Maman pun kembali mengingat kejadian itu, kebetulan saat itu, dia sendiri menjadi tim suksesnya Juragan Broto dan ikut serta membakar Balai Desa. Dia sekarang baru menyadari kalau tindakan itu tidaklah terpuji. Maman hanya menjalankan perintah dari atasannya, karena bosnya mengancam akan membunuh anak buahnya kalau tidak patuh padanya.
Mengingat hal itu, dia sangat menyesal, untung saja Juragan Broto membayar polisi agar kedua belah pihak damai. Setelah peristiwa kelam itu, dia memutuskan untuk berhenti bekerja di bawah arahan Juragan Broto dan memilih untuk menjadi petani biasa, meskipun pendapatan yang diterimanya hanya pas-pasan saja.
Kepala Desa Rujito menjabat selama dua periode, dan belum pernah kalah dari Juragan Broto selama pemilihan. Akibatnya, mereka berdua tak pernah ada kerukunan. Kedua belah pihak masih bersaing menjadi yang lebih baik untuk menjadi pemimpin desa.
“Kang, kenapa melamun?” kata Bejo menepuk pundak Maman.
Maman kaget dan baru saja tersadar dari ingatan masa lalunya. Betapa pedihnya menjadi antek-antek calon Kepala Desa.
“Kang, kita harus gimana? Mau ngikut mereka semua ke tempat Juragan Broto, atau pulang saja?” lanjut Bejo memberi pilihan. Ternyata para pendemo sudah pergi meninggalkan tempat itu dengan menaiki motornya berboncengan. Tujuannya adalah pergi ke pabrik teh milik Juragan Broto agar dia buka suara tentang praktik pesugihan yang dia lakukan.
“Em ... terserah kau saja. Aku kan hanya menjadi pembonceng,” jawab Maman.
“Kalau kita ikuti mereka bagaimana?”
“Boleh saja, aku juga ingin tahu kabar dari mantan majikanku.”
Mereka berdua pun menaiki sepeda motor mengikuti rombongan tadi. Mereka berada di barisan paling belakang dan hampir saja terpisah dari rombongan.
Kepala Desa beserta rombongannya pun turut serta menggunakan mobil menuju tempat Juragan Broto.
Setengah jam pun berlalu, tibalah di sebuah pabrik yang berdiri megah, di depannya tertulis, “Heaven Tea Factory.”
Pabrik itu di kelilingi oleh perkebunan teh yang berjajar rapi, seakan membuat pemandangan lebih menakjubkan.
“Juragan Broto, keluarlah!” seru Marwito.
Para warga berdiri di depan kantornya untuk melakukan unjuk rasa. Mereka meneriakinya bersahutan.
“Ada apa ya, kok ramai-ramai?” tanya seseorang yang baru keluar dari kantornya.
“Mandor Sugi?” bisik Maman lirih.
“Maaf, Bapak-bapak, sebenarnya ini ada apa? Kita bisa bicarakan baik-baik.”
“Pak Broto melakukan praktik pesugihan yang merugikan semua warga desa. Karena praktik itu, setiap malam pasti ada yang menjadi tumbal! sergah Marwito.
“Tidak mungkin bos saya melakukan pesugihan, pasti semua itu semua fitnah!” sangkal Mandor Sugi.
“Kamu alasan saja, mana bos kamu?!” seru Kepala Desa yang berjalan dari belakang kerumunan.
“Dia sedang sibuk, katanya tidak mau diganggu dulu.”
“Alah kebanyakan cingcong! Ayo serbu saja! Luluh lantakkan tempat ini!” seru Marwito.
Para warga pun memasuki kawasan pabrik itu, tapi Maman merasakan ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Bejo yang juga ikut maju, langkahnya dihentikan oleh Maman. Kemudian, dia menarik Bejo mundur, lalu menyuruhnya sembunyi.
“Kenapa, Kang?”
“Sebaiknya kita tidak usah ikut campur urusan mereka, kita lihat saja, apa yang akan terjadi selanjutnya.”
Bejo menuruti perintah Maman, selanjutnya mereka berdua lebih memilih diam dan memperhatikan apa yang akan terjadi.
Tiba-tiba, mereka berdua kaget setelah melihat keanehan benar-benar terjadi. Alih-alih menyerang Juragan Broto di dalam pabrik, para warga termasuk Kepala Desa Rujito lari terbirit-birit.
Melihat keanehan itu, Bejo yang penasaran ingin melihatnya pun dihentikan oleh Maman agar tetap berdiam diri di tempat.
“Ada apa lagi, Kang?”
Maman tak menjawabnya, tapi memberikan kode agar dia segera diam. Mereka berdua mengintip dari celah-celah tanaman teh itu. Maman sudah tahu, hal itu akan terjadi. Sedangkan Bejo masih penasaran.
Rujito berlari menuju mobilnya dengan tergesa-gesa, seketika dia tancap gas meninggalkan orang lainnya.
