Romansa #Adult romance

Pulang Apartemen

25 January 2026

Pagi itu udara desa masih sejuk ketika Arema sudah bersiap dengan tas selempang kecil di bahunya. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tanpa banyak riasan.

Ia berdiri di ruang tengah, menatap kedua orang tuanya yang sedang duduk di kursi kayu panjang.

"Yah, Bun, aku pulang apartemen sekarang ya, biar bisa nyiapin buat besok," ucapnya pelan.

Salma yang sedang melipat baju menoleh. "Cepet amat, Ma? Nggak nunggu siang sekalian?"

Arema tersenyum tipis. "Nanti kemaleman, Bun. Aku juga mau istirahat, besok kan mulai kerja lagi."

Wawan mengangguk. "Ya sudah, hati-hati di jalan. Sampai sana langsung kabarin ayah sama bunda."

"Iya, Yah." Arema mengangguk.

Salma bangkit mendekat, merapikan kerah baju putrinya seperti saat Arema masih sekolah dulu. "Jangan telat makan. Jangan kebanyakan mikir juga."

Arema menahan senyum haru. "Iya, Bun."

Setelah berpamitan, ia melangkah keluar rumah. Jalanan desa masih lengang. Beberapa tetangga menyapu halaman, anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki. Semua terlihat sama, tapi hidup Arema sudah sangat berbeda.

Di perjalanan menuju kota, ia duduk di dalam ojek online sambil menatap jalanan yang berganti dari sawah ke deretan ruko dan gedung.

Pikirannya melayang ke pertemuannya dengan Leo semalam. Cara Leo menatapnya tulus, tanpa menghakimi, tanpa menuntut.

Tapi justru itu yang membuat Arema takut. Ia belum siap menjawab pertanyaan Leo kemarin sore, dan membuka lagi cerita tentang Rino. Luka itu memang sudah tidak berdarah deras, tapi masih perih kalau disentuh.

Sore harinya, benar saja, Leo datang ke rumah Arema. Ia berdiri di depan pagar kayu yang sudah sedikit miring, mengenakan kaos abu-abu dan celana hitam. Rambutnya masih sedikit basah, mungkin habis mandi.

"Assalamu’alaikum," panggilnya sopan.

Salma keluar dari dalam rumah. "Wa’alaikum salam. Lho, Nak Leo, ya? Lama sekali nggak kelihatan."

Leo tersenyum ramah. "Iya, Tante. Baru pulang dari luar negeri."

"Wah, kalau gitu ayo masuk dulu, Nak." Salma tersenyum.

Leo masuk dan duduk di kursi ruang tamu yang sederhana tapi bersih. Wawan yang baru saja keluar dari kamar ikut bergabung.

"Kerja di mana sekarang?" tanya Wawan.

"Belum ada kerjaan tetap, Om. Masih nyari-nyari. Kemarin di Taiwan kerja di pabrik besi."

"Wah hebat," puji Salma tulus.

Leo mengangguk kecil, lalu bertanya hati-hati, "Arema ada, Tante?"

Salma tersenyum. "Duh, kamu telat, Nak Leo. Arema baru saja pergi. Dia sekarang punya apartemen sendiri dan ...."

"Iya, Arema udah cerita kok. Kemarin kita ketemu di taman," potong Leo cepat, takut Salma kebablasan menceritakan hal-hal yang mungkin tidak ingin Arema ceritakan.

"Oh gitu ya. Ya ampun, dunia sempit banget," kata Salma.

"Ya wajar sih, Bun. Kan rumah Leo dekat sama kita, dan dia juga temen kecil Rema." Wawan menimpali.

"Iya juga, ya." Salma membenarkan.

Mereka mengobrol sebentar lagi sebelum Leo pamit.

"Kalau ketemu Arema lagi, bilang aku titip salam ya, Tante," ucap Leo.

"Iya, Nak Leo," angguk Salma.

Leo berjalan pulang menyusuri jalan desa. Matahari sudah condong ke barat, bayangannya memanjang di aspal.

"Rema punya apartemen, kerja di perusahaan besar,” batinnya. "Hebat banget dia. Bisa berubah total nasibnya."

Ada rasa bangga, tapi juga rasa kecil yang menyelinap di hatinya. Dulu mereka sama-sama anak kampung biasa. Sekarang, Arema seolah sudah melesat jauh.

"Tapi dia tetap Rema yang dulu," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri.

