Drama

Kisah Bangsawan Jawa Bernama Mbah Yasin

26 January 2026

Awal Terbentuknya Glenmore

Kisah Bangsawan Jawa Bernama Mbah Yasin

Rumah dengan daun pintu dan jendela bermotif Jawa klasik itu masih berdiri tegak di tengah pekarangan yang sangat luas. Puluhan pohon seperti memagari rumah yang sudah lama tidak dihuni itu. Cat dinding warna putih tampak mengelupas di beberapa bagian. Begitu juga dengan genting yang sudah tanggal sebagian. Rumah ini tidak berdiri sendiri karena ada bangunan yang lain di dalam pekarangan yang sama. Lokasi rumah itu hanya sepelemparan batu dari rel kereta api di bagian utara. Di sisi timur rumah terdapat sungai Jagalan yang membelah Dusun Sepanjang Wetan dan Dusun Mediunan di Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore.

Kalau dilihat dari bentuk fisiknya, rumah itu tidak berbeda dibandingkan rumah-rumah lain yang memiliki pekarangan luas. Tapi, siapa sangka kalau rumah ini menyimpan kisah panjang tentang perjuangan bangsawan Jawa, persahabatan dengan bangsawan Eropa dan berdirinya Glenmore. Dari rumah inilah kisah Raden Mas Panji Djoyodiningrat, bangsawan Jawa yang hijrah ke ujung timur pulau Jawa, memulai babak baru dalam kehidupannya. Ia terlahir sebagai Raden Sudarmo. Di dalam darahnya mengalir garis keturunan bangsawan Jawa dari trah Kromodjayan Kanoman. Leluhurnya merupakan keturunan langsung Prabu Brawijaya V dari garis Panembahan Bromo atau Lembu Niro.

Berdasarkan buku Silsilah Persatuan Keluarga Kesepuhan Kromodjayan Kanoman, keberadaan trah Kromodjayan Kanoman tidak lepas dari Ki Ageng Dermoyudho, Panglima Perang Kerajaan Mataram Islam di masa Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613 – 1646). Ki Ageng Dermoyudho ditempatkan di Pasuruan untuk mengawasi pergerakan Kerajaan Blambangan. Raden Sudarmo adalah keturunan ke-8 dari Ki Ageng Dermoyudho. Ayah Raden Sudarmo, Raden Adipati Arya Kromodjoyo Dirono II adalah Bupati Surabaya tahun 1859-1863 dan Bupati Lamongan tahun 1866-1885.

Sedangkan ibunya, Raden Ayu Kamidah adalah anak dari Raden Adipati Tjondro Hadiningrat, Bupati Rembang. Adipati Tjondro merupakan anak dari Kyai Adipati Suroadimenggola yang menikah dengan salah satu puteri Mangkunegoro I atau Raden Said yang lebih dikenal sebagai Pangeran Samber Nyowo. Dari garis keturunan inilah, Raden Sudarmo atau Raden Mas Panji Djoyodiningrat menikah dengan Raden Ajeng Roekmini, bangsawan dari trah Kasunanan Solo. Dalam tataran pemerintahan di masa Hindia Belanda, Raden Mas Panji Djoyodiningrat pernah dipercaya menjabat sebagai wedono di Bulang, Sidoarjo.

Darah sebagai pejuang rupanya mengalir deras ke anak cucu Raden Mas Panji Djoyodiningrat dan Raden Ayu Kamidah. Salah satu cucunya adalah Raden Mas Abdul Latief Hendradiningrat, pengibar bendara merah putih dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dialah sosok bercelana sepanjang lutut yang mengibarkan bendera merah putih ketika Soekarno-Hatta membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Jenderal Latief merupakan anak dari Raden Mas Said Hendradiningrat, putera pertama dari Raden Mas Panji Djoyodiningrat dan Raden Ayu Kamidah. Puteranya yang lain Roekminto Hendradiningrat juga berkarir di militer dengan pangkat terakhir bintang tiga atau Letnan Jenderal dan pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Singapura.

