Romansa #CEO #Romansa CEO

Detak di Balik Debu

Penulis djoedo
25 January 2026

Dunia tidak berakhir dengan ledakan. Ia berakhir dengan keheningan.

Kesenyapan yang berat, pekat, dan menekan gendang telinga hingga rasanya ingin pecah.

Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak lantai dua puluh empat runtuh. Satu menit? Satu jam? Waktu kehilangan maknanya di sini, di dalam peti mati beton yang kami ciptakan sendiri.

Debu tebal menyumbat hidungku, memaksa paru-paru bekerja dua kali lebih keras hanya untuk menarik oksigen yang berbau gosong dan karat. Rasa sakit di punggungku bukan lagi sekadar denyutan; itu adalah jeritan konstan saraf-saraf yang terjepit. Ada beban berat, mungkin sisa balok scaffolding atau pecahan dinding, yang menindih bahuku, mengunci posisiku dalam keadaan membungkuk.

Tapi aku tidak boleh bergerak. Tidak boleh roboh.

Karena tepat di bawah kungkungan tubuhku, ada Adrian.

"Adri..."

Suaraku keluar seperti parutan kasar. Kering, serak, nyaris tak terdengar.

Tidak ada jawaban.

Kepanikan dingin mulai merayap di sela-sela rasa sakitku. Tanganku yang gemetar meraba dalam kegelapan buta ini. Ujung jariku menyentuh kain jasnya yang robek, lalu kulit yang basah dan lengket. Darah. Terlalu banyak darah.

"Adrian, tolong..." bisikku lagi, kali ini disertai isak tertahan yang menyakitkan rusukku yang memar. "Jangan diam saja."

Aku mendekatkan telinga ke dadanya. Di antara suara gemuruh reruntuhan yang masih berjatuhan di kejauhan dan desis uap panas pipa yang pecah, aku mencarinya. Tanda kehidupan itu.

Deg... deg...

Lemah. Tidak teratur. Tapi ada.

Jantungnya masih berjuang.

Air mata merebak, panas dan perih saat bercampur dengan debu di wajahku. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih."

Tiba-tiba, tubuh di bawahku tersentak. Sebuah batuk basah dan mengerikan meledak dari bibir Adrian, membuatnya terkejang kesakitan.

"Argh..." Erangan itu terdengar seperti kaca pecah di tenggorokanku.

"Sstt, aku di sini. Aku di sini, Sayang," ujarku cepat, mengusap pipinya yang terasa dingin di satu sisi tapi panas membara di sisi lain.

"Rini?" Napasnya berbunyi seperti orang yang tengah kumur-kumur, seperti ada cairan yang menghalangi jalan napasnya. Tangannya bergerak lemah, mencengkeram lengan atasku dengan sisa tenaga yang menyedihkan. "Lari..."

"Tidak," potongku tegas, meski air mataku kini menetes jatuh ke wajahnya. "Tidak ada yang lari. Kita keluar sama-sama."

"Berat..." Adrian terengah. Ia mencoba menggeser tubuhnya, tapi teriakan tertahan kembali lolos dari bibirnya. Kakinya. Pasti kakinya tertimpa sesuatu yang besar. "Kamu... tertimpa... pergi, Rini. Tinggalkan aku."

"Diam!" bentakku, lalu suaraku melembut, pecah oleh tangis. "Diam, Adrian Mahardika. Kau tidak boleh menyuruhku pergi. Kau suamiku. Kau sudah janji akan melunasi utangku, kan? Kontrak kita belum selesai!"

Aku menggunakan alasan bodoh itu. Alasan bisnis yang dulu menjadi tembok di antara kami, kini menjadi satu-satunya tali yang kulemparkan agar ia tetap sadar. Agar ia tetap marah, atau kesal, atau apapun, asal tidak mati.

Adrian tertawa pelan, tapi tawa itu berubah menjadi batuk darah lagi. "Kontrak..." gumamnya lirih. Jemarinya meraba wajahku dalam gelap, menyusuri garis rahangku, lalu berhenti di bibirku. Sentuhannya gemetar. "Bodoh. Harusnya... aku robek kontrak itu... sejak di Bali."

