Romansa #Romance

Bab 44

27 January 2026

Jadi … apakah pria itu pacarnya Yesi, dan ketahuan selingkuh? Lalu, kenapa Pak Gibran memandangi mereka? Apakah Pak Gibran ingin kembali bersama dengan Yesi? batin Arini. Jangan-jangan, pernikahan ini untuk Yesi. Pak Gibran hanya ingin anak ‘kan? Setelah mendapatkannya, dia akan membesarkannya bersama Yesi. Ah … apa anak itu akan baik-baik saja jika diasuh dibawah pengawasan wanita seperti Yesi?

Mau tidak mau, Arini merasakan kerumitan di dalam hatinya.

Gibran tentu saja tidak tahu pemikiran acak Arini. Saat ini, hanya merasakan kebahagiaan karena telah berhasil menikahi wanita yang disukainya.

“Pengantin wanita silakan menghadap ke arah pengantin pria, lalu letakkan tangan di dadanya.” Fotografer memberikan arahannya, dan sesi foto terus berlanjut.

Di sisi lain, keadaan Winda tampak tidak baik-baik saja. Semua yang terjadi di luar kendalinya. Ia ingin mencari Yesi untuk menanyakan keberadaan keluarga Arini. Namun, ia tidak bisa menemukannya. Tidak ada Yesi sejauh mata memandang. Bahkan saat ia mencoba meneleponnya pun, nomornya tidak aktif.

Usaha Winda untuk menemukan Yesi terhalang kala Harun mengajaknya untuk berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya. Hal itu membuat perhatiannya teralihkan sejenak. Ia tidak bisa pergi begitu saja.

Orang yang ditunggu oleh Winda sedang berada di dalam mobil. Beberapa waktu lalu, Intan kesal karena Yesi tidak menanggapi pesannya. Ia pikir, Yesi akan berinisiatif untuk mengirimnya jemputan. Tapi ternyata tidak. Akhirnya, ia memesan taksi online dengan destinasi rumahnya. Ia sudah badmood, dan ingin pulang. Mereka bertiga meninggalkan sopir muda yang telah kehilangan mobilnya.

“Dia sungguh sial,” ucap Azril yang duduk di kursi depan.

“Itu karena dia bodoh,” timpal Titin yang duduk di belakang bersama Intan, “biarkan saja dia ganti rugi sendiri. Berani-beraninya menuntut kita untuk ikut tanggung jawab. Ini semua salahnya. Kalau saja dia lebih pintar, sebelum kita pergi, harusnya dia nanya dulu nama kita, bukan main angkut aja,” lanjutnya.

“Ya, Ibu benar,” balas Azril lirih.

“Jadi kita ke mana? Kamu tahu tempat pernikahan itu diadakan? Undangannya ada di tasmu ‘kan?” tanya Titin kepada Intan.

“Pulang,” jawab Intan cepat, “aku udah gak mood, pengen rebahan aja di rumah,” lanjutnya.

“Bukannya kamu yang kemaren maksa Ibu buat pergi? Kamu bilang, itu keinginan bayi di dalam perutmu.” Titin mengingatkan.

“Itu kemaren, Bu. Sekarang aku udah gak pengen lagi! Ibu bisa diem gak? Aku lagi bete!” Intan mengeluh. Entah kenapa ia merasa kesal. Ia hanya merasa telah terjebak di keluarga bodoh yang berantakan. Mau tak mau ia melirik suaminya yang duduk di kursi depan.

Azril sepertinya ikut merasakan tatapan tidak bersahabat dari arah belakang. Ia menoleh hanya untuk melihat istrinya yang melotot ke arahnya. Azril tersenyum kikuk, tapi Intan segera membuang muka.

Azril mendengus kesal. Entah mengapa, sifat Intan sangat bertolak belakang dengan sifat ibunya. Bukankah seorang istri itu harusnya bersikap baik dan lemah lembut seperti yang selalu dilakukan ibunya kepada ayahnya dulu? Walaupun saat ayahnya meninggal ia masih sangat muda, tapi samar-samar ia bisa melihat bagaimana cara ibunya memperlakukan ayahnya. Dan sikap Intan ini … agak bertolak belakang. Mau tidak mau, Azril sedikit mengeluh tentang itu.

