Romansa #CEO #Romansa CEO

Ikrar Tanpa Syarat

Penulis djoedo
25 January 2026

Suara sobekan kertas itu masih terngiang, bergema lebih keras daripada monitor detak jantung yang kini berirama stabil di samping ranjang. Potongan-potongan kontrak. dokumen yang selama setahun ini menjadi tembok pemisah di antara kami, kini berserakan di lantai ubin VVIP rumah sakit seperti sampah tak berharga.

Aku menatap cincin emas putih sederhana yang kini melingkar manis di jari manisku. Bukan berlian besar yang menyilaukan mata seperti cincin pertunangan sandiwara kami dulu. Ini cincin mendiang Ibu Adrian. Cincin yang menyimpan sejarah, duka, cinta, dan kini... sebuah janji.

"Kamu serius?" tanyaku, suaraku masih bergetar sisa tangis. "Kamu baru saja merobek dokumen legal senilai miliaran rupiah, Tuan Mahardika."

Adrian tersenyum. Senyum yang tidak pernah kulihat sebelumnya, bukan seringai sinis, bukan senyum sopan untuk kamera wartawan. Ini senyum yang mencapai matanya, membuat kerutan halus di sudut matanya terlihat jelas. Luka lebam kuning di dekat mata kirinya dan plester di kepalanya tidak mengurangi ketampanannya sedikit pun; justru membuatnya terlihat lebih manusiawi. Lebih nyata.

"Aku tidak butuh kertas untuk mengikatmu, Arini," jawabnya, menggenggam tanganku erat. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan lembut, menyalurkan kehangatan yang menjalar hingga ke tulang. "Aku hanya butuh kamu. Di sini. Selamanya."

Suara tepuk tangan pelan memecah gelembung intimasi kami. Kami berdua menoleh. Kakek Darmawan duduk di kursi rodanya di sudut ruangan, matanya berkaca-kaca meski wajah tuanya berusaha tetap terlihat garang dan berwibawa.

"Akhirnya," gumam Kakek, suaranya parau. "Butuh gedung runtuh dan nyawa hampir melayang supaya cucuku yang keras kepala ini sadar."

Adrian mendengus pelan, tapi tidak melepaskan tatapannya dariku. "Kakek yang memaksaku masuk ke dalam situasi ini sejak awal."

"Dan kau harus berterima kasih padaku," balas Kakek tajam, tapi kemudian beliau tersenyum. Senyum tulus seorang kakek yang melihat cucunya akhirnya menemukan rumah untuk pulang. "Arini..."

"Ya, Kek?"

"Terima kasih," ucapnya lirih, tangannya yang keriput mencengkeram pegangan kursi roda. "Terima kasih sudah mencairkan es di hati cucuku. Istriku pasti tersenyum melihat kalian dari atas sana."

Aku merasakan hangat menjalar di dada. Rasa diterima yang sesungguhnya. Bukan sebagai aset perusahaan, bukan sebagai alat bayar utang, tapi sebagai keluarga.

"Reza," panggil Adrian, nadanya kembali otoriter namun tanpa dingin yang biasa.

"Siap, Pak," sahut Reza yang berdiri di dekat pintu. Pria itu tersenyum lebar, sesuatu yang langka. Penyangga lengan di bahunya tidak menghalangi aura bahagianya melihat bosnya akhirnya "menjadi manusia".

"Urus media," perintah Adrian tegas. "Aku tidak peduli bagaimana caranya. Bersihkan nama Arini dari tuduhan Erwin. Dan umumkan bahwa..." Adrian menatapku lagi, tatapannya begitu dalam hingga membuatku lupa cara bernapas. "...umumkan bahwa CEO Mahardika Group akan menikah. Kali ini, pernikahan sungguhan."

"Baik, Pak. Rilis pers akan segera saya siapkan. Saham mungkin akan bergejolak sedikit karena pembatalan kontrak bisnis ini, tapi sentimen publik pasti berbalik mendukung kisah 'cinta sejati' kalian," goda Reza santai.

"Biarkan saja sahamnya," potong Adrian acuh tak acuh. "Kalau perlu, jual saja sebagian aset pribadiku untuk menstabilkannya. Aku mau pernikahan ini sempurna. Bukan untuk publik, tapi untuk Arini."

Aku ternganga. Adrian Mahardika, pria yang menghitung setiap sen, profit, dan risiko, baru saja bilang dia tidak peduli pada saham?

"Kamu demam?" tanyaku, menempelkan punggung tangan ke dahinya yang diperban.

Adrian tertawa kecil, lalu menangkap tanganku dan mengecup telapaknya. "Mungkin. Demam cinta, kata orang-orang norak."

"Ya ampun," keluhku sambil tertawa di sela sisa air mata. "Gaya gombalmu jelek sekali, Pak CEO."

"Aku akan belajar," bisiknya, menarikku mendekat hingga kening kami bersentuhan. Aroma sabun rumah sakit dan aroma tubuhnya yang khas, maskulin dan menenangkan menguar, menjadi candu baruku. "Kita punya seumur hidup untuk belajar, kan?"