Walaupun memiliki gelar bangsawan, Raden Sudarmo atau Raden Mas Panji Djoyodiningrat lebih akrab dipanggil Mbah Yasin di lingkungan keluarga, terutama oleh anak cucunya maupun masyarakat. Panggilan ini tidak lepas dari keputusannya mengubah nama menjadi Haji Mohamad Yasin Effendi setelah beribadah haji di tanah suci Mekah. Dari beberapa foto koleksi keluarga, sebagian besar sosok Mbah Yasin menggunakan jubah putih. Nama Mbah Yasin inilah yang lebih diingat oleh anak cucu dan keturunannya sampai sekarang. Bahkan, nama Mbah Yasin lebih familiar bagi warga, terutama para sesepuh kampung yang pernah mendengar langsung kisahnya. Dalam gambaran mereka, Mbah Yasin adalah sosok yang bersahaja, suka menolong, dan mudah bergaul dengan semua lapisan masyarakat sehingga namanya cukup dikenal.

Berdasarkan cerita lisan di lingkungan keluarga, Mbah Yasin digambarkan sebagai sosok yang memegang teguh dan mengamalkan falsafah Jawa sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli. Walau memiliki pergaulan luas, termasuk dengan pengusaha Eropa yang datang ke Hindia Belanda, Mbah Yasin tetaplah sosok yang sederhana, namun tegas dan berwibawa. Sifat dan karakter inilah yang membuat Mbah Yasin mudah bersahabat dengan banyak kalangan, termasuk para pengusaha Eropa yang ingin menanamkan modalnya di Jawa. Salah satunya adalah Ros Taylor dari Skotlandia. Perkenalan Mbah Yasin dengan Ros Taylor tidak lepas dari peran pemerintah Hindia Belanda yang membantu Ros Taylor mencari lahan untuk dijadikan perkebunan.

Membuka Hutan, Membangun Perkampungan

Sejak politik etis diberlakukan oleh Kerajaan Belanda, hampir seluruh kondisi tanah jajahan di bawah kekuasaan Belanda mulai berubah, termasuk di Hindia Belanda. Ladang pertanian dan perkebunan yang semula dikuasai pemerintah Belanda, perlahan-lahan mulai berpindah tangan ke pihak swasta, terutama pengusaha dan investor dari negara-negara Eropa. Tidak mengherankan jika jumlah pengusaha asing yang menanamkan modalnya terus bertambah. Perubahan tidak hanya terjadi di sektor perekonomian, namun juga kehidupan sosial, pendidikan dan birokrasi pemerintahan. Mau tidak mau politik etis harus diakui mulai mengubah wajah tanah jajahan.

Salah satu amanat politik etis adalah memperbaiki kualitas pendidikan di tanah jajahan, terutama di Hindia Belanda. Berbekal amanat ini pemerintah Belanda mulai menghapus lambang-lambang feodal kaum bangsawan dan menanamkan semangat baru untuk generasi muda. Menjelang abad ke-20, pemerintah Belanda mengurangi peran kerajaan tradisional dalam tata pemerintahan untuk digantikan dengan model birokrasi kolonial Belanda. Para elit birokasi tidak lagi berada di tangan bangsawan, tapi di tangan Pangreh Praja (Inland Bestuur), bagian dari Binnenlands Bestuur atau Departemen Dalam Negeri yang sudah beroperasi sejak abad ke-19.

Perubahan ini membawa dampak yang cukup signifikan bagi kalangan bupati di Jawa. Jabatan bupati tidak lagi dapat diwariskan kepada anak keturunannya. Akibatnya banyak keistimewaan yang hilang seperti memperoleh sepersepuluh hasil bumi (hak pancen) serta hak memperoleh tenaga tanpa upah. Hak istimewa bupati untuk menguasai tanah juga berkurang drastis kalau tidak dikatakan hilang sama sekali. Begitu juga simbol kemegahan yang hilang seiring dengan kebijakan penghapusan lambang daerah maupun keraton. Kondisi ini tentu menjadi pemikiran serius para bupati hingga wedana, terutama untuk jaminan masa depan anak-anaknya.

