Drama

Kendeng Lembu dan Kehidupan 1.500 Tahun Lalu

26 January 2026

Kendeng Lembu dan Kehidupan 1.500 Tahun Lalu

Peralatan yang terbuat dari bebatuan seperti serut, bilah, sabit batu, tembikar dan gerabah merah itu membuat gembira rombongan arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta. Benda-benda yang ditemukan dalam penggalian tahun 2009 itu menjadi petunjuk penting tentang kehidupan nenek moyang sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama Jawa dari ras Austronesia sejak ribuan tahun silam. Apalagi peralatan dari batu yang ditemukan itu diperkirakan berumur 543 hingga 1.332 tahun atau menunjukkan kehidupan zaman neolitikum. Tim arkeolog semakin gembira karena situs neolitikum yang ditemukan di kawasan PT Perkebunan Nusantara XII Unit Usaha Strategis Kendeng Lembu, Kecamatan Glenmore itu berjumlah 18 situs.

Penemuan di Kendeng Lembu sangat penting untuk mengungkap jalur migrasi nenek moyang bangsa Indonesia, terutama dari ras Austronesia. Apalagi hanya terdapat dua situs neolitikum di Indonesia. Pertama, di Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Kedua, di Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dua situs ini merupakan situs neolitikum tertua di Indonesia karena menunjukkan tanda-tanda peradaban manusia sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Zaman neolitikum berarti zaman yang lebih maju dibanding sebelumnya karena masyarakat sudah hidup menetap, bercocok tanam, dan membuat peralatan rumah tangga serta peralatan cocok tanam dari batu. Dengan bukti penemuan ini berarti sudah ada kehidupan di Kendeng Lembu sejak sekitar 1.500 tahun sebelum Masehi.

Kehidupan di zaman neolitikum bisa digambarkan secara sederhana. Pada zaman ini masyarakat hidup menetap dalam suatu perkampungan yang dibangun secara tidak beraturan. Sebagian besar rumah berbentuk kebulat-bulatan dengan atap dari daun-daunan. Rumah di zaman neolitikum ini diduga menjadi inspirasi model rumah tertua di Indonesia yang masih dipakai sampai sekarang, terutama rumah tradisional di Timor dan Kalimantan Barat. Di perkampungan ini mereka mulai bercocok tanam dan hidup secara gotong royong. Belasan situs neolitikum yang ditemukan di Kendeng Lembu diduga kuat sudah menjadi perkampungan di masa lalu karena peralatan yang ditemukan sangat beragam dan tidak hanya satu jenis.

Upaya mengungkap kehidupan masyarakat zaman neolitikum di Kendeng Lembu masih terus dilakukan sampai sekarang. Upaya ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1936 oleh arkeolog Belanda W.Van Wijland dan J Brummun. Sedangkan penggalian atau ekskavasi situs mulai sejak tahun 1941 oleh H.R Van Heekeren, namun terhenti karena masuknya Jepang pada Perang Dunia Kedua. Penelitian berikutnya dilakukan oleh R.P. Soejono dari bidang Prasejarah LPPN pada 15 Januari 1969 sampai 4 Maret 1969. Begitu juga dengan penelitian Balai Arkeologi Yogyakarta di tahun 2008 yang dilanjutkan dengan penggalian setahun berikutnya. Semua penelitian ini punya kesimpulan sama yakni peralatan dari batu yang ditemukan di Kendeng Lembu menunjukkan ciri-ciri zaman neolitikum.

Meskupun masih banyak yang perlu diungkapkan, namun penemuan situs neolitikum Kendeng Lembu dapat menjadi jawaban tentang migrasi masyarakat Austronesia. Kendeng Lembu diduga kuat menjadi persinggahan pertama masyarakat Austronesia yang bermigrasi dari Kalimantan Selatan menuju Pulau Jawa. Dugaan ini berdasarkan hipotesa Robert Blust (1985) bahwa sub grup bahasa Jawa berasal dari bahasa yang dituturkan di Kalimantan Selatan sekitar 800-1000 sebelum masehi (SM). Namun, jika dilihat dari kesamaan peralatan yang ditemukan, budaya neolitik Kendeng Lembu lebih dekat dengan budaya neolitik situs Kalumpang, Sulawesi Barat yang berusia 3.500 – 3.000 SM.

Jika hipotesa Robert Blust benar tentu menarik melihat bagaimana proses migrasi mereka dari Kalimantan Selatan menuju Kendeng Lembu. Dari hipotesa ini kuat dugaan mereka mendarat di pesisir utara Pulau Jawa dan Madura. Namun, mereka tidak langsung masuk ke Kendeng Lembu karena terhalang kontur pegunungan yakni Gunung Raung. Mereka melintasi Selat Bali untuk kemudian melewati Samudera Indonesia atau bagian selatan laut Jawa dan mendarat di muara Sungai Kalibaru. Dari sinilah mereka masuk ke kawasan Kendeng Lembu. Di sinilah mereka hidup menetap, membuka ladang dan membangun perkampungan serta bercocok tanam untuk bertahan hidup.

