“Tujuan apa itu, Bu?”
“Aku bermaksud untuk menjual rumahku besok,” ungkapnya.
“Hah?! Kenapa kau jual?”
Bu Siti terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang dan berkata dengan nada yang berat. “Kampung ini sudah tidak aman, aku memutuskan untuk pergi dari sini dan pindah ke kota saja secepatnya, sebelum ada hal yang tidak diinginkan.”
“Lantas, kamu mau jual rumahmu ini kepada siapa?” sela Bejo yang dari tadi hanya diam. Dia sangat ingin tahu siapa yang mau bayar rumah mewah itu dengan harga mahal. Apakah orang dari kampungnya sendiri, atau dari kampung lain.
Kalaupun dari kampungnya atau masih desanya sendiri, bisa jadi orang itu melakukan pesugihan. Begitulah yang ada di pikiran Bejo.
“Rencananya aku mau jual ke Kepala Desa, dia sudah menawar dengan harga tinggi.”
“Kepala Desa?!” sahut mereka bertiga.
“Iya, benar.”
“Kalau boleh tahu, berapa harga yang kamu tawarkan, Bu?” tanya Maman.
“Aku akan menjawabnya nanti, tapi kalian bertiga harus berjanji terlebih dahulu, kita harus rahasiakan informasi ini kepada semua orang ya! Aku tidak mau para tetangga mendengar kabar ini. Bisa jadi, aku malah digunjing oleh mereka.”
“Baik, kami berjanji,” sahut mereka bertiga. Bu Siti berdiam sejenak untuk mengambil napas. Setelah menghela napas panjang, dia pun mulai bicara.
“Awalnya, aku buka dengan harga tiga ratus juta rupiah. Namun, dia menawar dengan harga dua ratus juta untuk rumah dan seisinya.”
“Lalu, keputusannya gimana?”
“Awalnya aku menolak karena merasa dirugikan olehnya. Tak kusangka, di dalam diri manusia yang penuh wibawa, tersimpan sikap egois dan ingin menang sendiri.”
“Akhirnya, kesepakatan kedua belah pihak, antara aku dengan Kepala Desa di angka dua ratus lima puluh juta, tapi aku minta dia untuk mengurus semua surat-suratnya, sehingga aku nantinya akan terima bersih.”
“Dari mana Pak Lurah dapat uang sebanyak itu, ya? “ bisik Wawan kepada Bejo yang duduk di sampingnya, dia mendekat ke telinga Bejo agar orang lain tidak mendengarnya.
“Kita juga patut mencurigai dia sebagai orang terakhir yang terdakwa melakukan pesugihan,” tukas Bejo.
“Betul, aku setuju,” gumam Wawan.
“Kalian berdua ngomong apa? Tidak baik su’udzon kepada orang tanpa adanya bukti,” cela Maman. Rupanya, meskipun mereka berdua berbisik dengan suara lirih, dengan insting Maman yang tajam, dia mampu mendengar ucapan mereka.
“Ya sudah, itu kopinya di minum dulu, keburu dingin,” suruh Bu Siti. Lalu dia meninggalkan mereka bertiga untuk pergi ke belakang. Rupanya ada telepon masuk tadi.
“Halo!” Bu Siti mengangkat telepon itu. Ada suara seorang laki-laki dari balik teleponnya.
“Mau harus segera bayar hutang suamimu, besok!”
“Maaf, Pak Lucky. Beri aku waktu dua atau tiga hari lagi untuk melunasinya.”
“Ini aja suamimu sudah telat membayar!” imbuhnya. Rupanya dia belum tahu kalau Purnomo sudah tiada. Bu Siti tidak mengatakan kalau dia telah mati, karena Lucky tidak mungkin mempercayainya.
“Kumohon, beri waktu dua atau tiga hari lagi, aku berjanji akan melunasinya.”
“Aku bilang tidak bisa, kalau besok kau tidak membayar, akan aku ambil rumahmu!”
“B-B-Baik, akan aku usahakan,” ucap Bu Siti dengan berat hati.
Telepon ditutup oleh Lucky. Meskipun rumahnya mewah, tapi ternyata dia punya banyak hutang.
Kemudian, karena keadaan yang terdesak, dia harus menagih uang itu ke Pak Lurah malam itu juga agar bisa untuk melunasi hutang suaminya. Dengan segera, dia menelepon Pak Lurah Rujito.
