Perkataan dari Rifki terus saja terngiang di kepala Nabila. Apalagi dengan jantungnya yang tidak berani berdebar ketika berdekatan dengan pria itu.
"Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan sebenarnya."
Nabila menggelengkan kepalanya, lagi-lagi bayangan dari Rifki terus saja menghantui dirinya. Apa ini juga yang dirasakan oleh para kaum hawa tentang Rifki yang sampai dijuluki dengan pria penggoda iman.
"Hei kenapa melamun?" tanya Linda kepada anaknya yang diam saja di dapur setelah dua tamu tadi pergi.
"Eh maaf bunda. Apa Rifki sudah pulang?" tanya Nabila dengan was-was. Apalagi dia yang ketahuan melamun tadi. Membuat dirinya sangat malu dan tidak tahu harus berbuat apalagi.
Linda hanya mengangguk membenarkan semuanya. Rifki memang sudah pulang, tetapi kenapa ekspetasi anaknya begitu menggemaskan seperti itu.
"Iya dia sudah pulang dengan abinya."
Nabila hanya tersenyum tipis setelah mengetahui kalau Rifki sekarang sudah pulang. Jadi hatinya sedikit merasa senang. Berdekatan dengan pria itu malah membuat jantungnya berdebar terus.
"Syukurlah kalau begitu."
Linda menatap anaknya dengan heran sekaligus dia merasa penasaran sekarang ini.
"Oh iya, tadi kamu membicarakan apa saja dengan Rifki ketika berdua di taman belakang?" tanya Linda yang merasa penasaran.
Nabila yang ditanya seperti itu pun malah bersemu merah. Ada rasa malu dalam dirinya ketika ibunya sendiri menanyakan tentang hal itu.
"Rahasia," jawab Nabila.
"Kamu ini, main rahasia-rahasiaan begitu."
"Maaf yah, Bunda."
"Tidak apa, bunda paham. Rifki sebenarnya orang yang kesepian, apalagi setelah uminya meninggal, dia jadi anak yang sulit diatur," ujar Linda menceritakan semua tentang Rifki kepada Nabila.
Tiba-tiba Nabila teringat dengan kejadian ketika di rumah sakit. Dia melihat seorang perempuan yang datang bersama dengan abinya Rifki. Jadi wanita itu bukan ibu kandungnya Rifki yang sebenarnya.
"Apa Rifki membenci ibu tirinya?" tanya Nabila teringat sesuatu.
Linda yang mendengar itu pun hanya mengangguk saja. "Iya hubungan mereka memang tidak baik. Bunda berharap kamu akan membantu menyadarkan Rifki dan menerima kenyataan hidupnya."
Nabila tidak menyangka kalau Rifki mempunyai sifat yang seperti itu. Dia pasti belum bisa menerima kenyataan kalau ibunya meninggal dan dia belum bisa menerima ibu tirinya.
"Baik bunda. Aku akan berusaha menyadarkan Rifki nanti," balas Nabila sambil tersenyum.
Linda memeluk anaknya dengan erat, memberikan sebuah kehangatan pada anaknya. "Mungkin awal pernikahan kamu nanti akan sedikit berat. Tetapi bunga yakin kalau kamu bisa melewati semuanya dengan baik. Asal jangan pernah meminta untuk bercerai karena hal itu hal paling dibenci oleh Allah," terang Linda kepada anaknya.
Nabila hanya tersenyum tipis saja, dia pun pernah mendengar kalau perceraian adalah hal yang dilarang oleh agama.
Dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 227, Allah SWT berfirman,
وَإِنْ عَزَمُوا۟ ٱلطَّلَٰقَ فَإِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: "Dan jika mereka berketetapan hati hendak menceraikan, maka sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
Selain itu, Rasulullah SAW juga telah menegaskan perihal perceraian melalui sabdanya,
إِنَّ أَبْغَضَ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهُ الطَّلَاقُ
Artinya: "Sesungguhnya sesuatu yang halal yang paling dibenci oleh Allah adalah perceraian." (HR Abu Dawud).
Nabila mengingat hal tersebut, ini yang juga dikatakan oleh Rifki tadi ketika mereka berdua berada di taman belakang.
Dia bahkan merasa tidak yakin kalau kehidupan dirinya akan mudah berubah seperti ini. Sejak perkataan Rifki seperti itu, Nabila semakin yakin untuk menikah dengan sosok Rifki.
