BAB 5: Bodyguard
Ziva memastikan keadaan pria yang menjadi korban beberapa saat lalu. Saat sadar, Ziva pun terkejut ternyata orang itu adalah— CEO Maxwell Group, Erlando.
Erlando yang biasa bersikap dingin mengakui kemampuan Ziva. Pria itu berterima kasih dengan wajah datar, memperlihatkan keangkuhan yang dimilikinya.
“Hati-hati saat melintas di sini. Sudah banyak korban yang terkena begal, kedua orang itu sepertinya masih baru, aku melihat gerakan mereka masih ragu saat menyerang.” Nasihat Ziva.
“Mulai besok, kamu resmi menjadi bodyguardku.” Balas Erlando.
“Uhm?” Ziva terkejut dengan perkataan Erlando.
Pria itu secara pribadi meminta Ziva untuk menjadi pengawal pribadinya. Membuat Ziva membeku beberapa saat.
“Berikan aku waktu untuk berpikir.”
“Aku tidak memerlukan jawabanmu. Aku memberikan perintah secara langsung dan tidak dapat ditolak.”
Setelah itu, Erlando kembali mengemudikan mobilnya untuk kembali ke rumah, begitu juga dengan Ziva yang kini berjalan menuju rumahnya.
Keesokan paginya, Ziva masih mengenakan pakaian bagian kebersihan. Dia masih bingung dengan pakaian apa yang cocok untuk seorang pengawal, dan memutuskan tetap mengenakan seragam yang biasa dikenakan sebagai pekerja kebersihan.
Saat sedang membersihkan area lobi, Ziva melihat Erlando berjalan mendekatinya. Pria itu menatap tajam pada Ziva lalu menarik tangan untuk di bawa ke ruang pribadinya. Ziva hanya bisa mengikuti langkah Erlando, meski mereka tengah menjadi sorotan, tak ada rasa canggung yang muncul pada diri Erlando.
“Uhm, Pak. Bisa lepaskan saya?”
Sampai di kantor, Erlando menyuruh Ziva mengganti pakaiannya. Hal itu membuat Gio dan Willy bertanya-tanya, apa yang terjadi pada sepupu mereka?
“Hei, kenapa kamu menyuruh Ziva untuk mengenakan pakaian itu?” tanya Willy yang melihat paperbag berisi pakaian.
Erlando sudah mengira jika Ziva tidak memiliki pakaian layak sebagai seorang pengawal. Oleh karena itu, Erlando secara khusus membawa pakaian untuk dikenakan Ziva. Lalu, secara khusus dia memperkenalkan Ziva sebagai pengawal pribadinya.
Kabar itu membuat Gio dan Willy saling tatap. “Ada angin apa kamu menjadikan dia sebagai pengawal? Apa kamu tidak salah?” Willy tampak tidak setuju dengan keputusan Erlando, tetapi hal itu langsung ditepis.
“Aku tidak pernah salah dalam memilih seseorang untuk menjadi pengawal pribadi. Dia adalah orang yang tepat, setelah aku melihat sendiri apa yang dilakukannya pada begal kurang ajar semalam,” ungkap Erlando yang kini mendapat tatapan tidak percaya dari kedua sepupunya.
Bahkan, Ziva hanya terdiam melihat perdebatan di antara ketiga pria itu. Tidak ada yang peduli dengan dirinya yang ingin bertanya mengenai pekerjaan baru itu. Hinga akhirnya, Ziva memberanikan diri dengan langsung memotong percakapan ketiganya.
“Permisi! Maafkan saya yang lancang ini. Pak Erlando, apa ini tidak berlebihan? Pakaian ini terlalu … aneh untuk saya kenakan. Lagi pula, apa seorang pengawal harus mengenakan pakaian seperti ini?”
“Jangan banyak tanya, cepat masuk kamar mandi dan ganti pakaianmu itu!”
Setelah mengganti pakaian, Ziva memulai pekerjaannya. Dia selalu mengikuti ke manapun Erlando pergi. Ziva yang tidak pernah melakukan pekerjaan sebagai pengawal tampak bingung. Beberapa kali dia ingin bertanya, tetapi Erlando selalu memotong kalimatnya.
