"Ini adalah pertarungan terakhir."
Kalimat itu menggantung di udara, bercampur dengan asap hitam yang menyesakkan dada. Panas di lantai 24 ini bukan lagi sekadar hawa; ia adalah makhluk hidup yang menjilat kulit, membuat keringat dan darah di tubuhku mengering menjadi kerak yang perih.
Di depanku, Erwin berdiri dengan senyum miring yang mengerikan. Wajahnya yang merah terpanggang api tampak seperti topeng setan. Di tangannya, balok kayu yang ujungnya membara itu terayun pelan, memercikkan bunga api ke lantai beton yang retak.
"Manis sekali," suara Erwin terdengar serak, seperti gesekan kertas pasir. Ia melangkah maju, santai, seolah kami tidak sedang berdiri di dalam gedung yang siap runtuh kapan saja. "Romeo dan Juliet versi panggang. Aku harus akui, Arini, loyalitasmu mengagumkan. Bodoh, tapi mengagumkan."
Aku mempererat cengkeramanku pada batang besi scaffolding yang kutemukan. Besi itu berat, dingin, dan kasar di telapak tanganku yang gemetar. Tapi rasa takut yang tadi sempat melumpuhkanku kini telah memadat menjadi sesuatu yang dingin dan tajam di ulu hati.
"Jangan mendekat," desisku. Suaraku tidak bergetar. Aku terkejut mendengarnya sendiri.
Di belakangku, aku bisa mendengar napas Adrian yang berat dan basah. Suara itu, bunyi udara yang berjuang masuk ke paru-paru yang mungkin terluka, adalah satu-satunya hal yang menjagaku tetap waras.
"Rini..." Adrian mengerang lirih. Tangannya mencengkeram pergelangan kakiku, lemah namun menuntut. "Pergi... biarkan aku..."
"Diam, Adri," potongku tajam tanpa menoleh. Mataku terkunci pada gerakan kaki Erwin. "Aku tidak akan ke mana-mana."
Erwin tertawa. Tawa itu pendek, gila, dan bergema di dinding beton yang telanjang. "Kalian berdua benar-benar membuatku mual."
Tiba-tiba, ia menerjang.
Tidak ada peringatan. Erwin mengayunkan balok berapi itu ke arah kepalaku. Refleksku mengambil alih. Aku mengangkat batang besi, menangkis hantaman itu.
Brak!
Benturan kayu dan besi mengirimkan getaran menyakitkan hingga ke bahuku. Percikan api dan abu panas menyembur ke wajahku. Aku terhuyung mundur, nyaris menginjak tangan Adrian. Erwin jauh lebih kuat dariku. Tenaganya didorong oleh kegilaan murni.
"Kau pikir kau bisa menang?" Erwin menekan balok kayunya, memaksaku menekuk lutut. Panas dari kayu yang terbakar itu menyengat pipiku. "Kau cuma arsitek, Arini! Kau cuma tahu menggambar garis, bukan bertahan hidup!"
Aku menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk mendorongnya. "Dan kau cuma bayangan, Erwin! Seumur hidupmu, kau cuma bayangan Adrian!"
Kata-kata itu mengenai sasaran. Mata Erwin melebar, pupilnya mengecil oleh amarah. Ia menarik senjatanya dan menendang perutku.
"Argh!"
Udara di paru-paruku terkuras paksa. Aku terlempar ke belakang, punggungku menghantam pilar beton. Batang besi di tanganku terlepas, berdenting menjauh di lantai yang miring. Rasa sakit meledak di rusukku, membuat pandanganku berkunang-kunang.
"RINI!" teriak Adrian.
Suara Adrian terdengar pecah, penuh keputusasaan. Aku mencoba menarik napas, tapi rasanya seperti menghirup pisau silet.
Erwin tidak memberiku waktu. Ia tidak mengejarku. Ia berbalik ke arah Adrian.
