sebelum sempat menetes ke dagu karena panasnya udara. "Kita harus lompat. Kita harus menabrak kaca itu lagi. Aku butuh kamu. Aku butuh tenagamu."
Di atas sana, Erwin kembali muncul di tepi lantai yang runtuh. Wajahnya merah padam diterpa cahaya api, hidungnya yang patah mengeluarkan darah segar. Ia memegang sisa jeriken bensin.
"Masih belum cukup hangat?" serunya. Ia mengangkat jeriken itu, bersiap menuangkan sisanya langsung ke arah kami.
"Sekarang, Adri! Sekarang atau kita mati!" jeritku.
Adrenalin sepertinya menembus kabut di otak Adrian. Ia tidak menjawab, tapi aku merasakan otot lengan kanannya menegang. Cengkeramannya pada pipa menguat. Ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap kaca retak di depan kami dengan mata yang nyaris tertutup bengkak.
"Satu..." bisikku, mulai mengayunkan kakiku sekuat tenaga, mencoba menciptakan momentum.
Tubuh kami berayun pelan. Terlalu pelan.
"Dua..."
Erwin memiringkan jerikennya. Cairan bening meluncur turun.
"Tiga! Hantam, Adri!"
Kami berayun maju. Di detik terakhir, Adrian meraung—suara yang lahir dari rasa sakit murni—dan menyentakkan tubuhnya ke arah dinding kaca.
Tubuh kami melayang di udara sesaat, meninggalkan pegangan pipa yang panas.
PRANG!!!
Dunia meledak menjadi serpihan kristal tajam.
Kami menembus kaca tebal itu. Bahuku menghantam lantai beton dengan keras, diikuti tubuh Adrian yang menimpaku. Rasa sakit meledak di sekujur tubuh, membuat pandanganku gelap sesaat. Kami berguling di atas debu semen dan pecahan kaca, menjauh dari tepi gedung.
Napas kami memburu, satu-satunya suara di ruangan kosong itu selain gemuruh api di luar.
Aku terbatuk hebat, memuntahkan asap dari paru-paru. Rasa perih menyengat di pipi dan lengan, luka gores akibat kaca. Tapi kami hidup. Kami berada di lantai 24.
"Adri?" Aku merangkak mendekatinya.
Adrian telentang di lantai, napasnya terdengar berat dan basah. Jas mahalnya sudah tidak berbentuk, robek di sana-sini, hangus di beberapa bagian. Wajah tampan yang biasanya dingin dan sempurna itu kini babak belur, penuh darah dan debu.
"Adri, kamu dengar aku?" Tanganku gemetar saat menyentuh pipinya. Kulitnya panas membara.
Matanya terbuka perlahan, menatapku. Tidak ada lagi tatapan tajam yang mengintimidasi. Yang ada hanya kelelahan yang amat sangat, dan... ketakutan?
"Kamu... terluka?" tanyanya lirih. Tangannya yang gemetar terangkat, mencoba menyentuh wajahku, tapi jatuh lagi sebelum sampai.
"Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawabku cepat, menggenggam tangannya. Jari-jarinya kasar dan kotor, tapi genggamannya masih terasa familiar. "Kita selamat, Adri. Kita berhasil."
Ia menggeleng lemah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miris. "Belum... Rini. Belum."
KRAK!!!
Suara retakan besar terdengar dari langit-langit di atas kami—lantai 25 tempat Erwin berdiri. Bongkahan beton seukuran kepalan tangan jatuh hanya beberapa sentimeter dari kaki Adrian, diikuti hujan debu dan percikan api.
Struktur bangunan ini gagal. Kebakaran di atas sana melemahkan tulangan baja. Lantai di atas kami bisa runtuh kapan saja dan mengubur kami hidup-hidup.
Aku mendongak, menatap lubang menganga di langit-langit tempat kami tadi bergelantungan. Di sela-sela kobaran api dan asap, aku melihat siluet Erwin. Ia tidak jatuh. Ia justru sedang menuruni sisa-sisa struktur besi yang bengkok, merambat turun menuju lantai kami seperti laba-laba gila.
