BAB 3 : Kesepakatan
“Apa?!” Ziva sedikit terkejut dengan perintah Erlando yang sangat konyol.
“Maaf, Pak. Apa tidak membuang waktu? Kopinya bisa dingin, nanti.” Ziva pun memberi usul. Secara tak langsung ia sudah menolak perintah Erlando.
“Bukannya itu adalah kesepakatan kita? Kamu menuruti apa saja yang saya perintahkan.” Kalimat itu begitu tegas di telinga Ziva.
Ini bukan perkara kopi yang akan dingin saja, tetapi minuman itu bisa tumpah apabila Ziva naik dari lantai dua ke lantai enam. Lagi pula, betis Ziva akan membesar setelah mematuhi perkataan Erlando untuk tidak menggunakan lift.
“Kenapa masih diam saja? Pergi sana!” Laki-laki itu mengibaskan tangan, mengusir supaya Ziva lenyap dari ruangannya.
Gadis malang itu buru-buru lari dan menuju tangga darurat. Sementara di dalam sana, Erlando tertawa puas. Ia bisa membayangkan bagaimana susahnya membawa segelas kopi dari lantai satu menuju ruangannya.
Perlahan-lahan Ziva menuruni anak tangga itu. Saat berada di lantai tiga, kehadirannya tertangkap oleh Reynald yang sama-sama berada di sana. Ia memanggil Ziva dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangan.
“Ziva, kamu kenapa pakai tangga ini? Kan, ada lift.” Raut bingung tak bisa Reynald sembunyikan.
“Saya disuruh Pak Erlando membuatkan segelas kopi, tetapi harus melintasi tangga darurat, Pak.” Ziva menjawab dengan jujur dengan mimik wajah sedikit ditekuk.
Reynald begitu kaget. Ziva si Office girl paling rajin ini pasti akan semakin kelelahan, kalau disiksa oleh Erlando. Dia mencium bau-bau yang tidak beres.
“Kamu sudah bertemu CEO kita?”
“Iya. Semua ini supaya aku diberi ruang maaf dan tetap bisa bekerja.” Jawab Ziva sedikit lesu.
Laki-laki itu jadi bingung sendiri. Untuk membela Ziva dihadapan Erlando, ia sendiri merasa takut. Setelah berpikir selama beberapa waktu, akhirnya Reynald membebaskan Ziva untuk melanjutkan aktivitasnya.
Reynald pun berlari menemui Willy dan Gio yang sempat berbicara dengannya di lantai empat sebelum kejadian ini. Ia memberitahu pada dua pria itu tentang perlakuan Erlando, lalu memohon agar Ziva diberi keringanan. Hanya Willy dan Gio sebagai orang terdekat sang CEO yang bisa melakukannya.
Permintaan Reynald langsung mendapat respon positif dari Willy. Ia heboh sendiri dan menarik lengan Gio untuk menemui Erlando. Awalnya, sepupunya itu menolak, karena merasa bahwa ini bukanlah urusan mereka, tetapi Willy terus memaksanya hingga Gio pun mengikuti.
Dua pria itu sukses mendaratkan tubuh di ruangan Erlando. Gio memilih untuk duduk di sebelah Willy tanpa berbicara sepatah kata pun.
“Erlando, apa benar kamu sudah menyuruh Ziva untuk membuatkan kopi dan tidak boleh menggunakan lift?” Willy tak ingin berbasa-basi dengan sepupunya itu. Willy sangat paham dengan sifat Erlando yang terkadang suka kekanak-kanakan.
‘Ziva? Oh, jadi wanita itu bernama Ziva,’ batin Erlando.
“Kamu datang ke sini hanya untuk mempertanyakan itu, Wil? Kupikir ada hal yang jauh lebih penting dan menarik.” Ucap Erlando yang kurang menyukai pertanyaan sepupunya itu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan yang masuk adalah sosok Ziva. Willy menghentikan kalimatnya demi fokus memandang raut wajah Ziva yang ayu. Sejak pertama bertemu dengannya, ada getaran hati yang tak mampu Willy sembunyikan.
“Silakan diminum, Pak.” Ziva meletakkan sebuah gelas berisikan kopi di meja Erlando, lalu menunggunya di sana.
Erlando menyeruput kopi yang ternyata amat enak itu. Namun, demi memberi pelajaran pada Ziva, dia sampai rela membohongi keadaan. Erlando meludah ke lantai, menciptakan drama seolah-olah kopi itu sangat pahit.
