Barang Bos Besar Langit Jakarta sore itu sewarna memar lama—ungu kehitaman dengan semburat jingga yang sakit-sakitan. Di balik kaca jendela lantai 42 Menara Treasury, Sudirman tampak seperti urat nadi yang tersumbat kolesterol; lampu-lampu merah kendaraan mengular, mampat, tak bergerak.
Nara menatap pantulan wajahnya di kaca tebal itu. Blazer linen warna oatmeal. Blazer yang dibelinya saat sisa sale akhir tahun di Senayan City - masih tampak rapi, meski punggungnya basah oleh keringat dingin. Di tangannya, iPhone 14 Pro Max dengan casing kulit imitasi bergetar untuk ketujuh kalinya dalam dua menit.
Bukan notifikasi Slack dari Bu Agnes. Bukan juga DM Instagram soal brunch di Gunawarman.
Itu notifikasi dari aplikasi pinjaman online. "DOMPET KILAT - JATUH TEMPO HARI INI. BAYAR ATAU KAMI DATANG."
Nara menghela napas, uap hangat menyentuh kaca dingin ber-AC sentral itu. Aroma diffuser Jo Malone 'English Pear' di ruangan ini mendadak terasa anyir, kalah oleh bau asam ketakutan yang merambat dari perutnya ke kerongkongan.
"Ra, meeting sama klien dari Singapore jadi di boardroom ya. Prepare materinya, please. Jangan sampai ada typo kayak minggu lalu. Preferably lo cek lagi pitch deck-nya," suara Kenan, senior associate yang selalu memakai sepatu loafers Gucci tanpa kaus kaki, memecah lamunan Nara.
"Siap, Mas Kenan. On it," jawab Nara otomatis. Senyum korporatnya terpasang sempurna, semacam refleks pertahanan diri yang sudah ia latih selama tiga tahun menjadi budak korporat di SCBD.
Namun, di saku blazer-nya, getaran ponsel itu terasa seperti bom waktu.
Jauh di bawah sana, di aspal basah Jalan Gatot Subroto yang bising, realitas yang sebenarnya sedang terjadi. Sebuah Toyota Calya hitam dengan penyok di bumper belakang merayap pelan di lajur kiri. AC mobil itu sudah mati sejak siang; freonnya habis dan belum ada uang untuk isi ulang.
Pak Darman, ayah Nara, menyeka lehernya dengan handuk kecil yang sudah berubah warna menjadi abu-abu dekil. Ia baru saja menurunkan penumpang di depan lobi hotel mewah, dan penumpang itu- seorang pria muda dengan setelan jas licin - meninggalkan aroma parfum mahal yang tertinggal di jok kain mobil, bercampur dengan bau bensin dan debu jalanan.
Pak Darman melirik aplikasi di ponsel Android retaknya. Target poin hari ini: Kurang 4 trip. Sisa bensin: 2 bar. Saldo dompet: Rp45.000.
"Ya Allah, kuatkanlah kaki tua ini," bisiknya serak. Suaranya tenggelam oleh klakson bus TransJakarta yang memekakkan telinga.
Ia tidak tahu bahwa lima menit yang lalu, penumpang berdasi licin itu meninggalkan sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar sampah tisu. Sebuah pouch kulit hitam kecil terselip jatuh di celah antara jok pengemudi dan konsol tengah.
Di lantai 42, Nara baru saja hendak membuka MacBook-nya ketika notifikasi lain muncul. Kali ini bukan dari penagih utang.
Sebuah pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal. Tanpa foto profil. "Bapakmu bawa barang milik Bos Besar. Mobil B 1782 UYZ. Kamu ambil, atau kami yang ambil paksa. Kamu punya waktu 1 jam sebelum kami lacak posisinya."
Darah Nara tersirap. Jantungnya berhenti berdetak sesaat, lalu memacu gila-gilaan, menabrak rusuknya. B 1782 UYZ. Itu pelat nomor mobil bapak. Mobil yang cicilannya menunggak dua bulan. Mobil yang menjadi satu-satunya alasan mereka masih bisa makan nasi, meski seringkali hanya dengan telur dadar dibagi dua.
Nara menoleh ke sekeliling ruangan open space yang estetik itu. Rekan-rekannya sedang tertawa kecil membahas rencana happy hour di Cork & Screw. Dunia mereka begitu bersih, begitu wangi, begitu teratur.
Sementara dunia Nara baru saja runtuh.
