Suro Dlemok - Menuju Hari Persembahan

Penulis Yuan_bee
25 January 2026

Di suatu tempat, ada dua orang yang sudah membuat janji untuk bertemu.

“Ada apa kau ke mari?” tanya orang yang memakai jubah serba hitam. Dia adalah seorang dukun yang bernama Ki Sandol.

“Begini, Ki. Semua persyaratan sudah hampir aku penuhi, tapi kehidupanku masih begini saja dan belum berubah,” ujarnya mengeluh. Padahal, sebenarnya kehidupannya sudah cukup terpenuhi. Begitulah ciri khas manusia yang kurang bersyukur

“Memangnya kamu sudah menumbalkan berapa orang?” tanya Ki Sandol.

“Sudah banyak, Ki.”

“Bagus, sekarang tinggal kamu cari tiga orang lagi untuk persembahan tumbal saat malam satu suro, itulah syarat terakhir yang harus kamu penuhi.”

“Aku sudah persiapkan dua orang, tinggal menangkap satu orang lagi,” tuturnya.

“Ya sudah, berarti kamu tinggal melakukan satu persyaratan lagi, dan niscaya kau akan mendadak menjadi kaya raya,” jelas Ki Sandol.

“Benar seperti itu?”

“Tenang saja, selama aku masih memelihara kodam wanita itu, kau pasti akan berhasil,” ujar Ki Sandol sambil melirik ke mayat wanita yang sudah di awetkan.

Mayat itu masih utuh seperti manusia biasa, hanya saja, sudah tak bernyawa. Dia memanfaatkan kodamnya untuk keperluan pesugihan.

Setiap hari, Ki Sandol selalu memandikan mayat itu agar selalu bersih. Kalaupun tidak, kodam peliharaannya akan hidup dan mengamuk padanya.

Mayat itu terduduk di atas kursi sambil mulutnya menganga dan kelopak mata seluruhnya berwarna putih. Kulit tubuhnya pun sudah pucat berwarna putih kebiruan.

Di sebuah pabrik teh, Juragan Broto berniat pulang ke rumahnya saat malam hari. Dia terpaksa pulang, karena anaknya di rumah mendadak sakit parah.

Saat tengah malam, dia memberanikan dirinya untuk pulang sendirian. Dia tidak takut dengan rumor yang mengatakan ada setan yang gentayangan saat malam hari. Apalagi setan itu selalu saja memakan korban.

Perjalanan pun dimulai, berbekal jimat keberuntungannya, dia pulang menuju rumahnya. Dia membawa sebuah mobil kesayangannya untuk kembali ke rumahnya.

Awalnya baik-baik saja. Namun, sebelum dia sampai ke rumahnya, yaitu kampung Surodadi, ada hal aneh yang dia rasakan.

“Aku mencium bau busuk yang tidak biasanya. Bau busuk itu ada di dekatku, berarti ada setan yang mengikuti di belakang,” ucapnya bermonolog sambil menyetir mobilnya.

Tanpa diduga, sebuah kepala manusia melayang di belakangnya. Dia yang melihat dari spion pun menghentikan laju mobilnya, lalu mengambil celurit panjang yang menyerupai pedang.

“Woy, hantu sialan! Kalau berani maju! Serang aku!” tantang Juragan Broto.

Entah kenapa, setelah dia berteriak, hantu kepala itu hilang, padahal belum lama ada di belakang mobilnya.

Tanpa ada rasa takut sedikit pun, dia memberanikan diri untuk mencari di sekeliling mobilnya.

“Jangan sembunyi kau! Kalau berani muncullah!” teriak Juragan Broto.

Dia pun menebas semak-semak yang berada di pinggir jalan. Dia pikir, hantu itu bersembunyi tidak jauh dari area sana.

“Dasar hantu sialan! Beraninya menghilang! Sini serang aku, bunuh aku kalau berani!” tantangnya lagi.

Hantu itu tidak muncul lagi yang membuat Juragan Broto emosi, dia kembali menebas tanaman di sampingnya hingga habis tak tersisa.

Setelah dia merasa lelah, dia pun kembali ke mobilnya. Keringatnya bercucuran karena suhu tubuhnya yang memanas. Dia melepas jasnya dan mulai melajukan mobilnya.

Setelah kendaraan berjalan, dia kembali mencium aroma menyengat lagi.

“Bau ini lagi, tapi asalnya dari kejauhan, berarti ...,” ucap Juragan Broto menyadari ada sesuatu yang akan menimpanya.

Benar saja, di jok sebelahnya ada kepala manusia yang tersenyum menyeringai.

“Hantu sialan! Bagaimana kau bisa masuk mobilku, hah?!” pekik Juragan Broto, “rupanya kamu ya, hantu yang ditakuti orang-orang?! Aku tidak akan takut, justru aku yang akan menghabisimu!”

“Pedangku! Pedangku mana!” seru Juragan Broto sambil mencari pedang yang tadi dia tinggalkan. Sial sekali nasibnya yang lupa membawa kembali senjatanya itu.

Pada akhirnya, hantu kepala itu menyerang Juragan Broto. Dengan sigap, dia mengerem mobilnya mendadak, hingga membuat kepala itu gagal menyerangnya. Saat hantu itu lengah, dia berhasil menangkap kepala itu dengan kedua tangannya.

