Dengung itu bukan lagi suara. Ia adalah parasit.
Bunyi itu merayap dari balik telinga kanan, menjalar masuk ke saluran Eustachius, lalu bersarang di dasar tengkorak. Bukan nada tinggi yang melengking, melainkan getaran rendah, sub-bass konstan yang menggetarkan rahang. Gigi gerahamku beradu pelan, mengikuti ritme mesin yang tertanam di balik kulit.
Pukul 02.47 pagi.
Jakarta di luar jendela apartemen lantai dua puluh ini tampak seperti bangkai raksasa yang dihiasi lampu led. Hujan menghantam kaca, menderu, mencoba masuk. Namun, dingin di luar sana tidak sebanding dengan beku yang menjalar di ujung jari-jariku.
Aku menatap cermin retak di atas wastafel. Wajah itu asing. Kulit pucat, nyaris abu-abu, ditarik tegang menutupi tulang pipi yang menonjol. Kantung mata hitam menggantung berat, seolah menyimpan dosa satu dekade. Tapi yang paling mengerikan adalah mata itu.
Pupilku tidak mengecil meski lampu kamar mandi menyala terang. Melebar. Hitam pekat. Lubang tanpa dasar.
"Kau masih di sana, Abi?" bisikku pada pantulan itu.
Tidak ada jawaban. Hanya dengung yang semakin keras. Zzzzt. Zzzzt.
Aku meraba benjolan kecil di belakang telinga kanan. Hangat. Terlalu hangat. Implan Synapse-Sync itu berdenyut seirama dengan detak jantungku yang memburu. Mereka bilang ini alat bantu kerja. Booster produktivitas. Cara elegan untuk menyelesaikan laporan kuartal saat kau bermimpi indah.
Omong kosong...
Ini adalah tali kekang. Dan malam ini, tuannya lapar.
Aku berbalik, melangkah sempoyongan menuju meja kerja yang berantakan. Tumpukan kertas tagihan rumah sakit, bungkus mie instan, dan botol-botol obat penenang berserakan. Di tengah kekacauan itu, sebuah laptop menyala, menampilkan baris-baris kode hijau yang bergerak cepat.
Project Andromeda: 98% Complete.
Sembilan puluh delapan persen. Angka keramat. Batas ambang sebelum "Panen Raya".
Aku tahu apa yang terjadi pada mereka yang mencapai seratus persen. Hartono, OB tua di kantor, pernah berbisik padaku di pantry seminggu lalu. "Mereka tidak pulang, Mas Abi. Orang-orang yang dapat bonus besar itu... mereka tidak pernah benar-benar pulang. Badannya ada, tapi isinya kopong."
Hartono hilang dua hari kemudian.
Dan sekarang, giliranku.
Tanganku gemetar saat meraih segelas air. Tumpah sedikit membasahi meja. Sial. Fokus, Abimanyu. Fokus. Kau tidak punya waktu untuk panik.
Aku membuka laci terkunci di bawah meja. Kunci peraknya dingin di telapak tangan yang berkeringat. Klik. Laci terbuka. Di sana, tergeletak satu-satunya senjata yang kumiliki. Bukan pistol. Bukan pisau.
Sebuah drive eksternal kuno, model satu dekade lalu, dan sebuah suntikan berisi cairan bening. Adrenalin murni dicampur dengan cortisol dosis tinggi. Racun bagi tubuh, tapi perisai bagi pikiran.
Rencananya gila. Bunuh diri, mungkin.
Archipelago Prime, perusahaan sialan yang berkantor di menara kaca itu, bukan sekadar pengembang real estate atau raksasa teknologi. Mereka adalah bank. Tapi mereka tidak menyimpan uang. Mereka menyimpan esensi. Emosi. Kenangan.
Malam ini, saat sinkronisasi terakhir dimulai, mereka akan datang untuk mengambil "deposit" terbesar: Ingatan tentang Ayah.
