Di depan pintu masuk padepokan itu, ada seorang perempuan yang sedang menyapu halaman.
Perempuan itu berkulit putih dan memiliki rambut hitam lurus, diikat dengan bentuk kuncir kuda. Tubuhnya yang semampai membuat orang yang melihatnya pasti terpesona. Revan yang baru saja tahu, ada perempuan secantik itu, tanpa sadar menggigit bibirnya.
“Tiara, Mbah Seno ada?” tanya Dicky.
“Di dalam, Bang. Sudah lama ya, kamu tidak ke sini?”
“Iya, banyak yang harus aku lakukan semenjak organisasi Mawar Biru menyerang.”
“Lantas, ke mana semua orang?” imbuh Amira.
“Padepokan ini sudah tutup sejak lama, dulu pernah di serang oleh para penjahat yang kemungkinan adalah anggota organisasi Mawar Biru,” ungkap Tiara.
“Mereka lagi!” gerutu Dicky.
“Mereka bertiga siapa?”
“Oh, iya. Aku lupa memperkenalkan kepadamu. Pak Joko, Revan, dan yang di sebelahnya, Wahyu. Mereka adalah murid Sepuh yang datang ke sini untuk menempa kemampuannya agar lebih kuat,” jawab Dicky.
Tiara menganggukkan kepalanya, lalu menyuruh mereka semua masuk. Dia yang melihat Revan seperti ada sesuatu rasa yang tidak bisa diungkapkan. Revan sengaja berjalan di paling belakang untuk kembali melirik Tiara dari kejauhan. Namun, Tiara yang ketahuan dipergoki Revan pun melotot.
Meskipun mereka berdua belum saling mengenal, tapi seperti sudah ada ikatan batin yang tercipta sejak pertama kali bertemu.
‘Sepertinya ada tatapan aneh pada perempuan itu,’ gumam Revan dalam hati.
‘Aku kok penasaran ya, dengan pemuda tadi,’ batin Tiara.
“Permisi, Mbah,” sapa Dicky kepada seorang pria tua yang sedang mengasah keris.
“Sudah lama ya, kamu tidak ke sini,” ujar laki-laki tua yang bernama, Mbah Seno. Dilihat dari fisiknya, usianya masih lebih muda dari Sepuh.
“Maaf Mbah, banyak pekerjaan yang harus aku lakukan,” dalih Dicky.
“Bagaimana dengan para orang-orang itu, apakah masih membuat ulah?”
“Masih, Mbah. Maka dari itu, saya membawa tiga orang untuk ditempa ilmunya agar kemampuan mereka bisa digunakan.”
“Baiklah, aku terima tiga murid yang kamu kirim untuk kulatih.”
Setelah itu, Mbah Seno mengatakan kalau mereka bertiga harus menginap di pedepokan itu selama seminggu lebih, sampai mereka kuat dan siap.
Dicky kembali bertanya kepada mereka bertiga tentang kesanggupannya, pada akhirnya mereka menjawab dengan mengangguk.
“Tenang saja, untuk perlengkapan menginap kalian bertiga, sudah aku siapkan di tas,” ucap Dicky, “Amira!”
“Iya, Bos,” jawab Amira sambil meletakkan dua tas besar.
“Sekarang, kalian bertiga bergurulah dengan Mbah Seno. Aku akan tinggalkan kalian di sini untuk sementara waktu,” ujar Dicky.
Setelah itu, Dicky dan Amira pun pamit meninggalkan padepokan itu. Di padepokan itu, Revan berlatih lebih intens dari sebelumnya. Dia sudah melupakan Putri Eliza yang sudah pergi meninggalkannya. Namun, di sela-sela latihan, Tiara terus memergokinya, seperti ada niat yang terselubung pada hatinya.
Scene berpindah ke sebuah kampung
Teror boneka melayang masih belum teratasi saat itu juga. Para bapak-bapak sedang melakukan demo di balai desa. Mereka butuh solusi dari Kepala Desa agar teror di desanya segera teratasi.
Semenjak desa itu terkena teror, tidak hanya banyak korban yang meninggal. Namun, sangat berefek besar dengan hasil panen. Meskipun kebutuhan air tercukupi, tapi banyak hama yang menyerang tanaman mereka. Terutama hama tikus dan hewan pengerat lainnya. Sehingga, para petani di desa itu terancam gagal panen.
Tidak ada yang tahu, apakah hama itu ada kaitannya dengan teror hantu tersebut?
Tidak sedikit juga yang meninggalkan rumahnya demi tinggal di tempat yang nyaman. Kondisi seperti itu membuat Kepala Desa dan para perangkatnya harus memutar otak, demi kemajuan desanya.
“Pak Lurah, bagaimana ini, setiap malam selalu dihantui oleh boneka setan itu!” kata warga yang melapor.
