Komedi #Romance #Comedy

Perawan Mahal sang Penggoda - Husbank bukan Husband - bab 32

25 January 2026

Queen bersiap dengan tenang. Dress pink dusty membalut tubuhnya pas, sederhana tapi manis. Seperti biasa mau diapakan pun Queen tetap cantik. “Aku siap,” ucapnya sambil keluar dari kamar mandi. Gar menoleh. Pandangannya berhenti di Queen lebih lama dari yang ia sadari. Selalu begitu. Selalu kagum. “Oke,” katanya akhirnya. “Ayo.” “Tunggu dulu.” Queen menahannya. Gar berhenti. “Kenapa?” Queen melirik dari ujung rambut Gar sampai ke sepatunya. “Kamu nggak mau ganti baju? Masa ke kontrakanku pakai jas segala.” Gar menunduk melihat dirinya sendiri. Rambut rapi, jas pas di badan. Tampan pdan dia tahu itu. “Apa salahnya?” katanya santai. “Aku tampan begini.” Queen mendecak pelan. “Ck. Terseraah deh.” Gar tersenyum tipis lalu membukakan pintu. Queen meraih tas dan ponselnya sebelum ikut keluar. Di dalam lift, hanya ada mereka bertiga Gar, Queen, dan Deko. “Kamu kan punya motor.” ucap Gar tiba-tiba. “Kenapa nggak pakai motor aja?” Queen langsung mengangkat tangan dan lengannya, memamerkan kulitnya yang cerah. “Nanti aku hitam kalau naik motor.” Gar menoleh, heran. “Bukannya kamu bilang motor itu kendaraan satu-satunya kamu?” Queen mendengus kecil. “Jaketku ada di kontrakan. Kalau pakai dress begini terus naik motor, rokku bisa ketiup angin. Belum lagi gosong.” Ia melirik Gar sekilas. “Emang boleh aku pakai motor?” “Tentu boleh,” jawab Gar ringan. “Tapi bareng aku.” Queen langsung menatapnya, ragu tanpa disembunyikan. “Kamu bisa bawa motor?” Gar merasa harga dirinya tersentil. “Bisa lah,” jawabnya cepat. “Ya kali aku nggak bisa.” Queen tak langsung percaya. Ia malah melirik Deko yang sejak tadi diam. Tatapannya seolah meminta konfirmasi. “Kau masih nggak percaya?” tanya Gar, menangkap ekspresi itu. Queen mengangkat bahu. “Soalnya dari kemarin yang nyetir mobil aja Deko.” Gar menghela napas, sedikit geram. Ia menoleh ke Queen, suaranya kini lebih pelan tapi penuh penekanan. “Nurlela, dengar aku,” katanya. “Deko itu bekerja untukku. Jadi wajar kalau dia yang mengemudi. Itu tugasnya.” Queen terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Iya, iya,” jawabnya singkat. Di dalam mobil menuju kontrakan, Queen sibuk dengan ponsel barunya. Layar itu seolah lebih menarik dari apa pun. Kamera depan terbuka, jari-jarinya lincah. Ceklak. Ceklik. Queen memotret dirinya sendiri dari berbagai sudut, sesekali mengerling, sesekali tersenyum kecil. Sementara itu, Gar berpura-pura menatap layar ponselnya sendiri. Padahal sudut matanya diam-diam melirik Queen tanpa ia sadari, sudah lebih sering dari yang seharusnya. “Kalau begitu terus,” ujar Gar akhirnya, seolah santai, “memorinya bakal cepat penuh.” Queen tak menoleh. “Ya biarin aja penuh.” Ia masih sibuk selfie. “Nanti beli HP baru lagi.” Gar mengangkat alis. “Segampang itu?” Queen akhirnya menoleh, senyum centil terbit di bibirnya. “Kan di sampingku ada husbank.” Jantung Gar terasa seperti meloncat sekali. “Husbank?” ulangnya, berpura-pura tidak paham. Dari kursi depan, Deko yang sedang menyetir refleks menahan senyum. Queen memiringkan kepala. “Iya.” Gar berdeham kecil. “Beng-beng? Maksudnya aku beng-beng?” Queen langsung menatapnya kesal. “Ih, apasih.” Ia mendekat sedikit. “Bukan itu.” “Husband itu suami,” lanjut Queen menjelaskan. “Kalau kamu husbank.” Ia tersenyum di ujung kalimatnya. “Kamu itu bank aku. Cowok yang kasih aku uang.” “Oh,” ucap Gar pendek. Queen kembali fokus ke ponselnya. “Iya.” Lalu, tanpa rasa sungkan, ia menoleh lagi. “Jadi, kasih aku uang lah.” Gar menatapnya. “Sekarang?” “Iya,” jawab Queen ringan. “Uang hari ini. Hari kedua. Seratus juta.” Tatapan Queen terlalu polos untuk disebut menuntut, tapi terlalu berani untuk diabaikan. Gar menelan ludah pelan. Ada rasa aneh di dadanya bukan marah, bukan kesal. Lebih ke sesuatu yang mengusik dan membuatnya kehilangan kendali kecil atas dirinya sendiri. “Oke,” katanya akhirnya. “Aku transfer.” Queen tersenyum puas, lalu kembali menatap layar ponselnya seolah baru saja menjatuhkan satu bom kecil ke hati seseorang tanpa menyadarinya.

