Taksi Gelap

23 January 2026

Kejadian ini terjadi, diperjalanan Rama menuju pelabuhan Fery untuk bisa pulang ke Gorontalo bulan September tahun 2013. Ada sesuatu hal penting yang mesti Ia lakukan disana (mengejar cinta mantan) dan juga ada barang penting yang mesti gue ambil juga (kolor favorit gue). JANGAN PERCAYA INI ! ....

    Siang itu secara mendadak, Rama tiba-tiba memutuskan untuk ke Gorontalo saat itu juga.

Ketebalan atmosfer dompetnya yang tipis, memaksanya untuk harus pergi dengan alternatif sarana transportasi murah dan kadang mengocok perut (mabuk). Menggunakan "Kapal Ferry”. ....

    Perlu waktu 2 jam menuju ke pelabuhan penyeberangan kapal ferry ke Gorontalo dari kota Luwuk tempat tinggalnya saat itu. 
    Ia harus menembus hutan belantara, jalan rusak, jurang, tikungan tajam, tanjakan hampir 90 derajat, yang tidak mungkin bisa ditempuh oleh becak. 
    Jika pun ada tukang becak yang memaksakan diri untuk melewatinya, bisa dipastikan betis si tukang becak meledak hancur berantakan. Kemudian si tukang becak seketika akan menjadi trending topik hangat di media masa dengan judul,
    “Tukang Becak Naik Tanjakan, Betis Meledak Hancur Berantakan.”
    Oke, ini kenapa jadi ngomongin becak (?)

    Kembali ke perjalanan Rama. 
    ....

    Semua medan hutan belantara, jurang, tanjakan, dan jalan rusak tadi, mau tak mau harus Ia lewatin agar dirinya bisa pulang ke Gorontalo rumah tante dan Opa-Omanya.
    Entah mengapa saat itu tak ada keluarga atau temannya yang mau mengantarkannya, mungkin karena ngeri dengan medan yang harus dilewati. Rama juga tak mungkin membawa motor sendirian melewati medan seperti itu. Selain dirinya gak hapal jalan, bisa-bisa Ia yang malah jadi trending topik, bukan si tukang becak tadi. 
    Rama merasa dirinya akan hilang di hutan, dan dijadikan pemimpin oleh monyet-monyet binal setempat. 
    Akhirnya Ia memilih untuk naik “Taksi Gelap”. 
    ....

    Taksi gelap yang Ia maksud, bukan mobil taksi yang menampung pria hidung belang untuk dijadikan pacar hubungan gelap tante-tante. 
    Tapi karena mobil taksi ini memang gelap, tak ada lampu. (jujur dirinya sendiri juga gak tau kenapa ada namanya “taksi gelap”). 
    Sejenis mobil pribadi yang digunakan untuk mengantar penumpang ke tempat tujuan.
    Penumpangnya bisa siapa saja, semua umur, pokoknya selama mobil itu dianggap masih muat oleh si sopir, maka akan dimasukkan lagi penumpang di dalamnya tanpa melihat kondisi penumpang yang sudah ada di dalam mobil lebih dahulu. 
    Ada banyak kejadian korban yang telah terkapar dengan luka-luka tertusuk tulang sesama penumpang karena kesempitan duduk, dan yang paling bahaya adalah terkena radiasi racun bau ketek.
    SUMPAH ! INI SERIUS !
    Dan itu terjadi kepadanya hari itu.
    ....

    Siang itu berawal dari Rama sebagai penumpang kedua di taksi gelap mobil Toyota Avanza berwarna silver. 
    Sebelumnya di mobil udah ada om-om berumur kira-kira 50 tahunan lebih (ini masih dibilang om-om atau udah kakek ya?). 
    Kemudian masuk penumpang ke-tiga. 
    Seorang ibu dengan anaknya yang masih bayi. Pas masuk mobil, ibu ini sempat main mata kepadanya. 
    Lanjut penumpang ke-empat. 
    Seorang om-om bertubuh pendek yang sepertinya belum nikah dengan gaya khas seperti kontraktor. (sepertinya dia memang kontraktor). 
    Lanjut penumpang ke-lima dan ke-enam yang berbarengan. Ada om-om dengan gaya hampir sama (bukan kembar) mungkin kakak beradik. 
    Saat itu sudah ada 7 orang di dalam mobil taksi gelap itu bersama sopir yang jadi pemimpin hidup kami. 
    Setelah setengah jam berputar-putar keliling untuk menjemput penumpang, akhirnya sekitar pukul setengah dua mobil kami berangkat meninggalkan kota Luwuk.

    Masih sangat terasa enak di dalam mobil.
    ....

    15 menit perjalanan.
    Ternyata masih ada penumpang yang sang sopir disinggahi (lagi). 
    Dua orang sekaligus. 
    Yap! Penumpang ke-tujuh dan ke-delapan. Adalah bapak-bapak dengan gaya khas desa, salah satu di antara mereka berambut seperti Anang Hermansyah di tahun 90-an, dan mereka tanpa barang bawaan. 
    Sekarang ada 9 orang manusia di mobil avanza taksi gelap itu.

