Suro Dlemok - Mengumpulkan Tiga Orang Sakti

Penulis Yuan_bee
25 January 2026

Tiba-tiba, sebuah tarikan keras menyentak tangannya.

Revan tersentak, napasnya tercekat. Jantungnya berdentum cepat, darah seakan berhenti mengalir. Dalam satu detik yang terasa panjang, ia sadar bahwa kebimbangan ini bukan sekadar urusan perasaan.

Kemudian, dia diseret oleh seseorang dan dimasukkan ke sebuah mobil. Setelah Revan masuk, dia menutup pintu, lalu mobil pun berjalan.

“Apakah putus cinta membuatmu ingin mati konyol?” tanya orang di samping Revan.

“Amira, rupanya kamu? Aku bukan mau ...,” kata Revan kaget. Ekspresi wajahnya masih terlihat sedih akibat kebimbangan yang dia derita.

“Lupakan semua masalahmu. Sekarang, kami membutuhkanmu.”

“Membutuhkanku? Buat apa? Aku hanya laki-laki lemah yang tidak bisa apa-apa. Bunuh saja aku sekarang juga! Aku sudah tidak ada gunanya untuk mengarungi kehidupan di dunia!”

“Kondisi sekarang dalam keadaan gawat darurat dan kau harus ikut kami, mau atau pun tidak.”

Setelah pria yang mengemudi mobil mengatakan hal itu, akhirnya suasana hati Revan berubah. Awalnya, dia hanya terdiam membisu, terperangkap dalam kebimbangan, kini ia sudah melupakan hal itu.

“Kau mau bawa aku ke mana?” tanya Revan.

“Ke perguruanmu, tempat latihanmu” sela pria yang mengemudi dengan singkat.

“Membawaku ke sana untuk apa? Aku tak punya keistimewaan, takutnya malah membebani.”

“Tenang saja, kami tidak akan merasa terbebani, justru kalau kau membantu kami, itu malah lebih bagus,” ucap Pria yang mengemudi.

“Oh iya, perkenalkan. Dia adalah bosku. Namanya, Dicky,” ucap Amira.

“Dicky?” sahut Revan kaget, merasa pernah mendengar nama tersebut.

“Kenapa? Apa kamu sudah mengenal Bos?”

“Em ... belum, iya belum,” kilah Revan sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya, ada yang mengganggu di pikirannya. Dia merasa pernah mendengar nama itu, tapi di mana?

Revan mencoba mengingatnya kembali. Setelah beberapa saat, dia baru menyadari kalau Dicky adalah tunangan dari Putri Eliza semasa hidupnya. Lantas, mengapa Dicky membutuhkannya? Itulah pertanyaan dalam lubuk hatinya yang belum terjawab.

“Cincin apa itu?” tanya Dicky yang sudah melihatnya dari bangku pengemudi. Revan pun bingung, bagaimana bisa Dicky tahu kalau dia memakai cincin?

“Cincin ini adalah warisan dari kakekku. Ayahku yang memberikannya padaku.”

“Begitu ya, apa cincin itu ada isinya?” tanya Dicky.

“Isi apa, Bang?”

“Makhluk gaib, atau sejenisnya?”

“Entahlah, aku tidak tahu cincin ini isi atau tidak, karena kata ayahku; aku disuruh untuk selalu memakainya agar selalu aman.”

“Kesimpulannya, cincin itu sebagai pelindung diri?”

“Bisa jadi.”

Setelah itu, Amira menyuruh Revan untuk melepaskan cincinnya. Revan pun menurutinya. Amira pun memeriksanya, karena ingin mengetahui isi di dalamnya.

“Bagaimana, Amira?” tanya Dicky.

“Menurutku, benda ini hanya cincin biasa, tidak ada istimewanya. Hanya saja, batu permatanya terlihat indah kalau dilihat dari dekat,” jelas Amira sambil mendekatkan cincin itu pada matanya.

Mobil pun sampai di padepokan Sepuh. Mereka berdua mengantar Revan menghadap Sepuh.

Rupanya, di sana sudah ada seorang bapak-bapak yang duduk di depan Sepuh. Dia sedang mendengarkan perkataan sepuh dengan saksama. Seperti mereka membicarakan topik yang sangat penting.

“Puh, aku bawa anak yang Anda maksud,” sela Dicky.

“Bagus, dua orang sudah terkumpul. Malam ini juga, kau harus bawa keduanya ke padepokan Mbah Seno. Cari satu orang lagi sesuai alamat yang aku berikan padamu,” perintah Sepuh kepada Dicky dan Amira.