Queen berseru senang saat notifikasi masuk di ponsel lamanya. Senyum lebarnya muncul spontan tulus, tanpa topeng. “Kau sangat suka uang, ya?” tanya Gar, nada suaranya datar tapi matanya mengamati. “Aku kira,” jawab Queen santai, “manusia bodoh itu yang nggak suka uang.” Gar tersenyum kecil. “Benar juga.” Mobil melaju mulus. Kota terlihat bergerak di balik kaca jendela. “Apakah cukup kalau cuma tiga puluh hari?” tanya Gar kemudian. Pertanyaannya terdengar ringan, tapi maknanya berat. Ada niat di sana niat untuk memperpanjang sesuatu yang mulai terasa terlalu nyata. Queen berhenti tersenyum. Ia menoleh, menatap Gar lebih lama dari biasanya. Tatapan yang tenang, tapi penuh perhitungan. “Aku punya rencana masa depan,” ucapnya pelan. “Terima kasih sudah jadi ladang uangku selama sebulan ini.” Kalimat itu jujur. Terlalu jujur. “Kau mau pergi ke mana?” tanya Gar, cepat, seolah takut jawaban itu benar-benar menjauhkan. Queen menghela napas, lalu memalingkan wajah ke arah jendela. Pantulan wajahnya samar di kaca cantik, tapi lelah. “Jauh,” jawabnya singkat. Tidak ada tawa setelah itu. Tidak ada godaan. Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka. Queen tenggelam dalam pikirannya sendiri tentang hidup yang belum pernah benar-benar memberinya pilihan selain bertahan. Sementara Gar, untuk pertama kalinya, merasakan sesuatu yang asing: ketakutan akan kehilangan… pada sesuatu yang bahkan belum ia miliki.

Cukup lama suasana di dalam mobil hening. Akhirnya, Deko yang membuka suara. “Nama gang-nya memang Cukurukuk ya, Nyonya?” tanya Deko, sengaja mengusir keheningan saat mobil hampir sampai di depan gang itu. “Iya,” jawab Queen santai. “Dari sananya memang begitu, kayaknya.” Mobil berhenti di depan gang. Deko segera mencari tempat parkir setelah menurunkan Gar dan Queen. “Akhirnya,” ucap Queen dengan wajah sumringah. “Aku balik lagi.” Gar meliriknya sekilas. Ia selalu heran gadis di sampingnya ini bisa begitu cepat berganti suasana hati. Baru tadi murung, sekarang sudah ceria lagi. “Kamu suka sekali kembali ke sini,” ujar Gar. “Tentu dong,” jawab Queen sambil mulai melangkah masuk ke dalam gang. Lalu ekspresinya berubah sedikit lebih serius. “Tapi ada juga yang bikin aku trauma, loh.” Gar langsung menoleh. “Trauma kenapa?” tanyanya penasaran. Ada nada khawatir terselip di suaranya. Siapa yang berani menyakiti gadis ini? Queen berhenti sebentar, lalu menoleh ke arah Gar. “Trauma penculikan,” katanya datar tapi menusuk. “Semua karena kamu.” Gar terdiam. “Kamu, Deko, dan anak buahmu,” lanjut Queen. “Kalian menculik aku.”

“No, aku tidak menculik, ya,” bantah Gar cepat. “Dih,” Queen mendengus. “Jelas aja. Emang penculik.” Mereka hampir sampai di depan kontrakan Queen. Beberapa orang di sekitar gang mulai melirik, berbisik pelan sambil terang-terangan menatap mereka berdua. “Gila,” terdengar suara perempuan berbisik. “Ela kayak artis.” “Itu cowoknya tampan banget,” sahut yang lain. Queen otomatis memperlambat langkah. Rasa tidak enak mulai merayap di dadanya. Ia menoleh ke Gar. “Tuan,” ucapnya pelan, “tunggu di luar aja, ya.” Gar mengernyit. “Kenapa aku dilarang masuk?” tanyanya sambil menatap bangunan kontrakan Queen yang tampak sederhana bahkan kumuh dari luar. Queen menunduk sebentar, lalu melirik ke sekeliling. “Lihat,” katanya lirih. “Orang-orang pada lihat kita.” Gar mengikuti arah pandangnya. Beberapa pasang mata memang masih tertuju pada mereka. “Biarlah,” jawab Gar ringan. “Mereka punya mata.”