Hatiku mencelos. Di tengah himpitan beton yang siap meremukkan kami kapan saja, kejujuran itu menghantam lebih keras daripada pukulan Erwin.

"Kita akan merobeknya nanti," janjiku, menahan beban di punggungku yang semakin terasa menyiksa. Otot-ototku mulai bergetar hebat karena kelelahan. "Saat kita keluar dari sini, kita robek kertas sialan itu. Kita buat yang baru. Tanpa tanggal kedaluwarsa."

"Rini..."

"Bertahanlah, Adri. Kumohon."

Suasana kembali hening, tapi kali ini lebih mencekam. Udara di saku kecil tempat kami berlindung semakin tipis. Panas dari kebakaran di lantai bawah mulai merembes masuk lewat celah-celah reruntuhan, membawa asap hitam yang menyesakkan.

Kepalaku mulai pening. Oksigen menipis.

Adrian tampaknya menyadari posisiku. Ia merasakan ketegangan di otot bahuku yang melindunginya.

"Kamu... menahan... betonnya?" tanyanya, suaranya berubah panik. Ia mencoba mendorongku ke samping. "Minggir! Arini, minggir! Kau bisa mati!"

"Kalau aku minggir, kau yang mati!" Aku menahan dorongannya yang lemah. "Berhenti bergerak, Adrian! Kau membuat lukamu makin parah!"

"Biar aku saja..." Napasnya memburu, putus-putus. "Aku sudah rusak, Rini. Sarah... dia sudah tidak ada. Kakek punya Erwin. Tapi kau... kau punya masa depan. Kau arsitek hebat... kau harus bangun gedung impianmu..."

"Gedung impianku tidak ada artinya kalau kau tidak ada di dalamnya!" teriakku, mengabaikan rasa sakit yang merobek dadaku.

Pengakuan itu menggantung di udara yang penuh debu.

Aku tidak pernah mengatakannya sejelas itu. Tidak pernah mengakuinya bahkan pada diriku sendiri. Tapi di sini, di ambang kematian, ego tidak lagi punya tempat.

Tangan Adrian lemas, jatuh kembali ke sisinya. Ia tidak lagi mencoba mendorongku. Tenaganya habis.

"Maaf," bisiknya, suaranya mulai memudar, seperti radio yang kehilangan sinyal. "Maafkan aku... untuk semuanya. Untuk sikap dinginku... untuk..."

"Sstt. Simpan maafmu," potongku, mencondongkan wajah hingga kening kami bersentuhan. Keringat dan darah kami bercampur. "Jangan tidur, Adri. Dengar aku. Jangan tidur."

"Capek, Sayang..."

Panggilan itu. Sayang. Tanpa nada sarkasme, tanpa sandiwara di depan kamera. Murni.

Rasa takut yang sesungguhnya menghantamku. Bukan takut mati, tapi takut ditinggalkan sendiri dalam kegelapan ini.

"Adri, buka matamu! Pikirkan Kakek. Pikirkan Reza. Pikirkan... pikirkan aku masakin nasi goreng nanti malam. Adri!"

Hening.

Hanya suara gemeretak beton di atas kami yang terdengar, seperti raksasa yang sedang mengunyah tulang.

"Adrian!" Aku mengguncang bahunya pelan.

Tidak ada respons. Napasnya masih ada, tapi sangat dangkal. Cepat dan tipis.

"Tuhan, tolong..." Aku memeluk kepalanya, membenamkan wajahku di ceruk lehernya yang berbau asap dan darah. "Jangan ambil dia. Ambil apa saja, asal jangan dia."

Kesadaranku sendiri mulai timbul tenggelam. Hitam di sekelilingku mulai berbintik-bintik putih. Paru-paruku terasa seperti terbakar. Apakah ini rasanya mati lemas? Rasanya lebih damai dari yang kubayangkan. Hanya... mengantuk.

Aku bisa saja membiarkan diriku terlelap. Menyusul Adrian ke mana pun pikirannya pergi.