“Halo, Pak Lurah!”
“Iya, ada apa, kok malam-malam meneleponku?”
“Aku mau Pak Lurah membayar rumahku malam ini juga!”
“Malam ini? Bukankah janjiannya besok? Lagian kalau nanti ada hantu yang gentayangan bagaimana?” ujar Pak Lurah menakut-nakuti Bu Siti.
“Baiklah, Pak Lurah. Besok pagi-pagi sekali, aku akan datang ke rumahmu, lalu aku langsung pergi meninggalkan desa ini.”
“Oke, siap.” Panggilan telepon di akhiri oleh Bu Siti.
Setelah selesai menelepon Pak Lurah, dia baru ingat kalau di ruang tamu ada orang. Dia pun kembali menemui mereka bertiga.
Maman yang melihat Bu Siti datang pun menyuruh kedua temannya untuk segera menghabiskan minumannya. Dia melihat ke jam sudah larut malam, tidak ingin mengganggu istirahat orang lain.
“Sepertinya sudah larut malam, Bu. Kami bertiga mohon diri untuk kembali melakukan tugas ronda,” pamit Maman.
“Baiklah, kalau begitu, terima kasih ya, sudah mampir.”
“Iya, kami hanya ingin mengucap bela sungkawa saja.”
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Bu Siti yang saat itu di rumah bersama adiknya. Setelah keluar rumah, entah kenapa, Bejo masih menitip Bu Siti lewat pintu yang masih terbuka. Sontak, dia pun ditarik oleh Maman.
“Hey, kalau kamu menyukai janda baru itu, tunggulah empat puluh hari setelah kematian suaminya, baru kau boleh dekati dia,” saran Maman.
“Ga gitu, Kang. Ada yang aneh dengan raut wajah Bu Siti.”
“Aneh gimana? Palingan kamu mau masuk ke dalam rumahnya lagi, ya kan?”
“Enggak, Kang.”
Setelah kembali ke pos ronda, Wawan dan Bejo kembali ghibah kepada Bu Siti. Maman yang mendengar hal itu pun menggelengkan kepalanya. Bejo bersikukuh kalau raut wajah Bu Siti memang ada keanehan. Namun, setelah Bejo mengatakan hal itu, Maman dan Wawan justru tertawa dan meledeknya.
“Sudahlah. Jangan bicarakan Bu Siti lagi,” tegur maman.
Malam pun semakin larut, tidak ada teror boneka setan yang meresahkan warga saat itu. Mungkin saja benar, pelaku pesugihan memanglah Juragan Broto.
Keesokan harinya, Maman bangun dari tidurnya, dia menguap lalu berjalan menuju ke teras rumah. Tak lupa membawa rokok kesayangannya. Istrinya juga sudah mempersiapkan kopi di meja tamu sebelum dia belanja ke pasar.
Maman berharap, bertemu dengan Joko, seorang tukang ojek yang pernah membawa pulang istrinya dari pasar. Dia ingin mengobrol lebih lama lagi, mengenai jimatnya yang berupa kalung antik.
Setelah beberapa saat, istrinya pun pulang. Namun, dia tidak diantar oleh tukang ojek yang dia maksud. Hal itu membuat penantiannya sia-sia.
“Kenapa kamu tidak diantar oleh tukang ojek itu?” tanya Maman.
“Tukang ojek siapa, Kang?”
“Tukang ojek yang memakai kalung antik itu.”
“Sepertinya dia tidak ada di pangkalan ojek, Kang. Memangnya kenapa?”
“Aku cuma ingin ngobrol-ngobrol lagi dengannya.”
“Kenapa tidak datang ke rumahnya saja?”
“Ide bagus. Tapi ....”
“Kang ... Kang Maman,” teriak Bejo sambil berlari menuju ke rumah Maman. Napasnya terengah-engah, mungkin saja ada sesuatu yang harus dia jelaskan.
“Tenang, Jo. Katakan ada apa? Ambil napas dulu, baru kau jelaskan!”
Bejo pun menghela napas panjang. Kemudian, mulutnya mulai terbuka, Maman pun bersiap untuk mendengarkannya.
“Bu Siti, Kang. Bu Siti,” kata Bejo terpatah-patah.
“Bu Siti kenapa ...?”