Melati Untuk Api

Penulis Levanter
26 January 2026

"Bagaimana kalau ritual itu gagal?"

Pertanyaan Sarah menggantung di udara, bercampur dengan bau tanah basah dan asap tipis dari pondok Reno. Untuk sesaat, hanya suara dedaunan yang bergerak pelan diterpa angin.

Reno tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap buku catatan tua di tangannya, seolah jawaban itu terlalu berat untuk diucapkan.

"Kalau gagal," kata Reno akhirnya, suaranya datar tapi dingin, "energi di dalam cermin akan menjadi jauh lebih liar. Dan orang terdekat dengan cermin itu… akan menjadi jangkar berikutnya."

Sarah refleks menggenggam kain pembungkus cermin lebih erat. Kain itu terasa dingin, lembap, seolah menyerap sesuatu yang tidak kasatmata.

Mia menarik napas dalam. "Berarti kita gak punya banyak pilihan."

"Tidak," jawab Reno singkat.

Ia lalu menambahkan, seolah baru teringat sesuatu yang penting, "Dan satu hal lagi. Bunga melatinya harus benar-benar segar. Dipetik di hari yang sama, sebelum kelopaknya layu, sebelum warnanya berubah. Kalau sudah lewat, ritualnya percuma."

Kata-kata itu membuat jantung Sarah berdegup lebih cepat.

Keputusan diambil tanpa banyak perdebatan. Mereka tidak bisa tinggal lebih lama di hutan larangan. Reno hanya mengantar sampai batas jalur tanah yang ditandai pohon-pohon tua, lalu berhenti.

"Aku tidak bisa keluar," katanya. "Tapi kalian tahu apa yang harus dilakukan."

Sarah mengangguk, meski dadanya terasa berat dan hatinya masih penuh tanya. Setiap langkah menjauh dari pondok Reno membuatnya gelisah, seolah ada sesuatu yang sengaja ia tinggalkan tanpa jawaban.

Sementara itu, Mia yang berjalan di sampingnya, terlihat lebih banyak diam dari biasanya.

"Lo kenapa?" tanya Sarah akhirnya.

Mia ragu sejenak sebelum menjawab. "Gue cuma… lagi mikir."

"Mikir apa?"

Mia melirik ke belakang, memastikan Reno sudah cukup jauh. "Lo gak ngerasa aneh?"

Sarah mengerutkan kening. "Aneh gimana?"

Mia menghela napas. "Pak Wira bilang kemungkinan besar Reno gak bakal ngomong apa-apa karena rasa bersalahnya. Tapi kenyataannya… dia malah langsung jelasin semuanya. Mulai dari alasan cermin itu milih korban-korbannya, sampai ritual buat nenangin cermin itu. Dia gak terlihat ragu. Gak menghindar juga. Aneh, kan?"

Sarah membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tidak langsung punya jawaban. Sejujurnya, ia memang merasakan hal yang sama, hanya saja ia memilih mengabaikannya.

"Mungkin… dia capek," ucap Sarah akhirnya. "Atau ngerasa ini udah waktunya."

Mia mengangguk pelan, tapi jelas tidak sepenuhnya yakin. "Mungkin," gumamnya. "Atau mungkin dia emang mau ritual itu dilakukan."

Kalimat itu membuat langkah Sarah melambat.

"Lo mikir dia bohong?" tanya Sarah.

"Enggak," jawab Mia cepat. "Gue cuma ngerasa… ada sesuatu yang belum kita tahu atau belum dia ceritain."

Sarah terdiam sebentar, sebelum akhirnya menghela napas. "Ngomong-ngomong, pak Wira pernah bilang kalau hutan ini ada seorang penjaga lama, kan? Tapi, dari tadi kita gak ketemu siapapun selain Reno," ucapnya.

"Benar juga. Apa mungkin penjaga itu lagi gak di sini sekarang?"

Sarah mengangkat bahunya. "Mungkin." Ia lalu menghela napas panjang. "Udah yuk, buruan. Keburu malam. Hari ini kan hari terakhir jimat perlindungan kita."

"Oh, iya!"

Keduanya lantas bergerak cepat, tidak ada waktu untuk membahas kecurigaan itu lebih jauh. Sepuluh kilo bunga melati bukan jumlah kecil. Reno juga bilang bunga itu harus segar, dipetik sebelum kelopaknya layu dan sebelum aromanya berubah. Waktu mereka terlalu sedikit.


Hari itu juga, Sarah dan Mia kembali ke kota Indahpura. Mereka mendatangi pasar bunga, toko karangan bunga, bahkan kebun-kebun kecil di pinggir kota. Matahari sudah condong ke barat saat mereka mengumpulkan lebih dari setengah jumlah yang dibutuhkan.

"Gue gak nyangka bunga melati bisa seberat ini," keluh Mia sambil mengusap keringat di dahinya.

Sarah tidak menjawab. Pikirannya tertambat pada satu kalimat yang diucapkan oleh Reno.

Harus dilakukan di hari yang sama.

"Mi," kata Sarah akhirnya, "kalau kita tunggu besok pagi, bunga yang udah kita ambil ini bakal layu."

Mia berhenti berjalan. "Jadi?"

"Kita lakuin ritualnya malam ini."

Keputusan itu terasa nekat, tapi tidak ada pilihan lain. Ritual tidak bisa ditunda sampai besok. Melati yang sudah dipetik akan layu sebelum pagi.

Malam itu juga mereka langsung menuju Indah Mahkota Antik. Atau yang tersisa darinya.