Bejo yang melihat peristiwa itu merasa ada sesuatu yang janggal. Awalnya Kepala Desa beserta rombongannya melakukan aksi demo, tapi tak berselang lama, mereka malahan pergi begitu saja.
‘Lantas Marwito ke mana?’ batin Maman dalam hati.
“Woy, Rujito. Apa kamu belum kapok juga? Dulu kantormu sudah aku bakar sampai habis, sekarang mau bikin ulah lagi, hah?!”
Rupanya, dia adalah Juragan Broto. Maman dan Bejo terbelalak kaget setelah melihat Juragan Broto menjinjing suatu benda di tangan kirinya.
Tangan kanannya membawa sebuah celurit panjang yang sudah ada bekas darahnya yang masih mengucur ke tanah.
Setelah diamati lebih lanjut, benda yang di jinjing Juragan Broto adalah kepala Marwito yang sudah terpisah dari badannya. Dia memang psikopat, tak segan membunuh siapa saja yang berani berurusan dengannya. Hal itu sudah diketahui Maman sebelumnya, sehingga dia lebih memilih untuk sembunyi.
Rupanya, Juragan Broto baru saja memenggal kepalanya. Tak hanya satu, setelah dia membuang kepala itu ke selokan, dia kembali menjinjing kepala manusia yang kedua. Kepala itu mungkin milik seorang warga yang ikutan masuk menuju pabrik.
“Jika ada lagi yang mau berurusan denganku, nasibnya akan seperti orang ini!” pekiknya sambil membuang kepala itu ke selokan.
Para warga yang belum pergi dari area situ, menoleh ke arah Juragan Broto dan bergidik ngeri. Kemudian, mereka pun pergi dengan ketakutan, berlari untuk menyelamatkan dirinya daripada menjadi korban pemenggalan kepala.
Sepertinya, dia merasakan ada sesuatu yang masih bersembunyi mengintainya. Lalu, Juragan Broto berjalan mendekati tempat persembunyian mereka berdua. Bejo saat itu ketakutan, tapi Maman berusaha menenangkan dan menyuruhnya tetap diam dan tenang.
“Masih adakah orang di sana yang mau melawanku?!” tantang Juragan Broto menghadap ke arah persembunyian mereka berdua. Bejo merinding tak karuan saat posisinya sudah mulai mendekat.
Prediksi Bejo salah, rupanya Juragan Broto berjalan menuju keran untuk membersihkan dirinya dari cipratan darah korbannya.
Setelah situasinya kondusif. Maman dan Bejo keluar dari tempat persembunyian dan segera pergi dari area situ.
“Untung saja Kakang melarangku untuk ikut dengan mereka.”
“Iya, dari awal firasatku tidak enak. Aku juga sudah hafal sikap Juragan Broto yang kejam tanpa ampun kepada orang yang berani macam-macam padanya.”
Dalam perjalanan kembali ke rumahnya, Bejo masih mengingat kejadian itu. Dia trauma pergi ke pabrik milik Juragan Broto. Apa jadinya jika dia ikut masuk ke dalam? Pasti dia tidak akan bisa lari, dan kepalanya dipenggal oleh Juragan Broto.
Dia kembali membayangkan kedua kepala itu yang matanya masih melotot, dan mulutnya masih menganga.
Sementara itu, Maman kembali mengingat masa lalunya yang kelam.
*** Ingatan Maman ***
Juragan Broto mengamuk setelah mengetahui jumlah suaranya kalah dari Rujito. Dia tidak terima kalau Rujito menjadi Kepala Desa, sehingga situasi di desa itu pun memanas.
“Bagaimana mungkin, aku kalah dari Rujito?! Kerja kalian tidak bisa diandalkan sama sekali!”
“Maaf, Juragan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah mencari banyak masa agar mereka memilih Juragan. Tidak hanya itu saja, kami juga sudah menyewa dukun, agar Juragan menjadi kepala desa,” ucap Maman dengan gugup.
“Kalian semua tidak becus!”
Tiba-tiba, ada suara gelas pecah yang dibanting oleh Juragan Broto, gelas itu hancur tepat di depan wajah Maman.
Maman yang saat itu sedang duduk, menyaksikan sendiri proses pecahnya gelas itu. Untung saja, belingnya tidak sampai ke tubuhnya, karena dia sigap menarik tubuhnya sedikit ke belakang untuk menghindar.
“Apa tak ada yang mau bicara?!” seru Juragan Broto, “kalian tak punya mulut?!”
Semua anak buahnya diam, mereka hanya bisa mematung sambil mendengarkan bentakan Juragan Broto.
“Kalian semua aku bayar mahal untuk membantuku! Tapi kenyataannya apa?! Kalian hanya ingin uangku saja?!”
“Kami hanya ...,” ujar orang di samping Maman belum selesai bicara.
“Kalian hanya pecundang!”
“Maafkan kami, Juragan.”
“Oke, kalian aku maafkan. Berhubung aku tidak terima dengan hasil pemilihan ini, aku ingin kalian melakukan sesuatu untukku!”
“Melakukan apa, Juragan ....”