Kemudian, ada seseorang yang keluar dari rumah itu. Dia adalah seorang pemuda laki-laki dengan kumis tipis dan rambut cepak.
“Dia orangnya?” tanya Amira.
“Entahlah. Coba kamu lihat, apa dia memakai gelang?”
“Sepertinya tidak.”
“Coba lebih teliti lagi.”
“Ga ada, Bos. Dia ga makai gelang.”
“Rupanya bukan dia orang yang aku cari. Mungkin aku harus menjemput ke rumahnya untuk memastikan alamat rumah ini benar atau tidak,” ujar Dicky sambil membuka pintu mobilnya.
Tak berselang lama, pintu rumah itu kembali terbuka, ada seorang laki-laki yang sedang bersalaman dengan ibunya. Kemudian, dia berjalan mendekati mobil yang mereka tumpangi.
“Jangan bilang, kalau orang yang kamu cari adalah seorang bocah SMA!” pekik Amira.
“Kamu jangan menilai dari fisiknya saja, tapi kemampuan dan kemauannya!”
Revan yang penasaran mengintipnya dari dalam mobil.
Memang benar, bocah itu adalah orang yang Dicky cari. Dia melambai kepada ibunya yang berdiri di bawah pintu rumahnya sebagai tanda berpamitan kepada ibunya.
Setelah itu, dia berjalan menuju mobil. Sepertinya antara Dicky dan laki-laki itu sudah membuat janji sebelumnya. Sehingga, dia tahu kalau malam itu akan ada seseorang yang akan menjemputnya.
“Abang sudah lama menungguku?” ucap bocah itu.
“Aku baru saja sampai sini,” sahut Dicky.
“Kamu duduk di belakang, atau mau dipangku tante Amira?” canda Dicky.
Setelah mendengar ocehan Dicky, Amira mengerutkan keningnya. Namun, dia tidak berani menyangkal bosnya karena takut kalau Dicky marah padanya.
“Aku duduk di belakang aja, Bang.”
“Baiklah kalau itu maumu.”
Revan pun mempersilahkan dia untuk duduk di tengah-tengah, antara Revan dan Joko. Revan kaget setelah melihat wajah laki-laki itu yang mirip dengannya waktu duduk di bangku SMA. Amira yang sadar kalau Revan dan dia ada kemiripan pun sempat melirik mereka berdua yang duduk berdampingan.
“Kalian berdua seperti kembaran.”
“Kakak dan adik haruslah selalu rukun dan tidak boleh bertengkar,” ledek Dicky. Rupanya, meskipun sikapnya dingin, terkadang dia suka bercanda juga.
“Namamu siapa?” tanya Revan.
“Aku Wahyu, Kak.”
“Aku, Revan. Salam kenal ya,” kata Revan sambil bersalaman dengan Wahyu.
“Iya, Kak. Salam kenal. Lalu, siapa yang sedang tidur?” tanya Wahyu.
“Entahlah. Aku juga belum tahu Bapak itu siapa.”
“Dia adalah Pak Joko, yang mempunyai ilmu gaib dari kalungnya. Beliau bisa selamat dari kejaran hantu dengan kekuatan kalung itu,” jelas Dicky.
“Kenapa ibumu mengizinkan ikut ke kelompok kita?” tanya Amira.
“Sebenarnya aku tidak diperbolehkan untuk ikut. Namun, karena ada niat balas dendam atas kematian ayahku. Ibuku pun mengizinkan, asal harus hati-hati dan waspada,” jelas Wahyu.
Setelah itu, mereka semua terdiam tanpa ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut.
Mobil milik Dicky melaju dengan kecepatan sedang. Semua orang yang berada di dalam mobil berada di alam mimpi, kecuali Dicky yang sedang mengemudi.
Setelah sekian lamanya, dia memasuki kawasan hutan yang gelap.
‘Sudah lama aku tidak ke tempat ini. Mbah, aku datang,’ batin Dicky di dalam hatinya.
Perjalanan tadi yang memakan waktu sekitar enam jam pun akhirnya sampai di suatu tempat. Mobil itu berhenti, membuat semua penumpang yang berada di dalam mobil pun terbangun, lalu mereka menyadari kalau hari sudah menjelang pagi.
Sang fajar mulai menyingsing dari ufuk timur. Langit yang tadinya gelap, sekarang warnanya berubah kebiruan. Matahari mulai muncul dari cakrawala, diikuti awan putih yang mulai terlihat.
Revan yang keluar dari mobil pun takjub dengan pemandangan alam yang ada di sekitarnya. Tidak hanya Revan saja, Wahyu dan Joko yang belum pernah datang ke tempat itu pun merasa takjub.
