Cahaya putih itu menyakitkan. Menusuk kelopak mata, memaksaku kembali ke dunia yang bising dan berbau tajam. Bukan bau asap atau amis darah, melainkan aroma antiseptik yang steril dan dingin.
"Arini?"
Suara itu datang dari kejauhan, menembus dengungan di telingaku. Aku mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit ruangan yang berputar pelan. Rasa sakit langsung menyergap, bukan di satu titik, tapi di sekujur tubuh. Rusukku terasa seperti diikat kawat berduri setiap kali aku menarik napas.
"Arini, kamu bisa dengar aku?"
Wajah Santi muncul di atas pandanganku. Matanya bengkak, riasan wajahnya luntur berantakan. Ia menangis.
"San..." Suaraku terdengar asing. Parau, pecah, dan lemah. Tenggorokanku kering kerontang, seolah masih dipenuhi debu beton dari lantai 24.
Ingatan itu menghantamku seperti palu godam. Runtuhan. Gelap. Sesak napas. Tangan Adrian yang dingin.
"Adrian!" Aku tersentak bangun, mengabaikan jeritan protes dari otot-otot punggungku. Rasa pusing langsung menghajar kepala, membuatku terhuyung kembali ke bantal. "Di mana Adrian? Dia... dia tadi tidak bernapas... aku..."
"Tenang, Rin! Ya Tuhan, jangan bergerak dulu!" Santi menahan bahuku dengan lembut tapi tegas.
Pintu ruangan terbuka. Reza masuk. Penampilannya hampir sama kacaunya denganku. Lengan kirinya digendong penyangga, kemeja putihnya yang biasa rapi kini kusut dan bernoda debu. Ada plester besar di pelipisnya.
"Pak Reza," panggilku mendesak. Aku tidak peduli pada infus yang menancap di punggung tanganku. "Di mana dia? Katakan dia selamat. Jangan diam saja!"
Reza mendekat ke sisi ranjang. Ekspresinya sulit dibaca, campuran antara kelegaan dan kelelahan yang amat sangat. "Bapak selamat, Bu Arini."
Oksigen seolah baru kembali mengalir ke paru-paruku. Aku merosot lemas, air mata lolos begitu saja dari sudut mata. Selamat. Dia hidup.
"Tapi kondisinya kritis," lanjut Reza, suaranya merendah. Kalimat itu membekukan darahku lagi. "Tulang rusuknya patah menusuk paru-paru, ada pendarahan internal, dan gegar otak berat. Tim dokter baru saja menyelesaikan operasi kedua satu jam yang lalu. Sekarang beliau ada di ICU."
"Aku mau melihatnya." Aku menyingkap selimut, menurunkan kaki ke lantai dingin.
"Rini, gila ya lo!" pekik Santi, menahan lenganku. "Lo juga baru sadar! Dokter bilang lo butuh istirahat total, ada retak di tulang belikat lo!"
"Minggir, San." Aku menepis tangannya, mungkin agak terlalu kasar. "Suamiku sedang sekarat di ruangan lain. Kalau kau pikir aku akan diam saja di sini menunggu kabar, kamu salah besar."
Aku mencoba berdiri, tapi lututku goyah. Reza dengan sigap menangkap lenganku sebelum aku ambruk ke lantai.
"Saya siapkan kursi roda, Bu," kata Reza tenang, mengabaikan protes Santi. Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat rasa hormat yang tulus di mata asisten setia Adrian itu. "Bapak pasti juga ingin Ibu ada di sana."
Lorong menuju ICU terasa sangat panjang, seolah tanpa ujung. Bunyi roda kursi di lantai vinil yang sunyi terdengar seperti hitungan mundur. Reza mendorongku pelan, sementara Santi berjalan di samping dengan wajah cemberut namun tetap memegang tiang infusku.
"Erwin?" tanyaku pelan, memecah keheningan.
