Suro Dlemok - Masalah Pelik di Desa

Penulis Yuan_bee
25 January 2026

“Melakukan apa, Juragan?”

“Aku ingin ada kobaran api, sebagai balasan mereka yang tidak menjadikanku kepala desa!” cetus Juragan Broto, “nanti malam, kalian datanglah ke Balai Desa dan bakarlah semuanya!”

“Baik,” sahut anak buahnya.

“Ingat! Kalian harus berhasil! Kalau tidak, aku akan membunuh kalian satu per-satu!”

Setelah itu, dia meninggalkan anak buahnya, lalu masuk ke ruangan bosnya. Sementara itu, anak buahnya berbagi tugas, ada yang pergi untuk persiapan tugas nanti malam, ada juga yang mengawasi pabrik itu.

“Untung saja Juragan hanya menyuruh kita untuk membakar Balai Desa, bukan rumah dari Pak Rujito, ya,” kata teman Maman.

“Benar, akan lebih sulit jika kita mendapat tugas membakar rumah Pak Rujito, karena di sana pasti ada pengawasan kamera CCTV,” tutur Maman.

Maman dan temannya, Wahid, ditugaskan pergi ke kota untuk membeli solar sesuai uang yang diberikan oleh Juragan. Sementara yang lainnya, tetap di sekitar pabrik milik Juragan Broto untuk jaga-jaga. Ada beberapa orang juga yang mengawasi keadaan sekitar Balai Desa.

Maman dan Wahid mengambil beberapa dirigen dan meletakkannya di mobil bak terbuka, lalu menutupnya dengan terpal agar tidak ada orang yang curiga.

Wahid yang menyetir pun mulai menjalankan mobilnya. Mereka kembali menuju pabrik untuk melaporkan tugasnya.

“Bang, apa mungkin nanti malam kita berhasil?” tanya Wahid saat perjalanan pulang dari kota.

“Yakin saja, kalau tidak berhasil, nyawa kita semua akan terancam,” jawab Maman.

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di tempat Juragan Broto.

“Bagus! Kuharap kalian tidak mengecewakanku,” pujinya.

Siang pun berubah menjadi malam, anak buah Juragan Broto sibuk persiapan untuk aksi pembakaran, serta persiapan lain setelah melakukan pembakaran, hal itu bertujuan agar tidak diketahui orang sekitar dan menimbulkan suatu kejadian yang tidak diinginkan.

Setelah semua persiapan beres, akhirnya mereka semua pergi ke tempat tujuannya. Ada sepuluh orang, termasuk Maman dan juga Wahid yang menjadi sopir bak terbuka.

Tepat tengah malam, mereka sampai di lokasi eksekusi. Empat orang berjaga di setiap sudut balai desa. Lima orang, termasuk Maman, membawa dirigen dan menyiramkannya di bangunan itu. Sementara itu, Wahid menunggu di mobil agar bisa langsung pergi dari tempat itu secepatnya.

Setelah semua solar tersiram dan dirigen itu kosong, semua orang berlari menuju ke mobil, kecuali Maman yang akan melakukan eksekusi terakhirnya.

“Maafkan aku,” desisnya lirih.

Kedua tangan Maman bergetar karena gugup, lalu dia menghembuskan napas panjang sebelum melakukan aksinya.

Orang yang sudah berada di mobil memberi aba-aba agar Maman cepat melakukan eksekusi tersebut.

Tanpa pikir panjang lagi, dia menyalakan pemantiknya, lalu melemparkannya ke bangunan itu.

“Wush!”

Seketika api menyala. Kobaran itu langsung menjalar hingga ke seluruh bangunan, sampai melahap semua benda yang ada di dalamnya.

Maman dengan sigap berlari menuju mobil, melompat naik, lalu mobil itu pun berjalan.

Api berkobar dengan cepat melahap bangunan itu karena mereka menuangkan solar dalam jumlah yang banyak.

Maman berkeringat dingin, dia tidak menyangka akan melakukan tindakan sekejam itu kepada desanya sendiri. Dalam hatinya dia bimbang, kalau bukan ancaman dari Juragan Broto, dia tidak mungkin senekat itu.

Esok harinya, kabar tentang kebakaran balai desa langsung tersebar hingga ke desa tetangga, hingga ke daerah lain yang masih satu kecamatan.

Polisi pun datang untuk melakukan investigasi. Dokumen dan perlengkapan dinas sudah lenyap dilahap si jago merah. Akibatnya mereka kesulitan mencari barang bukti.

Dugaan polisi sementara adalah kebakaran akibat korsleting listrik. Sebab, polisi tidak menemukan bukti bekas pembakaran di sana.

Rujito menyangkal hal itu dan menganggap kalau ada pihak atau oknum yang sengaja melakukan pembakaran balai desa.

Polisi yang tidak menanggapi perkataan Rujito, membuatnya geram. Dia masih bersikukuh dan memerintahkan para polisi agar lebih teliti dalam proses penyidikan.