**

Sementara itu, Arema sudah sampai di apartemennya. Ia membuka pintu, masuk, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tengah.

"Huft ...."

Langit-langit putih apartemen itu terasa dingin dan sepi. Tidak ada suara piring dari dapur, tidak ada televisi menyala, tidak ada suara ibunya memanggil.

Sepi yang dulu ia inginkan, sekarang justru terasa menekan.

"Aku pulang sekarang buat ngindarin pertanyaan Leo," batinnya.

Ia memejamkan mata, menghela napas panjang. Leo pasti akan tanya. Dan kalau sudah ditanya, ia pasti akan cerita. Dan kalau sudah cerita, luka-luka itu akan terbuka lagi.

"Aku lagi males curhat. Mungkin besok lagi kalau aku pulang baru aku cerita. Sekarang belum siap."

Arema bangkit perlahan, melepas sepatu, lalu berjalan ke dapur kecil. Ia menuang air putih dan meminumnya dalam sekali teguk.

Bayangan Rino, undangan pernikahan, pesan dari Vheronika … semua masih segar di ingatannya.

"Kenapa sih hidupku muternya ke situ-situ lagi," gumamnya pelan.

Ponselnya bergetar di atas meja. Arema menoleh cepat. Jantungnya refleks berdegup lebih kencang, takut kalau-kalau itu pesan dari nomor tak dikenal lagi.

Tapi kali ini nama yang muncul membuatnya sedikit terdiam.

Pesan singkat dari Leo masuk. "Udah sampai apartemen, Ma?"

Arema menatap layar beberapa detik. Hatinya hangat, tapi juga ragu. "Kok dia tau nomerku? Jangan-jangan dia udah ke rumah tadi, dan minta nomerku sama bunda atau ayah," tebaknya.

Ia mengetik pelan. "Udah. Makasih ya kemarin udah nemenin ngobrol."

Balasan datang cepat. "Santai. Kapan-kapan ngobrol lagi. Hati-hati dan istirahat ya."

Arema tersenyum tipis. Tidak ada rayuan. Tidak ada tekanan. Hanya perhatian sederhana. Ia meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit lagi.

Di satu sisi, masa lalunya masih mencoba menariknya kembali, Rino, Vheronika, luka lama. Di sisi lain, pelan-pelan, hidup baru seperti mengetuk pintu lewat orang-orang yang tidak ia duga.

Arema memejamkan mata. "Pelan-pelan aja, Rema," bisiknya pada diri sendiri. "Nggak semua harus kamu hadapi hari ini."

Di luar jendela apartemen, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, sementara di dalam, hati Arema masih belajar menata ulang serpihan yang belum sepenuhnya utuh.

**

Malam semakin larut ketika Arema akhirnya mematikan televisi yang sejak tadi hanya menyala tanpa benar-benar ia tonton.

Cahaya layar yang tadi memenuhi ruang tamu lenyap, menyisakan apartemen yang hening dan sedikit redup, hanya diterangi lampu sudut ruangan.

Ia menghela napas panjang, lalu mengambil laptop dari meja. Beberapa file tugas sudah menunggu. Dengan wajah lelah tapi tekad yang masih tersisa, Arema mulai membuka dokumen laporan yang harus dikirim besok pagi.

Meskipun masih tahap pembelajaran, namun Arema mengerjakannya dengan teliti.

Suara ketikan pelan memenuhi ruangan. Sesekali ia berhenti, memijat pelipisnya yang terasa berat. Pikirannya masih mudah melayang ke rumah, ke ibunya, ke Leo. Dan tanpa diundang, ke Rino.

Arema menggeleng kecil, memaksa fokus kembali ke layar. "Ayo, Rem. Kerja dulu, mikirnya nanti," gumamnya pelan.

Hampir satu jam berlalu sebelum akhirnya ia menutup laptop. Tubuhnya terasa remuk, tapi setidaknya tugas pembelajaran sudah beres.

Ia berjalan ke kamar, mengganti pakaian dengan piyama sederhana, lalu merebahkan tubuh di atas kasur empuk.

Lampu kamar dimatikan, hanya menyisakan cahaya temaram dari luar jendela. Arema memeluk bantal, menatap langit-langit sebentar.

Sepi, tapi malam ini tidak terlalu menyakitkan. Perlahan, matanya terpejam, membawa segala lelah dan luka masuk ke dalam tidur yang semoga lebih ramah dari kenyataan.