Lima menit setelah pria yang Azril sebut bodoh ditinggalkan, ia dijemput sebuh mobil van. Di dalamnya, sudah ada dua pria lainnya. Mereka saling menyapa sebelum mobil itu melaju pergi.

“Sakit?” Pria yang duduk di samping menunjuk ke arah sudut bibir pria lainnya yang terluka. “Apa kamu begitu payah sampai pria itu memukulimu dengan begitu parah?”

“Ck! Ini hanya akting!” balas pria itu.

“Benarkah? Aku percaya!” ejek pria yang sama.

“Kamu bilang percaya, tapi nada bicaramu mengatakan hal sebaliknya. Sudahlah, lupakan tentangku. Kamu sudah mengabari bos kalau pekerjaan selesai?”

“Ya. Aku sudah mengabari asistennya. Si Bos tidak akan pegang ponsel, dia sedang menikah.”

“Hemmm. Aku akan tidur. Bangunkan aku ketika sampai.”

“Tunggu! Kenapa kamu tidak menceritakan bagaimana kamu mengatasai keluarga itu. Lalu … apakah kamu yakin mereka akan menyerah? Bisa saja mereka tetap pergi ke pernikahan itu?”

Hening. Sepertinya, pria yang baru saja dipukuli oleh Azril itu tidak ingin berbicara lagi.

“Baiklah … aku akan bertanya pada orang yang mengikutinya saja. Kalau mereka akan ada tanda-tanda pergi ke pernikahan itu, dia akan mengatasinya.”

Masih hening.

Akhirnya pria itu menyerah, tidak ingin mengajak bicara siapapun lagi. Sungguh sial nasibnya yang harus bekerja sama dengan orang-orang irit bicara.


Seluruh prosesi pernikahan selesai pada sore hari. Para tamu undangan sudah pergi meninggalkan venue. Pun dengan para bridesmaid dan groomsmen yang sudah kembali ke tugasnya semula sebagai petugas WO.

Harun melirik Winda yang memasang wajah suram. Mengira kalau istrinya itu kelelahan, ia segera mengajak pulang. Sementara Arini dan Gibran tidak akan pulang. Mereka sudah memesan sebuah kamar hotel di lantai atas.

“Pakaian gantimu sudah ada di kamar,” bisik Dita sebelum pulang, “aku pulang dulu,” pamitnya kemudian.

Arini menautkan kedua alisnya. Ia tidak tahu kalau Dita juga sudah mengemas pakaiannya. Kapan sahabatnya itu melakukannya? Ah … mungkin ketika ia bersiap tadi pagi. Arini tdak mau memikirkannya lagi.

Sementara Gibran sudah meminta asistennya untuk mengirim pakaiannya ke kamar hotel yang sama.

Keduanya kemudian masuk ke kamar hotel yang sudah dipesan. Begitu mereka masuk, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah hamparan bunga mawar di lantai dan di tempat tidur. Ada tulisan ‘Happy Wedding’ di dinding yang terbuat dari bunga mawar yang sama. Secara keseluruhan, ruangan itu terlihat sangat cantik. Pati butuh upaya yang sangat keras untuk mendekor semuanya. Arini tidak tega untuk merusaknya.

“Kamu menyukainya?” tanya Gibran dari belakang.

Arini mengangguk tanpa menoleh.

“Kamu mandilah dulu,” ucap Gibran, “aku akan mandi setelahmu,” lanjutnya.

Arini kembali mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Namun detik berikutnya, ia kembali keluar dan berjalan ke arah kopernya. Ia harus membawa baju ganti bukan?

Arini membuka kopernya, bermaksud untuk memilih baju ganti yang akan ia kenakan. Namun, begitu ia melihat isi di dalam koper, hanya ada keterkejutan di wajahnya. Tanpa sadar, ia bergumam, “apa ini?”

“Ada apa?” tanya Gibran.

Arini mengangkat selembar kain berwarna merah menyala dari dalam koper. Bentuknya seperti baju tidur. Tapi sangat transparan. Ketika memakainya, hampir sama dengan telanjang. Ini sungguh memalukan! Akankah Gibran berpikir kalau Arini hendak merayunya? Memikirkannya, Arini perlahan mengangkat kepalanya hanya untuk melihat wajah Gibran yang sama terkejutnya dengannya.

“Ehem!” Gibran berdehem, kemudian berbalik. Ia duduk di sofa dan membuka ponselnya.