Romansa #Romance

Bab 41

27 January 2026

Hari pernikahan.

Seperti yang dikatakan si pengantar gaun sebelumnya, pagi-pagi sekali, tim tata rias sudah datang ke apartemen. Mereka adalah orang-orang profesional yang datang untuk menonjolkan kecantikan Arini hingga level paripurna.

Arini jarang bermake-up. Kecuali di saat-saat tertentu seperti wisuda atau kala memenuhi undangan seorang teman. Dan kali ini … ia begitu terpukau dengan hasil kinerja para penata rias profesional itu. Ia bahkan tidak percaya, kalau wajah yang dilihatnya di cermin adalah dirinya.

Arini berdiri, mematut dirinya di cermin. Selain make-up, rambutnya juga sudah disanggul rendah. Asisten MUA bahkan berkata berlebihan, mengatakan Arini seperti puteri dari negeri dongeng. Cantik!

Arini tersipu, namun tidak membantahnya. Ia juga sangat memuji hasil karya MUA tersebut.

Pada saat yang sama, Dita yang kemarin malam datang dan menginap untuk pertama kalinya, masuk ke dalam kamar. Ia juga sudah selesai make-up, dan siap untuk mengantar Arini ke pesta pernikahannya. Pakaian yang Dita kenakan lebih sederhana, namun masih berwarna senada. Ia yang mengenal Arini selama lima tahun terakhir cukup terkejut melihat kecantikan sang sahabat.

Dita mendekat, dan berdiri di belakang Arini. Mereka saling memandang melalui cermin besar di hadapannya selama beberapa detik lamanya.

“Arini … kamu sangat cantik! Aku yakin, Pak Gibran gak akan bisa memalingkan wajahnya dari kamu!” puji Dita.

“Hentikan!” balas Arini. Ia malu mendengarnya. Hanya ia dan Gibran yang tahu, apa arti pernikahan itu bagi mereka.

Dita tersenyum, berhenti menggoda Arini. “Berangkat sekarang?” tanyanya.

Arini mengangguk. Keduanya, bersama-sama dengan para penata rias pergi meninggalkan apartemen. Di tempat parkir, sudah ada sopir yang menunggu Arini di depan mobil. Mobil itu masih mobil yang sama. Namun bedanya, ada bunga di bagian depan kap mobilnya. Arini tertegun, ini … tidak mungkin dilakukan oleh Gibran ‘kan? Tanpa sadar ia menoleh ke arah para penata rias.

“Semuanya termasuk dalam paket pernikahan yang Mbak Arini pilih waktu itu.” Ucapan wanita tersebut menjawab semua pertanyaan Arini.

Gibran ini … terlalu serius dengan pernikahan ini ‘kan?

Dita yang mengira Arini tengah melamun gegas menepuk punggung tangan Arini, dan mengingatkannya untuk segera pergi.

Dua buah mobil keluar dari area tempat parkir. Arini baru sadar, mobil di belakangnya adalah tim dari WO yang mengurus pernikahannya dan Gibran.

Dita yang duduk di sampingnya menjelaskan, “mereka yang akan menjadi bridesmaid-mu.”

Arini menoleh, mempertanyakan pernyataan Dita. Ia tidak tahu tentang itu sebelumnya.

“Sepertinya saat kamu mengatakan tidak banyak teman yang akan kamu undang di pesta pernikahanmu, Pak Gibran meminta beberapa orang dari pihak WO untuk menyiapkan bridesmaid untukmu.” Dita tidak sengaja tahu saat ia dirias beberapa waktu lalu. Pakaian yang ia kenakan, sama dengan pakaian beberapa orang yang ada di mobil belakangnya.

Pikiran Arini menjadi rumit. Mengapa Gibran harus melakukan semua ini? Tapi kemudian ia tersadar. Tidak! Gibran melakukannya bukan untuknya, tapi untuk dirinya sendiri. Ini adalah pesta pernikahannya. Apa pun alasan yang melatarbelakanginya, pesta pernikahannya tentu saja harus sempurna. Memikirkannya, hati Arini sedikit lebih lega.

Sementara itu di tempat acara, Gibran yang sudah tiba terlebih dahulu sudah berdiri di samping meja akad kala pembawa acara mengatakan, calon pengantin wanita akan segera sampai. Hatinya jelas gugup, tapi sama sekali tidak terlihat di wajahnya. Manajemen ekspresinya terjaga dengan sangat baik.