Reza menghela napas panjang. "Tim SAR menemukannya di lantai dasar, tertimpa struktur utama gedung. Dia tidak selamat, Bu."
Aku memejamkan mata. Tidak ada rasa kemenangan. Hanya rasa lelah yang luar biasa dan duka untuk sebuah keluarga yang hancur karena ambisi. Adrian kehilangan satu-satunya saudara yang tersisa, meskipun dia mencoba membunuhnya.
"Kakek Darmawan?"
"Sudah dihubungi. Beliau sedang dalam perjalanan dari Singapura bersama Ayah Ibu. Kondisi Ayah Ibu stabil."
Kami berhenti di depan sebuah pintu kaca besar.
"Hanya satu orang yang boleh masuk," kata perawat yang berjaga di meja stasiun, menatap kami dengan tegas.
Reza mengangguk padaku. "Silakan, Bu."
Aku menegakkan punggung, mengumpulkan sisa tenaga yang kumiliki. Dengan perlahan, aku berdiri dari kursi roda, menolak bantuan Reza. Aku ingin berjalan menemuinya dengan kakiku sendiri. Aku ingin dia tahu aku kuat, bahwa aku ada di sini untuk menopangnya, sama seperti dia menopangku di reruntuhan itu.
Langkahku tertatih, setiap gerakan mengirim sinyal nyeri ke otak, tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit melihat pemandangan di balik kaca.
Adrian Mahardika. Pria yang biasanya berdiri tegak dengan setelan jas custom-made seharga mobil, pria yang tatapannya bisa membuat direktur perusahaan lain gemetar, kini terbaring tak berdaya di antara belitan kabel dan selang.
Bunyi ventilator mendominasi ruangan. Hiss... klik... hiss...
Suara itu mengerikan, tapi juga suara terindah di dunia. Itu suara napasnya.
Aku mendekat, menyentuh pinggiran tempat tidur logam itu. Wajahnya pucat pasi, hampir sewarna dengan seprai. Ada perban membalut kepalanya, dan lebam ungu menghiasi sekitar mata kirinya. Namun, fitur wajahnya yang tegas masih terlihat jelas. Hidung mancung yang sering kucubit dalam imajinasiku, rahang kokoh yang sering mengeras saat dia marah.
"Hai," bisikku. Suaraku pecah.
Tanganku gemetar saat meraih jemarinya yang tergeletak lemas di sisi tubuh. Kulitnya dingin, tapi ada kehangatan samar di sana. Kehidupan.
"Kamu curang," kataku lagi, air mata mulai menetes membasahi punggung tangannya. "Kamu bilang kita partner bisnis. Dalam bisnis, tidak ada yang boleh berkorban nyawa untuk partnernya, Adrian. Itu melanggar aturan untung-rugi."
Tidak ada jawaban. Hanya grafik monitor jantung yang bergerak naik turun dengan stabil.
Aku menempelkan pipiku ke telapak tangannya. Mengingat kembali momen di kegelapan itu. Saat dia mendorongku menjauh dari reruntuhan. Saat dia memberikan napas terakhirnya untuk menenangkanku.
"Kamu dengar aku kan, Tuan CEO yang sombong?" isakku. "Kamu harus bangun. Kamu belum melunasi janjimu. Kamu bilang akan membebaskanku setelah satu tahun. Ini baru enam bulan. Kamu tidak boleh pergi sebelum kontrak selesai."
Aku tersedak tangisku sendiri. "Dan kamu belum dengar jawabanku. Waktu di sana... waktu kamu bilang..."
Sayang.
Kata itu terngiang di kepalaku. Bukan dengan nada sarkastik atau sandiwara di depan kamera. Tapi tulus. Putus asa.
"Aku mencintaimu, Adri," bisikku, menumpahkan pengakuan yang selama ini tertahan di balik tembok gengsi dan lembaran kontrak. "Bukan karena uangmu, bukan karena kamu menyelamatkan ayahku. Aku mencintaimu karena kamu... kamu adalah kamu."