Setelah sekian lamanya, salah satu polisi menemukan pemantik. Benda itu adalah bukti kuat kalau kebakaran itu memang disebabkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Rujito yakin, kalau pelaku pembakaran itu adalah saingan main lurahnya, Juragan Broto. Karena tidak mungkin ada orang lain yang berani dengannya.

Sampai-sampai, dia merogoh kocek dalam-dalam untuk membayar polisi itu agar masalah tersebut segera tertangani.

Beberapa hari melakukan proses investigasi, pada akhirnya terbongkar juga pelaku pembakaran itu. Pemantik itu sudah diketahui pemiliknya siapa.

Polisi segera menuju pabrik teh milik Juragan Broto. Mereka membawa senjata yang tujuannya untuk berjaga-jaga, apabila Juragan Broto dan anak buahnya melawan.

“Woi, ada polisi!” seru Wahid berlari menuju markas yang di dalamnya ada teman-temannya.

Saat mereka berusaha kabur lewat pintu belakang, rupanya ada polisi lain yang sudah mencegatnya. Hingga akhirnya, mereka terkepung dan hanya bisa menyerahkan diri.

“Ini pemantik milikmu, kan?!” tegas salah seorang polisi kepada Maman.

Maman hanya bisa mengangguk pelan dan tertunduk lesu karena tindakannya sudah ketahuan. Dia beserta teman-teman lainnya hanya mengakui kesalahannya.

Juragan Broto tidak hanya diam, dia melihat para polisi yang semuanya bersenjata, sehingga tidak mungkin bisa melawannya dengan hanya mengandalkan kekuatan. Bukan Juragan Broto namanya kalau tidak punya akal licik.

Akhirnya, solusi yang tepat bagi Juragan Broto adalah bernegosiasi dengan polisi. Dia memilih untuk mengambil jalur damai dan mengakui kesalahannya. Dia pun mengaku kalau dirinya sendiri yang menyuruh anak buahnya untuk melancarkan aksinya.

Entah apa yang dikatakan Juragan Broto dan berapa denda yang harus dia keluarkan, akhirnya masalah itu terselesaikan, dan polisi tidak menuntut ke Juragan Broto lagi, demikian juga anak buahnya.

Rujito yang mendengar berita itu pun geram. Dia tidak terima dicurangi oleh Juragan Broto dan akan selamanya bermusuhan dengan Juragan Broto.

Tanpa menghiraukan risikonya nanti, Rujito menggunakan semua dana desa dan dana bantuan warga desanya untuk menambal semua kerugian itu. Tak hanya itu saja, dia juga mengajukan proposal untuk pembangunan kembali balai desa yang sudah menjadi puing-puing.

Perangkat Desa dan beserta jajaran yang mengetahui kelicikan pemimpinnya pun tidak terima. Mereka menuntut kecurangan dari perbuatan atasannya.

Sungguh naasnya, saat para jajaran pengurus desa berkumpul, ayah Bejo yang dulu menjawab menjadi keta RT pun menjadi korban kebiadaban Rujito. Dia tewas mengenaskan. Sebab, membela warganya dengan menentang keras perilaku Rujito.

Kabar itu sampai sekarang di rahasiakan karena punya tujuan tertentu. Maman yang tahu itu, setiap kali melihat Bejo pun merasa kasihan. Di usianya yang belum matang harus rela menggantikan peran dari ayahnya.

Maman dan Bejo sampai di rumah

“Kang, kita sudah sampai.”

Bejo pun merasa ada hal yang aneh, karena Maman tidak segera turun. Sehingga dia pun menepuk paha Maman beberapa kali sampai di tersadar.

“Oh, sudah sampai ya. Maaf, tadi aku ketiduran,” dalih Maman yang sebenarnya baru saja melamun, dia tidak ingin aktivitas melamunnya diketahui olehnya.

“Ya sudah, Kakang istirahat saja.”

“Oke, aku akan tidur siang.”

Kehidupan Maman saat itu lebih buruk dari sebelumnya, dia hanyalah petani biasa yang penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Keadaan itu diperparah dengan datangnya teror hantu di kampungnya. Tidak hanya membunuh, teror hantu itu membuat tanaman yang di ladang gagal panen.

Seminggu pun berlalu, teror boneka setan itu masih saja meresahkan warga, setiap malam selalu ada satu orang tewas di desa itu.

Hantu itu sangat licik, ada saja cara untuk memancing seseorang untuk keluar dari rumahnya.

Dengan menyamar menjadi tamu malam, atau juga menyamar menjadi tetangganya yang meminta bantuan. Tak hanya itu, para petani semakin resah karena banyak yang gagal panen, membuat desa itu sangat tidak nyaman untuk ditinggali.

Kepala Desa dan jajaran perangkatnya masih mencari solusi yang terbaik untuk desanya. Namun, hingga sampai saat itu juga, belum ada cara yang tepat untuk mengakhiri teror itu. Banyak warga yang memilih untuk pindah ke tempat lain yang lebih aman dari gangguan setan itu. Sehingga, penduduk desa itu semakin berkurang.

Di suatu tempat, ada dua orang yang sudah membuat janji untuk bertemu.

“Ada apa kau kemari ...?”