Sementara itu, Dukun Pardi dan Eko masih dalam kondisi yang terikat. Beberapa hari lagi adalah hari persembahan mereka. Kalau tidak ada yang bisa menolongnya, mereka berdua akan jadi santapan tumbal oleh hantu itu.
Kalau tidak ada yang bisa menolongnya, mereka berdua akan jadi santapan tumbal oleh hantu itu. Setiap dua kali sehari, seseorang yang memakai caping dan masker memberi makanan dan minuman kepada mereka berdua agar tetap hidup. Dia selalu menyembunyikan identitas dirinya agar tidak ada orang yang tahu. Meskipun itu tawanannya sendiri.
Ibarat binatang ternak yang akan segera di sembelih saat sudah waktunya, mereka berdua hanya bisa pasrah dan tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Hanya menunggu waktu saja untuk dilakukan eksekusi.
Mereka berdua diturunkan dari posisinya yang digantung. Ikatan tali itu hanya mengikat tubuh dan kakinya saja. Sementara tangannya bebas dari ikatan tali, sehingga mereka berdua masih bisa makan menggunakan tangannya. Namun, ikatan itu sangat kuat yang terkadang membuat mereka susah bernapas.
Saking laparnya, mereka berdua melahap makanan itu sampai habis tak tersisa. Setelah selesai, mereka berdua kembali di naikkan untuk di gantung lagi. Begitulah nasib mereka berdua setiap harinya.
Pada suatu malam, Bejo melakukan ronda seperti biasanya. Maman pun menyusul Bejo untuk membuktikan apakah teror hantu itu masih ada, atau sudah berakhir.
Mereka bertiga sedang minum kopi sambil mengisap batang rokoknya.
“Desa kita semakin tidak aman,” kata Wawan membuka pembicaraan dengan lesu.
“Semoga setelah kematian Juragan Broto, teror hantu itu sudah tidak ada,” harap Bejo.
“Semoga saja.”
“Kalau menurutku pribadi, teror masih akan ada. Aku berani bertaruh, kalau pelaku pesugihan itu bukanlah Juragan Broto, meskipun sekarang dia sangat kaya dan hidupnya bergelimang harta,” sela Maman.
“Lantas, menurut Kakang, siapakah pelakunya kalau bukan Juragan Broto?” tanya Bejo ingin tahu.
“Iya, benar. Siapa lagi kalau bukan dia,” imbuh Wawan.
“Aku juga belum tahu pasti. Selain Juragan Broto dan Pak Purnomo, tidak ada orang kaya lain di kampung kita. Entah kalau kampung sebelah,” jawab Maman.
“Kampung sebelah pun tidak ada orang yang kaya mendadak, Kang,” ucap Bejo.
“Dari mana kau tahu itu?” tanya Maman.
“Aseplah yang memberikan informasi itu padaku, kemarin lewat pesan,” ungkap Bejo.
“Semakin pelik saja desa kita, andai saja kita tahu tempat boneka itu muncul, mungkin kita bisa menghancurkan sarangnya,” celoteh Wawan.
Setelah mendengar ucapan Wawan, Maman pun berpikir panjang. Entah mengapa tidak terpikirkan dari dulu tentang di mana sarang boneka hantu itu.
“Benar juga katamu, ada dua orang yang hilang juga, hingga sampai saat ini belum kembali dan belum ditemukan. Pendapatku, mungkin tempat disekapnya kedua orang itu dan sarang boneka setan itu berada masih di tempat yang sama.”
“Apa ada kemungkinan mereka masih hidup?” tanya Bejo.
“Mungkin saja sudah mati, dan mayatnya dibiarkan saja,” sela Wawan.
“Entahlah, tapi kalau mereka sudah mati, harusnya jasad mereka berdua sudah ketemu. Andai saja Pak Ustaz segera pulang dari ibadah hajinya, pasti masalah akan segera terselesaikan. Perkiraan beliau akan tiba di rumah bulan Suro (Muharram) kalau tidak salah,” celetuk Bejo.
Maman yang baru saja mendengar ocehan Bejo pun menyadari ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
‘Bulan Suro, Bulan Suro, Suro Dlemok,’ kata-kata itu yang terlintas di pikirannya. Semakin dia berpikir lebih ke dalam lagi, ada sebuah rahasia yang baru saja Maman sadari.
“Bejo?”
“Iya, Kang. Ada apa?”
“Aku baru saja menyadari sesuatu.”
Maman pun mengambil napas panjang, lalu mengungkap suatu hal yang membuat mereka berdua kaget.
