Romansa #Romance

Bab 42

27 January 2026

Waktu terus berlalu. Winda yang duduk di barisan depan diam-diam melirik ke belakang, mencari keberadaan keluarga Arini, namun masih belum datang. Ia gugup, melirik ponselnya. Tapi tidak ada info apa-apa yang ia terima.

Sebuah tangan besar dengan beberapa kerutan halus di punggungnya menimpa tangan gugup Winda. Ia menoleh, hanya untuk melihat wajah menghangatkan sang suami.

“Jangan gugup. Semuanya akan berjalan sesuai rencana. Kamu sudah melakukan yang terbaik.” Harun tahu betul, bagaimana usaha Winda dalam melancarkan acara pernikahan putra mereka. Istrinya itu begitu sibuk, menghubungi banyak orang, dan melakukan banyak hal.

Winda yang mendengarnya memaksakan senyumannya. Tidak! Bukan itu yang ia pikirkan.

Pada saat yang sama, ponsel Winda bergetar. Ia melirik nama si pemanggil, kemudian pamit pada sang suami untuk mengangkatnya.

Harun mengangguk sedikit sebagai tanggapan. Kemudian ia kembali memokuskan pandangannya pada pemuka agama di depan yang masih menyampaikan khutbah pernikahan.

“Bagaimana?” tanya Winda begitu panggilan terhubung.

“Bu, rumah itu kosong. Sepertinya mereka sedang pergi,” jawab pria di seberang sana.

“Cari tahu!”

“Baik.”

Usai memutuskan panggilan telepon secara sepihak, Winda tidak segera kembali ke tempat duduknya. Ia menghubungi Yesi segera.

Dalam satu kali deringan, ponselnya diangkat.

“Halo, Tante,” sapa Yesi.

“Kamu di mana?” tanya Winda berusaha menekan kekhawatirannya.

“Di lobi, ini bentar lagi masuk venue sama mama dan papa,” jawab Yesi.

“Sepupumu itu, apa jadi datang?” tanya Winda.

“Maksud tante … Intan? Terakhir kali aku nanya, dia katanya mau dateng,” jawab Yesi, “kalau gitu, biar aku tanya dulu sama Intannya,” lanjutnya.

“Ya,” balas Winda.

Di sudut matanya, gerak-gerik Winda tentu saja terbaca oleh Gibran. Pria itu hanya tersenyum kecil, dan mengabaikannya sepenuhnya.

Tak lama, ponsel Winda kembali berdering. Kali ini, Yesi yang meneleponnya.

“Bagaimana?” tanya Winda.

“Intan bilang lagi jalan,” jawab Yesi.

“Baiklah. Terimakasih, Yesi. Kamu masuklah. Nikmati pestanya.” Ada kelegaan tersendiri di hati Winda. Ia tersenyum kecil, kemudian kembali ke kursinya.

“Ada masalah apa?” tanya Harun begitu Winda mendaratkan tubuhnya di atas kursi.

“Dari pihak catering. Sebelumnya aku meminta pihak catering memberikan tanda daftar alergen di menu makanan yang akan kita sajikan untuk para tamu. Tadi pihak catering hanya memberikan laporan, semuanya sudah selesai ditangani. Aku hanya tidak ingin ada tamu yang merasa tidak nyaman setelah datang ke acara kita.” Kebohongan Winda sangat lancar, seolah sudah memprediksi suaminya itu akan menanyakan apa.

Lagi-lagi Harun tersenyum. Istrinya itu begitu memperhatikan detailnya.

Pada saat yang sama, pemuka agama telah menyelesaikan khutbahnya. Pembawa acara segera membacakan acara selanjutnya yang merupakan acara inti. Akad akan segera dilaksanakan. Jadi, ia mempersilakan calon pengantin untuk pindah ke meja akad.

Arini dan Gibran duduk bersebelahan. Di depannya, ada penghulu dan juga wali hakim. Di sisi kiri dan kanannya, ada saksi.

Fotografer dan videografer sekali lagi bersiap untuk mengabadikan momen itu dengan kamera, tidak ingin kehilangan momen sekecil apa pun.

Winda yang tengah duduk meremas gaunnya. Akad akan segera dilaksanakan, tapi keluarga Arini tak kunjung datang.

Ke mana orang-orang bodoh itu, apa akan menunggu mereka sah sebagai suami istri, batin Winda.

