Dua minggu.
Empat belas hari sudah berlalu sejak malam jahanam itu; saat monitor EKG Adrian memekikkan nada datar yang nyaris menghentikan jantungku juga. Masa-masa itu terasa seperti kabut pekat yang tak berujung. Hanya ada bau antiseptik yang menusuk, dinginnya ruang tunggu ICU, dan rapalan doa yang tak putus di sela napas pendekku.
Adrian selamat. Jantungnya kembali berdetak, entah karena mukjizat medis atau saking keras kepalanya dia. Adrian Mahardika memang pantang kalah, bahkan pada maut sekalipun.
Kini, aku berdiri mematung di depan jendela kaca besar ruang VVIP Mahardika Hospital. Langit Jakarta mendung, kelabu seperti perasaanku. Pantulan di kaca memperlihatkan sosok asing: kurus, pucat, dengan rambut dicepol asal-asalan. Hilang sudah gaun desainer dan topeng sempurna "Istri CEO". Yang tersisa hanya Arini. Polos dan rapuh.
"Rin?"
Suara bariton itu serak, tapi ampuh menarikku dari lamunan. Aku berbalik.
Adrian bersandar di ranjang pasien. Wajahnya tak lagi sepucat mayat seperti minggu lalu. Perban di kepala berganti plester kecil, meski lebam di sekitar mata kirinya masih menyisakan rona kekuningan. Ia mengenakan piyama sutra biru tua, tentu saja, Tuan Besar menolak memakai baju pasien rumah sakit yang kasar itu walau sedang sakit.
"Ya, Adri? Haus?" Aku bergegas menyambar gelas air di nakas.
Adrian menggeleng pelan. Matanya mengikuti setiap gerakanku. Intens. Ada sorot aneh di sana hari ini, sesuatu yang membuat perutku melilit gelisah. Sejak sadar penuh tiga hari lalu, dia berubah pendiam. Tak ada sarkasme tajam, tak ada perintah ketus. Hanya diam yang mengamati.
Dan itu... mengerikan.
Kalimat terakhirnya sebelum kolaps di ICU kembali terngiang, menghantuiku. Kontraknya batal. Aku tidak bisa melanjutkan sandiwara ini lagi.
Hari ini, dia memanggil "sidang". Kakek Darmawan yang baru mendarat dari Singapura, Reza, bahkan Pak Haryo - pengacara keluarga Mahardika - semua dikumpulkan. Jantungku berpacu gila-gilaan. Inilah saatnya. Dia akan mengakhiri semuanya. Dia akan memulangkanku.
Pintu terbuka. Kakek Darmawan masuk tertatih dengan tongkat, mengekor di belakangnya Reza dan Pak Haryo yang menenteng tas kulit tebal.
"Gimana rasanya hidup lagi, Boy?" suara Kakek bergetar haru saat menepuk pelan bahu cucunya yang tidak cedera.
"Lebih baik, Kek," jawab Adrian singkat. Ia membenarkan posisi duduk, sedikit meringis saat jahitan di rusuknya tertarik. "Terima kasih sudah datang."
Kakek beralih menatapku, tersenyum hangat. "Arini merawatmu dengan telaten. Kakek belum pernah lihat kamu pulih secepat ini."
Aku memaksakan senyum sopan, meski jemariku dingin dan gemetar. Aku mundur perlahan, memberi jarak. "Saya... saya tunggu di luar saja. Biar Bapak-bapak bisa bicara bisnis."
"Tidak," potong Adrian. Dingin. Tajam. "Kamu tetap di sini, Arini. Duduk."
Perintah mutlak. Lututku lemas seketika. Aku menarik kursi kecil di sudut, jauh dari ranjang, merasa seperti terdakwa yang siap menerima vonis hakim.
Adrian menatap Pak Haryo. "Bawa berkasnya."
Pak Haryo mengangguk takzim, membuka tas, dan mengeluarkan map biru tua yang amat kukenal. Map berisi Perjanjian Pranikah dan Kontrak Pernikahan kami. Ia meletakkannya di meja lipat hadapan Adrian.
Ruangan senyap. Hanya dengung AC dan detak jam dinding yang berani bersuara.
Adrian meletakkan telapak tangannya di atas map itu. Jari-jarinya yang panjang mengetuk pelan permukaan kulit map. Tok. Tok. Tok. Irama yang menyiksa.
"Kek," Adrian memulai, suaranya tenang namun tegas. "Setahun lalu, Kakek memaksa Adrian menikah demi stabilitas saham. Adrian setuju, syaratnya: cara mainnya Adrian yang tentukan."
Kakek Darmawan mengangguk pelan, wajahnya serius. "Kakek ingat. Dan syukurlah kamu memilih Arini."
"Ini adalah transaksi bisnis," sela Adrian datar. Ia membuka map, memperlihatkan tanda tangan kami di atas meterai. "Setiap pasal dirancang untuk melindungi aset Mahardika Group dan memastikan Arini mendapatkan kompensasi setimpal atas... waktunya."
Air mataku mendesak keluar. Aku menunduk, meremas jemari di pangkuan. Mendengarnya berbicara seformal ini, menyebut pernikahan kami sebagai 'transaksi' di depan umum, rasanya lebih menyakitkan daripada tertimpa reruntuhan beton. Ternyata pengakuanku di lorong ICU waktu itu sia-sia. Dia tetap Adrian si CEO yang logis. Robot bernyawa.