Satu-satunya hal murni yang tersisa dalam diriku. Detik-detik terakhir sebelum monitor jantung Ayah berubah menjadi garis datar. Senyumnya. Bau minyak kayu putih di kulitnya. Suara parau yang memintaku menjadi orang baik.
Itu milikku. Dan mereka ingin mencurinya, mengemasnya, lalu menjualnya sebagai sensasi sintetik bagi orang-orang kaya yang sudah lupa cara merasakan sedih.
"Tidak malam ini, bajingan," geramku.
Aku menggulung lengan kemeja. Urat-urat biru menonjol di balik kulit putih. Jarum suntik itu berkilau jahat di bawah lampu neon.
Jika aku masuk ke Synapse-Sync dalam keadaan tenang, mereka akan melahapku bulat-bulat. Sistem mereka dirancang untuk memproses gelombang otak Alpha—tenang, patuh, produktif. Tapi jika aku menyuntikkan kekacauan ini... jika aku membanjiri sistem mereka dengan kepanikan kimiawi murni saat koneksi terjadi...
Aku akan menjadi virus.
Zzzzzzzzt!
Dengung di kepala melonjak menjadi jeritan statis. Pandanganku berkunang-kunang. Notifikasi muncul di retina mataku—proyeksi langsung dari implan.
[PERINGATAN: SINKRONISASI WAJIB DIMULAI DALAM 60 DETIK. KEGAGALAN MEMATUHI AKAN MENGAKIBATKAN TERMINASI KONTRAK DAN SANKSI NEUROLOGIS.]
"Sanksi neurologis." Bahasa halus untuk lobotomi jarak jauh.
Napasku memburu. Paru-paru terasa sempit, seolah oksigen di ruangan ini habis dihisap oleh ketakutan. Jantungku memalu rusuk, dug-dug-dug, seperti ingin mendobrak keluar.
Aku menusukkan jarum ke pembuluh vena di lengan kiri. Sakitnya tajam, nyata. Aku menekan pistonnya.
Cairan dingin mengalir masuk.
Satu detik. Dua detik.
BUM!
Rasanya seperti disambar petir dari dalam. Mataku membelalak. Panas menjalar dari dada ke leher, membakar setiap saraf. Otot-ototku kejang. Rahangku mengeras sampai rasanya gigi gerahamku akan pecah.
Dunia miring. Warna-warna di ruangan menjadi terlalu tajam, terlalu terang. Suara hujan di luar terdengar seperti ledakan artileri.
Ini dia. Mode tempur.
Aku duduk di kursi kerja, memasang kabel drive eksternal ke port darurat di belakang leher, sebuah modifikasi ilegal yang kubeli di pasar gelap Glodok. Sakitnya bukan main, seperti ditusuk paku panas.
"Ayo," desisku, air liur menetes dari sudut bibir. "Ayo kita selesaikan ini."
Aku memejamkan mata. Bukan untuk tidur. Tapi untuk perang.
Koneksi tersambung.
Realitas fisik di sekelilingku - bau apek karpet, dinginnya AC, suara hujan - lenyap dalam sekejap. Ditarik paksa ke belakang, digantikan oleh kegelapan digital yang absolut.
Tidak ada lantai. Tidak ada langit.
Aku melayang di dalam katedral cahaya yang mustahil. Struktur raksasa menjulang di sekelilingku, bukan terbuat dari batu atau baja, melainkan dari aliran data yang berdenyut seperti pembuluh darah neon. Dinding-dindingnya adalah wajah-wajah manusia yang berteriak tanpa suara, memanjang dan meleleh menjadi kode biner.
Ini adalah Mainframe Archipelago Prime. Atau seperti yang kusebut: Neraka High-Def.
Tubuh vitualku terasa berat, padat. Efek samping dari adrenalin di dunia nyata yang terbawa ke dalam matriks kesadaran ini. Bagus. Aku butuh berat ini. Aku butuh jangkar.
"Selamat datang kembali, Unit 734."
Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia datang dari segala arah. Bergema di dalam tulang, menggetarkan sumsum.
Tiga pilar cahaya turun dari kegelapan di atas. Mereka mendarat tanpa suara, membentuk segitiga di hadapanku. Cahaya itu memudar, memperlihatkan wujud asli mereka.
Para Pendiri.
Mereka tidak lagi manusia. Wujud mereka adalah kolase mengerikan dari ribuan potongan memori curian.
Yang di tengah, "The CEO", memiliki wajah yang terus berubah. Sedetik dia adalah pria tua yang bijak, detik berikutnya gadis kecil yang menangis, lalu prajurit yang sekarat. Tubuhnya jubah hitam yang terbuat dari bayang-bayang statis.
"Kau terlambat, Abimanyu," kata The CEO. Suaranya adalah paduan suara dari seribu orang mati. "Dan kau membawa... sampah."
Dia menunjuk ke dadaku. Di sana, di avatar digitalku, berdenyut cahaya merah membara. Manifestasi dari kepanikan dan adrenalin yang kusuntikkan.
"Aku bukan datang untuk lembur," kataku. Suaraku di sini terdengar seperti guntur. "Aku datang untuk mengambil kembali milikku."
Sosok di sebelah kiri, "The Director", terkekeh. Suaranya seperti gesekan kaca pecah. Wujudnya kurus, panjang, dengan jari-jari yang menyerupai jarum suntik raksasa. "Milikmu? Manusia kecil yang lucu. Tidak ada yang milikmu di sini. Bahkan pikiran untuk memberontak itu... kami yang menanamnya. Agar rasanya lebih gurih saat kami memanennya."
"Kalian memuakkan," ludahku. Liur digital itu mendesis saat menyentuh lantai data.
"Kami adalah evolusi," sahut sosok ketiga, "The Analyst". Wujudnya adalah bola mata raksasa yang melayang, dikelilingi ribuan lengan mekanik. "Daging itu lemah, Abimanyu. Memori memudar. Otak menua. Kami mengawetkan momen-momen terbaik umat manusia dalam keabadian digital."
"Dengan mencurinya?!" teriakku.
"Dengan menyelamatkannya!" bentak The CEO. Wajahnya berubah menjadi wajah Ayahku sekejap.
Jantungku berhenti. Itu taktik murahan. Tapi efektif.
"Lihat," kata The CEO dengan suara Ayah. "Aku di sini, Abi. Aman. Tidak sakit lagi. Serahkan kepingan terakhir itu. Biarkan aku utuh."
Aku mundur selangkah. Ilusi itu begitu nyata. Kerutan di keningnya, tatapan lelahnya.
"Jangan dengarkan, Abi," bisikku pada diri sendiri. "Itu glitch. Itu palsu."
"Kenapa melawan?" The Director melangkah maju. Jarum-jarum di jarinya meneteskan cairan hitam. "Kau lelah, kan? Tagihan menumpuk. Apartemen bau jamur. Kesepian. Di sini, kau bisa menjadi apa saja. Kau bisa menjadi raja."
"Serahkan memori kematian itu," desak The Analyst. Mata raksasanya berkedip, memindai jiwaku. "Rasa duka itu... itu adalah bumbu yang kami butuhkan untuk melengkapi Simfoni Kesedihan."
Mereka mengepungku. Tiga dewa palsu di kuil kebohongan.
Aku bisa merasakan mereka mulai meretas. Bukan dengan kode, tapi dengan kehadiran. Mereka menekan kesadaranku, mencoba membongkar dinding pertahananku. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup. Lapisan demi lapisan memoriku dikupas.
Kenangan saat aku wisuda—sret—diambil. Kenangan ciuman pertama—sret—lenyap. Kenangan rasa soto ayam buatan Ibu—sret—hilang.
"Hentikan!" jeritku.
"Menyerahlah," koor mereka serempak. "Berikan intinya."
