Romansa #Romance

Bab 43

27 January 2026

Seorang pria turun dari mobil itu. Kemudian ia masuk ke dalam mobil yang terparkir di tepi jalan itu, dan mengendarainya.

Adalah sang sopir yang pertama kali beraksi.

“Hei! Mobilnya mau dibawa ke mana? Pencuri!” teriaknya. Ia mengejar mobil yang beberapa waktu ia kendarai. Namun jelas, kecepatan mereka tidak sebanding. Ia tertinggal begitu saja, menyaksikan mobil itu dibawa pergi.

Azril yang tengah memegangi ujung bibirnya turut melihat ke arah mobil mewah itu pergi. Apa mereka baru saja di rampok? Kemudian ia menoleh ke arah ibu dan istrinya yang sama-sama tengah melihat arah mobil itu pergi. Sepertinya mereka memang baru saja dirampok. Itu sangat mengejutkan.

Sang sopir kembali ke hadapan Azril. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memarahi pria yang telah membawanya keluar dari mobil itu. “Kamu harus tanggung jawab! Mobil itu milik majikanku! Harganya ratusan juta!”

Mendengar itu, tubuh Titin gemetar. Ia hanya merasa hari ini sungguh sial. Bagaimana mereka bisa terlibat dalam perampokan di saat seharusnya ia bersenang-senang di pesta pernikahan Arini dan Gibran?

Di tengah perdebatan Azril dan sopir muda itu, diam-diam Intan mengirimi Yesi pesan.

[Kak, kami bakalan telat. Sopirnya salah bawa penumpang, jadi kami pergi ke tempat yang salah]

Yesi langsung membaca pesan itu begitu masuk. Ia telah ditugaskan untuk memastikan keluarga Arini datang, tentu saja sangat antusias dengan pesan dari Intan. Ia hanya berpikir, bisakah kecelakaan semacam itu terjadi di sebuah acara pernikahan? Arini sungguh sial.

Yesi belum membalasnya. Ia meneruskan pesan itu kepada Winda. Sayangnya Winda sepertinya belum bereaksi. Sepasang matanya fokus pada sepasang pengantin baru yang beberapa waktu lalu mengesahkan pernikahan mereka. Matanya jelas sangat gelap, tapi ia masih memaksakan senyuman di bibirnya. Semua ini … kenapa tidak sesuai bayangannya.

Buku nikah sudah ditandatangani. Keduanya bahkan sudah bertukar cincin. Kini, pembawa acara membawa mereka ke pelaminan untuk berfoto.

“Untuk orang tua, silakan naik ke pelaminan untuk mengambil foto,” ucap pembawa acara.

Harun dan Winda naik, lalu mengambil sisi kiri dan kanan pengantin baru itu. Tidak ada orang tua dari pihak Arini. Hal itu juga membuat para tamu bertanya-tanya. Tapi tentu saja tidak ada yang menyuarakannya. Mereka hanya bisa berbicara di dalam hati masing-masing. Tapi … melihat bahwa Arini dinikahkan oleh wali hakim, sepertinya istri dari Gibran itu adalah seorang yatim piatu.

Setelah itu, para tamu mulai berdatangan ke atas pelaminan untuk memberikan selamat. Beberapa ada yang berfoto juga, beberapa hanya memberikan selamat saja, lalu mulai menikmat hidangan.

Winda menyingkir dari pelaminan, menemukan tempat sepi untuk melihat ponselnya. Ada pesan dari Yesi. Ia membacanya dan mengepalkan tangannya.

“Benar-benar tidak berguna!” gumamnya kesal. Pernikahannya sudah sah, untuk apa lagi mereka akan datang. Tapi … memangnya kenapa kalau pernikahannya sudah sah? Kesenangan di akhir acara juga bagus.

Setelah memikirkannya dengan hati-hati, Winda membalas pesan itu.

[Ya].

Yesi membaca pesan itu. Namun, saat ia akan membalasnya, pandangannya teralihkan ketika melihat Erik di sana. Kenapa Erik ada di sana? Mungkinkan pria itu memberikan kejutan untuknya?

Yesi tersenyum kecil. Ia ingin menghampiri. Namun langkahnya terhenti kala melihat seorang wanita cantik bergaun indah berjalan di sampingnya. Tidak! Sebenarnya, tangan wanita itu merangkul lengan Erik.