Di sisi venue, wajah Winda mulai kehilangan ketenangannya. Ia melirik pria yang berdiri tak jauh darinya, dan memberi kode agar pergi ke tempat lain.

Pria itu mengikuti langkah kaki Winda, hingga mereka sampai di tempat yang cukup sepi.

“Apa mereka masih belum datang?” tanya Winda.

“Belum ada informasi, Bu,” jawab pria itu.

“Segera cek! Kalau bisa, suruh orang untuk datang ke rumahnya. Aku tidak percaya mereka akan mengabaikan pernikahan ini.”

“Baik.”

Segera, Winda kembali ke tempatnya semula.

“Kamu dari mana?” tanya Harun.

“Mengecek beberapa hal, Pa. Aku sedikit gugup, takut ada kesalahan di pernikahan Gibran,” jawab Winda.

Hati Harun menghangat seketika. Istrinya ini sangat menyayangi putra dari pernikahannya terdahulu. Tanpa sadar, ia tersenyum.

Tak lama, pembawa acara mengatakan kalau pengantin wanita sudah sampai. Pintu besar itu terbuka, menampilkan seorang gadis cantik berbalut gaun pengantin yang berkilauan karena pantulan cahaya pada berlian yang bertaburan di pakaiannya. Fotografer dan videografer gegas melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Membidik sang ratu sehari di berbagai posisi agar mendapatkan hasil yang baik. Kliennya harus puas.

Dibelakangnya, para gadis cantik mengikuti. Mereka adalah para bridesmaid yang dipersiapkan tim WO sebagai pendamping Arini.

Gibran terpaku beberapa saat ketika melihat Arini. Calon istrinya itu terlihat cantik dan memukau. Mereka tidak bertemu selama beberapa hari, dan kini ia sangat terkejut. Gibran bahkan hampir kehilangan ketenangannya. Kegugupan itu datang dengan tidak sopannya.

Sifa yang duduk di kursi tamu mengangkat ponselnya, dan membidik Arini. Melihat hasil fotonya, ia tersenyum.

“Tidakkah menurutmu calon istri Gibran itu sangat cantik?” tanya Sifa kepada Hansen.

“Dimataku, tidak ada yang lebih cantik darimu,” jawab Hansen.

“Hentikan!” Sifa memberenggut, tapi tetap tersenyum juga. Mereka sudah menikah selama beberapa tahun, tapi Hansen tetap akan mengatakan hal yang sama. Cintanya tidak pernah berubah, bahkan sejak mereka masih kecil.

Pembawa acara membimbing Arini untuk berjalan, diiringi dengan musik orkestra black swan yang dimainkan para pemain musik di sisi pelaminan. Arini duduk di kursi terdepan. Di sampingnya, Gibran turut duduk. Keduanya bersiap untuk mendengarkan khutbah nikah.

Sejauh ini, hanya Gibran yang sudah melihat Arini. Sementara Arini sama sekali belum melihat penampilan calon suaminya itu. Namun, saat Gibran duduk, samar-samar Arini mencium aroma yang menyegarkan. Ia melirik dengan ujung matanya. Gibran di sana. Pria itu … sedikit tak terduga.

Walaupun Arini sudah terbiasa melihat Gibran yang berpenampilan formal, namun kali ini, tingkat ketampanannya meningkat beberapa kali lipat. Ada aura kedewasaan dari dalam diri pria itu. Tanpa sadar, Arini terus memandangi fitur samping wajah Gibran dari waktu ke waktu. Rambut, dahi, hidung, dan bibir itu perpaduan yang sempurna. Ketampanannya, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Tanpa Arini duga, Gibran tiba-tiba menoleh. Hal itu cukup mengejutkan Arini. Ia gegas membuang muka, kemudian menunduk. Itu sangat memalukan! Kepergok sedang mengintip fitur wajah seorang pria, hal apa lagi yang lebih memalukan dari itu.

Gibran mau tidak mau menyunggingkan sedikit senyuman. Wajah malu-malu Arini sungguh sangat menggemaskan di matanya.

Pemuka agama yang sedang memberikan khutbah nikah berdehem. Kedua mata teduhnya menatap sepasang calon pengantin yang tidak mendengarkan khutbahnya. Mau tidak mau, ia memperingatkan.

“Mereka terlalu tidak sabar bukan?” bisik Hansen yang turut melihat adegan itu.

“Temanmu sungguh tidak sabaran!” Sifa menimpali.