Suro Dlemok - Kebimbangan Revan

Penulis Yuan_bee
25 January 2026

“Dia cuma teman kampusku, juga temanku satu perguruan bela diri,” jawab Revan dengan penuh kepastian.

“Teman? Tapi kok tadi mesra banget? Jadi, kamu mau selingkuh?” tuduh Putri. Namun, ekspresi wajahnya tidak ada emosi yang timbul, melainkan kesedihan yang terlihat jelas. Putri mengusap air matanya yang membuat Revan bingung. Dia menganggap kalau dirinya telah melukai hati Putri.

“Memang dia temanku, tidak ada hubungan istimewa antara aku dan dia. Aku pun tidak tahu, mengapa dia tiba-tiba menyusup ke kamarku. Kamu jangan marah, ya?” pinta Revan mencoba menenangkannya.

Usaha Revan pun gagal. Putri hanya terdiam sesaat, lalu kembali menangis. Sontak, Revan kaget dan tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa menghentikan tangisnya.

Revan hanya bisa tertunduk lesu melihat kekasih gaibnya menangis. Dia sudah berusaha membujuknya agar tidak menangis, tapi tangisan Putri malahan semakin menjadi-jadi.

“Putri, maafkan aku. Jujur saja, aku benar-benar mencintaimu. Tak ada orang lain yang aku cintai selain dirimu. Kumohon, hentikan tangismu,” pinta Revan dengan lemah lembut sambil menggenggam kedua tangan halusnya.

“Putri, percayalah padaku, aku tidak selingkuh, Sayang,” sambung Revan sambil memeluknya.

Setelah tangisan Putri mulai mereda, dia pun melepas pelukannya, lalu memandang Revan dengan tatapan mata yang dalam.

Putri meraih bibir Revan, dan Revan pun membalasnya. Beberapa saat kemudian, sentuhan bibir mereka pun terlepas. Putri perlahan membuka mulutnya, seperti akan membicarakan sesuatu yang sangat penting.

“Bukan begitu, Revan,” ucap Putri yang sudah menghentikan tangisnya. Revan mengusap air mata Putri yang berlinang di pipinya.

Revan hanya terdiam untuk mendengarkan ungkapan hati dari Putri. Sesekali, dia menyeka air mata yang masih mengalir ke pipinya.

“Menurutku, mungkin lebih baik kau harus mendekati Nanda saja dan tinggalkan aku sejauh mungkin karena kita berdua beda alam, kita tak mungkin bisa bersama selamanya. Aku pun sadar diri, aku hanya arwah gentayangan yang akan membebani hidupmu,” tutur Putri yang membuat Revan tersentak kaget. Pandangan mata Putri berbinar, kemungkinan dia juga tidak Rela kalau harus melepas Revan.

Revan yang tidak terima jika harus meninggalkan Putri pun terus membujuknya agar dia tidak pergi darinya.

“Putri, aku benar-benar tidak menyukainya, mana mungkin aku mendekatinya. Diriku ini hanyalah untukmu.”

“Revan, kamu harus sadar. Kamu itu manusia, dan aku hanyalah makhluk gaib. Kita sudah berbeda jenis. Jadi, kamu harus mencari pasangan manusia juga!”

“Putri? Mengapa kamu berubah? Bukanya kamu sendiri yang mengatakan, meskipun kita beda alam, kita masih bisa bersama?”

“Maafkan aku, Revan. Dulu aku sangat mencintaimu, sehingga aku tidak menyadari perkataanku saat itu. Setelah aku pikir-pikir lagi, kita tidak mungkin saling mencintai, karena sudah melawan takdir.”

“Putri ....”

“Mungkin malam ini saat terakhir aku bertemu kamu, terima kasih atas semua yang telah kamu berikan padaku, termasuk ketulusan cintamu padaku.”

“Kenapa begitu? Kamu kan masih bisa setiap malam datang ke kamarku?!”

“Tidak bisa, Revan. Malam ini adalah malam ke empat puluh semenjak kematianku. Arwahku sudah tidak bisa lagi masuk ke dunia manusia. Maafkan aku, Revan. Aku memberitahukan padamu mendadak.”

“Putri, jangan pergi! Aku sudah nyaman denganmu! Tetaplah berada di sampingku!”