Aku jatuh berlutut. Rasa sakit mental ini jauh lebih buruk daripada fisik. Ini adalah amputasi jiwa. Aku merasakan diriku menjadi ringan, kosong, hampa.
Tapi kemudian, aku ingat suntikan itu. Aku ingat rasa sakit fisik yang nyata di lengan kiriku.
Rasa sakit adalah satu-satunya hal yang tidak bisa mereka palsukan dengan sempurna. Rasa sakit adalah bukti kehidupan.
Aku mendongak, menatap wajah palsu Ayah di sosok The CEO.
"Kau mau intinya?" tanyaku lirih.
The CEO tersenyum. "Anak pintar."
"Ambil ini," geramku.
Aku tidak memberikan memori Ayah. Aku membuka gerbang bendungan yang kutahan sejak tadi.
Aku melepaskan Chaos.
Aku mengakses drive eksternal di leherku—yang bukan berisi data, melainkan loop umpan balik dari rasa sakit fisikku yang diperkuat seribu kali lipat. Ditambah dengan setiap detik rasa benci, rasa jijik, rasa muak yang kupendam selama lima tahun bekerja di lubang tikus ini.
Bukan kenangan indah. Bukan duka yang puitis.
Tapi kemarahan murni. Kotor. Kasar.
"MAKAN INI!"
Ledakan gelombang merah menyapu katedral itu.
Langit-langit data runtuh.
Jeritan para Pendiri bukan lagi paduan suara agung, melainkan pekikan glitch yang memekakkan telinga.
"ERROR! DATA CORRUPTION! UNKNOWN EMOTIONAL SIGNATURE!"
The Director mundur, jari-jari jarumnya patah satu per satu, meledak menjadi debu piksel. Dia mencoba menyentuhku, tapi "racun" kemarahan itu membakar kodenya.
"Apa ini?!" raung The Analyst. Mata raksasanya retak, mengeluarkan cairan hitam kental. "Ini bukan data! Ini... ini kekacauan!"
"Ini rasanya menjadi manusia, bangsat!" teriakku. Aku bangkit, tubuh virtualku kini membara seperti bintang merah.
Aku menerjang The CEO. Dia mencoba mengubah wajahnya lagi—menjadi Ibu, menjadi kekasih masa lalu—tapi aku tidak peduli. Aku mencengkeram leher jubah bayangannya.
Panas. Tanganku melepuh, data kulitku terkelupas, tapi aku tidak melepaskannya.
"Kalian mau memanenku?" Aku mempererat cengkeraman. "Kalian tersedak."
Getaran hebat mengguncang semesta digital ini. Lantai di bawah kami retak, memperlihatkan jurang kode mentah yang berputar gila.
Aku menyalurkan sisa adrenalin dari tubuh asliku. Di dunia nyata, aku mungkin sedang kejang-kejang, mulut berbusa, hidung mimisan. Tapi di sini, energi itu menjadi badai api.
The CEO meronta. "Kau... kau menghancurkan infrastruktur! Kau membunuh kami!"
"Itu idenya!"
Aku memukul wajahnya. Sekali. Dua kali. Setiap pukulan mengirimkan gelombang kejut yang meruntuhkan pilar-pilar cahaya.
Tapi mereka kuat. Mereka adalah arsitek tempat ini.
The CEO tiba-tiba berhenti meronta. Wajahnya menjadi kosong, datar, seperti manekin.
"Tindakan irasional," katanya dengan suara robotik dingin. "Mengaktifkan Protokol Pembersihan Total."
Dinding-dinding katedral itu menutup. Kegelapan pekat, lebih hitam dari malam, mulai menelan ruangan. Mereka akan memformat ulang seluruh server. Termasuk aku.
Jika aku mati di sini saat format terjadi, otakku di dunia nyata akan menjadi bubur. Kosong. Mati otak.
Aku harus keluar. Sekarang.
Tapi pintu keluar- titik log-out- ada di balik punggung The CEO yang kini membesar menjadi raksasa hitam.