“Baik, Puh,” sahut mereka berdua.

“Tak kusangka, kau orang pilihan, Revan,” ujar Amira. Setelah dia mendengar ucapannya, dia hanya diam, lalu mengangkat kedua bahunya karena tidak tahu apa maksudnya.

Dicky dan Amira mengantar Revan dan bapak itu ke mobil. Setelah semuanya sudah masuk, Dicky mulai menjalankan mobilnya. Revan tak tahu arah dan tujuan, dia hanya mengikuti Dicky saja ke mana dia akan membawanya.

Amira duduk di samping Dicky yang sedang menyetir. Sedangkan Revan dan Joko duduk di jok belakang. Suasana kota yang lampunya gemerlapan membuat Revan tersenyum sendiri.

“Aku senang kalau Bapak berubah pikiran. Apalagi bersedia ikut kelompok kami,” ujar Dicky.

“Daripada narik ojek, penghasilan tidak menentu.”

Revan pun bertanya tentang dirinya. Rupanya, orang itu adalah Pak Joko, tukang ojek yang mempunyai kalung ajaib. Revan pun menjelaskan tentang dirinya, sehingga mereka berdua kenal satu sama lain.

Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota yang ramai. Revan dan Joko yang duduk di kursi belakang tertidur.

Sedangkan Amira yang duduk di sebelah Dicky masih menikmati perjalanan tanpa sepatah kata pun.

Hingga setelah beberapa saat mobil melaju, Amira mengerutkan keningnya melihat kendaraan yang ditumpanginya berbelok.

“Lho, bukannya lurus saja, kenapa kamu belok?” tanya Amira kaget. Dia menganggapnya kalau Dicky mengambil jalan yang salah.

“Aku diperintahkan oleh Sepuh untuk menjemput satu orang lagi, dia adalah orang yang mempunyai gelang sakti,” ungkap Dicky.

“Gelang sakti?” tanya Amira mengulangi perkataan Dicky.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Aku cuman tidak paham. Mengapa kita harus mengumpulkan tiga orang itu?”

“Begini, setelah aku mengumpulkan tiga orang, aku disuruh untuk menempanya agar kekuatannya semakin bertambah.”

“Apa kau yakin, bisa menyerang organisasi Mawar Biru hanya dengan tiga orang itu?”

“Aku sangat yakin, bukan cuman tiga orang saja, nanti akan ditambah beberapa pasukan yang ada di padepokan. Kita pasti bisa melawan kejahatan mereka!”

Amira hanya menganggukkan kepalanya tanda sudah mengerti maksud darinya.

“Sebelum aku suruh untuk melawan organisasi Mawar Biru itu, terlebih dahulu, aku akan menguji mereka untuk mengalahkan makhluk gaib di kampung yang angker,” lanjut Dicky.

“Kampung yang mana, Bos?” tanya Amira.

“Kampung di mana jasad tunanganku hilang.”

Revan yang mendengar obrolan mereka berdua pun terbangun. Namun, dia hanya diam sambil melihat pemandangan pinggir jalan yang indah saat malam. Revan baru tahu, saat itu tidak berada di kota lagi, melainkan masuk ke sebuah kota kecil. Sementara Joko, masih tertidur lenyap dengan posisi duduk.

“Maaf, Bang. Kalau boleh tahu, nama tunanganmu siapa?” tanya Revan.

“Namanya, Putri Eliza. Kau kenal dia?”

“Aku tidak kenal, hanya bertanya saja.”

Revan yang melihat ekspresi Dicky pun gugup, karena Putri Eliza adalah gadis yang ia cintai, meskipun hanyalah arwahnya saja. Ternyata Dicky yang merupakan tunangan dari Putri Eliza bukanlah lelaki sembarangan, dia adalah pemimpin organisasi.

Mobil pun berhenti di sebuah rumah yang berada di pinggir sungai. Dicky mencari gang untuk memutar mobilnya. Lalu, berhenti di depan rumah yang dindingnya memakai kayu.

Meskipun begitu, rumah itu masih terlihat kokoh, dan kondisinya sangat terawat, serta lingkungannya sangat bersih. Setelah Revan melihat-lihat sekeliling, rupanya mereka memasuki sebuah desa yang jarak antar rumahnya cukup jauh, tidak berdekatan seperti di kota besar.

“Kau yakin ini rumahnya?” tanya Amira.

“Sangat yakin.” Dicky membunyikan klakson mobilnya, membuat pintu rumah itu terbuka.

Kemudian, ada seseorang yang keluar dari rumah itu ....