Tapi kemudian, aku mendengarnya.

Bukan suara malaikat. Bukan suara terompet surga.

Tuk... Tuk... Tuk...

Suara logam beradu dengan beton. Berirama. Tiga kali ketukan, jeda, tiga kali ketukan.

Itu bukan suara reruntuhan alami. Itu kode.

Adrenalin terakhir membanjiri darahku, memaksa mataku terbuka lebar. Aku mencoba berteriak, tapi suaraku hilang. Tenggorokanku terlalu kering.

Aku meraba-raba sekitarku, mencari apa saja. Tanganku menyentuh potongan besi scaffolding yang tadi kugunakan untuk memukul Erwin.

Dengan sisa tenaga yang kukurup dari sumsum tulangku, aku memukulkan besi itu ke sisa pilar beton di sampingku.

Tang... Tang... Tang...

Hening sejenak.

Lalu, balasan itu datang. Lebih keras. Lebih dekat.

TUK! TUK! TUK!

"Di sini!" seru sebuah suara samar dari balik tumpukan puing di atas kami. Suara yang sangat ku kenal. Suara yang biasanya tenang dan penuh wibawa, kini terdengar panik dan histeris.

"PAK ADRIAN! BU ARINI!"

Itu Reza.

Harapan itu menyakitkan. Harapan membuatku sadar betapa sakitnya tubuhku.

"Reza..." panggilku, tapi hanya cicitan yang keluar.

Aku kembali memukul pilar besi itu. Sekali. Dua kali.

"SAYA DENGAR! ARAH JAM DUA! GALI! CEPAT GALI!" Teriakan Reza terdengar seperti perintah perang.

Suara mesin bor dan bongkahan batu yang dipindahkan mulai terdengar. Getarannya merontokkan debu dari langit-langit sempit kami, membuatku terbatuk lagi.

Aku menunduk menatap Adrian dalam kegelapan.

"Dengar itu, Adri?" bisikku di telinganya. "Bantuan datang. Reza datang. Kamu harus bangun. Kamu harus memarahi dia karena terlambat, kan? Ayo, bangunlah..."

Adrian tidak bergerak. Napasnya semakin jarang. Jeda antar tarikan napasnya semakin panjang hingga membuat jantungku berhenti setiap kali menunggunya.

"Adri?"

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Tidak ada napas.

Duniaku berhenti berputar.

"Tidak... tidak, tidak, tidak!" Aku menekan dadanya, mengabaikan rasa sakit di rusukku sendiri. Aku tidak tahu cara melakukan CPR dengan benar dalam posisi terjepit seperti ini, tapi aku tidak peduli.

"Napas, Adrian! NAPAS!"

Aku memukul dadanya. Sekali.

Tidak ada reaksi.

"KUMOHON!"

Pukulan kedua.

Tiba-tiba, Adrian tersentak hebat. Ia menarik napas panjang yang terdengar mengerikan, seperti orang tenggelam yang baru mencapai permukaan air. Tubuhnya mengejang, lalu lemas kembali. Tapi dadanya naik turun. Cepat. Memburu.

"Bagus... begitu... terus bernapas..." Aku menangis lega, tubuhku ambruk di atasnya karena kehabisan tenaga.

Di atas kami, cahaya senter menyelinap masuk lewat celah kecil, menyilaukan mata yang sudah terbiasa dengan kegelapan.

"Saya melihat tangan! Hati-hati dengan balok penyangganya!"

Cahaya itu jatuh tepat di wajah Adrian. Wajah yang biasanya angkuh dan sempurna itu kini hancur. Hidungnya patah, darah mengering di pelipis, dan kulitnya pucat pasi seperti mayat.

Tapi bagiku, dia tidak pernah terlihat seindah ini.

"Kami di sini..." bisikku, sebelum kegelapan yang sesungguhnya datang menjemputku. Bukan kematian, tapi batas tubuhku yang akhirnya menyerah.

Hal terakhir yang kuingat adalah tangan seseorang menarikku, dan teriakanku yang memohon agar mereka menyelamatkan Adrian lebih dulu.