“Kamu sengaja mengerjai saya, ya? Kopi ini kopi terburuk yang pernah ada,” cercanya.
“Tapi, Pak-”
“Akh! Kamu memang enggak becus jadi Office girl. Keputusan saya untuk memecatmu sudah bulat. Sekarang, silakan angkat kaki dari sini!”
Sekujur tubuh Ziva menegang. Padahal kopi itu sudah dia buat dengan sehati-hati mungkin. Kantung mata Ziva hampir menjatuhkan rintik air mata, andai tidak ada yang membelanya saat ini.
“Erlando, tolong beri kesempatan untuk Ziva. Dia ini Office girl paling rajin di Maxwell Group. Kamu boleh cek sendiri, jika tidak percaya.” Pinta Willy yang tidak suka dengan keputusan Erlando.
Sempat terjadi perdebatan antara Willy dan Erlando. Dengan segala usaha dan cara, akhirnya Willy pun berhasil merasuki pikiran sepupunya agar mengurungkan niat untuk memecat Ziva dengan syarat, kalau kesempatan ini adalah kesempatan yang terakhir kali.
Ziva bersyukur atas semua ini. Ia berjanji akan bekerja lebih giat dan tak akan mengulang perbuatan. Setelah itu, Erlando meminta agar dia keluar ruangan. Namun, bukan berarti Erlando tidak mempertanyakan sikap Willy yang terus-menerus membela Office girl tersebut.
Ziva sangat beruntung karena selamat dari pemecatan berkat Willy. Pria itu membantu Ziva dan menjelaskan pada Erlando untuk memberikan kesempatan pada pekerjanya. Mengingat kinerja Ziva yang baik dan rajin, akhirnya niat Erlando pun tidak berlanjut.
Berbeda dengan Gio dan Erlando, Willy memperlihatkan wajah kagumnya pada Ziva. Layaknya pria normal, Willy tampak tertarik dengan Ziva sejak pandangan pertama.
“Kenapa kamu membantunya? Bukankah dia hanya seorang pekerja kebersihan?” Erlando terlihat kesal karena niatnya terhalang.
“Aku dengar, dia pekerja yang rajin. Tanpa orang seperti dia, mungkin kantormu ini akan menjadi tempat kumuh,” ujar Willy membela Ziva.
“Cih! Apa-apaan itu? Kamu menunjukkan ketertarikan padanya. Aku bisa melihat dari sorot matamu, Will.”
“Apa? Hm, daripada sebuah kata suka, aku lebih memilih kata kagum dengan usahanya. Kamu tahu, di dunia kerja saat ini sulit untuk mendapatkan pekerja seperti dia. Sangat jarang terjadi, dan kantor ini beruntung.”
Gio hanya bisa menahan tawa mendengar perdebatan kedua sepupunya itu. Ketiganya mengakhiri pembahasan tentang Ziva dan kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.
Sementara itu di ruangan Manager IT, seorang pria memanggil Ziva untuk beberapa pertanyaan, lebih tepatnya ingin tahu mengenai apa yang Ziva inginkan. Pria itu bernama Reynald, Manager IT Maxwell Grup pria bertubuh tinggi dan tampak otot-otot kekarnya bersembunyi di balik kemeja dan jas hitam yang dikenakan. Reynald memiliki tinggi 180 centimeter, dengan wajah tampan yang sering menjadi buah bibir para karyawan wanita di sana.
Reynald mengutarakan keinginannya untuk membantu Ziva. Namun, dia tidak menyangka jika keinginan itu sungguh besar dan mengagumkan. Tidak banyak gadis seperti Ziva di dunia ini, pekerja keras dan memiliki mimpi yang begitu tinggi.
Ziva tengah duduk di sofa yang ada di ruangan Reynald. Sudah lima menit berlalu, tetapi belum ada percakapan penting di antara keduanya. Hingga Reynald meletakkan laporan dan berkas di mejanya, tubuhnya bergerak mendekati Ziva, lalu duduk di seberangnya.
“A-apa Pak Reynald memanggil saya untuk membahas masalah pagi ini? Saya sungguh tidak sengaja menabraknya.”
Reynald tersenyum melihat wajah takut Ziva. Pagi ini memang sedikit sial untuknya, selain takut terlambat datang, dia justru menabrak CEO Maxwell Grup hingga hampir saja dipecat.
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Reynald sedikit tersenyum kecil.
“Lalu … untuk apa Pak Reynald memanggil saya kemari?”