“Sekarang kita di mana, Bang?” tanya Revan.
“Kita di tempat wisata Jatilahar, Desa Jatisari. Salah satu Desa tertinggi yang berada di bawah kaki gunung,” Jawab Dicky.
“Wah, bagus sekali bang. Ada matahari terbit tuh,” ujar Wahyu sambil terbengong melihat keindahan mentari terbit yang sangat jelas.
“Woy, Bocah. Kenapa kamu ikut kami?!” sergah Joko yang baru saja menyadari ada Wahyu yang bergabung.
“Aku ....”
“Tak apa, Bang. Dia sudah diizinkan oleh ibunya tadi malam. Biarkan saja dia ikut. Toh, dia juga sudah bisa menjaga dirinya sendiri,” ujar Dicky.
“Janji ya, jangan menyusahkan kami.”
“Iya, aku janji,” ucap Wahyu.
Revan tersenyum puas setelah berkunjung ke tempat itu. Seketika, dia melupakan kesedihan yang dia alami karena ditinggal oleh sosok Putri Eliza.
“Ayo, kita lekas ke tempat Mbah Seno. Tujuan kita ke sini bukan untuk berwisata, melainkan memperdalam ilmu kalian bertiga sesuai kemampuan masing-masing,” ajak Dicky untuk berjalan mengikutinya.
“Baik,” sahut mereka.
“Kayaknya mereka bertiga meragukan?” bisik Amira yang posisinya berada di belakang Dicky.
“Meragukan bagaimana?” tanya Dicky, “masing-masing dari mereka memiliki benda pusaka yang punya kemampuan berbeda-beda. Namun, kalau mereka bertiga tidak ditempa terlebih dahulu, kekuatan itu tak bisa digunakan dengan baik.”
Revan yang berada tepat di belakang Amira sebenarnya mendengar percakapannya, tapi dia tidak menghiraukannya. Lebih memilih fokus untuk menempa dirinya agar lebih kuat.
Mereka melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki hingga memasuki hutan. Jalan setapak itu usah dilalui seperti jalur pendakian, ada kalanya terjal dan licin. Pohon-pohon yang besar dan menjulang tinggi seakan menyambut kedatangan mereka.
Ada juga pohon yang rantingnya melengkung seakan menambah kesan horor. Untung saja mereka sampai di tempat itu pagi hari, sehingga mengurangi ketakutan yang dialami.
Setelah sampai di tempat yang cukup datar, mereka rehat sebentar untuk menghela napas karena lelah berjalan.
“Maaf, Mas. Aku tidak bisa bela diri, mengapa kamu mengajakku?” tanya Joko.
“Bapak dan dua yang lain akan saling mengisi dan melengkapi satu sama lain. Sepuh tidak mungkin gegabah dalam memilih orang, pasti sudah mempertimbangkannya baik-baik.”
“Tapi, Bang. Bagaimana bisa beliau tahu, kalau kami bertiga punya benda yang memiliki kekuatan?” tanya Revan.
“Apa Amira tidak menjelaskan padamu?”
“Sepertinya belum.”
“Aku memang tidak menjelaskan dengan gamblang padamu. Aku hanya mengintaimu setiap waktu untuk mengetahui rahasiamu. Itulah kenapa aku curiga padamu dan selalu memeriksa barangmu yang ada di kamar,” sela Amira.
“Jawabannya, Sepuh bukan orang biasa. Dia punya ilmu yang kuat, hanya saja, dia sudah lemah karena usia yang lanjut.”
“Oh, jadi begitu, ya.”
Mereka masih melanjutkan perjalanannya menuju ke suatu tempat. Rupanya, ada air terjun tersembunyi di dalam hutan itu. Meskipun tidak terlalu tinggi, tapi keindahannya mampu memanjakan mata yang memandang.
Di bawahnya, ada sungai besar yang airnya sangat bersih dengan aliran air yang tenang.
“Tujuan kita ke seberang sungai itu. Di sebelah pondok, ada sebuah gua, tempat untuk menempa ilmu kalian bertiga,” ujar Dicky.
“Wah, pemandangannya sangat indah,” puji Wahyu.
“Kamu bisa menyeberang?” ledek Joko.
“Aku bisa menyeberang sendiri, Pak.”
Di sungai itu tidak ada jembatan, sehingga mengharuskan mereka untuk menyeberang. Mungkin saja dulu ada, tapi sudah roboh, bisa dilihat ada bekas reruntuhan di pinggir sungai tersebut.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka sampai di sebuah padepokan. Namun, entah kenapa tempat itu sepi, sepertinya tidak ada aktivitas bela diri atau apa pun.
Di depan pintu masuk padepokan itu, ada ....