“Revan, lupakanlah aku! Kuharap kau bisa dekat dengan Nanda, kalian berdua sangat serasi, dia juga punya rahasia tentang organisasi Mawar Biru. Kau harus mendekatinya agar mendapatkan banyak informasi darinya. Satu lagi, tolong balaskan dendamku pada mereka dan ambil koperku yang mereka rampas,” pinta Putri.

“Putri! Jangan tinggalkan aku!” desak Revan sambil memeluk Putri agar dia tidak pergi darinya.

“Revan, selamat tinggal,” pamit Putri.

“Putri!”

Revan menangisi kepergian Putri. Dia merasakan kesedihan yang tiada tara, setelah kekasih hantu yang selama ini menemaninya setiap malam pun hilang.

Lambat laun, sosok Putri Eliza lenyap bagaikan asap yang beterbangan, sehingga Revan hanya memeluk angin saja. Dia yang tidak merelakan kepergian Putri pun hanya bisa tertunduk lesu.

Revan merebahkan tubuhnya di kasur, tidak sanggup menerima kenyataan yang pahit itu. Dia merasa hidupnya akan sepi setelah ditinggal oleh Putri.

Sambil rebahan, dia menatap ke langit-langit kamarnya, seolah-olah kenangan dan kisah cinta bersama Putri tergambar kembali. Semakin dia mengingatnya, semakin pilu juga rasa hatinya.

‘Putri, andai saja kamu adalah manusia, pasti aku sudah akan menikahimu,’ gumam Revan dalam hati.

Revan tidak ada pikiran untuk mencari pengganti Putri yang sama-sama dari golongan manusia. Yang ada di dalam otaknya hanyalah Putri seorang.

Revan tenggelam dalam kebimbangan yang tak pernah benar-benar ia pahami. Kepergian Putri Eliza, seorang kekasih yang bukan berasal dari dunia yang sama dengannya menyisakan kehampaan yang jauh lebih pekat daripada kesepian biasa. Ia tahu, sejak awal hubungan itu mustahil berujung bahagia. Namun, perasaan tidak mengenal batas nalar. Cinta telah tumbuh, mengakar, dan kini mencabik-cabik hatinya saat semua harus berakhir. Putri Eliza telah pergi, lenyap tanpa jejak, dan kenyataan pahit itu menolak diterima oleh sisi terdalam dirinya.

Pesan terakhir Putri masih terpatri jelas dalam ingatannya. Suaranya lembut, penuh ketenangan yang bertolak belakang dengan badai di dada Revan. Ia meminta Revan melupakan dirinya dan mencintai Nanda saja, seorang perempuan yang hidup, bernapas, dan berbagi dunia yang sama. Pesan itu bukan permintaan egois, melainkan pengorbanan. Namun, justru di situlah Revan merasa kalah. Ia ingin patuh, ingin melangkah maju seperti yang diminta, tetapi hatinya telah lebih dulu memilih dan menolak berkompromi.

Malam itu, Revan keluar dari kontrakan dengan langkah gontai. Tanpa tujuan dan rencana yang jelas. Pintu ditutup perlahan, seolah ia takut suara kecil pun bisa memecahkan pikirannya yang rapuh. Jalanan tampak sepi, hanya lampu-lampu jalan yang berkedip samar, memantulkan cahaya kusam di aspal yang masih lembap. Angin malam menyentuh kulitnya, dingin dan menusuk, membawa aroma tanah basah yang menambah rasa muram.

Beberapa kali Revan merasa langkahnya tidak sendiri. Ada sensasi aneh, seolah bayangan bergerak mengikuti, menjaga jarak, tapi tak pernah benar-benar pergi. Ia mendengarnya, merasa ada desir halus, langkah samar. Namun, Revan memilih mengabaikan semua itu. Pikirannya terlalu sibuk memutar ulang kenangan bersama Putri Eliza, juga kekhawatiran akan Eko, teman kampusnya yang menghilang, terakhir kali pamit untuk observasi ke sebuah desa seram, sekarang tak ada kabar sama sekali. Keheningan dari Eko terasa tidak wajar, seperti pertanda buruk yang belum menampakkan wajahnya.

Langkah Revan terhenti di atas jembatan besar kota tersebut. Ia mendongak, menatap langit. Bintang-bintang berusaha menembus selimut awan mendung, cahaya mereka redup dan ragu, seolah mencerminkan hatinya sendiri. Dadanya terasa sesak. “Kenapa rasanya belum selesai?” bisiknya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada malam.

Tiba-tiba, sebuah tarikan keras menyentak tangannya ....