“Dia kenapa, Jo?”
“Bu Siti meninggal di depan rumahnya dengan kepalanya yang putus!”
“Apa ....”
Maman langsung berlari menuju rumah Bu Siti. Diikuti Bejo yang juga berlari di belakangnya. Saat itu, ada banyak orang yang mungkin juga akan pergi ke rumahnya.
Setelah sampai di tempat itu, memanglah benar. Tragedi itu terjadi lagi dan korbannya adalah Bu Siti yang tadi malam pulang kampung.
Entah apa maksud dari pelaku pesugihan itu, atau majikan hantu, sampai membunuh orang yang baru saja pulang dari perantauan.
Dalam hati Maman, dia merasa geram dengan ulah orang yang memelihara setan itu. Salah satu yang dia tuduh hanyalah Pak Lurah, tidak ada yang lain lagi. Namun, dia sendiri belum punya bukti yang konkret. Kalau dia asal menuduh saja, pasti dirinya malah jadi bulan-bulanan oleh pihak yang berwenang. Tanpa disadari, dia mengepalkan tangannya tanda sudah muak dengan semua teror itu.
“Kamu kenapa, Kang?” tanya Bejo menepuk pundaknya.
“Tidak ada apa-apa, hanya saja, aku ingin segera menuntaskan teror ini. Kalau aku tahu orang yang melakukan pesugihan itu, akan kucincang dia!”
“Sudahlah, Kang. Aku juga berpikir seperti itu, kalau kita yang melawan setan itu, sudah pasti kita kalah. Toh, Juragan Broto yang katanya punya kemampuan gaib pun bisa mati. Mending, kita tunggu sampai Pak Ustaz pulang dari Mekkah.”
Maman pun hanya terdiam, dalam hatinya, dia menggerutu dan ingin melampiaskan emosi. Namun, kepada siapa? Dia juga belum tahu siapa pelaku pesugihan sebenarnya.
Maman juga merasa kasihan dengan anak dari Bu Siti yang masih kecil. Dia harus menjalani hidupnya seorang diri tanpa ada ayah dan ibu.
‘Aku berjanji akan segera mencari bukti untuk mengungkap siapa penjahat itu,’ batin Maman dalam hatinya.
Maman pulang terlebih dulu untuk mengganti pakaiannya yang lebih agamis untuk menghormati Bu Siti. Di sana ada seorang pria yang memakai jas yang datang jauh-jauh dari kota, entah itu siapa, Maman tidak tahu. Dia bersama rombongannya membawa mobil untuk melayat.
Prosesi pemakaman pun selesai, jasad Bu Siti di kebumikan di dekat kuburan suaminya, Pak Purnomo.
Di area pemakaman, sudah banyak kuburan yang masih baru, akibat ulah dari hantu itu yang setiap malam memakan korban. Tidak hanya di Dukuh Suropati saja, melainkan di Dukuh Surodadi pun mengalami hal yang sama. Teror itu masih saja berlanjut dan belum terselesaikan sampai saat itu juga.
Scene berpindah ke Revan
Selama seminggu penuh berlatih di padepokan Mbah Seno, mereka bertiga semakin kuat. Hubungan mereka bertiga pun semakin akrab, Pak Joko layaknya bapak, Revan seorang kakak, dan Wahyu seorang adik.
“Tak kusangka, kalian sudah berkembang dengan pesat. Tidak butuh waktu lama, sudah menguasai teknik tingkat menengah. Untuk malam ini, sudah saatnya untuk menempa kalian di dalam gua, agar kekuatan kalian muncul,” jelas Mbah Seno.
Dia mengajak mereka bertiga untuk pergi ke dalam gua yang tujuannya akhirnya menempa ilmu. Gua tersebut letaknya tidak jauh dari padepokan itu.
Mereka sudah berkorban demi menjadi lebih kuat dan menumpas kejahatan gaib yang disebabkan oleh ulah organisasi Mawar Biru.
Revan yang sudah mengorbankan waktu kuliahnya untuk ikut menempa ilmu, dia hampir saja bunuh diri karena kegalauan yang melanda dirinya. Namun, atas bujukan Dicky dan Amira, dia pun sadar kalau hidupnya masih berguna.
Pak Joko yang sudah mengorbankan pekerjaannya menarik ojek. Dia sudah menjual sepeda motornya demi ikut organisasi milik Dicky. Sebagian uang hasil penjualan itu di pegang istrinya untuk kebutuhan sehari-harinya.
Sementara Wahyu, dia sudah berkorban dengan kehilangan ayahnya tercinta akibat dibunuh oleh organisasi Mawar Biru yang laknat. Tujuannya ikut kelompok Dicky tak lain dan tak bukan adalah balas dendam karena kematian ayahnya.