Aku mengecup punggung tangannya, membiarkan air mataku mengalir deras. Rasa lelah akhirnya menang. Aku meletakkan kepalaku di sisi lengannya, mendengarkan irama mesin yang menjaga jantungnya tetap berdetak.
Waktu seolah berhenti. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di sana, hanya ditemani bunyi mesin dan doaku yang tak putus-putus.
Tiba-tiba, aku merasakan gerakan kecil.
Sangat halus. Hampir tidak terasa.
Jari telunjuknya berkedut di bawah pipiku.
Aku tersentak, mengangkat kepala. Jantungku berpacu liar. Mataku terpaku pada wajahnya. "Adri?"
Kelopak matanya bergerak-gerak. Berjuang melawan beratnya obat bius dan trauma. Perlahan, sangat perlahan, matanya terbuka sedikit. Tatapan itu tidak tajam seperti biasa, melainkan kabur dan unfokus.
"Rini..." Suaranya bukan suara. Hanya hembusan napas yang membentuk nama.
"Aku di sini," kataku cepat, menggenggam tangannya lebih erat. "Aku di sini, Sayang. Jangan banyak bergerak."
Matanya mencoba mencari fokus, lalu akhirnya terkunci pada wajahku. Sudut bibirnya berkedut, mencoba membentuk senyum yang sangat tipis, nyaris tak terlihat.
"Kamu... berisik," bisiknya, sangat lemah, hampir tak terdengar di antara desis ventilator.
Aku tertawa di sela tangis. Bahkan di ambang kematian, dia masih sempat-sempatnya mengeluh. "Biarin. Biar kamu bangun."
"Sakit..."
"Aku panggil dokter..." Aku hendak beranjak, panik.
Tapi jari-jarinya menahan tanganku. Lemah, tapi menahan.
"Jangan," cegahnya dengan susah payah. Matanya menatapku lekat, kali ini dengan intensitas yang membuat napas tercekat. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Dinding es itu... sudah tidak ada.
"Kontraknya..." ucapnya lagi, terputus-putus. Napasnya memberat, membuat alarm di monitor berbunyi bip lebih cepat.
"Ssst, jangan pikirkan kontrak dulu," potongku, mengusap keningnya yang diperban. "Kita bahas nanti kalau kamu sudah sembuh."
"Tidak," bantahnya keras kepala, meski suaranya hanya serak basah. Ia memaksakan diri menatap mataku. "Kontraknya... batal."
Jantungku berhenti sedetik. Batal? Apa maksudnya? Dia ingin mengakhiri semuanya sekarang? Karena aku hampir membuatnya mati? Karena dia menyesal?
"Adri..."
"Aku tidak bisa..." Dia menarik napas panjang yang menyakitkan, matanya mulai meredup lagi karena kelelahan. "...melanjutkan sandiwara ini lagi."
Sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya, pintu ICU terbuka kasar. Dua dokter dan tiga perawat berhamburan masuk.
"Bu, tolong minggir! Detak jantung pasien tidak stabil!" teriak salah satu dokter.
Grafik di monitor yang tadinya teratur kini melompat-lompat kacau. Bunyi alarm yang melengking memenuhi ruangan, menenggelamkan suaraku.
"Adrian!"
Reza menarikku mundur saat para medis mengerumuni tempat tidur, menghalangi pandanganku dari Adrian yang kini memejamkan mata erat, wajahnya menyiratkan kesakitan yang luar biasa. Kalimat terakhirnya menggantung di udara, ambigu dan menakutkan.
Batal. Tidak bisa melanjutkan sandiwara.
Apakah itu akhir dari kami, atau awal dari sesuatu yang lain?
Pandanganku menggelap seiring tubuhku ditarik paksa keluar dari ruangan, meninggalkan Adrian yang sedang bertaruh nyawa sekali lagi.