Desa Sugihwaras dan Cerita dari Abad Ketujuh

Ornamen-ornamen bernuansa Bali itu menghiasi lahan seluas 25 are di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Sebuah candi setinggi 13 meter tampak anggun berdiri di tengah rimbun pepohonan. Inilah Candi Agung Gumuk Kancil yang dibangun untuk menghormati Maha Rsi Markandya, tokoh spiritual yang hidup dan memiliki pasraman di lereng Gunung Raung sebelum menyeberang ke Bali pada abad ke-7 Masehi. Periode ini tidak berbeda jauh dengan periode pembangunan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra.

Di masa lalu, lereng selatan Gunung Raung memang dipercaya sebagai wilayah pasraman yang membentang dari Banyuwangi hingga Besuki di Situbondo yang lebih dikenal dengan sebutan Diwang Ukur Damalung. Komunitas penganut Hindu paling banyak menghuni dua dusun yakni Sugihwaras dan Wonoasih di Desa Bumiharjo. Mereka diyakini sebagai keturunan 800 penganut Hindu pengikut Rsi Markandya yang menyebang ke Bali.

Perjalanan ke Bali sungguh berat karena sebagian besar pengikut Rsi Markandya meningggal akibat serangan penyakit setiba di pegunungan Toh Langkir, Besakih, Karangasem. Setelah bermeditasi, Rsi Markandiya dan sebagian pengikutnya kembali ke lereng Gunung Raung. Hal aneh terjadi. Pengikut Rsi Markandya tiba-tiba sembuh setelah mandi di salah satu mata air di lereng Gunung Raung. Hidup mereka juga berkecukupan dengan hasil bumi di kawasan ini.

Dari kisah inilah nama Sugihwaras mulai dikenal. Dalam bahasa Jawa, ‘sugih’ berarti kaya dan ‘waras’ berarti sembuh. Sang Rsi akhirnya kembali ke Bali bersama 400 pengikutnya dengan membawa bale agung dari Gunung Raung, termasuk panca datu, lima jenis logam yang menjadi cikal bakal upacara di Bali. Jejak perjalanan Rsi Markandya ini dapat ditemukan di Pura Raung, Tegalalang, Gianyar. Untuk mengenang perjalanan spiritual ini, penganut Hindu di Sugihwaras mendirikan Candi Agung di Gumuk Kancil, daerah perbukitan di lereng selatang Gunung Raung.

Candi Agung Gumuk Kancil ini dibangun selama 132 hari dengan biaya sekitar Rp 150 juta dan diresmikan pada 11 Agustus 2002. Arsitek yang merancang candi adalah Dulhamid Jaya Prana, tokoh kejawen sekaligus juru kunci Candi Prambanan, Yogyakarta. Candi Agung Gumuk Kancil didirikan bertepatan dengan purnama kanem dalam penanggalan Jawa. Di candi ini terdapat tiga arca utama, yakni arca Siwa Mahadewa di sisi timur, arca Rsi Markandya dan Tri Murti di sisi barat. Sedangkan di bagian depan terdapat pintu utama candi untuk pemujaan.

Selain Candi Agung Gumuk Kancil, tiga lokasi lain yang bisa dijadikan tempat wisata spiritual di sekitar Sugihwaras yakni Partirtan Sumber Urip, Watu Gantung dan Candi Gumuk Payung. Lokasi ini diyakini sebagai tempat bermukim pengikut Rsi Markandya. Tapi, Patirtan Sumber Urip dikenal paling mistis. Lokasinya satu kilometer arah utara Candi Agung Gumuk Kancil.

Patirtan Sumber Urip merupakan mata air alami yang keluar dari batu yang ditemukan tahun 1990-an. Dari sumber utama, air dialirkan melalui 8 kepala naga untuk mengaliri sawah warga. Pada tahun 2007 umat Hindu mendirikan arca Dewi Gangga yang membawa kendi di bagian hulu karena meyakini sumber air di sini berujung di Sungai Gangga di India. Umat Hindu yakin air Patirtan Sumber Urip adalah air suci yang menyembuhkan penyakit pengikut Rsi Markandya berdasarkan petunjuk yang didapat dalam semedinya. Tidak heran jika pura-pura di Bali, salah satunya Pura Besakih mengambil air suci dari Patirtan Sumber Urip atau air Astadala untuk melaksanakan ritual keagamaan di Bali.

Sampai saat ini masyarakat Desa Sugihwatas tetap mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan sejak abad ke-7. Identitas budaya tidak hanya menyangkut keyakinan, namun juga norma hidup dan kebiasaan yang telah diwariskan secara turun temurun. Desa Sugihwaras salah satu bagian penting untuk melihat Glenmore dari masa lalunya hingga terbentuk seperti yang sekarang kita saksikan bersama.