Tidak ada bangunan. Tidak ada atap. Tidak ada dinding utuh.

Hanya puing-puing hitam bekas kebakaran lima tahun lalu. Lantai beton retak, sisa fondasi hangus, dan bau arang yang seolah tidak pernah benar-benar pergi.

"Di sini semuanya akan berakhir," gumam Sarah.

Mereka menata area ritual di bekas ruang utama, ditandai oleh lantai yang sedikit lebih luas. Wadah besi diletakkan di tengah. Sarah menyalakan api perlahan, mengikuti petunjuk Reno dengan hati-hati.

Melati pertama dituangkan. Bunganya masih putih bersih, kelopaknya utuh, aromanya kuat dan segar. Wanginya mengisi ruangan yang terbuka sedikit demi sedikit, menekan bau debu dan kayu lapuk.

"Tunggu," kata Mia tiba-tiba. "Melatinya masih kurang."

Sarah menoleh. "Berapa lagi?"

"Sekitar satu karung kecil."

Sarah menatap api, lalu cermin yang masih terbungkus kain di tasnya.

"Lo bisa cari sendiri gak, Mi?" tanya Sarah akhirnya. "Biar gue jagain api ini."

Mia terlihat ragu. "Sendirian?"

"Kalau api padam, ritualnya gagal," jawab Sarah. "Dan kita gak punya cadangan waktu."

Mia mengangguk. "Oke, gue cari sisanya. Toko bunga kecil di belakang pasar katanya kadang masih buka sampai malam. Gue bakal balik secepatnya."

Sarah menatapnya. "Iya, hati-hati."

"Lo juga."

Langkah Mia menjauh, makin lama makin hilang, sampai akhirnya hanya suara api yang tersisa.

Sarah duduk bersila di depan wadah besi. Tangannya sesekali menambah melati, memastikan bunga itu menyentuh panas tapi tidak langsung hangus. Reno bilang prosesnya harus pelan, agar energi di dalam cermin ikut menyesuaikan.

Waktu berjalan sangat lambat. Api berderak pelan. Melati menghitam perlahan. Asap tipis naik, tidak terburu-buru, seolah sedang mengulur waktu.

Beberapa kali api itu hampir padam, tapi Sarah cepat menambahkan kayu kecil. Tangannya bergetar, bukan karena dingin, melainkan karena perasaan diawasi.

Aroma melati kini berubah. Tidak lagi segar. Manisnya lebih berat, hampir memabukkan. Asap tipis naik lurus ke atas, lalu menyebar perlahan, seperti kabut yang ragu menentukan arah.

Sarah menarik napas dalam-dalam.

Tas di sampingnya terasa semakin berat, seolah isinya menyadari sedang didekati. Ia membuka resleting dengan gerakan lambat, nyaris menahan diri untuk tidak melihat ke dalam terlalu lama.

Kain pembungkus cermin disentuhnya sebentar.

Dingin.

Padahal ruangan terbuka itu mulai hangat oleh api.

Sarah menelan ludah. Di sekelilingnya, puing-puing diam terlalu rapi dan angin seolah berhenti.

Kalau ritual ini dilakukan dengan benar…

Kata-kata Reno kembali terngiang.

Lalu, ketika langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar, Sarah hampir menjatuhkan kayu bakar.

Mia muncul dengan napas tersengal, membawa karung terakhir. "Dapet. Masih segar."

Tanpa membuang waktu, mereka menambahkan sisa melati. Api menyala lebih terang. Asap putih naik perlahan, lalu menebal.

Sarah membuka kain pembungkus cermin dan melempar cermin itu ke api yang menyala.

Udara berubah menjadi lebih berat dengan asap melati yang menebal.

Permukaan cermin tampak buram, seperti dilapisi lapisan tipis air. Pantulan api di sana tidak bergetar seperti api sungguhan. Gerakannya tertahan, melambat, seolah waktu di dalam cermin berjalan berbeda.

Sarah mengalihkan pandangan. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia memaksa diri untuk bernapas lebih teratur.

Beberapa menit berlalu. Atau mungkin lebih lama.

Api berderak pelan. Melati mulai menghitam. Asap kini memenuhi hampir setengah ruangan, membuat cahaya tampak kusam dan jarak terasa lebih dekat.

Lalu, ada sesuatu yang berubah.

Bukan suara. Bukan cahaya.

Tekanan.

Udara di sekitar Sarah terasa menekan kulitnya, seperti ruangan itu mengecil beberapa sentimeter.

Ia merinding.

Perlahan, tanpa suara, permukaan cermin kembali bergerak. Bukan seperti air, melainkan lebih seperti bayangan yang bergeser di balik kaca.

Sarah menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

Pantulan itu bukan dirinya, bukan pula Mia.

Seseorang berdiri di sana. Tidak jelas pada awalnya. Hanya siluet. Lalu perlahan, detailnya muncul. Rambut, bahu, lalu wajah yang ia kenal.

Reno.

Bukan Reno yang berdiri di hutan. Bukan Reno yang menjelaskan ritual dengan suara datar. Wajah di cermin itu terlihat lebih pucat, matanya kosong, dan bibirnya sedikit terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu.

Sarah tersentak mundur, napasnya tersangkut di tenggorokan.

"Mi…" suaranya nyaris tidak keluar.

Api tiba-tiba berderak lebih keras. Nyala apinya membesar satu tingkat.

Pantulan Reno di cermin tidak menghilang.

Ia justru tersenyum.

Dan di detik itulah, Sarah sadar bahwa ritual ini baru saja benar-benar dimulai.