Berdasarkan penuturan keluarga, situasi ini menjadi salah satu pertimbangan Mbah Yasin untuk mencari penghidupan baru di daerah lain. Semangat untuk hidup mandiri ini yang mendorong Mbah Yasin merantau untuk membuka daerah baru (babat alas). Pilihan untuk membuka hutan lalu diubah menjadi ladang pertanian dan perkebunan adalah sesuatu yang lazim pada masa itu. Biasanya daerah yang dipilih adalah daerah subur yang terletak di lereng gunung, terutama jika ingin membuka ladang perkebunan. Berbagai pertimbangan ini yang mengantar Mbah Yasin memilih sebuah daerah di bagian selatan lereng Gunung Raung yang terkenal subur. Daerah ini kemudian dikenal sebagai Glenmore.

Dalam proses pembukaan hutan (babat alas) ini, ada satu kisah menarik yang ditutukan oleh keluarga besar keturnan Mbah Yasin. Lokasi hutan pertama yang dibuka oleh Mbah Yasin adalah lahan untuk masjid sebelum membuka lahan untuk perkebunan dan pertanian. Di lokasi ini yang kemudian dibangun masjid kecil dan kemudian berkembang menjadi Masjid Jami’ Darussalam Desa Sepanjang Glenmore. Lokasi masjid ini cukup strategis karena nantinya berada di pusat keramaian pemukiman yang didirikan oleh Mbah Yasin. Setelah pembukaan lahan ini dilanjutkan kemudian dengan pembukaan lahan untuk perkebunan dan pemukiman warga.

Kisah ini ternyata bukan satu-satunya versi kenapa Mbah Yasin hijrah ke ujung timur pulau Jawa. Masih berdasarkan kisah turun temurun di lingkungan keluarga, kabarnya kepergian Mbah Yasin ini atas permintaan pemerintah Hindia Belanda. Sebagai mantan pejabat di Sidoarjo, Mbah Yasin dinilai sebagai tokoh yang cocok untuk menemani Ros Taylor, pengusaha asal Skotlandia yang akan membuka perkebunan karet, kopi, dan kakao di sisi barat kawasan Banyuwangi. Pengusaha asing biasanya menggandeng mitra lokal ketika membuka perkebunan. Mitra lokal yang dipilih berasal dari bermacam latar belakang, terutama yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat dan memiliki pengalaman mengelola pemerintahan. Keturunan bangsawan tentu menjadi nilai lebih yang dimiliki Mbah Yasin dalam pandangan pemerintah Hindi Belanda.

Meskipun terdapat perbedaan versi, namun keduanya memiliki beberapa kesamaan yang dapat memperkuat alasan dua tokoh ini memiliki peran vital di balik berdirinya Glenmore. Sebelum kedatangan dua tokoh ini, sebagian besar wilayah Glanmore adalah hutan belantara yang belum banyak dijamah oleh manusia. Kawasan di sekitar Glenmore yang sudah diubah menjadi lahan perkebunan adalah di bagian selatan yakni Perkebunan Trebasala yang didirikan tahun 1906 oleh Daniel Harrison, Smith Horrison dan Joseph Crosfeld dari Liverpool, Inggris. Sedangkan di sisi utara masih berupa hutan dan semak belukar.

Pendirian Perkebunan Trebasala seperti menyingkap mutiara terpendam di kawasan Glenmore yang memiliki tanah subur. Apalagi, bagian utara Glenmore berada lebih dekat dengan kawasan lereng Gunung Raung yang memiliki tanah lebih subur. Terlebih kontur daerahnya berbukit tapi tidak curam karena termasuk perbukitan rendah. Kontur alam yang terbuka ditambah dengan latar belakang pemandangan Gunung Raung menjadikan kawasan utara ini menarik minat Ros Taylor. Selain subur, kontur alam seperti ini banyak terdapat di Skotlandia. Kondisi ini yang diperkirakan menjadi salah satu alasan Ros Taylor memilih daerah ini sebagai lahan perkebunan yang ingin dibangunnya.