    Sudah mulai gak enak. 
    ...

    Kami melanjutkan perjalanan. 
    Baru 5 menit mobil mereka berjalan, ada ibu-ibu dengan bayinya mencegat mobil kami di jalan.
    Dan, mas sopir tidak melihat penderitaan kami yang sudah menderita di dalam mobil. Ia berhenti dan memasukan ibu-ibu itu. 
    Penumpang ke-sembilan. 
    Sekarang di dalam mobil pas berjumlah 10 orang.
    Sekali lagi. 
    SEPULUH ORANG. 
    "TOLONG!" 
    "TOLONGIN GUE!" Ia meminta pertolongan kepada bayi saat itu.

    Suasana berubah kacau.
    ....

    Medan perjalanan  yang mengerikan harus Rama lalui dengan 9 orang penumpang dalam taksi gelap yang Ia naiki. Dan yang mendominasi penumpang adalah Om-Om. 
    Mimpi apa Ia malam itu, Ia tidak mengingatnya. 
    Yang paling Rama pikirkan saat itu adalah bagaimana cara agar dirinya bisa nyaman di dalam mobil. Tidak sampai terluka gara-gara tertusuk tulang om-om di samping kiri dan kanannya. Juga paling penting tidak terkena racun bau ketek. 
    Rama Ingin teriak, 
    “DORAEMOOON TOLONG GUE !” 
    “TOLONG KELUARKAN ALAT MENGECILKAN DIRI. PLISSS..!” 
    Tapi sepertinya hal itu tidak ada gunanya.  
    Ia cuma bisa teriak kecil. 
    “OM, AKU KEJEPIT...”
    "TOLONG"
    ....

    Perjalanan selama dua jam itu penuh penderitaan. 
    Rama yang tadinya paling tampan di mobil itu, telah berubah menjadi seorang bocah kusam yang kejepit Om-om.
    Ia juga merasa paling gak enak dengan topik pembicaraan di dalam mobil itu.

    Bayangkan ketika om-om ketemu om-om berkumpul dalam satu tempat (dalam mobil) ngobrol bersama sambil ngopi (ini gimana caranya ngopi dalem mobil). Pokoknya gitu.
    Gue inget banget pembicaraan mereka waktu itu adalah ;
    “1. Kontraktor pembagunan jalan.” 
    “2. Korupsi” dan 
    “3. Wanita.” 
    Sepanjang  perjalanan mereka dengan begitu asyik dan antusias ngobrol di dalam mobil. Tanpa memikirkan penderitaan yang dirasakan bocah manis nan wangi (kalo abis mandi) sedang terjepit di dalam mobil. 
    ....

    Sebenarnya Rama ingin seklai bisa bergabung ngobrol dengan mereka sambil ngopi (?) tapi Ia tak tahu harus mulai pembicaraan dari mana. 
    Ingin rasanya Ia awali dengan  “Om, kemaren sinetron cinta fitri season 7 episode 117 udah gimana yah? Wisnu udah nikah belum ama Shiren?” 
    Atau,  
    “Om, IP gue semeter kemarin tiga koma delapan loh, gimana? Hebat kan?” 
    atau juga 
    “Om,, Istri om kalo selingkuh gimana?” 
     Tapi Ia takut dapat musibah tak terduga. 
    Akhirnya Ia memutuskan untuk tidak ngomong apa-apa. 
    Cukup jadi pendengar setia mereka selama perjalanan itu berlangsung.

    Ia sangat menginginkan bisa tidur selama perjalanan itu. Tapi posisi badan dan posisi perut yang terjepit tidak memungkinkan dirinya untuk bermimpi ketemu spongebob dan patrick di Bikini Bottom.  
    Yang ada dan yang telah terjadi adalah dirinya bertemu om-om rumpi. Semobil dengan mereka. Terjepit di pojok kursi belakang mobil bak tikus terinjak dan mendengarkan obrolan mereka yang tidak pernah Ia pahami hingga saat ini ditulis.  
    ....

    Dua jam berlalu.
    Akhirnya sampailah mereka di parkiran pelabuhan penyebrangan kapal Ferry dari Pagimana menuju Gorontalo.

    Rama langsung turun, bersama penumpang ke-lima, ke-enam, dan ke-sembilan tadi. Karna mereka berempat punya tujuan yang sama, Gorontalo. 
    Setelah mereka turun, Ia langsung cepat-cepat membayar jasa mobil taksi gelap ter-kampret itu. Kemudian tanpa basa-basi Ia segera mencari tempat meditasi konsumsi diri dari penderitaan yang baru saja ia alami dalam “taksi gelap” itu.

    Setengah jam kemudian. 
    Ia melihat “Taksi Gelap” penderitaan itu pergi meninggalkan pelabuhan. 
    ….

    Suasana berubah nyaman dan semestinya.