"Dunia boleh mencoba meruntuhkan kami lagi, tapi kali ini, fondasi kami bukan lagi kertas rapuh. Kami adalah beton dan baja yang sudah ditempa api. Dan kami siap berperang untuk terakhir kalinya."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, seolah menjadi mantra penutup dari segala kegilaan yang kami lalui. Di hadapanku, Adrian tertawa lepas. Bukan tawa sinis yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawan bisnis, melainkan tawa renyah yang memantul hangat di dinding ruang VVIP rumah sakit ini. Di pangkuannya, serpihan kertas kontrak yang baru saja ia robek berserakan seperti konfeti perayaan.
"Kamu tahu, Rin," Adrian menyeka sudut matanya yang sedikit berair—entah karena tawa atau sisa haru. "Media sosial sudah mulai menggila. Mereka menyebut ini 'The Billionaire's Meltdown'." Ia menunjuk layar ponselnya dengan tangan yang masih terpasang selang infus. Lebam kuning di dekat mata kirinya justru membuatnya terlihat lebih manusiawi, lebih nyata.
"Biarkan saja," jawabku sambil menggenggam tangannya. Cincin emas putih peninggalan ibunya terasa dingin namun pas di jari manisku, seolah memang ditakdirkan berada di sana. "Mereka belum tahu kalau 'kehancuran' ini justru momen paling waras dalam hidupmu."
Kakek Darmawan, yang duduk di kursi rodanya dekat jendela di mana matahari sore menerobos masuk, mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan berirama. Wajah tuanya berseri-seri, beban lima tahun terakhir seakan terangkat dari pundaknya.
"Biarkan mereka bicara," suara Kakek terdengar parau namun bertenaga. "Besok pagi di RUPS Luar Biasa, kau bungkam mulut mereka semua, Adrian. Tunjukkan pada para komisaris kolot itu siapa sebenarnya Mahardika. Tunjukkan bahwa cucuku tidak butuh secarik kertas untuk memimpin."
Adrian menatapku, tatapannya melembut. Jemarinya mengusap punggung tanganku dengan ibu jari. "Kita hadapi mereka besok?"
Aku mengangguk mantap, merasakan adrenalin yang berbeda. Kali ini bukan takut, melainkan antusiasme. "Kita hadapi. Bersama."
Keesokan paginya, atmosfer di ruang rapat utama Menara Mahardika terasa lebih dingin dari biasanya. Pendingin ruangan seolah disetel ke titik beku, atau mungkin itu hanya hawa permusuhan yang memancar dari dua belas anggota Dewan Komisaris yang duduk mengelilingi meja oval raksasa itu.
Pintu ganda terbuka. Reza, dengan lengan yang masih digendong penyangga, membuka jalan. Aku mendorong kursi roda Adrian masuk. Meski dokter menyarankan istirahat total, Adrian bersikeras hadir. Dia mengenakan setelan jas hitam charcoal yang menutupi perban di tubuhnya, namun aura dominasinya tidak berkurang sedikit pun.
"Selamat pagi, Bapak-bapak," sapa Adrian tenang. Suaranya datar, tanpa emosi, namun sanggup memotong kasak-kusuk di ruangan itu seketika.
Pak Haryo, pengacara senior perusahaan yang duduk di ujung meja, berdeham canggung. "Pak Adrian, kami... Dewan Komisaris merasa perlu mengadakan rapat darurat ini terkait berita yang beredar. Keputusan Anda membatalkan kontrak pernikahan dan... rencana menikah tanpa perjanjian pranikah... dinilai sangat berisiko bagi stabilitas saham perusahaan."
Seorang komisaris lain, pria gemuk dengan cerutu yang belum dinyalakan, menimpali dengan nada meremehkan. "Kita bicara bisnis, Adrian. Bukan drama romansa picisan. Menikahi perempuan ini..." Ia menunjukku dengan dagunya, "...tanpa pengaman aset? Apakah gegar otak itu merusak logikamu?"
Darahku mendidih, tapi sebelum aku sempat membuka mulut, Adrian sudah tertawa pelan. Suara tawa yang kering dan tajam.
"Pengaman aset?" Adrian memutar kursi rodanya sedikit agar bisa menatap mata pria itu langsung. "Selama lima tahun, saya memimpin perusahaan ini dengan logika murni. Hasilnya? Keuntungan naik tiga ratus persen, tapi fondasi kita keropos. Kita disusupi pengkhianat, dimanipulasi oleh orang dalam, dan hampir hancur karena ambisi buta."