“Tenang, tenang, wargaku semua. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan teror itu,” dalih Pak Kepala Desa.
“Usaha apa, Pak? Sampai sekarang belum ada perubahan sama sekali!” sangkal warga yang lain.
Warga desa yang tidak puas dengan jawaban pemimpinnya, tiba-tiba maju dengan berteriak, sepertinya akan menyerang kepala desa. Dengan sigap, ada yang melindungi Kepala Desa dari amukan masa.
Demo itu berlangsung ricuh, sehingga perangkat desa sibuk menertibkan warganya. Di sela-sela kerumunan, ada Maman dan Bejo yang berdiri di belakang.
“Apa kau merasa ada yang aneh dengan Kepala Desa?” tanya Maman.
“Tidak, Kang. Memangnya aneh kenapa?”
“Dari raut wajahnya seperti ada sesuatu yang disembunyikan.”
“Aku kan sudah pernah bilang, kalau Kepala Desa memang pelaku pesugihan itu.”
“Bukan begitu maksudku. Masa kamu menuduh dia melakukan pesugihan. Tidak mungkin dia menumbalkan warganya sendiri.”
“Iya, Tapi maksudmu, aneh gimana?”
Maman tidak menjawab, dia sibuk menyaksikan kerusuhan itu.
“Berhenti! Para warga diharap diam!” tampik salah seorang pria yang muncul dari belakang Kepala Desa.
Seketika pandangan semua warga yang sedang demo tertuju padanya. Dia melangkah menuju ke tempat Kepala Desa dengan percaya diri, seperti tidak mempunyai dosa masa lalu.
“Kang, kamu kenal dia?” tanya Bejo.
“Tidak. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.”
“Bagaimana bisa, orang luar membela Kepala Desa?”
“Betul, Jo. Maka dari itu, tadi aku menyebutnya aneh.”
Setelah itu, mereka berdua kembali fokus menonton demo itu lagi.
“Siapa kamu? Berani-beraninya mencampuri urusan desa kami!” bentak warga.
“Memangnya kenapa tidak boleh? Aku adalah kakak kandung dari pemimpin kalian! Aku ingin membantu adikku untuk menghentikan teror itu!” seru orang itu.
Setelah dia mengakui siapa dirinya, para warga pun saling memandang dan saling berbicara satu sama lain. Banyak dari mereka bergunjing, menimbulkan suara dengung seperti lebah dalam jumlah yang banyak.
“Perkenalkan, namaku Marwito! Tujuanku ke sini hanya untuk membantu Kepala Desa Rujito dan juga para warga semua untuk menyelesaikan teror yang melanda desa ini!” teriaknya dengan lantang.
Para warga masih saja bersahutan dan penasaran dengan orang itu. Sepengetahuan mereka, Kepala Desa Rujito tidak memiliki saudara kandung. Lantas, siapakah dirinya?
“Sesuai penerawanganku, hantu yang meneror desa kita ini memang aneh, mungkin penyebabnya ada salah seorang warga yang melakukan praktik pesugihan. Oleh sebab itu, saya menghimbau kepada bapak-bapak semua agar jangan menuduh adik saya melakukan pesugihan.”
“Lalu, siapa yang melakukan pesugihan?!” teriak salah satu warganya.
“Kami tidak ada yang melakukan pesugihan!” sangkal yang lain.
“Kami semua tidak ada yang menjadi orang kaya!”
Warga yang lain meneriaki kalau orang itu adalah sewaan Kepala Desa untuk membelanya. Marwito berusaha menenangkan para warga, sedangkan Rujito hanya diam saja, duduk di belakangnya sambil santai mengisap batang rokoknya.
“Kalian kenal Subroto?”
“Iya, tahu,” sahut orang-orang.
“Kalau tahu, memangnya kenapa?” tanya salah seorang warga.
“Dia juragan teh yang sudah sukses, kan?” kelit Marwito, “apa selama ini Bapak-bapak tidak memperhatikannya, mengapa dia sukses dan uangnya terus mengalir tanpa henti?”
Para Bapak-bapak pun terdiam membisu. Setelah itu, ada seseorang yang membenarkan omongan Marwito dan bergegas untuk mendemo Juragan Broto.
Sudut pandang berpindah ke Maman dan Bejo.
“Bukankah Juragan Broto adalah saingan Pak Kepala Desa Rujito saat dulu pemilihan lurah?” tanya Bejo.
“Betul, Jo. Rupanya kau masih mengingatnya ya.”
“Iya, apalagi tragedi pembakaran Balai Desa lima tahun lalu, saat itu tragis sekali.”
“Pembakaran? Balai desa?” pikir Maman.
Maman pun kembali mengingat kejadian itu ....