Sementara di tempat lain.
Rifki dan Quraish sudah sampai di rumahnya. Di sana ada Hana yang sudah menunggu suaminya.
"Assalamualaikum."
"Wassalamu'alaikum mas." Hana langsung menyalami tangan suaminya.
Berbeda dengan Rifki yang hanya menatap kearah Hana dengan sekilas. Dia tidak peduli sama sekali dengan hal ini.
"Rifki, kamu duduk dulu."
"Tidak, aku lelah."
Sebenernya Rifki merasa malas jika harus berhadapan dengan Hana, apalagi dia sangat benci dengan ibu tirinya tersebut. Dia berjalan ke kamarnya, tetapi sebelum itu. Dia malah melihat Hafiz dihadapannya.
"Bagaimana kak, apa lancar?" tanya Hafiz.
Rifki tersenyum dengan penuh arti ketika mendengar hal tersebut. "Tentu saja, kami akan menikah minggu depan."
Hafiz hanya tersenyum tipis setelah mendengar perkataan dari Rifki barusan. "Selamat yah Kak Rifki."
"Iya."
Rifki mengatakan itu lalu dia langsung masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Rifki tahu kalau Hafiz menyukai Nabila, tetapi dia tidak tahu hati Nabila seperti apa. Jelas Rifki akan menggunakan ini sebagai balas dendam.
Hafiz akhirnya memutuskan untuk duduk bersama dengan kedua orangtuanya yang ada di sini. Dia hanya ingin mendengar cerita dari abinya.
Hana duduk bersama dengan Quraish sekarang.
"Jadi bagaimana tadi acaranya?" tanya Hana.
Quraish hanya tersenyum, dia merasa tidak enak dengan Hana karena wanita itu sampai tidak bisa ikut dengan dirinya.
"Acara lancar dan Nabila sudah menerima lamaran tersebut. Aku sebenarnya merasa tidak enak dengan kamu, karena kamu tidak bisa ikut dalam acara tersebut karena Rifki yang melarang kamu," sesal Quraish.
Hana menggenggam tangan suaminya, dia paham dengan situasi sekarang. Rifki sampai sekarang masih membenci dirinya dan pria itu tidak mau jika dia terlibat dalam hal pribadi.
"Tidak apa, ini semuanya demi kebaikan Rifki juga. Aku hanya berharap kalau nanti dia akan berubah menjadi lebih baik," saran Hana yang masih bisa tersenyum tipis.
Quraish memeluk istrinya, dia bersyukur karena mempunyai istri yang begitu sholehah yang mau sabar dan menerima anaknya.
"Terimakasih banyak Hana, karena kamu sudah sabar menghadapi anakku," ujar Quraish.
"Rifki juga sudah aku anggap sebagai anakku sendiri," ujar Hana yang tersenyum tipis.
Hafiz yang ada di sana pun malah ikut terharu. Andai saja kakaknya melihat sisi baik dan kesabaran ibunya selama ini. Dia hanya berharap sesuatu saat nanti kakaknya akan berubah pikiran agar bisa berbaik hati.
"Kapan Kak Rifki akan berubah? Kalau dalam acara ini saja Kak Rifki melarang bunda datang. Bagaimana nanti ketika acara pernikahan beliau?" tanya Hafiz yang merasa bingung sendiri. Apalagi besar kemungkinan kalau uminya juga pasti akan dilarang masuk.
"Kamu tenang saja kalau tentang itu Hafiz. Abi akan bicara baik-baik dengan beliau nanti."
"Semoga dia mau mengizinkan umi untuk mendampingi dirinya ketika menikah nanti," ujar Hafiz.
"Tidak usah memaksa Rifki, umi tidak apa-apa jika tidak hadir dalam acara tersebut. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan untuk Rifki," jawab Hana.
Quraish tidak setuju dengan ucapan istrinya. Bagaimana pun sekarang istrinya adalah ibu sambung dari Rifki, tentu saja wanita itu harus datang. Terlepas dari Rifki mau menerima atau tidak.
"Kamu harus mendampingi dia di sampingku. Nanti aku akan bicara baik-baik dengan beliau," ujar Quraish meyakinkan istrinya.
Sementara dibalik pintu, Rifki diam-diam mengintip mereka bertiga. Ada rasa cemburu ketika melihat ketiga orang itu terlihat seperti keluarga bahagia sedangkan dirinya tidak.
BERSAMBUNG