“Tunggu! Asal Anda tahu, saya tidak pernah bekerja sebagai pengawal. Bahkan saya tidak tahu bagaimana cara kerja seorang pengawal. Memangnya, saya harus melakukan apa untuk menjadi pengawal?”
“Kenapa kamu menanyakan satu pertanyaan dengan banyak kalimat berulang?”
“Maaf, saya membutuhkan penjelasan.”
Erlando menjelaskan pekerjaan yang akan dilakukan Ziva secara singkat. Lalu, pria itu menyuruh Ziva untuk membereskan perlengkapannya di ruang kebersihan. Erlando memberikan sebuah ruangan khusus untuk Ziva di dekat ruangan pribadinya. Ruangan Ziva memiliki lemari tempat untuk menyimpan barang-barangnya. Tidak hanya itu, di sana juga tersedia pakaian kerja yang bisa Ziva kenakan.
Saat sedang membereskan perlengkapannya, beberapa temannya datang untuk memastikan apa benar tentang gossip yang mengatakan bahwa dia menjadi seorang pengawal?
Ziva membenarkan tentang berita itu, dia menjelaskan apa yang terjadi padanya semalam. Mengenai begal dan kejadian baku hantam yang dilakukannya, hingga membuat Erlando kagum dengan kemampuan Ziva.
“Akhirnya, Pak Erlando menjadikan aku sebagai pengawal pribadinya.”
“Wah! Kamu sangat beruntung, enak sekali bisa menjadi salah satu bagian di ruangan atas. Aku tidak menyangka, kamu juga pandai karate.”
“Itu hanya kebetulan saja. Aku tidak sengaja bertemu dengan Pak Erlando semalam.”
Percakapan itu berlangsung hingga Erlando memanggilnya untuk kembali ke ruang kerja.
Perlahan Ziva membuka pintu ruangan Erlando setelah dipersilakan masuk. Pria itu duduk di kursi dengan cerutu di tangannya. Erlando ingin menjelaskan ke mana saja mereka akan pergi, dan Ziva harus berada di sisi pria itu tanpa jarak lebih dari tiga meter.
“Saya tidak pernah melakukan pekerjaan ini, jadi … jika ada kesalahan, lebih baik kembalikan pekerjaan lama saya daripada Anda memecat saya.”
“Itu urusanku, sekarang ikut aku! Ada rapat penting yang segera dimulai.”
Erlando beranjak dari tempatnya, sedangkan Ziva berjalan mengekor. Saat mereka melewati lobi, tatapan mata semua orang takjub pada gadis yang kini menjadi pengawal pribadi.
Sampai di sebuah ruang rapat yang disewa khusus oleh Maxwell Grup. Erlando duduk di kursinya, sementara Ziva mengikuti apa yang dilakukan pria itu. Sayang, tindakannya membuat Erlando menatap tajam dan menyuruh Ziva berdiri di sampingnya.
“Kamu itu pengawal, bukan klien yang ikut rapat! Kenapa kamu duduk di sana?” omel Erlando dengan menahan suaranya agar tidak terdengar tamu lain.
Willy dan Gio hadir di sana, mereka juga melihat sikap Ziva yang sedikit lucu. Bagaimana tidak? Terlihat jelas di wajah gadis itu jika dirinya tengah gugup. Pekerjaan yang tidak pernah dilakoni, membuatnya sedikit kaku dan tidak nyaman.
Selama rapat berjalan, beberapa kali Erlando menyuruh Ziva untuk mengambil minum, hingga menyiapkan berkas. Namun, di antara semua pekerjaan itu, tidak satu pun yang dilakukan dengan baik. Ziva selalu melakukan kesalahan mulai dari tindakan hingga ucapan. Ya, beberapa kali dia salah menyebut Erlando dengan ‘Mas’.
