Om CEO, Lepaskan Aku!-Ganti Jadwal Seenak Jidat-Bab 21

16 September 2025

Arion menelepon sekertarisnya yang meja kerjanya tepat di luar ruang kerja sang owner.

“Iya hallo, Pak?”

“Lisa, di sini ada guru piano yang bernama Irene, kan?”

“Iya benar, Pak. Kak Irene mengajar piano untuk tingkat mahasiswa dan—“

“Panggil dia ke ruanganku, sekarang!”

“Umm tapi ... Pak. Jadwal Kak Irene hari ini kebetulan sedang libur.”

Sang sekertaris sambil melihat pada layar laptop untuk jadwal seluruh guru piano hari ini. Dia segera menemukan jadwal seorang guru piano bernama Irene. Memang harus secepat dan setepat itu menjadi sekertaris Arion. Jika tidak, sudah pasti dia akan selalu kena marah.

“Saya tidak peduli, Lisa! Telepon dia dan suruh datang secepatnya. Saya tunggu!”

Gagang telepon diletakkan Arion tanpa menunggu jawaban Lisa selanjutnya. Membuat wanita cantik itu langsung galau tingkat sekertaris. Meskipun hal seperti itu sudah biasa dirasakan Lisa, menjadi makanannya sehari-hari. Namun tetap saja membuatnya pusing tujuh keliling.

Lisa segera mencari nomor handphone Irene. Dia menghela napas sebelum menekan deretan nomor itu. Bagaimana tidak? Mengganggu orang yang sedang libur bekerja seminggu sekali. Setelah beberapa kali nada panggil, akhirnya terdengar suara Irene di seberang telepon.

“Hallo?”

“Hallo, Kak Irene? Maaf aku telepon di hari libur. Kalau bukan karena perintah Pak Arion, tentu aku nggak akan mengganggu hari liburmu.”

Terdengar desah frustasi di ujung kalimat sang sekertaris. Namun Irene terkekeh kecil di sana. Dia tidak kaget sama sekali. Semua guru yang mengajar di Nawasena sudah sangat mengenal sifat sang owner.

“Nggak masalah, Mbak Lisa. Kebetulan hari liburku hanya diisi rebahan. Ada apa? Ada tugas mendadak? Hemm ... lagi?”

“Duh! Maaf sekali ya, Kak. Iya nih, Pak Arion meminta Kak Irene untuk datang ke ruangannya—sekarang juga.”

“Astaga! Huft ... baiklah. Mungkin aku butuh waktu hampir satu jam untuk bersiap lalu di perjalanan sampai kesana.”

“Oke, akan kusampaikan. Ditunggu ya, Kak Irene. Terima kasih.”

Sambungan telepon ditutup. Lisa langsung mengabari pada Arion. Dengan berat hati Arion bisa menerima harus menunggu selama satu jam. Andaikan ada karpet terbang di zaman ini, sudah pasti Arion tidak akan menerima alasan itu.

Di dalam ruang kerjanya yang luas, Arion mondar-mandir saja sambil terus-terusan melirik ke jam mahal di pergelangan tangan, lalu menoleh pada jam yang tergantung di dinding, juga mengambil jam kecil dari atas meja dan menatapnya dengan kening mengernyit.

Pintu ruang CEO Sekolah Musik Nawasena diketuk. Arion membalik badan lalu dengan cepat berlari menuju kursi kerja kebangsaan. Dia duduk di sana dengan posisi sangat berwibawa, lalu berdeham pelan dan mengatur napas supaya nanti suaranya akan terdengar penuh wibawa. Tidak lupa segera Arion membuka layar laptop di atas meja kerja.

“Silakan masuk.”

Pintu ruangan dibuka oleh Lisa, dia memberitahu bahwa Irene sudah datang dan bertanya apakah boleh langsung masuk ke ruangan? Arion menjawab dengan anggukan dan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.

Irene masuk ke ruangan dengan gestur tubuh sopan. “Permisi, Pak Arion,” katanya setelah berdiri di depan meja kerja sang bos besar.

Arion mendongak, dia menutup layar laptop dengan kening sedikit mengernyit, seolah dia sedang sibuk sekali dan terpaksa menjeda pekerjaan karena ada Irene datang.

“Silakan duduk,” katanya dengan nada suara dingin dan datar.

