Arini membuka mulutnya, hendak menjelaskan kalau semua itu diatur oleh Dita. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Mau tidak mau ia hanya bisa mengutuk Dita di dalam hatinya.
Arini mencoba menekan amarah di dalam dadanya. Ia kembali mencari pakaian yang mungkin terlihat lebih normal untuk ia gunakan saat ini. Namun nihil! Semua pakaian yang Dita siapkan hanya baju haram, hanya berbeda warna dan model saja.
Tidak kah Dita berpikir aku juga harus keluar dari kamar? Kenapa hanya menyiapkan baju-baju seperti ini, batin Arini kesal.
Arini membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. Ia sungguh tidak tahu harus melakukan apa. Teman durjananya sudah melangkah terlalu jauh. Bagaimana kalau Gibran memikirkan hal yang tidak-tidak? Sekali lagi, Arini melirik Gibran yang tampak fokus pada ponselnya. Melihatnya, ia hanya ingin mengutuk Dita sekali lagi.
Gibran yang tampak fokus melihat ponselnya, sebenarnya hanya sedang mencari alasan untuk tidak memikirkan hal-hal kotor di dalam kepalanya. Ia bukan pria polos yang tidak tahu pakaian apa yang ada di dalam koper Arini. Ia hanya … sedikit terkejut. Membayangkan Arini memakainya, mau tidak mau jantungnya berdebar.
Saat ini, Gibran sedang membaca laporan dari asistennya yang mengatakan kalau ibu tiri Arini beserta adik dan adik iparnya sudah kembali ke rumah setelah menyesatkannya sangat jauh. Sang asisten juga melaporkan tentang kejadian yang menimpa mereka, juga orang-orang suruhannya yang ‘merampok’ mobil.
Gibran mengangkat sudut bibirnya. Kemudian ia membalas.
[Bawa orang yang terluka itu ke rumah sakit. Pastikan dia baik-baik saja]
[Baik]
Pandangan Gibran kemudian beralih pada Arini yang masih berjongkok di tempat yang sama. Wajahnya terlihat kosong. Ia kemudian menyimpan ponselnya, dan menghampiri Arini.
“Ada apa?” tanya Gibran.
“Saya … maksudnya aku … tidak membawa baju ganti. Dita menyiapkan barang yang salah,” jawab Arini. Kata-katanya sekaligus menjelaskan kalau baju-baju haram itu bukan idenya. Ia menyalahkan keseluruhannya kepada Dita saja.
Gibran melirik koper di depan Arini. Isinya memang kurang lebih baju dengan jenis yang sama. Mendengar bahwa itu bukan idenya, ada sedikit kerumitan di hatinya.
“Asistenku akan mengirimkan pakaiannya ke sini. Kamu bisa mandi dulu. Barangnya akan sampai begitu kamu selesai mandi,” ucap Gibran.
“Terimakasih,” jawab Arini. Detik berikutnya, ia sudah berlari ke kamar mandi, meninggalkan Gibran yang masih memandangi isi koper itu.
Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar hotel diketuk dari luar. Gibran yang sudah bisa menduga siapa itu gegas membukanya. Sang asisten ada di depan pintu. Di tangannya, ada sebuah koper berisi barang-barang yang Gibran minta.
“Ada masalah apa?” tanya Gibran kala menyadari sang asisten hanya diam saja.
“Ehem … itu … Pak, saya tidak tahu ukurannya, jadi ….”
“Katakan dengan jelas!” sela Gibran.
“Pakaian dalam Bu Arini, saya tidak tahu ukurannya, jadi ….”
“Aku mengerti.” Sekali lagi, Gibran menyela. “Dan ya, Jim, aku tidak akan masuk kantor selama satu minggu. Kamu atasi permasalahan di kantor.”
“Baik,” jawab Jim segera.
Tak lama, pintu kembali di tutup, menyisakan Jim yang masih berdiri di tempat yang sama. Hal yang tidak bisa ia katakan kepada Gibran sebelumnya adalah, ia tidak tahu ukuran pakaian dalam Arini. Jadi, ia membeli sesuai ciri-ciri tinggi dan berat badan Arini yang ia dapat informasinya sebelumnya. Itu pun masih di bantu oleh pegawai toko.
Akan tetapi, ketika ia berpikir akan lebih buruk jika justru ia mengetahui ukurannya, hatinya sedikit membaik. Bukankah hal yang ia lakukan masih bisa diterima? Gibran tidak mungkin marah padanya karena hal itu bukan?