Tangan Juragan Broto berlumuran darah setelah memegang kepala manusia itu. Sebenarnya kedua tangannya merinding.

Wajah seram hantu kepala itu menatap juragan Broto, kelopak matanya yang berwarna putih, dan gigi taringnya yang tajam seakan mau melumatnya mentah-mentah. Karena panik, dia membuang hantu kepala itu keluar dari jendela mobilnya. Lalu dia kembali tancap gas. Juragan Broto bernapas lega, menganggap semuanya sudah terselesaikan. Mobil itu melaju melewati jalanan yang banyak tikungan, di sampingnya ada perkebunan teh yang luas.

Tidak berhenti sampai di situ, giliran boneka melayang yang mengejarnya. Semakin lama, boneka itu semakin mendekat. Seperti hal tadi, dia melihat boneka itu dari sudut spion mobilnya. Juragan Broto mempercepat laju mobilnya. Dia dengan lincah bermanuver untuk menaklukkan tikungan-tikungan yang berliku.

Boneka itu memecahkan kaca belakang mobil Juragan Broto dan masuk ke dalam mobilnya. Dia yang menyadari kalau boneka itu masuk ke mobilnya pun segera berhenti, lalu turun ke jalanan.

“Sial! Andai saja aku masih memiliki pedang, pasti akan kuhabisi semua setan itu,” serunya dengan nafas yang terengah-engah.

Boneka itu keluar dari mobil, lalu berada di hadapan Juragan Broto.

Suara seram yang dikeluarkan boneka itu sangatlah menggema. Mata dan rambutnya berwarna merah menyala dan timbul urat-urat membuat boneka itu seperti predator yang akan memakan mangsanya.

Juragan Broto mengambil ranting yang ada di dekatnya untuk pertahanan diri.

“Pergi kau, setan laknat!” teriaknya sambil mengayunkan ranting untuk menyerangnya.

Suara tawa kembali menggema, diikuti angin yang menerpa pepohonan dan tanaman teh di sana. Boneka itu mengitari kepala Juragan Broto. Seakan-akan mempermainkannya terlebih dulu sebelum mengambil nyawanya.

Dia coba melawan dengan memukul ke arahnya. Namun, hanya bisa mengenai angin saja. Boneka itu terbang dengan sangat gesit, membuat Juragan Broto kewalahan.

Setelah dia lengah, boneka itu menyerang lehernya. Seketika lehernya putus dari tubuhnya. Darah yang keluar dari lehernya bercucuran hingga membasahi tubuhnya. Sementara itu, kepala Juragan Broto yang sudah terputus, menggelinding dengan mulut yang menganga dan kedua matanya yang melotot.

Malam itu merupakan akhir dari hidup Juragan Broto, orang yang terkenal kaya dan kejam.

Di tempat lain, Maman terbangun dari tidurnya. Rupanya, dia baru saja mimpi buruk. Namun, mimpi tadi tak bisa diingatnya kembali.

“Ada apa, Kang?”

“Ga ada apa-apa, mungkin cuma mimpi buruk,” jawab Maman dengan napas yang terengah-engah.

“Syukurlah kalau begitu.”

“Singgih mana, Dek?”

“Dia tidur di kamarnya, Mas.”

Maman bergegas menuju kamar Singgih, rupanya dia masih tidur dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Setelah mimpi tadi, entah kenapa dia selalu memikirkan Singgih.

Keesokan harinya, kabar kematian Juragan Broto langsung tersebar hingga ke penjuru desa.

Dia adalah orang yang terkenal, sehingga banyak yang datang untuk melayat. Tak terkecuali Maman dan Bejo yang juga datang ke penghormatan terakhirnya.

“Teka-tekinya semakin aneh. Kurasa Juragan Broto yang melakukan pesugihan itu. Tapi bagaimana mungkin dia tewas oleh setan peliharaannya sendiri,” celoteh Bejo setelah kembali ke kampungnya.

“Bisa jadi karena dia melanggar pantangan atau semacamnya.”

“Pantangan?”

“Iya, kita lihat saja nanti malam. Apakah teror itu masih ada? Kalau memang masih ada, berarti bukan Juragan Broto pelakunya, melainkan orang lain.”

“Begitu ya, Kang? Masuk akal juga.”

Maman sebenarnya punya pemikiran lain tentang siapa pelaku pesugihan itu.

‘Kepala Desa Rujito, tapi mana mungkin dia tega mengorbankan warganya sendiri?’ batin Maman bertanya dengan dirinya sendiri.

Di tempat lain, ada seseorang yang sedang bermain dengan uang yang jumlahnya banyak.

“Lihat, Dek! Uang kita sudah mulai berdatangan, ini adalah hasil pesugihan yang aku lakukan,” ujarnya bahagia karena dia sudah mulai mendapatkan apa yang dia mau.

“Kau dapat uang dari mana? Jangan-jangan ....”

“Kamu jangan khawatir, kamu tinggal menikmati hasil jerih payahku selama ini.”

“Baik, yang penting aku bisa belanja besok.”

Sementara itu, Dukun Pardi dan Eko masih dalam kondisi yang terikat. Beberapa hari lagi adalah hari persembahan mereka ....