Ia menyambar tas Tory Burch-nya, yang talinya mulai mengelupas di bagian bawah. Dia bergegas dan berlari menuju lift. Persetan dengan materi pitch deck. Persetan dengan Kenan dan loafers Gucci-nya.
"Ra? Where are you going?" teriak Kenan.
"Urgent, Mas! Family emergency!" Nara berteriak tanpa menoleh, menekan tombol lift dengan jari gemetar.
Di dalam lift yang turun dengan kecepatan tinggi, telinga Nara berdengung. Ia mencoba menelepon bapaknya.
Tut... Tut... Tut... "Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
"Angkat, Pak! Demi Tuhan, angkat!" desis Nara, menggigit bibirnya hingga terasa amis darah.
Sinyal di Jakarta memang bajingan saat hujan turun. Atau mungkin Bapak sengaja mematikan ponsel untuk menghemat baterai demi orderan terakhir.
Lift berdenting di lantai lobi. Pintu terbuka, dan Nara langsung disambut oleh dinding kelembapan udara Jakarta yang lengket. Hujan turun deras, mencuci debu kota namun menyisakan genangan hitam di mana-mana.
Ia membuka aplikasi pelacak lokasi, sebuah fitur yang ia pasang diam-diam di HP bapaknya karena khawatir beliau sering pulang dini hari. Titik biru itu berkedip lemah.
Posisi: Parkiran Timur Senayan. Bergerak lambat ke arah Semanggi.
Nara berlari menembus hujan, membiarkan blazer mahalnya basah kuyup. Sepatu flat kerjanya mencipratkan air kotor ke betis. Ia tidak peduli. Ia harus mencegat mobil itu sebelum orang-orang suruhan "Bos Besar" itu melakukannya.
Karena di kota ini, ketika orang kaya kehilangan barang, orang miskin seringkali kehilangan nyawa sebagai gantinya.
Labirin Beton Jakarta saat hujan adalah monster yang berbeda. Ia bukan lagi kota metropolitan yang berkilau, melainkan labirin beton yang basah, licin, dan mematikan.
Nara melompat ke dalam ojek pangkalan yang sedang berteduh di halte. "Bang, kejar mobil Calya hitam arah Semanggi! Saya bayar dua ratus ribu!"
Si abang ojek, seorang bapak paruh baya dengan jas hujan ponco warna hijau lumut, tidak banyak tanya. Ia melihat kepanikan di mata wanita muda berbaju kantoran itu. "Pegangan, Neng!"
Motor bebek itu melesat, membelah kemacetan di antara celah sempit mobil-mobil mewah. Nara memeluk tasnya erat-erat di dada, air hujan menampar wajahnya tanpa ampun. Makeup-nya pasti sudah luntur, maskara meleleh mengotori pipi, mengubahnya menjadi badut tragis di tengah drama jalan raya.
Di dalam Calya hitam, Pak Darman menyeka kaca depan yang mengembun dengan punggung tangan. Wiper mobilnya berdecit-decit nyaring, karetnya sudah getas, menyapu air hujan dengan enggan.
Tiba-tiba, sebuah Toyota Pajero Sport hitam tanpa pelat nomor memotong jalurnya secara agresif.
"Woi! Hati-hati dong!" teriak Pak Darman, menekan klakson.
Tapi Pajero itu tidak melaju. Ia justru melambat, memaksa Pak Darman untuk mengerem mendadak. Ban tipis Calya itu berdecit, tergelincir sedikit di aspal basah sebelum berhenti hanya beberapa sentimeter dari bemper besi mobil di depannya.
Dari kaca spion tengah, Pak Darman melihat dua motor besar merapat di sisi kiri dan kanan pintu belakang.
Insting jalanannya menyala. Ini bukan begal biasa. Ini modus operandi penagih utang kelas kakap atau preman suruhan. Tapi kenapa? Utang panci ibunya Nara sudah lunas. Utang pinjol? Dia selalu bayar bunganya meski pokoknya macet.
Pintu pengemudi digedor keras. "Buka! Keluar lo tua bangka!"
Pak Darman mengunci pintu sentral. Tangannya gemetar meraih kunci roda di bawah jok. Napasnya memburu. Ia melihat sekeliling, mencari celah. Macet total. Dia terkurung.
"Pak! Buka pintunya!" Suara itu terdengar samar di antara gedoran.