Wajah Yesi berubah muram. Erik selingkuh ‘kan?

Dengan langkah cepat, Yesi mendekat dan melepaskan kedua tangan yang saling bertaut itu.

Kedua orang itu tampak tidak senang. Terutama si wanita yang kini sudah memelototi Yesi.

“Apa yang kamu lakukan?” bentaknya.

“Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan dengan pacarku?” Yesi balik membentak.

“Pacar?” Wanita itu memandangi Erik, meminta sebuah jawaban.

“Erik, siapa wanita ini? Bukankah kamu bilang sibuk, jadi gak bisa nemenin aku ke pesta pernikahan temenku?” Yesi ikut memandangi Erik.

“Aku pikir, pernikahan temanmu bukan di sini,” jawab Erik acuh tak acuh.

“Lalu, siapa wanita ini? Apa selingkuhanmu?” tanya Yesi. Bola matanya memerah. Jelas ada rasa marah dan juga tak percaya di sana.

“Selingkuhan? Nona, tolong jangan bersikap seperti seorang istri yang menyedihkan.” Erik mencibir.

“Nona?” gumam Yesi. Ia tidak suka dipanggil Nona. Mengapa terkesan ada jarak di antara mereka. Apa yang salah dengan pria ini. Jelas Erik baik dan perhatian padanya sebelumnya. Tapi … mungkinkan orang di depannya ini bukan Erik? Tapi jelas itu adalah wajah Erik!

“Erik, apa dia pacarmu?” Wanita di samping Erik akhirnya menemukan sebuah kesimpulan kecil.

“Sudah kubilang, aku gak punya pacar. Mungkin dia salah mengartikan kebaikanku,” jawab Erik seraya menatap lembut ke arah wanita itu.

“Salah mengartikan kebaikanmu? Tapi … tapi ….” Yesi tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Benar, sejauh ini, tidak pernah ada komitmen yang terucap dari mulut Erik. Hubungan mereka tidak pernah di konfirmasi. Yesi hanya merasa Erik menyukainya karena selalu membelikan barang-barang mewah. Apa benar ia hanya salah paham dengan kebaikan Erik padanya.

“Apa kamu pernah menyukaiku?” tanya Yesi lirih.

“Aku selalu menyukai kecantikan,” jawab Erik.

“Jadi … hanya itu? Kamu tidak pernah benar-benar memiliki perasaan apa pun kepadaku, Erik? Dan … semua pemberianmu kepadaku itu ….”

“Aku hanya suka menghabiskan uangku. Jadi, jika kamu menginginkannya, kenapa tidak. Lagipula, itu bisa dihitung sebagai perbuatan baikku, membantu sesama manusia yang membutuhkan.”

PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Erik.

“Kamu pikir, aku ini fakir miskin?” Yesi patah hati. Bagaimanapun, ia pernah berbangga kepada orang tuanya tentang pacar tampan dan kaya bernama Erik. Tapi ternyata, Erik bahkan tidak mengakuinya sebagai pacar. Dia hanya memandangnya sebagai orang yang membutuhkan uluran tangan. Sungguh kejam!

“Tolong jaga tanganmu agar tetap berada di tempatnya. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan mematahkannya. Selama ini, aku hanya memperlihatkan kebaikanku padamu, bukan sebaliknya. Lain kali, saat melihatku, anggap saja kita tidak saling mengenal,” desis Erik.

Detik berikutnya, ia pergi meninggalkan Yesi begitu saja.

Yesi tidak tahan lagi. Air mata yang semula ia tahan, akhirnya luruh juga.

Tidak ingin tampil menyedihkan di sebuah acara yang seharusnya menyenangkan, ia akhirnya pergi.

Di atas pelaminan, Gibran menyaksikan segalanya. Untuk keberanian Erik membawa wanita lain ke sana, ia hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tahu, Erik sudah sangat ingin mengakhiri keterlibatannya dengan Yesi. Ia hanya tidak menyangka, Erik akan menggunakan cara yang sangat menonjol seperti itu.

Arini yang berdiri di samping Gibran juga melihat ke arah yang sama. Ia hanya tidak tahu, permasalahan apa yang terjadi di antara mereka. Namun satu hal yang ia yakini, wanita yang baru saja menampar pria itu adalah Yesi, mantan tunangannya Gibran.