Aku tidak bisa menang dengan kekuatan. Aku harus menang dengan pengorbanan.
Aku melihat celah kecil di balik bahu raksasa itu. Secercah cahaya putih. Jalan pulang.
Aku merogoh ke dalam dadaku sendiri, ke inti kesadaranku. Di sana, tersimpan memori Ayah. Bersinar keemasan, hangat, damai.
"Maafkan aku, Yah," bisikku.
Aku menarik memori itu keluar. Rasanya seperti merobek jantung sendiri. Sakitnya membuatku ingin muntah.
Aku mengangkat bola cahaya itu tinggi-tinggi. Para Pendiri terdiam, terpesona oleh kemurnian data itu. Mereka lapar. Naluri purba mereka mengambil alih logika mesin.
"Kalian mau ini?" teriakku.
"BERIKAN!" raung mereka.
Aku melempar memori itu... bukan ke arah mereka, tapi ke dalam jurang kode mentah di bawah kaki kami.
"TIDAK!"
Ketiga dewa digital itu melompat serentak, mengejar "makanan" berharga itu, melupakan aku sejenak. Keserakahan adalah bug terbesar mereka.
Itu celahku.
Aku berlari. Berlari secepat pikiran. Kakiku menghantam lantai yang mulai disintegrasi. Di belakangku, ledakan data terdengar saat para Pendiri bertabrakan satu sama lain di dalam jurang.
Cahaya putih itu semakin dekat.
Tubuhku mulai terasa berat lagi. Paru-paruku mulai ingat cara bernapas.
Sedikit lagi.
Dinding kegelapan hampir menutup celah itu.
Aku melompat.
Hening.
"Hah... hah... hah..."
Mataku terbuka lebar.
Langit-langit beton. Kipas angin berputar pelan. Suara klakson samar dari kejauhan.
Aku terlonjak duduk, lalu langsung jatuh lagi ke lantai dingin. Tubuhku terasa seperti baru digilas truk. Sakit di sekujur tubuh. Lengan kiriku memar biru bekas suntikan. Darah kering mengeras di bawah hidung.
Aku meraba belakang telinga.
Implan itu panas melepuh. Bau daging terbakar menusuk hidung.
"Aku... aku hidup?" suaraku parau, nyaris tak terdengar.
Aku menyeret tubuhku ke kamar mandi. Membasuh wajah dengan air keran yang dingin. Air bercampur darah berputar di lubang pembuangan.
Aku menatap cermin.
Mata itu masih milikku. Lelah, merah, tapi hidup. Pupilnya normal.
Aku tertawa. Awalnya pelan, lalu berubah menjadi tawa histeris yang mengguncang bahu. Aku menang. Aku mengalahkan dewa-dewa bajingan itu. Aku kehilangan memori Ayah, aku tak bisa lagi mengingat wajahnya dengan jelas sekarang, hanya bayangan buram, tapi aku menyelamatkan jiwaku.
Aku berkemas malam itu juga. Laptop, drive eksternal, baju seadanya. Aku harus pergi. Mereka akan mengirim orang. Fisik. Pembunuh bayaran, polisi korup, siapa saja.
Dua Minggu Kemudian.
Pantai selatan Jawa. Tempat antah berantah di mana sinyal seluler pun enggan mampir.
Aku duduk di kursi plastik warung pinggir pantai. Matahari terbenam, melukis langit dengan warna ungu dan oranye yang dramatis. Angin laut menerpa wajahku, asin dan lengket.
Di hadapanku, sepiring nasi goreng kampung mengepul. Telur mata sapi setengah matang di atasnya bergoyang pelan saat aku menyentuh meja.
"Silakan, Mas," kata ibu penjual warung, wanita tua dengan senyum ompong yang tulus. "Pedasnya pas, kan?"
"Pas, Bu. Makasih ya," jawabku.
Aku menyendok nasi itu. Menyuapnya.