Tidak ingin lebih malu dari itu, Erlando menyuruh Ziva menunggu di luar ruangan. Gadis itu merasa lebih baik daripada di dalam. Tangannya masih gemetar, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Perasaan antara takut dan tidak nyaman itu bersatu.
“Sampai kapan seperti ini? Astaga! Aku sangat takut jika Pak Erlando marah.”
Tiba-tiba saja seseorang menyodorkan minuman kaleng padanya. Kepalanya mendongak melihat siapa yang memberikan minuman itu.
“Pak Willy?”
“Minum ini. Kamu pasti gugup di hari pertama sebagai pengawal.”
“I-iya, Pak.”
“Santai saja, Erlando tidak seperti yang kamu lihat. Aku masuk dulu.”
Pesan Willy membuat Ziva bingung, kenyataan memang tidak bisa dibohongi, hanya saja mungkin benar apa yang dikatakan Willy. Ziva pun tampak tenang setelah mendapat dukungan dari salah satu pimpinan perusahaan itu.
Setelah rapat selesai. Erlando dan Ziva kembali ke kantor, langkah keduanya cukup cepat hingga hampir saja Ziva terjatuh karena tidak bisa menyeimbangi pria itu.
Erlando berhenti melangkah, kini tubuhnya berbalik dan menatap tajam pada Ziva. Ziva tahu apa yang akan dilakukan pria itu selain menatapnya.
“Kamu melakukan banyak kesalahan! Kamu membuat aku malu di depan banyak orang! Apa kamu tidak belajar? Kamu sedang bekerja, bukan tampil sebagai artis di sana. Bahkan ini bukan sebuah kompetisi yang bisa membuatmu gugup.”
Ucapan Erlando terdengar begitu jelas di telinga Ziva, hingga membuatnya tersentak beberapa kali karena terkejut.
Erlando menyadari bahwa Ziva hanya gugup dalam menjalankan pekerjaannya. Ingin rasanya Erlando meluapkan semua yang ada di hati, tetapi melihat wajah murung Ziva, dia tidak ingin gadis itu tiba-tiba berhenti.
“Sekarang ikut ke ruanganku!”
Kembali berjalan, kali ini Ziva melakukan kesalahan dengan berjalan di depan Erlando. Pria itu menggeleng dan menahan emosinya agar tidak meledak di depan banyak karyawan lainnya.
Sampai mereka tiba di ruang kerja Erlando. Pria itu kini mengajarkan pada Ziva tentang bagaimana caranya menjadi seorang pengawal. Erlando juga menunjukkan beberapa gambar mengenai posisi yang baik untuk seorang pengawal.
“Kamu lihat ini, mereka adalah pengawal ahli dan sudah terlatih. Posisi mereka ada di samping tuannya. Mereka bersikap sangat sopan dan dingin. Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu, tetapi tidak untuk selanjutnya. Sebaiknya kamu belajar lebih banyak untuk menjadi pengawal pribadi.”
Ziva mengangguk mengerti.
Setelah pekerjaannya selesai, Ziva kini termenung di kamarnya. Dia juga melihat amplop cokelat berisi uang, itu adalah gaji pertamanya sebagai pengawal. Erlando tidak bermain-main dalam hal seperti ini.
“Ini sangat banyak untuk seorang pemula sepertiku. Bahkan aku tidak melakukan apa pun dan hanya mengekor padanya. Keterlaluan sekali aku jika tidak bisa belajar dengan baik. Baiklah, mulai saat ini, aku akan belajar untuk menjadi pengawal yang siaga, sepertinya aku memerlukan pelatihan untuk diri sendiri. Beberapa gerakan karate tidak sepenuhnya bisa menjatuhkan lawan. Apalagi jika lawannya memiliki kemampuan yang sama. Aku harus bisa menjadi pengawal yang handal, Pak Erlando sudah membayarkku, sekarang aku yang harus menunjukkan kemampuanku,” ucap Ziva menyemangati dirinya sendiri.
Namun, baru saja Ziva ingin memejamkan kedua matanya untuk beristirahat. Tiba-tiba pintu suara kamar Ziva di ketuk.
Tok ... tok ... tok ....