Adrian mencoba bangkit. Dengan wajah pucat pasi dan darah yang masih mengalir dari pelipisnya, ia menyeret tubuhnya. Kakinya yang mati rasa tidak bisa menopang berat badannya, tapi matanya... mata itu menyala dengan kebencian yang begitu pekat hingga rasanya bisa membakar Erwin hidup-hidup.
"Jangan... sentuh... dia," geram Adrian, setiap kata disertai batuk darah.
Erwin berdiri di atas Adrian, menatap adiknya dengan jijik. "Lihat dirimu, Tuan CEO Mahardika Group. Merangkak seperti cacing. Di mana arogansimu sekarang? Di mana 'logika di atas emosi' yang selalu kau banggakan?"
Erwin mengangkat kakinya dan menginjak dada Adrian.
Adrian mengerang tertahan, wajahnya meringis menahan sakit yang pasti luar biasa di rusuknya yang patah.
"HENTIKAN!" jeritku. Aku mengabaikan rasa sakit di perutku, merangkak maju untuk menggapai batang besiku lagi.
"Kau tahu, Adrian," kata Erwin santai, sambil menekan tumitnya lebih keras ke dada Adrian. "Aku sebenarnya tidak ingin membunuhmu secepat ini. Aku ingin kau melihat kehancuranmu dulu. Tapi, gedung ini sepertinya tidak setuju."
Langit-langit di atas kami bergemuruh. Suara retakan beton terdengar seperti ledakan meriam. Debu dan kerikil berjatuhan. Struktur bangunan ini sudah mencapai batasnya.
"Sampaikan salamku pada Sarah," bisik Erwin, mengangkat balok kayu yang membara tinggi-tinggi, siap menghunjamkannya ke kepala Adrian.
Waktu seolah membeku.
Aku melihat mata Adrian. Tidak ada ketakutan di sana. Ia menatapku. Hanya aku. Tatapan yang penuh dengan permintaan maaf, cinta, dan perpisahan. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk satu kata: Lari.
Tidak.
Aku tidak akan lari. Aku tidak akan menjadi orang yang ditinggalkan lagi. Aku bukan korban. Aku adalah istri Adrian Mahardika, dan aku akan melindunginya, bahkan jika itu harus menukar nyawaku.
Adrenalin membanjiri pembuluh darahku, menghapus rasa sakit, menghapus rasa takut. Aku menyambar batang besi di dekatku dan melompat. Bukan ke arah Erwin, tapi ke arah kaki Adrian yang diinjaknya.
Aku mengayunkan besi itu sekuat tenaga ke tulang kering Erwin.
Krak!
"AAARGHH!"
Erwin melolong. Kakinya terlipat. Keseimbangannya goyah. Balok berapi di tangannya terlepas, jatuh menggelinding menjauh. Ia ambruk ke samping, memegangi kakinya.
Aku tidak berhenti. Aku menjatuhkan diri di atas tubuh Adrian, memeluknya, menjadi perisai hidup di antara suamiku dan monster itu.
"Bangun, Adri! Kita harus bergerak!" bisikku panik di telinganya.
Adrian terbatuk, tangannya yang gemetar terangkat menyentuh pipiku. Darah dan abu menodai wajahnya, tapi sentuhannya lembut. "Kamu... bodoh... kenapa tidak lari..."
"Karena aku mencintaimu, bodoh!" bentakku, air mata akhirnya lolos membasahi pipi yang kotor oleh jelaga. "Sekarang bantu aku!"
Erwin sedang berusaha bangkit di belakang kami. Wajahnya kini bukan lagi manusia; ia adalah binatang buas yang terluka. Ia meraung, meraih puing beton sebesar kepalan tangan dan melemparkannya ke arah kami.
Batu itu menghantam bahuku. Aku meringis, tapi tidak melepaskan pelukanku pada Adrian. Aku mencoba menarik Adrian mundur, menyeretnya menjauh dari jangkauan Erwin, menuju celah tangga darurat yang kulihat sekilas tadi.