Pak Darman menoleh ke kiri. Di kaca penumpang depan, sebuah wajah pucat dengan rambut basah kuyup menempel di kaca.
Nara.
"Nara?" Pak Darman ternganga. Ia membuka kunci pintu penumpang depan.
Nara langsung menghambur masuk, basah kuyup, membawa aroma hujan dan kepanikan ke dalam kabin mobil yang pengap.
"Jalan, Pak! Tabrak aja kalau perlu! Jalan sekarang!" teriak Nara, suaranya parau.
"Ra, ini ada apa? Siapa mereka?" Pak Darman bingung, tapi melihat putrinya gemetar hebat, adrenalinnya mengambil alih. Ia membanting setir ke kiri, naik ke trotoar, memaksakan mobil murah itu melakukan manuver yang seharusnya mustahil.
Brak! Bumper depan menghantam pot bunga beton pembatas jalan, tapi mobil terus melaju, menyerempet spion motor salah satu pengejar.
"Ada barang ketinggalan, Pak! Barang haram!" Nara membongkar laci dasbor, mengaduk-aduk tumpukan bon bensin dan permen karet lama. "Bapak tadi bawa penumpang siapa?!"
"Tadi... tadi anak muda, turun di Ritz Carlton. Rapi orangnya," jawab Pak Darman sambil berjuang mengendalikan setir. Mobil mereka kini melaju zig-zag di jalur busway, melanggar semua aturan lalu lintas yang ada.
Di belakang, Pajero hitam itu menyalakan sirine strobo. Wiu-wiu-wiu. Suara yang biasanya membuat nyali ciut.
"Ketemu!" Nara menarik sebuah pouch kulit hitam dari celah jok. Berat.
Ia membukanya. Bukan narkoba. Bukan berlian. Di dalamnya ada sebuah flashdisk besi dan sebuah kunci deposit box bank berwarna emas.
"Ya Tuhan," bisik Nara. Dia tahu ini. Di dunia korporat tempat dia bekerja, benda sekecil ini bisa meruntuhkan harga saham sebuah konglomerasi dalam hitungan detik. Data penggelapan pajak? Bukti suap proyek IKN? Atau rekaman skandal?
Apapun itu, nilainya lebih mahal dari nyawa mereka berdua.
"Mereka ngejar terus, Ra!" teriak Pak Darman. Pajero itu kini tepat di belakang, menabrak bumper belakang Calya dengan sengaja.
DUM!
Kepala Nara tersentak ke depan. Ponselnya terlempar.
"Kita nggak bisa lari terus, Pak! Mobil ini nggak bakal kuat!" Nara melihat indikator suhu mesin yang mulai naik. Radiator mobil LCGC yang jarang servis rutin ini pasti mulai bocor.
"Terus kita kemana?!"
Nara melihat ke depan. Mereka mendekati area Bendungan Hilir. Pasar. Gang sempit. Keramaian.
"Masuk Benhil, Pak! Masuk ke pasar! Mobil mereka kegedean buat masuk gang!"
Pak Darman membanting setir ke kiri, memotong jalur tiga motor sekaligus. Klakson bersahutan seperti simfoni kemarahan. Mobil itu meluncur masuk ke jalanan Bendungan Hilir yang padat oleh pedagang kaki lima malam hari.
Aroma sate padang, martabak, dan asap knalpot menyerbu masuk lewat ventilasi AC yang rusak.
Pajero itu mencoba mengikuti, tapi tertahan oleh angkot yang sedang ngetem sembarangan.
"Cepat, Pak! Terus masuk ke dalam!"
Pak Darman memacu mobil melewati gerobak nasi goreng, membuat para pembeli berloncatan. Ia hafal jalan tikus ini. Ia sudah menjadi sopir sejak Jakarta masih punya becak. Ia tahu setiap lubang, setiap polisi tidur.
Mereka berbelok tajam ke sebuah gang buntu di belakang deretan ruko tua yang sudah tutup. Pak Darman mematikan mesin dan lampu seketika.
Hening... Hanya suara hujan yang menghantam atap seng ruko dan napas mereka berdua yang memburu.
Di kejauhan, sirine masih terdengar meraung-raung, tapi menjauh.
Nara bersandar di jok, menatap langit-langit mobil yang kotor. Air matanya menetes, bercampur dengan air hujan di wajahnya.
