Drama #Romance

1. Pulang yang Sepi

Penulis Xiao
16 September 2025

Suara roda kereta perlahan melambat. Meninggalkan derit besi yang terpantul di antara pegunungan di Hokkaido yang masih diselimuti salju tipis awal musim semi. Aoyama Yui 21 tahun, menarik napas panjang ketika pengumuman dari pengeras suara terdengar, menyebut nama stasiun Kami-Furano. Begitu kereta berhenti Yui segera berdiri, menggenggam erat gagang koper hitamnya. Satu-satunya benda yang menampung sebagian besar hidupnya selama masih berada di Tokyo.

Langkahnya terasa berat saat menapaki peron. Stasiun kecil itu nyaris tak berubah sejak terakhir kali ia mengunjunginya bertahun-tahun lalu. Cat putih dindingnya sudah mulai mengelupas, papan nama kayu terlihat pudar, dan hanya ada beberapa orang yang turun bersamanya. Aroma dingin khas Kamifurano bercampur dengan udara bersih yang menusuk hidungnya, berbeda jauh dengan hiruk pikuk Tokyo.

Namun bagi Yui, semua itu tidak memberi ketenangan. Hatinya terasa hampa, kosong, seakan perjalanan panjangnya hanya membawanya dari satu kesepian menuju kesepian yang lain. Yui menengadah sebentar. Langit sore Kamifurano membentang luas, berwarna abu-abu pucat dengan sinar matahari yang nyaris tenggelam di balik barisan pohon cedar. Angin dingin menerpa wajahnya, membuatnya merapatkan jaket Panjang yang dia kenakan.

Di dalam dirinya; perasaan sedih, kecewa, dan bimbang bercampur menjadi satu. Yui masih sulit menerima kenyataan. Bahwa ibunya, satu-satunya keluarga yang dia miliki, kini menikah lagi. Dan lebih dari itu, ibunya memilih untuk tinggal bersama keluarga barunya di Tokyo. Meninggalkan Yui untuk tinggal di rumah lama, di Kamifurano. Rumah sederhana yang penuh kenangan manis masa kecilnya bersama kedua orangtuanya.

Yui menarik koper dan berjalan keluar dari stasiun. Jalanan desa terbentang, lengang, dengan rumah-rumah kayu tradisional berdiri berjajar. Sebagian besar dengan atap yang masih ditutupi sisa salju. Di kejauhan, sawah-sawah terlihat kosong, menunggu untuk digarap kembali ketika musim benar-benar berganti. Suara burung gagak terdengar di kejauhan, membuat suasana semakin sepi.

Yui merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya. Sebuah perasaan yang sulit ia beri nama. Ia ingin marah karena ditinggalkan, ingin menangis karena kehilangan, tapi sekaligus mencoba menenangkan diri karena ini adalah kenyataan yang harus ia jalani.

“Tidak apa-apa, Yui…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun. “Kau hanya perlu melewati ini satu hari demi satu hari.”

...

Rumah itu berdiri di ujung jalan kecil yang dipenuhi pohon sakura kering dan persimmon. Cat dinding kayunya sudah mulai pudar, namun bentuknya tetap sama seperti dulu. Ada pagar kayu rendah yang masih kokoh, dan sebuah furin atau lonceng angin tradisional tergantung di depan pintu, yang biasanya berbunyi ketika angin berhembus.

Yui berhenti di depan gerbang untuk menatap rumah itu lama-lama. Rasanya seperti melihat masa lalu yang tiba-tiba menyeruak, memaksa semua kenangan masa kecil berputar Kembali dalam ingatannya. Yui ingat bagaimana ayahnya dulu selalu duduk di beranda dengan segelas matcha, sementara ibunya sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Ia juga ingat dirinya yang masih kecil berlarian di halaman sambil tertawa, tanpa beban, tanpa tahu dunia bisa sekejam ini.

Sekarang, semua itu tinggal kenangan.

Dengan tangan gemetar, Yui membuka pagar dan menarik kopernya masuk. Furin di depan pintu berbunyi nyaring saat ia mendorong pintu kayu itu. Bau kayu tua bercampur debu menyambutnya. Rumah itu sudah lama tak dihuni, tapi masih tetap berdiri kokoh.

“Tadaima...!” ucap Yui memberi salam, namun tidak ada jawaban.

Yui melepas sepatunya dan melangkah menuju ruang tamu. Perabotan lama masih ada; meja kayu rendah, rak buku kecil, dan lemari kaca berisi cangkir-cangkir serta mangkuk keramik koleksi ibunya. Debu menempel di permukaan, tapi semuanya masih berada pada posisi persis seperti yang ia ingat.

Yui meletakkan koper di sudut ruangan, lalu duduk di tatami yang dingin dan berdebu. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, dan tiba-tiba, kesepian itu menamparnya keras.