Aku mengangguk, tak mampu berkata-kata. Tenggorokanku tercekat oleh rasa bahagia yang meluap-luap.

Pintu ruangan diketuk pelan. Pak Haryo, pengacara keluarga, melangkah masuk dengan wajah canggung melihat potongan kertas di lantai. Ia tampak bingung harus bersikap formal atau ikut terharu.

"Maaf mengganggu momen bahagia ini," kata Pak Haryo sambil membenarkan letak kacamatanya. "Tapi, Pak Adrian... secara teknis, tanpa kontrak itu, status hukum pernikahan kalian saat ini..."

"Tidak relevan," potong Adrian cepat. "Kami akan menikah ulang secara agama dan negara secepatnya. Tanpa pre-nup. Tanpa syarat."

"Tanpa pre-nup?" Pak Haryo membelalak, hampir menjatuhkan berkas di tangannya. "Tapi Pak, aset Mahardika Group... risiko perceraian..."

"Aset itu adalah milik Arini juga," tegas Adrian. Ia menatapku, dan aku melihat kesungguhan yang menakutkan sekaligus mengharukan di sana. "Semua milikku adalah miliknya. Nyawaku saja sudah kuberikan di gedung itu, apalagi cuma uang."

Ruangan itu hening sejenak. Kakek Darmawan hanya mengangguk-angguk setuju, sementara Reza menepuk bahu Pak Haryo yang masih shock.

Aku menatap pria di hadapanku ini. Pria yang dulu kusebut 'Monster', 'Robot', 'Tuan Sombong'. Kini, dia hanyalah Adrian. Adrianku.

"Baiklah," bisikku, menahan haru. "Tapi ada satu syarat."

Alis Adrian terangkat sebelah, kilatan waspada muncul jenaka di matanya. "Syarat? Kamu mau mengajukan kontrak tandingan?"

"Bukan," jawabku sambil tersenyum miring. "Syaratnya, kamu harus janji tidak akan pernah lagi menyuruhku lari sendirian saat ada bahaya. Kita hadapi bersama, atau tidak sama sekali."

Adrian terdiam. Kilasan memori di gedung terbakar itu melintas di matanya, ketakutan, kepanikan saat dia memaksaku pergi demi menyelamatkanku. Dia menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap.

"Deal," katanya serak. "Bersama. Selamanya."

Dia menarik tengkukku, meniadakan jarak di antara kami. Ciuman itu tidak menuntut, tidak terburu-buru, dan yang pasti, tidak ada kamera yang merekam untuk pencitraan. Hanya ada rasa syukur, kelegaan, dan janji yang terpatri bukan di atas kertas, tapi di dalam detak jantung kami yang kini berpacu seirama.

Di luar jendela, langit Jakarta yang mendung perlahan mulai tersingkap. Matahari sore menerobos masuk, menyinari potongan-potongan kontrak yang hancur di lantai, menjadi saksi bisu berakhirnya sandiwara kami dan dimulainya kisah yang sebenarnya.

Namun, saat bibir kami terlepas, Adrian tiba-tiba meringis memegang dadanya.

"Adri?" Panik langsung menyergapku. "Kenapa? Jahitannya sakit?"

"Sedikit," gumamnya, napasnya agak tersengal. "Jantungku... rasanya aneh."

"Dokter!" teriakku refleks, hendak berlari ke pintu.

"Bukan, bukan itu," Adrian menahanku dengan kekehan pelan, meski wajahnya sedikit memerah. "Rasanya... penuh. Bahagia ternyata bisa bikin sesak napas ya?"

Aku memukul lengannya pelan, kesal bercampur lega setengah mati. "Jangan bercanda soal jantung di rumah sakit, bodoh!"

Dia tertawa lepas, tawa yang merdeka. Dan di detik itu, aku tahu. Badai sudah berlalu.

Atau begitulah yang kukira, sampai Reza mengecek ponselnya dan wajahnya berubah serius.

"Pak," sela Reza, nada suaranya membuat atmosfer hangat di ruangan itu menguap seketika. "Berita tentang perobekan kontrak... entah bagaimana, sudah bocor. Ada seseorang memotret dari celah jendela pintu. Media sosial meledak. Mereka menyebutnya 'The Billionaire's Meltdown'. Dan..." Reza menelan ludah. "Dewan Komisaris meminta RUPS Luar Biasa besok pagi untuk membahas 'kesehatan mental' CEO sebelum menyetujui pernikahan ini."

Adrian menghela napas panjang, tapi kali ini, tidak ada ketakutan di matanya. Dia menatapku, lalu menggenggam tanganku lebih erat.

"Biarkan mereka datang," katanya dingin, kembali menjadi sang CEO yang tak tersentuh, namun dengan tangan yang tak lepas dariku. "Kita akan hadapi mereka. Bersama."

Aku membalas genggamannya, merasakan kekuatan baru mengalir. "Bersama."

Dunia boleh mencoba meruntuhkan kami lagi, tapi kali ini, fondasi kami bukan lagi kertas rapuh. Kami adalah beton dan baja yang sudah ditempa api. Dan kami siap berperang untuk terakhir kalinya.