"Ra..." suara Pak Darman bergetar. Ia menatap putrinya, wanita karier kebanggaannya, kini tampak seperti anak kecil yang ketakutan. "Kamu kenapa bisa tahu? Kamu... kamu nggak terlibat yang aneh-aneh kan di kantor?"
Nara menoleh. Ia melihat kerutan di wajah ayahnya, tangan kasar yang mencengkeram setir, dan seragam batik sopir yang sudah pudar warnanya.
"Nara cuma mau nyelamatin Bapak," isaknya. "Orang yang punya barang ini... dia klien kantor Nara. Dia bisa bikin kita hilang tanpa jejak, Pak."
Pak Darman menatap pouch di tangan Nara. "Kita buang saja. Atau lapor polisi."
"Nggak bisa, Pak. Polisi juga mungkin punya mereka," Nara tertawa getir. Sifat sinis Jaksel-nya kembali muncul. "Di kota ini, kebenaran itu komoditas, bukan hak, Dad. It’s literally transactional."
Tiba-tiba, kaca jendela samping Nara diketuk pelan. Tok. Tok. Tok.
Bukan gedoran kasar. Tapi ketukan sopan yang mengerikan.
Nara menoleh pelan. Di luar, berdiri seorang pria dengan payung hitam besar. Ia tersenyum ramah. Di belakangnya, dua orang berbadan tegap berdiri dalam bayangan.
Itu si penumpang tadi. Si pemilik barang. Ternyata mereka tidak lolos. GPS di flashdisk itu pasti aktif.
"Mbak Nara, kan?" pria itu berbicara, suaranya teredam kaca tapi jelas terdengar. "Bu Agnes titip salam. Dia bilang kamu karyawan yang cerdas. Tolong buka pintunya, sebelum saya harus merusak properti leasing ini."
Klimaks Tak Terduga
Pak Darman meraih kunci roda lagi, tapi Nara menahan tangannya. "Jangan, Pak. Bapak diem aja. Biar Nara yang ngomong."
"Ra, jangan gila!"
"Pak, trust me." Nara menatap mata ayahnya lekat-lekat. Tatapan yang sama saat Nara meyakinkan bapaknya untuk membiarkan dia kuliah di swasta mahal meski harus menggadaikan sertifikat rumah. Tatapan nekat.
Nara membuka pintu mobil. Ia melangkah keluar, langsung disambut payung yang dipegang salah satu pengawal. Hujan masih deras, tapi di bawah payung hitam itu, suasananya kering dan dingin.
Pria itu, namanya Pak Arman, Nara ingat dari daftar tamu VIP, tersenyum geli. Sepatu pantofelnya bahkan tidak terkena lumpur.
"Dedikasi yang luar biasa, Nara. Sampai mengejar sopir taksi kumuh begini demi klien," sindir Adrian. Matanya melirik Pak Darman yang siaga di dalam mobil. "Oh, tunggu. Saya lihat kemiripannya. Hidungnya. Matanya. Dia bapak kamu?"
Nara berdiri tegak. Ia merapikan blazer-nya yang basah seolah-olah ia sedang bersiap presentasi di ruang rapat. Postur tubuhnya berubah. Bahunya tegak, dagunya terangkat. Ia memanggil persona 'Mbak-mbak SCBD' yang angkuh dan tak tersentuh.
"Pak Arman," suara Nara stabil, meski lututnya gemetar. "Let’s cut the crap. Barang Bapak ada di saya."
"Bagus. Sini, kembalikan. Dan saya akan lupakan insiden kecil ini. Saya bahkan bisa kasih rekomendasi promosi ke Agnes." Adrian mengulurkan tangan. Telapak tangannya bersih, halus, tangan orang yang tidak pernah memegang setir kasar atau mencuci piring.
Nara tidak bergerak. Ia menggenggam pouch itu erat-erat. "Di dalam sini ada bukti transfer ke rekening offshore atas nama pejabat kementerian, kan? Project reklamasi yang minggu lalu izinnya keluar tiba-tiba?"
Senyum Adrian memudar. Wajahnya mengeras, seperti patung lilin yang kehilangan kehangatan. "Kamu terlalu banyak bicara untuk ukuran asisten junior."
"Saya sudah kirim copy datanya ke cloud," Nara berbohong. Ia bahkan tidak punya kuota internet tersisa, dan HP-nya mati total sejak tadi. Tapi Adrian tidak tahu itu. "Kalau saya atau bapak saya tidak pulang malam ini, email terjadwal akan terkirim ke lima redaksi media nasional dan KPK besok pagi jam 9."