Orang-orang yang Winda tunggu sedang berada di dalam mobil. Mereka tengah menuju ke tempat acara. Namun, lebih dari satu jam berkendara, mereka tak kunjung sampai.

“Apa masih lama? Mengapa sepertinya kita semakin jauh dari pusat kota?” tanya Intan kepada sang sopir.

“Lokasinya sudah menunjukkan ke arah yang benar, Mbak. Harap bersabar,” jawab sang sopir.

Intan mendelik curiga ke arah sopir itu. Pria muda yang tampak ahli dalam berkendara. Tapi pagi, saat ia, suami, dan ibu mertuanya hendak pergi, pria itu datang dan memperkenalkan diri sebagai utusan yang dikirim besan untuk menjemput mereka. Melihat mobil mewah terparkir di depan rumah, Intan tidak banyak berpikir. Mereka segera masuk dan mengikuti sopir tersebut.

“Mas, siapa nama orang yang menyuruh kamu menjemput kami?” tanya Intan. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, untuk melihat ekspresi wajah pria muda itu. Tapi hanya ada ketenangan di wajahnya.

“Bu Tari,” jawab pria itu.

“Tari? Tari siapa?” tanya Titin seraya menautkan kedua alisnya.

“Bu Tari, besan ibu. Mamanya Mas Reihan,” jawab pria itu lagi.

“Berhenti di depan!” teriak Intan segera.

Pria itu tidak banyak bertanya. Ia menghentikan kendaraannya di tepi jalan.

“Apa Bu Tari bilang, siapa yang harus kamu jemput?” tanya Intan lagi.

“Tentu saja. Bu Tari meminta saya menjemput Bu Anin, mamanya Mbak Mira,” jawabnya.

Ketiga penumpang lainnya menautkan kedua alisnya. Tari, Reihan, Mira, siapa mereka? Azril yang duduk di kursi depan perlahan merasakan firasat tidak baik.

“Dasar bodoh! Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya! Saya Titin, bukan Anin! Kamu salah menjemput orang!” teriak Titin.

“Apa? Lalu apa yang terjadi dengan Bu Anin?” Pria itu tampak panik.

“Peduli apa dengan Bu Anin! Saya harus pergi ke pernikahan Arini dan Gibran. Sebaiknya kamu segera mengantarkan kami ke tempat yang benar!” Titin kembali berteriak.

“Maaf, Bu, saya tidak bisa. Saya harus menjemput Bu Anin.” Pria itu menolak.

“Kamu membawa kami sejauh ini! Kamu harus bertanggungjawab!” Titin bersikukuh. Mereka sudah jauh dari pusat kota. Jika harus naik taksi, entah berapa uang yang harus mereka keluarkan. Tentu saja ia tidak mau menderita kerugian gara-gara kesalahan orang lain.

“Benar! Hampir saja saya melupakannya. Sebaiknya ibu mengganti rugi. Ibu bisa mengganti setengah dari uang bensin yang saya gunakan untuk mengisi bahan bakar mobil ini. Setengahnya lagi biar saya yang tanggung, karena saya juga turut andil dalam kesalahan ini.”

“Apa? Berani-beraninya kamu meminta ganti rugi setelah menyesatkan kami sejauh ini!” Kali ini, Azril turut bereaksi.

“Mas, tolong jangan marah. Saya juga orang kecil. Uang bensin ini sudah melebihi penghasilan harian saya. Lalu saya harus kembali untuk menjemput Bu Anin, pengeluaran saya jadi dua kali lipat.”

Azril kesal bukan main. Ia menarik kerah baju pria muda itu dan memelototinya. “Ikut aku keluar!”

Kedua pria yang duduk di kursi depan sama-sama turun. Pun dengan Titin dan Intan yang mengikuti. Untuk sementara waktu, mobil mewah itu dalam keadaan tanpa penumpang.

BUGH! Tanpa banyak kata, Azril mendaratkan satu pukulan ke perut pria muda itu hingga mengaduh.

Tidak ingin menerima begitu saja penganiayaan yang diberikan Azril, pria itu membalas. Kali ini, rahang Azril yang menjadi tujuannya. Detik berikutnya, kedua pria itu berbicara melalui ototnya. Mereka berkelahi di tepi jalan.

“Hentikan!” teriak Titin. Namun kedua pria itu mengabaikannya.

Sebuah mobil van tiba-tiba berhenti di depan mobil yang sebelumnya mereka tumpangi.