Drama #Romance

2. Pertemuan di Toserba

Penulis Xiao
16 September 2025

Hari itu langit Hokkaido kelabu pucat, diselimuti awan tipis yang bergerak lambat. Udara masih dingin, meski matahari mulai menghangatkan tanah yang perlahan terbebas dari sisa salju. Yui berdiri di dapur rumahnya, menatap buku resep tua yang terbuka di atas meja. Halaman itu berisi catatan tangan ibunya terkait resep masakan: ‘Nikujaga – rebusan daging, kentang, dan bawang dengan kuah manis asin.’ Itu adalah masakan favorit Yui sewaktu kecil. Setiap kali ia merasa lelah atau sedih, ibunya akan memasakkan nikujaga dan mengatakan, “Makanan ini seperti pelukan, Yui. Hangat, lembut, dan menenangkan.”

Hatinya berdesir. Setelah dua malam memakan makanan sederhana seadanya, Yui benar-benar merindukan masakan ibunya. Ia membayangkan aroma kuah yang harum, kentang lembut yang menyerap bumbu, dan rasa manis gurih yang membuatnya tenang. Namun begitu ia membuka lemari penyimpanan, hatinya langsung jatuh. Beras tinggal sedikit, kentang tidak ada, bawang pun habis. Hanya ada bumbu dasar seadanya. Yui menutup lemari perlahan, menghela nafas panjang. “Kalau begitu… aku harus pergi ke toserba,” ujarnya kemudian.

Toserba terdekat berada di desa besar berikutnya. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan dengan sepeda atau dia harus menunggu bis di halte terdekat yang tiba sekitar 2 jam sekali. Jalannya melewati hutan kecil dan hamparan sawah luas. Perjalanan itu jelas melelahkan, tapi Yui tidak punya pilihan. Ia ingin sekali memasak nikujaga. Bukan hanya untuk perutnya, tapi untuk hatinya.

Yui mengeluarkan sepeda tua dari gudang. Sepeda itu peninggalan ayahnya, catnya sudah pudar, rantainya berkarat, tapi masih bisa digunakan. Yui menepuk-nepuk sadelnya, lalu menaikinya dengan ragu. Sudah lama ia tidak bersepeda sejauh itu.

Jalan setapak menuntunnya melewati hutan kecil, di mana burung-burung berkicau dari dahan yang masih gundul. Aroma tanah basah bercampur udara dingin menusuk hidungnya, membuatnya teringat pada masa kecil ketika ia dan ayahnya sering bersepeda bersama melewati jalan yang sama. Kemudian jalan terbuka ke arah hamparan sawah luas. Angin bertiup kencang, menerpa rambut panjangnya hingga terlepas dari ikatannya. Yui mengayuh lebih kuat, meski kakinya mulai pegal. Dua jam perjalanan ini terasa lebih panjang dari yang ia bayangkan. Namun ia bertahan, karena tujuan sederhana itu memasak masakan ibunya menjadi alasan kuat baginya.

...

Setelah 2 jam mengayuh pedal sepeda, toserba itu akhirnya terlihat dari kejauhan: bangunan sederhana dengan papan bertuliskan huruf hiragana besar yang catnya mulai pudar. Meski tidak sebesar supermarket di Tokyo, tempat itu cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk desa. Yui segera turun dari sepedanya, kemudian menguncinya dengan rantai tua, lalu masuk ke dalam. Aroma khas campuran sayuran segar dan plastik baru langsung menyambutnya. Rak-rak penuh barang tertata rapi, meski tidak sebanyak di kota.

Yui mengambil keranjang belanja yang disediakan bagi pengunjung, kemudian segera melangkah ke bagian sayuran. Kentang Hokkaido tersusun dalam kotak kayu, besar-besar dan masih ada tanah yang menempel di kulitnya. Yui mengambil beberapa buah dengan hati-hati, lalu menambah bawang, wortel, dan seikat daun bawang. Setelah itu ia menuju rak daging untuk mengambil daging sapi tipis. Keranjang di tangannya mulai berat, tapi hatinya ringan. Ia bisa membayangkan rasa nikujaga yang sebentar lagi akan mengisi rumahnya dengan aroma nostalgia.

Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang begitu dikenalnya.

“Yui?”