Adrian menoleh padaku, mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya tanpa ragu, berdiri tegak di sampingnya.
"Kalian tanya di mana logika saya?" Adrian mengangkat tangan kami yang bertautan. "Wanita ini, Arini Putri, adalah satu-satunya orang yang tetap berdiri di samping saya saat gedung ini secara harfiah runtuh menimpa kami. Dia mempertaruhkan nyawanya bukan untuk saham, bukan untuk dividen, tapi untuk saya."
Hening. Tidak ada yang berani menyela.
"Kalian takut saya kehilangan aset karena tidak ada perjanjian pranikah?" Adrian tersenyum miring, tatapan matanya menyapu seluruh ruangan dengan intimidasi yang mencekik. "Dengar baik-baik. Arini bukan risiko. Dia adalah investasi terbaik yang pernah saya buat. Dia adalah hati nurani yang selama ini hilang dari Mahardika Group. Jadi, silakan kalau ada yang mau mengajukan mosi tidak percaya. Saya akan beli seluruh saham kalian detik ini juga dan menendang kalian keluar dari gedung saya."
Ketegangan di udara begitu padat hingga rasanya bisa diiris dengan pisau. Namun perlahan, Pak Haryo menutup berkas di depannya. Ia menghela napas, lalu tersenyum tipis.
"Saya rasa... RUPS hari ini cukup sampai di sini," kata Pak Haryo. "Posisi CEO tetap tidak berubah."
Satu per satu komisaris lain menunduk, tidak berani menatap mata elang Adrian. Kami menang. Bukan dengan manipulasi, tapi dengan kebenaran yang telanjang.
Epilog
Tiga bulan kemudian.
Tidak ada pesta mewah di ballroom hotel bintang lima. Tidak ada ribuan tamu undangan atau liputan media eksklusif. Hanya sebuah pemberkatan sederhana di taman belakang rumah Kakek Darmawan.
Angin sore membelai wajahku, menerbangkan ujung veil sederhana yang kucoba pasang sendiri.
"Perlu bantuan, Nyonya Mahardika?"
Aku berbalik. Adrian berdiri di ambang pintu kaca, bersandar santai dengan kedua tangan di saku celana. Dia terlihat... sembuh. Benar-benar sembuh. Tidak ada lagi bayang-bayang trauma di matanya, hanya kehangatan yang membuat lututku lemas.
"Bukannya pengantin pria dilarang melihat pengantin wanita sebelum upacara?" godaku.
Adrian melangkah mendekat, mengabaikan aturan kuno itu. Ia merapikan anak rambut di telingaku, sentuhannya begitu lembut hingga membuatku merinding.
"Aku sudah melihatmu dalam kondisi terburuk, Rin. Penuh debu, darah, dan air mata," bisiknya, menatapku lekat. "Dan kamu tetap terlihat cantik. Jadi, aturan itu tidak berlaku buat kita."
Aku tersenyum, merasakan mataku memanas. "Kamu yakin tidak mau perjanjian pranikah? Masih ada waktu lho kalau mau berubah pikiran."
Adrian mendengus geli. Ia menarik pinggangku mendekat, meniadakan jarak di antara kami. Jantungnya berdetak stabil di balik dadanya, irama yang kini menjadi musik favoritku.
"Arini," ucapnya serius, menangkup wajahku. "Semua yang aku miliki, semua pencapaianku, tidak ada artinya kalau aku pulang ke rumah yang kosong. Kamu adalah rumahku. Dan aku tidak butuh kontrak untuk tinggal di rumahku sendiri."
Dia menunduk, mencium keningku lama. Ciuman yang bukan sekadar nafsu, tapi sebuah janji. Sebuah ikrar yang tidak tertulis di atas kertas bermeterai, melainkan terukir di atas beton dan baja sejarah kami.
"Siap memulai petualangan baru?" tanyanya saat melepaskan ciuman itu.
Aku mengangguk, melingkarkan lengan di lehernya. "Siap, Pak Suami."
Di kejauhan, Kakek Darmawan melambaikan tangan dari kursi rodanya, diapit oleh Santi dan Reza yang tersenyum lebar. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan semburat jingga dan ungu. Tapi kali ini, aku tidak takut gelap. Karena aku tahu, esok pagi matahari akan terbit lagi, menyinari kisah kami yang baru saja benar-benar dimulai.
Tamat.