Setelah melewati serangkaian kajian dan pertimbangan selama tahun 1908, Ros Taylor akhirnya menanamkan modalnya di Glenmore pada tahun 1909. Mbah Yasin yang sejak awal dipercaya menjadi mitra Ros Taylor dalam pembukaan daerah baru mendapatkan konsesi lahan yang cukup luas di bagian selatan lahan yang dibeli Ros Taylor. Lambat laun lahan yang dimiliki Mbah Yasin semakin luas hingga wilayah Kalibaru. Lahan konsesi yang diterima Mbah Yasin masih dalam bentuk hutan dan semak ini tidak hanya terdapat di Glenmore, tapi juga di Kalibaru. Berdasarkan penuturan keluarga, sebagian lahan itu kemudian dibagi-bagikan kepada warga yang didatangkan dari berbagai daerah untuk bekerja mengelola kebun miliknya dan perkebunan milik Ros Taylor.

Sayangnya, tidak ada data maupun dokumen yang menjelaskan apakah Mbah Yasin juga terlibat dalam pengelolaan perkebunan yang dimiliki Ros Taylor. Tapi, dari kisah lisan yang didapatkan keluarga, kabarnya Mbah Yasin cukup aktif membantu Ros Taylor selama membuka perkebunan. Belakangan Mbah Yasin memilih hidup mandiri dengan mengelola lahannya sendiri. Setelah cukup sukses dan hidup mapan, Mbah Yasin memboyong keluarga besarnya untuk menetap di Glenmore. Sampai sekarang, sebagian keturunan Mbah Yasin masih mendiami lokasi tempat leluhur mereka membuka lahan pertama kali di Glenmore. Sebagian lagi menetap di Kalibaru. Di Kalibaru inilah Mbah Yasin yang meninggal pada 8 Oktober 1931 dimakamkan. Jejak sebagai tokoh berdirinya Glenmore masih dapat kita saksikan hingga sekarang, termasuk perkampungan yang berdiri di sekitar tempat tinggal Mbah Yasin.

Di atas lahan yang dibagikan oleh MbahYasin berdiri perkampungan kecil yang menjadi cikal bakal Desa Sepanjang sekarang. Perkampungan ini membentang dari Sungai Jagalan di sisi timur hingga Sungai Takir di sisi bagian barat. Lambat laun, perkampungan kecil ini berkembang dan memiliki sentra keramaian tempat warga bertransaksi yang sekarang menjadi Pasar Glenmore. Pusat pertemuan masyarakat dan keramaian pada masa itu tepatnya berada di perempatan jalan di utama pasar Glenmore sekarang. Sedangkan lahan di Kalibaru, salah satunya menjadi lokasinya berdirinya Hotel Margo Utomo di sebelah utara Stasiun Kalibaru. Hotel yang menawarkan wisata agro ini menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan asing, terutama dari Belanda, Inggris, dan Skotlandia untuk berwisata.

Perkampungan kecil di sisi timur Sungai Jagalan yang dirintis Mbah Yasin terus berkembang sampai akhirnya berubah menjadi salah satu kota pengepul komoditas penting untuk kebutuhan ekspor ke beberapa negara di Eropa. Dari catatan masa lalu ini tidak heran kalau Desa Sepanjang identik dengan Glenmore. Jika kita mencari lokasi Glenmore yang sebenarnya, tempat itu tidak lain adalah Desa Sepanjang. Perkembangan perkampungan ini sejalan dengan perkembangan perkebunan yang dikelola Ros Taylor. Kombinasi perkembangan perkebunan dan perkampungan inilah yang kelak melahirkan Glenmore sebagai kota pengepul komoditas perkebunan antara lain kopi, kakao, dan karet untuk diekspor di masa penjajahan Belanda.

Foto itu menunjukkan aktivitas pedagang memikul barang dagangan di sebuah jalan yang membujur dari utama ke selatan. Jalan itu diapit oleh deretan rumah dan kabel telepon yang membentang di atas deretan rumah bagian kanan. Komposisi deretan rumah, bentuk jalan, dan kabel telepon itu masih bertahan hingga sekarang. Berdasarkan komposisi ini, lokasi foto ini di sekitar Pasar Glenmore sekarang. Artinya, pasar sebagai pusat keramaian warga pendatang yang bermukim di sekitar kediaman Mbah Yasin menjadi titik sentral perkembangan daerah ini hingga menjadi Glenmore seperti sekarang.