"Dia turun," bisikku, horor mencekik leherku.
Adrian mencoba bangun, bertumpu pada sikunya, tapi wajahnya memucat dan ia kembali ambruk sambil memegangi rusuknya. "Argh..."
"Jangan bergerak," tahanku panik. "Tulang rusukmu..."
"Rini..." Adrian mencengkeram pergelangan tanganku. Matanya menatapku intens, mendesak. "Tinggalkan aku."
"Apa?"
"Lari," perintahnya, suaranya tegas meski lemah. "Cari tangga darurat. Turun. Bawa bukti itu ke polisi."
"Kau gila," tolakku mentah-mentah. "Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Lihat aku!" bentaknya, lalu terbatuk darah. "Aku tidak bisa jalan, Rini. Kakiku... aku tidak bisa merasakannya. Aku cuma akan jadi beban. Erwin mengincar nyawaku, bukan kamu. Kalau kamu lari sekarang, dia akan sibuk menghabisiku dan kamu punya waktu untuk selamat."
Aku tertegun. Bukan karena kata-katanya, tapi karena kesadaran yang menghantamku. Pria ini, CEO arogan yang dulu menganggapku tak lebih dari aset bisnis, sedang mencoba mengorbankan nyawanya untukku. Dia, Adrian Mahardika, yang selalu logis dan penuh perhitungan, membuang semua kalkulasi demi menyelamatkanku.
Air mataku menetes, jatuh ke wajahnya yang kotor. "Kau pikir aku peduli soal nyawaku kalau kau mati?"
"Rini, tolong..." Suaranya pecah. "Aku tidak bisa melihatmu mati. Tidak lagi. Cukup Sarah... jangan kamu."
"Diam," potongku. Aku menghapus air mata dengan kasar. Rasa takutku lenyap, digantikan oleh tekad baja yang dingin. Aku Arini Putri. Aku sudah bertahan dari kemiskinan, dari penghinaan, dari fitnah satu negara. Aku tidak akan kalah oleh satu orang psikopat dan gedung runtuh.
Aku bangkit berdiri, melihat sekeliling. Mataku menangkap sebuah batang besi scaffolding yang tergeletak di pojok ruangan, sisa konstruksi yang ditinggalkan.
Aku berjalan mengambil besi itu. Berat, dingin, dan mematikan.
"Rini, apa yang kau lakukan?" panggil Adrian lemah.
Aku kembali padanya, berlutut, dan menyelipkan lenganku di bawah ketiaknya. "Kita keluar dari sini bersama, Adrian. Atau kita mati bersama. Tidak ada opsi ketiga."
Aku menariknya sekuat tenaga. Adrian mengerang kesakitan, tapi ia memaksakan kakinya untuk bergerak, membantuku menyeret tubuhnya.
"Kau keras kepala," desisnya di telingaku, napasnya panas di leherku.
"Kau baru tahu?" balasku.
Kami baru menyeret langkah sejauh lima meter menuju pintu keluar ruangan ketika bayangan panjang jatuh di depan kami.
Aku mendongak.
Erwin berdiri di ambang pintu, menghalangi satu-satunya jalan keluar. Pakaiannya hangus, rambutnya terbakar sebagian, dan wajahnya berlumuran darah. Di tangannya, ia memegang sebuah balok kayu yang ujungnya membara.
Ia tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya yang kosong.
"Reuni keluarga yang mengharukan," katanya serak. "Sayang sekali harus berakhir di sini."
Aku mengeratkan peganganku pada batang besi di tanganku. Di sampingku, Adrian menegakkan tubuhnya, bertumpu sepenuhnya padaku, tapi tatapannya kembali tajam, siap membunuh.
Ini bukan lagi soal bisnis. Ini bukan lagi soal kontrak. Ini adalah pertarungan terakhir.