Tapi Erwin lebih cepat. Meski terpincang-pincang, ia menerjang kami, menubrukku hingga kami bertiga berguling di lantai yang penuh debu.
Duniaku berputar. Langit-langit, api, wajah Adrian, wajah Erwin, semuanya berbaur menjadi satu pusaran kekacauan.
Kami berhenti berguling tepat di tepi lantai yang runtuh. Di bawah sana, lubang menganga memperlihatkan neraka api di lantai 23. Hawa panasnya langsung menyambar wajahku.
Erwin berada di atasku, tangannya mencekik leherku. Matanya melotot, pembuluh darah di dahinya menonjol.
"MATI KAU! MATI!" teriaknya, meludahi wajahku.
Cengkeramannya begitu kuat. Napasku terputus. Titik-titik hitam mulai menari di pandanganku. Tanganku mencakar wajahnya, mencoba melepaskan diri, tapi tenagaku kalah jauh.
Tiba-tiba, Erwin tersentak. Cengkeramannya melonggar.
Adrian.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, Adrian telah melingkarkan lengannya di leher Erwin dari belakang, menariknya, mencekiknya dengan sikunya.
"Lepaskan... istriku..." geram Adrian tepat di telinga Erwin.
Erwin meronta, menyikut rusuk Adrian yang cedera. Adrian memuntahkan darah segar ke bahu Erwin, tapi ia tidak melepaskan kunciannya. Ia mengunci Erwin dengan keputusasaan seorang pria yang tidak punya apa-apa lagi selain wanita yang dicintainya.
"Rini... lari..." perintah Adrian, suaranya basah dan gurgling.
"TIDAK!" Aku terbatuk, menghirup udara rakus. Aku melihat besi scaffolding itu lagi. Tergeletak hanya satu meter dariku.
Aku merangkak, meraihnya.
Erwin berhasil melepaskan satu tangannya dan mencakar mata Adrian. Adrian berteriak kesakitan, kunciannya goyah. Erwin menyentakkan kepalanya ke belakang, menghantam hidung Adrian.
Adrian terhuyung, pegangannya terlepas. Ia jatuh telentang di tepi jurang api.
Erwin berbalik, napasnya memburu, darah mengucur dari hidungnya yang patah lagi. Ia melihat Adrian yang tidak berdaya di tepi lantai yang rapuh. Senyum kemenangan yang mengerikan kembali terukir di bibirnya.
Ia mengangkat kakinya untuk menendang Adrian jatuh ke dalam lautan api di bawah sana.
"MAMPUS KAU!!!"
"JANGAN!!!"
Aku berteriak, bangkit berdiri, dan menusukkan batang besi di tanganku lurus ke depan seperti tombak.
Besi itu menghantam dada Erwin tepat saat ia hendak menendang. Bukan tusukan yang mematikan, tapi cukup keras untuk mendorongnya mundur.
Mundur ke arah lantai yang retak parah.
Mata Erwin membelalak. Ia kehilangan keseimbangan. Kakinya menginjak bagian beton yang sudah rapuh oleh api.
KRAK!
Lantai di bawah kaki Erwin runtuh.
Ia tidak sempat berteriak. Tubuhnya meluncur ke bawah, ditelan oleh asap dan api di lantai 23. Hanya suara debuman berat yang terdengar sesaat kemudian, lalu hening.
Aku berdiri mematung, napasku tersengal-sengal, menatap lubang tempat Erwin menghilang.
Sudah berakhir?
Tiba-tiba, suara gemuruh yang jauh lebih besar terdengar dari atas. Bukan retakan kecil. Ini suara struktur utama yang menyerah.
Aku mendongak. Balok beton raksasa dari langit-langit lantai 25 sedang meluncur jatuh, tepat ke arah tempat Adrian terbaring.
"ADRIAN!"
Aku melempar tubuhku ke arahnya, tidak peduli pada sakit, tidak peduli pada api. Aku memeluknya, melindunginya dengan tubuhku sendiri, tepat saat dunia di sekitar kami runtuh dalam kegelapan.