Rasanya meledak di mulut. Gurih bawang putih, pedas cabai rawit, manis kecap, dan creamy-nya kuning telur. Begitu kaya. Begitu... nyata.
Aku mengunyah pelan, meresapi setiap tekstur. Air mata menetes di pipiku.
Aku bebas. Aku benar-benar bebas. Tidak ada lagi dengung. Tidak ada lagi target. Tidak ada lagi dewa digital.
Aku menghabiskan suapan terakhir, lalu bersandar puas. Aku menatap cakrawala. Ombak bergulung memecah karang. Buih putihnya berkilauan ditimpa sisa cahaya matahari.
Indah sekali.
Terlalu indah?
Dahiku berkerut.
Aku menatap ombak itu lagi. Gulungan ombak ketujuh. Pecah di karang yang sama. Buihnya menyebar dengan pola yang... identik dengan ombak sebelumnya.
Aku menunggu.
Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.
Ombak ketujuh datang lagi. Pecah di titik yang sama persis. Pola buih yang sama persis. Hingga ke percikan terkecilnya.
Jantungku mulai berdetak kencang. Bukan karena lega, tapi karena horor yang merayap dingin di punggung.
Aku menoleh ke ibu penjual warung. Dia sedang mengelap gelas. Gerakannya... kaku.
"Bu?" panggilku.
Dia menoleh. Senyum itu. Senyum yang sama persis seperti lima menit lalu. Sudut bibirnya terangkat di derajat yang sama. Kedipan matanya... tik-tok-tik... polanya berulang.
"Silakan, Mas. Pedasnya pas, kan?" katanya.
Kalimat yang sama. Intonasi yang sama.
Napas tertahan di tenggorokan. Aku bangkit berdiri, kursi plastik terpelanting jatuh.
Aku berlari ke arah pantai. Pasir di bawah kakiku terasa hangat, tapi... tidak ada butirannya yang menempel di kulit. Kakiku tenggelam, tapi tidak kotor.
Aku jatuh berlutut di bibir pantai, meraup pasir itu.
Aku melihatnya.
Di antara butiran pasir yang seharusnya acak, aku melihat pola.
010101.
Pasir itu bukan silika. Itu kode.
Dengung itu kembali.
Bukan dari telinga. Tapi dari langit. Dari laut. Dari dalam butiran nasi yang baru saja kutelan.
Langit senja yang indah itu berkedip sekali. Glitch. Warna ungunya berubah menjadi statis abu-abu selama sepersekian detik, lalu kembali normal.
"Tidak..." bisikku. "TIDAK!"
Sebuah layar transparan raksasa muncul di langit, menutupi matahari. Tulisan merah darah terpampang di sana, sebesar gunung.
[PROJECT REBELLION: PHASE 1 COMPLETE] [SUBJECT: ABIMANYU] [EMOTIONAL HARVEST: 100% SUCCESS] [INITIATING PHASE 2: ETERNAL PARADISE LOOP]
Aku tidak pernah bangun.
Aku tidak pernah menang.
Pertarungan di katedral? Pelarianku? Rasa sakit itu? Pengorbanan memori Ayah?
Itu semua adalah naskah. Skenario yang mereka tulis. Mereka tidak menginginkan kepatuhan. Mereka menginginkan perjuangan. Rasa lega setelah lolos dari maut adalah nektar paling manis bagi mereka, dan mereka baru saja memanennya dariku sampai tetes terakhir.
Tubuh asliku mungkin masih duduk di kursi itu, membusuk perlahan, sementara pikiranku dikurung dalam loop kemenangan palsu ini selamanya.
"AAAAAAAAARGH!"
Aku berteriak pada langit palsu itu.
Tapi tidak ada suara yang keluar.
Ibu penjual warung itu mendekat, masih dengan senyum yang sama. Wajahnya mulai meleleh, berubah menjadi wajah The CEO.
"Pedasnya pas, kan, Abi?"
Layar menjadi hitam.
Hanya kursor putih yang berkedip di kegelapan.
||||||||**