“Kenapa rasanya… kosong sekali?” bisiknya.

Air mata mulai menggenang., tapi dia mencoba menahannya. Meski demikian pada akhirnya jatuh juga, membasahi pipinya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, membiarkan tangis itu keluar. Bukan hanya karena ditinggal ibunya, tapi juga karena perasaan tak berguna yang menyelubungi dirinya.

Selama tinggal di Tokyo, Yui berusaha keras belajar, bekerja paruh waktu, dan mengejar sesuatu yang ia sendiri tidak yakin. Dan kini, ia bahkan tidak tahu apa masa depannya. Ia hanya tahu satu hal: ia sendirian.

...

Malam mulai turun. Yui membersihkan sebagian debu di ruang tamu dan dapur. Tanpa disengaja Yui menemukan buku resep lama ibunya di lemari dapur. Halaman-halamannya penuh catatan tangan rapi. Jari-jarinya menelusuri tulisan itu, dan seketika hatinya terasa perih.

“Tulisan tangan resep masakan ibu…” gumamnya.

Tanpa sadar, Yui mulai menyiapkan bahan seadanya yang masih ada di dapur: beras yang tersisa, beberapa sayuran kering, dan bumbu sederhana. Ia ingin membuat sup miso, masakan sederhana yang dulu selalu dibuat ibunya ketika musim dingin.

Aroma kaldu perlahan memenuhi ruangan. Yui berdiri di depan panci, menatap uap yang mengepul, lalu memejamkan mata. Sejenak, ia bisa merasakan kehangatan ibunya kembali.

“Kalau aku terus memasak masakan ibu, mungkin aku bisa sedikit lebih kuat…” pikirnya.

Yui menuangkan sup ke dalam mangkuk, lalu duduk di meja kayu bulat. Satu sendok pertama membuat air matanya kembali jatuh. Rasanya sederhana, tapi penuh kenangan.

Yui memeluk lututnya, menatap kosong ke arah jendela yang menampakkan langit malam Kamifurano. Bintang-bintang bertaburan, begitu indah, tapi terasa jauh. Sama jauhnya dengan ibunya, yang kini hidup bahagia bersama keluarga barunya.

Di dalam hati, Yui berjanji pada dirinya sendiri: ‘Aku akan bertahan. Meski sepi, meski sakit, aku akan tetap bertahan di rumah ini. Karena ini satu-satunya yang tersisa dari masa kecilku.’

Di luar, angin malam berhembus kuat, menggoyangkan lonceng angin di depan rumah. Suaranya terdengar jernih, menembus kesunyian. Yui menoleh, dan untuk sesaat, ia merasa seakan rumah ini berbicara padanya. Bahwa ia tidak benar-benar sendirian.

...

Pagi pertama di rumah tua itu disambut dengan cahaya matahari yang malu-malu menyelinap masuk melalui celah tirai usang. Yui terbangun lebih awal dari biasanya. Mungkin karena hawa dingin yang menusuk, atau mungkin juga karena rasa asing yang membuat tidurnya tak nyenyak. Yui duduk perlahan, menarik napas panjang, lalu memandang sekeliling kamar. Dinding kayu penuh debu, lantai tatami mulai menguning, dan sarang laba-laba menggantung di sudut langit-langit. Rumah ini jelas telah lama ditinggalkan tanpa sentuhan yang berarti.

“Kalau begini terus, aku tidak akan betah tinggal di sini,” gumam Yui lirih.

Dengan tekad baru, Yui bangkit. Ia mengikat rambut panjangnya menjadi ekor kuda sederhana, menggulung lengan bajunya, lalu mengambil kain lap dan sapu di gudang. Hari ini ia memutuskan untuk memulai sesuatu: membersihkan rumah. Pekerjaan itu tidak mudah. Setiap kali ia menggeser meja atau membuka laci, debu beterbangan ke udara, membuatnya batuk-batuk. Namun ada kepuasan tersendiri ketika melihat permukaan kayu yang kusam berubah menjadi sedikit lebih bersih setelah dilap.

Kadang Yui bahkan menemukan benda-benda lama yang membuat dadanya sesak. Sebuah boneka kain robek yang dulu selalu ia bawa ke mana-mana. Sebuah cangkir keramik dengan pola bunga Sakura yang telah retak di bagian pinggirnya yang merupakan cangkir kesayangan ayahnya. Juga selembar buku gambar penuh coretan masa kecilnya. Setiap benda itu bagai pintu menuju masa lalu untuk Yui. Saat kecil, ia sering membantu ibunya menyapu halaman sambil bernyanyi. Ayahnya suka memangkas ranting pohon plum di belakang rumah, lalu dengan bangga menunjukkan hasilnya. Semua itu kini tak mungkin terulang.