Beberapa saat kemudian , akhirnya sampai juga di dalam gua yang gelap. Hanya Mbah Seno saja yang membawa lentera, benda itu satu-satunya penerangan di sana.
Mereka bertiga dilarang membawa penerangan karena nantinya harus berjibaku dengan kegelapan di dalam gua.
“Sekarang, kalian duduknya di atas batu yang posisinya berjauhan,” perintah Mbah Seno.
Mereka pun menuruti perintah dari Mbah Seno, lalu duduk dengan bersillah bersiap menerima instruksi berikutnya.
“Kemudian, mulailah menutup mata dan konsentrasi, baca mantra yang aku ajarkan tadi agar kalian bisa masuk ke alam yang lain. Berkonsentrasilah! Abaikan semua hal yang mengganggu pikiran. Kalian tidak boleh beranjak, sebelum aku kemari menjemput kalian dan menepuk pundak kalian,” kata Mbah Seno panjang lebar.
Terlihat mereka bertiga mengangguk tanda sudah memahami perkataan dari Mbah Seno. Lalu berusaha berkonsentrasi dan menjalankan perintah darinya.
Mbah Seno meninggalkan mereka bertiga di dalam gua. Cahaya lentera darinya lambat laun semakin menjauh, membuat pandangan mereka bertiga hanya di selimuti kegelapan.
Revan sebenarnya takut, apabila ada binatang buas atau makhluk gaib yang menyerangnya di dalam gua itu. Namun, dia harus terus berusaha agar berhasil melakukan ritual itu. Dia ingin tujuan membalaskan dendam Putri Eliza tercapai.
Nyamuk-nyamuk yang hinggap pada kulit, membuat konsentrasi mereka buyar. Dengan refleks, mereka menepuk nyamuk itu, karena membuat gatal area kulitnya.
Awalnya, Revan menganggap kalau hanya dirinya yang terganggu akibat nyamuk itu. Namun, rupanya Wahyu dan Joko pun mengalami hal yang serupa.
“Teman-teman, mari kita berkonsentrasi lebih dalam lagi,” bisik Revan.
“Iya,” sahut Joko dan Wahyu dengan suara lirih.
Revan memaksa kelopak matanya untuk menutup bola matanya, serta berusaha mengosongkan pikirannya. Dia mulai serius melakukan ritual tersebut agar berhasil.
Lambat laun, dia memasuki alam bawah sadar, yang tadinya di dalam gua pandangannya gelap, sekarang pandangan matanya jadi buram. Dia melihat raganya sendiri yang sedang duduk bertapa sambil memejamkan matanya. Tak hanya itu saja, dia juga melihat raga kedua temannya dengan posisi yang sama. Namun, dia tidak melihat ke mana sukma mereka berada. Meskipun kurang jelas, dia bisa melihat sekeliling gua itu tanpa terganggu dengan kegelapan.
Revan mendengar suara hewan buas yang menyeramkan. Rupanya, ada hewan yang berwujud harimau dan ular yang saling adu kekuatan.
Kedua hewan itu tepat berada di depannya, sehingga membuatnya merinding dan ingin beranjak. Namun, dia kembali teringat perintah dari Mbah Seno, yang tidak boleh pergi sebelum ia menjemputnya.
‘Aku harus bisa, aku harus mampu menjalankan ritual ini, demi melawan Mawar Biru dan membalas dendamkan kematian Putri,’ batin Revan.
Kedua sosok hewan itu masih saja bertarung memperebutkan siapa yang paling kuat.
Lambat laun, kedua sosok hewan itu menjadi manusia. Seekor harimau menjadi seorang pria muda yang memakai pakaian serba putih. Sementara itu, sosok ular menjadi seorang pria yang bertato naga.
“Aku akan mengalahkanmu!” bentak pria muda yang berpakaian putih.
“Aku tidak takut padamu!” hardik pria bertato.
Pertarungan keduanya kembali di lanjutkan, Revan tidak tahu siapa mereka dan mengapa mereka bertarung. Dia menganggap kalau kedua orang itu adalah para pemimpin geng zaman dahulu yang sudah tiada.
Tiba-tiba, kedua pria itu menghilang seperti asap. Sementara, sukma Revan masih berdiri di samping raganya. Suasana remang-remang menyelimuti pandangannya. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, yang ada hanyalah menunggu dijemput oleh Mbah Seno.
“Revan ... Revan ...,” suara lembut dari orang yang dia kenal.
Revan mencari ke arah sumber suara itu, ternyata dia adalah ....