"Tapi ada satu variabel yang luput dari analisis risiko kontrak ini," ujar Adrian tiba-tiba. Nadanya berubah. Lebih rendah. Lebih... rapuh.
Aku mengangkat wajah. Adrian tidak menatap Kakek atau pengacaranya. Dia menatapku. Lurus.
"Variabel apa?" tanya Kakek bingung.
"Perasaan saya," jawab Adrian.
Napasku tercekat.
Adrian mengangkat dokumen kontrak itu dari dalam map. Kertas tebal itu berbunyi krek saat ia mencengkeramnya kuat-kuat.
"Kontrak ini," Adrian mengangkat kertas itu tinggi-tinggi, "menyatakan bahwa pernikahan berakhir tepat satu tahun setelah diresmikan. Bahwa dilarang ada tuntutan emosional di antara kedua belah pihak."
Tatapannya mengunci manik mataku. "Arini Putri, kamu wanprestasi. Kamu melanggar kontrak ini berkali-kali. Kamu masuk ruang kerjaku tanpa izin. Kamu mengacaukan jadwal tidurku dengan masakanmu. Kamu bikin aku panik setengah mati saat diculik. Dan yang paling fatal..."
Suaranya pecah sedikit.
"...kamu membuatku takut mati. Bukan karena aku takut nyawa hilang, tapi karena aku takut nggak bisa melihatmu lagi."
Sret!
Bunyi kertas robek memecah keheningan ruangan. Adrian membelah lembar pertama kontrak itu menjadi dua.
Pak Haryo terlonjak. "Pak Adrian! Itu dokumen legal as..."
Sret!
Adrian merobeknya lagi. Dan lagi. Dengan gerakan kasar penuh emosi, dia mencabik-cabik kertas perjanjian yang selama ini menjadi tembok tebal di antara kami. Potongan kertas itu berhamburan jatuh di atas selimut putihnya, seperti salju.
"Kontraknya batal," napas Adrian memburu. Dia menoleh pada Kakek Darmawan yang matanya mulai berkaca-kaca. "Maaf, Kek. Adrian berhenti jadi cucu penurut yang menjalankan pernikahan bisnis. Adrian nggak mau istri kontrak."
Dia mengalihkan pandangannya kembali padaku. "Sini."
Kakiku bergerak sendiri, mendekat ke sisi ranjang. Jantungku bergemuruh begitu keras hingga telingaku berdenging.
Adrian menyambar tangan kiriku. Jemarinya hangat dan kasar, menggenggamku erat seolah aku satu-satunya pegangan hidupnya.
"Arini," bisiknya. "Di reruntuhan itu, kamu bilang mencintaiku bukan karena uangku. Kamu bilang mencintaiku karena aku adalah aku."
Aku mengangguk, air mata sudah membanjiri pipi. "Iya. Itu benar."
"Kalau begitu, izinkan aku mengajukan kontrak baru," katanya. Dia merogoh saku piyamanya, sebuah gerakan canggung dan mengeluarkan cincin. Bukan cincin berlian raksasa norak seperti saat pertunangan sandiwara kami. Ini cincin sederhana, emas putih polos dengan ukiran kecil yang rumit. Klasik.
"Ini cincin mendiang Ibu," kata Adrian, suaranya bergetar. "Ayah memberikan ini pada Ibu saat mereka belum punya apa-apa. Tidak ada berlian, tidak ada nilai aset. Hanya janji."
Dia menatap mataku dalam-dalam, meruntuhkan sisa pertahanan yang kupunya.
"Saya, Adrian Mahardika, melamar kamu, Arini Putri. Bukan sebagai CEO Mahardika Group kepada anak debiturnya. Tapi sebagai laki-laki bodoh, cacat emosi, yang setengah mati mencintaimu."
Isak tangis lolos dari bibirku. Aku menutup mulut dengan tangan kanan, tak percaya dengan apa yang kudengar.
"Tidak ada tanggal kedaluwarsa," lanjut Adrian seraya menyematkan cincin itu di jari manisku, menggantikan cincin pertunangan mewah yang terasa berat. Cincin ibunya pas. Sempurna. "Tidak ada pasal-pasal. Hanya kita. Seumur hidup. Berani ambil risikonya?"
Lidahku kelu. Tenggorokanku tercekat oleh kebahagiaan yang meledak di dada. Aku hanya bisa mengangguk cepat, berkali-kali, lalu menghambur memeluk lehernya, berhati-hati agar tak menekan luka di dadanya.
"Ya," bisikku di telinganya, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur sabun rumah sakit, aroma paling menenangkan sedunia. "Ya, Tuan CEO. Saya ambil risikonya."
Aku merasakan Adrian membenamkan wajah di ceruk leherku, bahunya berguncang pelan. Untuk pertama kalinya, Adrian Mahardika, pria yang dijuluki robot tanpa hati itu, menangis dalam pelukanku.
Di belakang kami, sayup terdengar tepuk tangan. Kakek Darmawan menyeka air matanya dengan sapu tangan, sementara Reza tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah kulihat di wajah sang asisten kaku.
Potongan kertas kontrak yang berserakan di atas kasur menjadi saksi bisu. Kesepakatan bisnis itu telah hangus, terbakar oleh api yang jauh lebih dahsyat daripada kebakaran gedung mana pun.
Cinta kami bukan lagi di atas kertas. Cinta kami nyata. Dan kali ini, selamanya.