Yui menatap benda-benda itu lama. Air matanya hampir jatuh, namun ia cepat menghapusnya. ‘Tidak, aku tidak boleh menangis terus. Membersihkan rumah ini juga berarti menjaga kenangan. Kalau aku menyerahkan semuanya pada tukang, mungkin mereka akan membuang benda-benda ini yang mungkin akan mereka anggap sebagai rongsokan tanpa berpikir dua kali.’

...

Saat matahari semakin tinggi, Yui keluar ke halaman. Kebun kecil di samping rumah penuh dengan rumput liar. Pohon plum yang dulu sering berbunga kini tampak layu, rantingnya bahkan tampak kering tak terurus. Tanahnya keras, seolah menolak diolah kembali.

Dengan langkah terburu-buru Yui berlari ke gudang peralatan yang berada di dekat kebun, kemudian mengambil cangkul tua yang disandarkan di dinding gudang. Besinya berkarat, gagangnya mulai lapuk, tapi masih cukup kokoh untuk digunakan. Ia mulai mencangkul, mencabut rumput liar, dan menyingkirkan batu kecil yang berserakan. Tetes keringat membasahi dahinya meski udara dingin masih menusuk. Tangannya sakit, tubuhnya lelah, tapi ada kepuasan aneh yang ia rasakan. Setiap kali segenggam rumput tercabut, seakan ada beban kecil yang ikut terangkat dari hatinya.

Suara pintu pagar berderit membuatnya menoleh. Seorang wanita tua dengan rambut putih rapi dan kimono sederhana melangkah masuk. Senyum hangatnya selalu sama sejak dulu.

“Ohayou, Yui-chan!” siapa wanita itu. Dialah Obaasan Miyako, tetangga sebelah rumah yang sudah mengenalnya sejak kecil.

“Ah, ohayou gozaimasu, Miyako-san,” jawab Yui sambil tersenyum lelah, mencoba menyembunyikan keringat di wajahnya.

Miyako menatap kebun yang berantakan, lalu menoleh pada Yui yang sibuk mencabut rumput. “Kau benar-benar bekerja keras, ya. Tapi rumah dan kebun sebesar ini tidak mudah dirawat seorang diri. Kenapa tidak memanggil tukang saja? Aku bisa merekomendasikan seseorang dari desa.”

Yui berhenti sejenak. Ia menancapkan cangkul ke tanah dan mengusap keringat. “Arigatou, Miyako-san. Tapi aku ingin melakukannya sendiri. Kalau tukang yang mengerjakan, mungkin mereka akan membuang barang-barang lama. Padahal… banyak dari benda itu punya kenangan untukku.”

Obaasan Miyako mengangguk pelan, seolah memahami. “Kau memang mirip ibumu. Dulu dia juga keras kepala begitu. Tapi Yui-chan… jangan terlalu memaksakan diri, ya. Rumah ini butuh waktu dan tenaga.”

Yui tersenyum kecil, matanya sedikit berkaca. “Aku tahu. Tapi aku ingin mencoba, setidaknya sekali ini. Aku tidak ingin rumah ini terasa asing bagiku. Kalau aku membersihkannya sendiri… mungkin aku bisa merasa seperti dulu, saat bersama mereka.”

Obaasan Miyako menepuk lembut bahu Yui. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan membiarkanmu melakukan dengan caramu. Tapi ingat, aku selalu ada di seberang rumah kalau kau butuh bantuan.”

“Terima kasih, Miyako-san.”

Wanita tua itu tersenyum, lalu berjalan kembali ke rumahnya. Yui menatap punggungnya sampai menghilang di balik pagar. Hatinya sedikit hangat, meski tubuhnya terasa lelah.

…

Sore menjelang, halaman rumah mulai tampak berbeda. Rumput liar berkurang, tanah sedikit lebih rapi, dan sinar matahari sore memantul indah di permukaan lantai kayu rumah yang sudah dipel dari debu. Meski belum sempurna, Yui merasa bangga. Yui duduk di tangga beranda, meneguk segelas air dingin. Matanya menatap kebun yang perlahan kembali hidup kembali. ‘Ayah, Ibu… kalau kalian bisa melihatku sekarang, apakah kalian akan tersenyum?’

Sambil termenung, Yui mendengar suara samar dari kejauhan. Tawa anak-anak yang pulang sekolah, bunyi lonceng angin dari rumah Miyako, dan desir angin sore yang melewati sawah. Semua itu membuat hatinya tenang, walau hanya sesaat. Yui tahu perjalanan ini masih panjang. Rumah itu masih butuh banyak renovasi, dan kebun masih jauh dari kata subur. Tapi Yui bertekad: ia akan melakukannya sendiri. Karena setiap sapuan, setiap cangkul, adalah cara untuk menghidupkan kembali kenangan yang kini hanya tinggal dalam dirinya. Dan mungkin, dengan cara itu, ia bisa menemukan arti baru dari “rumah.”