Hening. Hanya suara rintik hujan yang mengisi ketegangan di antara mereka.
Pak Darman di dalam mobil menahan napas. Ia ingin keluar dan menghajar orang ini, tapi ia tahu, satu gerakan salah, Nara habis.
Adrian tertawa. Tawa yang kering dan meremehkan. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma corporate rat yang nyicil tas branded biar kelihatan sukses. Kamu pikir media berani muat berita itu? Saya bisa beli pimpinan redaksinya sebelum mereka sempat baca email kamu."
Dia maju selangkah. Pengawalnya ikut maju, tangan mereka meraba sesuatu di balik jas. Pistol? Pisau?
"Mungkin," jawab Nara cepat. "Mungkin Bapak bisa beli media. Tapi Bapak nggak bisa beli viralitas. Saya punya akun Twitter anonim dengan 50 ribu followers. Satu utas thread malam ini... Boom. Saham perusahaan Bapak besok pagi auto reject bawah."
Nara menggunakan satu-satunya bahasa yang dipahami orang-orang seperti Adrian: Risiko dan Kerugian.
Adrian berhenti. Ia menimbang-nimbang. Wajahnya menunjukkan kalkulasi cepat. Membunuh dua orang di gang sempit Benhil terlalu berisiko. Terlalu berantakan.
"Apa mau kamu?" desis Adrian.
"Hapus utang Bapak saya di aplikasi pinjol milik grup perusahaan Bapak. Semuanya. Lunas," kata Nara tegas.
Adrian menaikkan alis. "Itu saja? Receh sekali."
"Dan biarkan kami pergi. Sekarang."
Adrian menatap Nara lama, mencari keraguan. Tapi Nara adalah produk Jakarta yang keras. Dia sudah biasa dimaki bos, diremehkan klien, dan dikejar deadline mustahil. Tatapannya tidak goyah.
"Oke," kata Adrian akhirnya. Ia menjentikkan jari. Salah satu pengawalnya mundur. "Berikan barangnya."
"Bapak mundur dulu ke mobil. Jauh-jauh," perintah Nara.
Adrian mundur perlahan, matanya tidak lepas dari Nara. Setelah jarak mereka cukup aman, Nara meletakkan pouch itu di atas tong sampah kering di dekat tiang listrik.
"Pergi, Ra! Masuk mobil!" teriak Pak Darman.
Nara melompat mundur masuk ke dalam mobil. "Kunci, Pak! Mundur!"
Pak Darman memundurkan mobil dengan kecepatan penuh, keluar dari gang sempit itu, sementara Adrian dan pengawalnya berlari mengambil barang tersebut.
Saat mobil Calya itu kembali menyentuh aspal jalan raya Benhil yang ramai, Nara merosot di kursinya. Paru-parunya terasa mau meledak. Bohongnya berhasil. Dia tidak punya akun Twitter anonim. Dia tidak mem-backup data apapun.
Dia hanya menggertak sambal. Dan dia menang.
Akhir Bahagia
Satu jam kemudian.
Hujan sudah reda, menyisakan aroma aspal basah dan selokan yang meluap. Mobil Calya hitam itu terparkir di pinggir jalan daerah Blok M, di depan warung tenda pecel lele yang asapnya mengepul hangat.
Nara dan Pak Darman duduk di bangku plastik biru, menghadapi dua piring nasi uduk dengan lele goreng yang masih mendesis panas.
Nara sudah melepas blazer mahalnya yang rusak. Ia kini hanya mengenakan kemeja dalaman putih yang kusut. Rambutnya diikat asal-asalan. Riasan wajahnya sudah hilang sepenuhnya, menampakkan wajah aslinya yang lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang persis sama dengan milik ayahnya.
Pak Darman menuangkan teh tawar hangat ke gelas Nara. Tangan tuanya masih sedikit gemetar.
"Bapak takut setengah mati tadi, Ra," kata Pak Darman pelan, memecah keheningan. "Kamu nekat banget."
Nara menyeruput teh itu. Rasanya hambar, tapi hangatnya menjalar ke seluruh tubuh, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Kalau nggak nekat, kita nggak makan besok, Pak," jawab Nara sambil tersenyum tipis. Ia mengambil sepotong timun, mengunyahnya pelan.
"Itu orang... beneran bakal lunasin utang?" tanya Pak Darman ragu.