Yui menoleh. Seorang pria muda berdiri tak jauh darinya, dengan rambut hitam agak berantakan dan senyum yang masih sama seperti dulu. Matanya membelalak seolah tak percaya.

“Haruto…?” suara Yui tercekat.

Haruto Takeda 22 tahun, merupakan teman masa kecil Yui yang dulu sering bermain bersamanya di sawah, yang selalu menemaninya memanjat pohon plum di depan rumah. Mereka berpisah ketika Yui pindah ke Tokyo bersama ibunya setelah ayahnya meninggal. Sejak itu, hubungan mereka terputus begitu saja. Kini, Haruto berdiri di depan Yui. Lebih tinggi, lebih dewasa, tapi tetap dengan aura hangat yang mengingatkan Yui pada masa kecil.

“Kau sudah di Hokkaido? Sejak kapan?” tanya Haruto cepat, suaranya penuh keterkejutan sekaligus kegembiraan.

Yui menunduk sedikit, merasa canggung. “Baru… dua hari. Aku kembali ke rumah lama.”

“Benarkah? Aku sama sekali tidak tahu…” Haruto tersenyum lebar, lalu tertawa kecil. “Kalau aku tahu, aku pasti sudah datang menemuimu sejak hari pertama.”

Yui meremas pegangan keranjangnya. Ada rasa hangat mendengar ucapan itu, tapi juga rasa kikuk yang membuatnya tidak tahu harus membalas apa.

Haruto melangkah mendekat, melirik isi keranjang Yui. “Hmm, kentang, bawang, wortel, daging sapi… kau mau masak nikujaga, ya?”

Yui menoleh cepat, matanya membesar. “Bagaimana kau tahu?”

Haruto tertawa kecil. “Aku ingat betul, itu makanan favoritmu dulu. Kau selalu merengek minta ibumu membuatnya kalau sedang hujan atau saat kita selesai bermain.”

Pipi Yui memanas. Ia tidak menyangka Haruto masih mengingat hal sekecil itu.

Mereka berjalan pelan menuju kasir, percakapan kecil mengisi keheningan.

“Jadi… kau benar-benar tinggal sendirian sekarang?” tanya Haruto hati-hati.

Yui mengangguk. “Ibu menikah lagi. Dia tinggal di Tokyo bersama keluarga barunya. Jadi… aku kembali ke sini.”

Wajah Haruto menegang sesaat, lalu melunak. “Itu pasti sulit untukmu.”

Yui tidak menjawab, hanya menunduk. Ada gumpalan di tenggorokannya setiap kali ia membicarakan ibunya.

Setelah membayar belanjaan, mereka keluar bersama. Udara sore semakin dingin, angin bertiup lebih kencang. Haruto berdiri di dekat sebuah mobil box pengangkut barang, ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, “Yui… aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Walau… sepertinya kamu belum terbiasa denganku sekarang.”

Yui menoleh, sedikit terkejut dengan kejujurannya. Ia menggenggam keranjang belanja lebih erat. “Aku… hanya belum terbiasa dengan semuanya. Bukan hanya kau.”

Haruto tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Aku mengerti. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan memaksamu. Kita bisa mulai pelan-pelan. Seperti dulu.”

Ucapan itu membuat hati Yui bergetar, tapi ia buru-buru menunduk. “Aku… harus pulang sekarang. Perjalanannya masih panjang.”

“Baiklah,” jawab Haruto, suaranya hangat tapi penuh pengertian. “Hati-hati di jalan. Kalau kau butuh sesuatu… aku hanya tinggal di desa ini. Jangan ragu untuk mencariku.”

Yui mengangguk singkat, lalu menaiki sepedanya. Dengan keranjang penuh bahan makanan, ia mulai mengayuh pulang melewati sawah yang perlahan tenggelam dalam cahaya senja.

Di belakangnya, Haruto masih berdiri, menatap punggung Yui yang menjauh. Ada rasa bahagia karena bisa bertemu lagi, tapi juga kerinduan yang semakin dalam.

Sementara itu, Yui mengayuh sepedanya dengan hati berdebar. Pertemuan tadi singkat dan canggung, tapi meninggalkan sesuatu yang sulit ia abaikan. ‘Mungkin… aku tidak akan sepenuhnya sendiri di sini.’

...