Di dalam kamar, Gibran yang baru saja mendapatkan kopernya gegas mengetuk pintu kamar mandi. “Arini … pakaian kamu sudah sampai. Kamu akan mengambilnya sendiri, atau perlu aku yang ambilkan?”
Hening.
Detik berikutnya, Gibran menyesali pertanyaannya sendiri. Mengapa ia harus menanyakan hal tidak masuk akan seperti itu? Akankah Arini berpikir kalau ia seorang pria mesum?
Akan tetapi, tepat ketika Gibran akan membuka mulutnya lagi, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Arini keluar dari sana, masih dengan gaun pengantin yang sama. Kenapa? Bukankah sebelumnya Arini mengatakan akan mandi.
“Kamu ….”
“Sebenarnya, aku tidak bisa membuka gaun ini.” Arini menunduk. Ia malu. Selama setengah jam, ia berkutat di kamar mandi, mencoba membuka gaunnya. Tapi ternyata sulit. Beruntung Gibran mengetuk pintu, dan mengatakan kalau pakaiannya sudah tiba.
“Berbaliklah,” titah Gibran.
Arini gegas berbalik.
Di belakangnya, Gibran mulai mengangkat tangannya, membuka satu persatu kancing yang ada di belakang punggung Arini. Jumlahnya banyak. Ini … sengaja ‘kan? Pembuat gaun itu pasti sengaja mempersulitnya. Bukankah lebih mudah kalau menggunakan resleting?
Gibran hanya menyimpan keluhan itu di dalam hatinya. Lagipula, ia sangat gugup sekarang. Di usianya yang sudah menginjak 30 tahun, untuk pertama kalinya ia melepaskan pakaian wanita dewasa. Dan wanita itu adalah istrinya yang sah.
Punggung itu perlahan terbuka. Bagian atasnya sudah terekspos. Gibran tidak bisa tidak untuk menahan napasnya. Halus, putih, dan bersih. Mungkin karena kegugupannya, tangannya sedikit gemetar. Ujung jarinya tanpa sadar menyentuh punggung Arini, hingga sang pemilik punggung bereaksi.
“Maaf,” ucap Gibran segera.
“Tidak apa-apa,” jawab Arini lirih. Jantungnya berdebar kini. Sentuhan itu … sudah seperti sengatan listrik berdaya rendah. Tangan Gibran dingin, dan punggungnya jelas merasakannya.
Suasana berubah menjadi ambigu. Baik Gibran maupun Arini tidak ada yang bereaksi untuk sementara waktu. Sampai ….
“Apa mau dilanjutkan?” tanya Gibran tiba-tiba.
Pertanyaan Gibran seperti kata-kata ambigu di tengah suasana yang ambigu. Dilanjutkan? Apa yang harus dilanjutkan? Apakah Gibran menginginkan ‘itu’ sekarang?
Jika ditanya siap atau tidak, jelas Arini tidak siap. Tapi, mengingat pria di belakangnya adalah suaminya, ia akhirnya berkata, “biarkan aku mandi dulu.”
Gibran tidak mengerti pada awalnya. Hal yang ia tanyakan sebelumnya adalah, apa membuka kancingnya akan dilanjutkan atau tidak. Tapi sepertinya Arini salah paham. Dan Gibran tidak berencana meluruskan kesalahpahaman itu.
Karena kancing sudah terbuka sebagian, Arini tidak membutuhkan bantuan Gibran lagi.
“Em … kamu bisa berbalik sebentar? Aku akan menyelesaikan sisanya,” ucap Arini. Ia pikir, dengan menanggalkan pakaiannya di kamar akan lebih ringkas daripada harus melakukannya di kamar mandi. Lagipula, gaun itu masih bertabur berlian. Akan sangat merepotkan jika salah satu berliannya hilang dan hanyut terbawa air.
Gibran tidak banyak bertanya. Ia berbalik memunggungi Arini. Namun sayang, pemandangan di depannya ternyata adalah sebuah televisi besar. Dalam keadaan padam, televisi itu malah memantulkan apa yang Arini lakukan di belakangnya. Istrinya itu … tengah menurunkan gaun pengantinnya. Walaupun masih ada kemben yang menutupi bagian lainnya, tapi tetap saja itu mengganggu kinerja jantung Gibran. Tanpa sadar, ia memegangi dadanya sendiri. Ia hanya tidak yakin, dengan banyaknya serangan jantung yang ia rasakan seharian ini, apakah ia akan selamat sampai esok pagi.