Nara mengeluarkan HP-nya yang baru saja ia charge di colokan warung. Ia menyalakan data. Ada notifikasi email masuk.
Surat Keterangan Lunas - PT Dompet Kilat Sejahtera.
Nara tertawa kecil. Tawa yang lepas, tanpa beban. "Lunas, Pak. Beneran lunas."
Pak Darman mengusap wajahnya, mengucapkan syukur berkali-kali. Beban yang selama ini menghimpit dadanya—yang membuatnya sesak napas setiap kali bangun tidur, tiba-tiba hilang.
"Tapi Ra..." Pak Darman menatap putrinya serius. "Besok kamu kerja gimana? Bos kamu... Bu Agnes itu, dia pasti tahu."
Nara meletakkan gelasnya. Ia menatap jalanan Jakarta yang mulai sepi. Lampu-lampu gedung tinggi masih menyala di kejauhan, menara gading tempat ia menghabiskan tiga tahun terakhir berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya.
"Nara nggak bakal balik ke sana, Pak," katanya tegas.
"Lho? Sayang dong, Ra. Gaji kamu gede. Gedungnya bagus. Kamu kan cita-citanya kerja di situ."
"Itu bukan cita-cita Nara, Pak. Itu cuma... gengsi," Nara menatap sepatu Tory Burch-nya yang kini penuh lumpur dan rusak. Sepatu seharga gaji sebulan bapaknya, yang kini tidak ada harganya sama sekali di warung pecel lele ini.
"Tadi, pas Nara berdiri hadap-hadapan sama Arman... Nara sadar sesuatu. Mereka nggak pernah anggep Nara manusia. Nara cuma asset. Kalau rusak, dibuang. Kalau berbahaya, dimusnahkan."
Nara mengambil tangan ayahnya yang kasar, penuh kapalan bekas memegang setir.
"Nara mau resign. Besok pagi. Lewat email."
"Terus kamu mau kerja apa?" Pak Darman cemas.
"Nara tadi sempet liat isi flashdisk-nya dikit sebelum dimasukin tas," Nara menyeringai nakal. Matanya berbinar cerdas.
"Astagfirullah, Ra. Kamu nyolong data?"
"Nggak nyolong. Cuma... mengingat," Nara mengetuk pelipisnya. "Ada daftar perusahaan kompetitor yang lagi diincar Adrian buat dihancurkan. Besok, Nara mau lamar kerja ke kompetitor itu. Nara punya insight strategi lawan. Selling point Nara bakal tinggi banget."
Pak Darman geleng-geleng kepala, takjub sekaligus ngeri melihat putrinya. "Kamu ini... bener-bener anak Jakarta."
"Harus, Pak. Kalau nggak gigit, kita digigit," Nara menyuapkan nasi uduk terakhir ke mulutnya. "Lagian, Nara udah capek pura-pura kaya. Mendingan Nara jadi kaya beneran dengan cara Nara sendiri. Tanpa utang. Tanpa takut."
Suara pengamen jalanan mulai terdengar, menyanyikan lagu Sheila on 7 dengan gitar yang sumbang. Jakarta kembali ke ritme normalnya. Kejam, bising, tapi anehnya, malam ini terasa lebih ramah.
Nara menatap gedung-gedung pencakar langit itu sekali lagi. Dulu, ia merasa kecil di bawah bayangan mereka. Sekarang, ia merasa setara. Ia tahu rahasia di balik kaca-kaca gelap itu. Ia tahu bahwa di balik jas Armani dan tas Hermès, mereka semua sama takutnya dengan sopir taksi yang telat bayar cicilan.
"Pulang yuk, Pak. Nara yang nyetir. Bapak tidur aja," kata Nara sambil berdiri, mengambil kunci mobil dari meja.
"Eh, jangan. Kamu kan capek."
"Nggak apa-apa. Sekalian Nara mau belajar. Siapa tau besok jadi sopir taksi juga kalau lamaran kerja ditolak," candanya.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang renyah, tawa keluarga yang baru saja lolos dari lubang jarum.
Mobil Calya hitam dengan bumper penyok itu pun perlahan meninggalkan Blok M, membelah malam, membawa dua petarung jalanan pulang ke rumah kontrakan sempit mereka. Di bagasi, tidak ada lagi beban utang. Di kursi depan, tidak ada lagi kepalsuan.
Hanya ada ayah dan anak, dan kota Jakarta yang menatap mereka dengan segan.
TAMAT