“Aku baru menyadari kalau bulan ini, masih bulan haji (Dzulhijjah), setelah bulan ini selesai kan tahun baru Muharram, di mana saat itu kita harus mengadakan selamatan rutin satu tahun sekali,” jelas Maman, lalu berhenti sejenak dan menyeruput kopinya.
“Tahun baru itu adalah waktu di mana ada orang yang tidak bertanggung jawab mengambil kesempatan untuk ritual persembahan. Entah siapa orang itu, kita harus segera bertindak sebelum bencana akan melanda desa kita. Mungkin saja, kedua orang hilang itu ditangkap untuk persembahan tumbal di malam satu Suro,” ujar Maman dengan sorot mata tajam.
Setelah Maman mengatakan hal itu, ada angin yang berembus cukup kencang. Pohon-pohon pun bergoyang akibat tiupan angin itu.
Bejo yang teringat pengalaman dulu pun sempat merinding setelah angin berembus pada bulu kuduknya.
“Kalian semua tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa malam ini,” ucap Maman menenangkan mereka berdua.
Tiba-tiba, ada sorot lampu mobil dari kejauhan, diikuti oleh suara mesin yang menderu.
Rupanya, ada sebuah mobil taksi yang berjalan di samping pos ronda yang dijaga oleh mereka bertiga.
“Siapa dia? Kok pulang malam-malam sambil menyewa taksi?” tanya Wawan.
“Mungkin saja Pak Ustaz Thohir sudah pulang,” sahut Bejo.
“Mana mungkin? Ini masih belum bulan Muharram,” sangkal Wawan.
“Kalau itu Ustaz Thohir, tidak mungkin dia lewat jalan ini, pasti masuk gang sebelah,” imbuh Maman.
“Betul juga kata Kang Maman. Mungkin dia adalah istrinya Pak Purnomo yang pulang dari Hongkong,” tukas Wawan.
“Lebih baik kita samperi ke sana saja,” saran Bejo.
“Woy, Pak RT. Jangan bilang kalau kau akan mendekati janda baru itu,” ledek Wawan.
“Apa yang dikatakan Bejo ada benarnya juga. Kita pun harus ke sana untuk mengucap bela sungkawa ke istrinya, sebab kita sendiri yang menyaksikan tragedi itu,” ajak Maman.
“Noh, benar kan? Apa yang aku bilang?” kilah Bejo.
Mereka bertiga langsung menuju ke rumah mendiang Purnomo atas saran Maman. Bejo sebenarnya penasaran dengan istri Purnomo, pasti ada perubahan setelah dia bertahun-tahun merantau ke luar negeri.
Setelah dekat dengan rumah yang mereka tuju, di sana ada istri Purnomo yang sedang menurunkan barang bawaannya dari dalam taksi. Terlihat kalau dia membayarnya, lalu seketika taksi itu pergi.
“Bu Siti?!” sapa Maman dari kejauhan.
“Oh rupanya ada Kang Maman,” ujar Siti yang melihat mereka bertiga berjalan ke arahnya.
Benar firasat hati Bejo, semenjak dia merantau ke Hongkong, seketika penampilannya berubah drastis. Sekarang memakai pakaian minim yang terlihat lekuk tubuhnya. Anehnya, dia tidak merasa kedinginan meskipun hanya memakai tanktop dan celana yang ketat.
“Mari masuk, Pak. Di dalam ada adik saya yang merawat anakku yang masih kecil,” ujar Siti.
Setelah Bu Siti mempersilahkan mereka masuk, Bejo menyenggol Maman tanda harus menerima ajakan Bu Siti.
“Em ... kami hanya mau mengucapkan bela sungkawa saja atas kepergian suamimu, Bu.”
“Tidak apa-apa, masuk saja. Lagian kata adikku, kalian yang menjadi saksi peristiwa itu.”
Pada akhirnya, mau tidak mau, mereka bertiga pun masuk ke rumahnya. Di dalam rumah itu, disuguhi minuman dan aneka jajanan.
Setelah beberapa saat, Bu Siti menemui ketiga tamu itu, dia sudah mengganti pakaiannya menjadi lebih tertutup dari sebelumnya. Anehnya, dia seperti tidak ada rasa sedih setelah ditinggal oleh suaminya. Malam itu, dia terlihat biasa-biasa saja, atau karena dia sudah melupakan suaminya yang telah pergi?
“Begini Kang Maman, saya malam ini pulang itu ada tujuan lain.”
“Tujuan apa itu, Bu ...?”