Irene mengangguk lalu duduk di sana, di seberang meja kerja Arion. “Pak, tadi Mbak Lisa telepon, katanya saya dipanggil ke ruangan Bapak?”

Arion meletakkan kedua tangan di atas meja, menopang dagu. “Hemm ya, saya hanya mau tanya, apakah murid yang bernama ... hemm siapa ya namanya? Umm kalau tidak salah—Zara. Apa dia dipegang olehmu? Atau guru lain?”

“Oh ya, Zara! Saya yang mengajarnya, Pak. Ada apa ya, Pak?” Sorot mata Irene berbinar, dia teringat pada salah satu muridnya yang paling pintar tapi juga cerewet.

“Mulai sekarang Zara tidak dipegang lagi oleh kamu, ya.”

Kedua netra Irene langsung membola. Dia benar-benar kaget. Tak ada badai tak ada banjir bandang tiba-tiba sang bos besar berkata seperti itu.

“Umm ta—tapi kenapa, Pak? Apa saya membuat kesalahan? Apa papanya Zara yang meminta pergantian guru? Salah saya apa ya, Pak?”

Arion berdeham pelan. “Umm bukan, bukan itu. Hanya untuk ... penyegaran suasana. Itu saja. Baiklah, sudah cukup paham, ya? Jadi mulai besok, semua jadwal Zara akan dialihkan pada guru lain. Apa ada pertanyaan? Tidak ada? Ohh oke, baiklah. Sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya.”

“Loh! Pe—penyegaran suasana? Maksudnya Pak?”

Arion berdiri dari duduknya lalu mengitari meja dan menuju kursi yang diduduki Irene. Dengan tenaga kuatnya, dengan mudah Arion mengangkat bagian belakang kursi sehingga membuat Irene terpaksa berdiri dari duduknya supaya tidak terjatuh dan duduk di lantai.

“Selamat berlibur, Irene,” ucapnya santai dengan senyum penuh wibawa. Sebelah tangannya menunjuk ke arah pintu keluar.

Dengan banyak pertanyaan masih memenuhi kepala, terpaksa Irene keluar dari ruang sang CEO. Dia tidak habis pikir, ada apa memangnya dengan muridnya yang bernama Zara? Dan ... siapa guru yang akan menggantikannya?

Arion tersenyum puas setelah pintu ruangannya ditutup kembali. Dia kembali ke kursi kerjanya. Dia meminta jadwal latihan Zara pada Lisa untuk dikirim ke email. Arion sedang mengamati jadwal itu sekarang.

Dia mengetuk dagu beberapa kali dengan telunjuk. Seperti orang yang sedang berpikir keras. “Hemm ... jadwalnya tiga kali seminggu, ya? Cih! Mana bisa cepat pintar kalau hanya seperti itu jadwal latihannya. Akan kubuat ... hemm oke, tujuh kali seminggu.”

Lima menit kemudian, jadwal latihan baru untuk Zara sudah dikirim oleh Lisa ke nomor handphone Zara. Itu adalah perintah sang bos yang harus segera dia laksanakan. Meskipun Lisa sempat dibuat kaget setelah mlihat jadwal terbaru Zara. Sebab baru kali ini ada jadwal les begini padatnya. Biasanya paling padat hanya untuk murid yang akan mengikuti kompetisi atau pertunjukan, itupun masih ada liburnya di hari minggu. Ini benar-benar aneh, pikir si sekertaris.

Zara yang sedang duduk di kantin bersama dengan Brenda, menikmati satu cup besar iced coffee langsung terhenyak setelah melihat pesan yang masuk di layar handphone.

“Ha? Yang benar saja?! Tujuh kali seminggu?!”

Brenda dengan sendok ice cream di mulutnya, menatap kebingungan pada sang sahabat, kedua alisnya terangkat. “Apanya yang tujuh kali seminggu, Ra?”

“Ini! Jadwal latihan les piano. Siapa yang ganti jadwalnya? Bisa-bisanya jadi tujuh kali seminggu?!”

Brenda tergelak. “Mungkin Papa lo kali, Ra. Lo udah diarahin untuk menjadi pianis tuh. Atau ... jangan-jangan lo udah didaftarin masuk ke Erwin Gutawa Orchestra!”

Kening Zara mengernyit. “Emang iya? Perasaan baru kemarin papa bilang nanti gede gue jadi CEO di kantornya. Sekarang, tiba-tiba banget jadi pianis?” Zara menggaruk kepalanya yang tak gatal.