Senja baru saja merayap di langit Hokkaido ketika Yui tiba di rumah dengan keranjang penuh bahan makanan. Nafasnya tersengal karena perjalanan jauh dengan sepeda, namun begitu ia melangkah masuk ke dapur, hatinya terasa lebih ringan. Dapur itu sederhana: meja kayu dengan goresan-goresan kecil, rak kayu tua tempat piring disusun, dan jendela kecil yang menghadap ke kebun. Sinar jingga matahari sore masuk melalui kaca, memantul pada peralatan dapur yang sudah lama tak digunakan.

Yui menurunkan belanjaannya ke meja. Kentang, wortel, bawang, daun bawang, dan daging sapi tipis tersusun rapi. Ia menatap semuanya sejenak, lalu membuka buku resep tua milik ibunya yang masih terbuka pada halaman Nikujaga. Tulisan tangan yang indah itu seakan memanggilnya kembali ke masa lalu.

Yui mulai dengan mencuci kentang satu per satu di bawah air dingin. Suara air yang menetes ke bak cuci terdengar seperti irama kecil, menenangkan. Tangannya bergerak hati-hati, seolah ia sedang menyentuh sesuatu yang berharga. Saat mengupas kulit kentang, Yui teringat bagaimana ibunya dulu selalu melakukannya dengan cepat. Pisau kecil di tangan sang ibu menari begitu luwes, sementara Yui kecil duduk di kursi tinggi, menatap dengan mata berbinar.

“Lihat, Yui. Kalau mengupas pelan-pelan, bentuk kentangnya jadi tetap bulat cantik. Masakan bukan hanya soal rasa, tapi juga cinta yang kita berikan dari setiap detailnya,” begitu kata ibunya dulu.

Mengingat itu, Yui menahan napas. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berusaha meniru gerakan ibunya. Setiap potongan kulit kentang yang jatuh membuat hatinya makin tenggelam dalam nostalgia. Setelah kentang, ia mengupas wortel dan memotong bawang. Aroma tajam bawang membuat matanya perih, namun justru itu yang semakin membangkitkan kenangan. Dulu, ibunya selalu menertawakan wajah Yui kecil yang berair mata karena bawang, lalu mendekat dan meniupkan udara lembut ke wajah putrinya. Kini, tidak ada lagi yang meniupkan udara itu. Yui hanya bisa mengusap matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Panci besar ia letakkan di atas kompor. Api biru menyala, dan suara logam beradu membuat ruangan yang sepi itu terasa sedikit hidup. Ia menuangkan minyak, menunggu hingga panas, lalu masukkan irisan bawang.

‘Shhhhhh…!’ suara tumisan memenuhi dapur, diikuti aroma harum yang langsung menyebar.

Yui menutup mata sejenak, membiarkan aroma itu membawanya ke masa lalu. Ia teringat hari-hari hujan di Tokyo, ketika ibunya menyalakan kompor dan dapur terasa begitu hangat. Nikujaga selalu jadi penyelamat mereka saat cuaca dingin. Yui akan duduk di dekat meja, menggambar di buku catatan, sementara ibunya sibuk di dapur, sesekali menoleh dan berkata, “Sabarlah sedikit, sayang. Nikujaga akan segera jadi.”

Air mata hampir jatuh, namun Yui buru-buru mengaduk bawang agar tidak gosong. Ia menambahkan potongan daging sapi, mendengar suara mendesis lagi, lalu perlahan berubah menjadi aroma gurih yang semakin kuat.Kentang dan wortel masuk berikutnya, lalu air kaldu dituangkan. Uap panas naik, membawa serta wangi yang akrab. Yui menambahkan kecap asin, gula, dan mirin, sesuai catatan ibunya. Perlahan kuah berubah warna, dari bening menjadi coklat keemasan. Gelembung kecil muncul di permukaan, membuat potongan sayuran dan daging bergoyang pelan seolah menari. Yui berdiri di depan panci, memegang sendok kayu. Wajahnya diterangi cahaya api dan uap panas. Dalam keheningan dapur itu, hanya suara rebusan yang terdengar.

Setiap langkah memasak terasa seperti percakapan dengan ibunya. Mengaduk kuah seperti mengulang gerakan yang pernah ia pelajari, mencicipi sedikit bumbu seperti mencari kembali rasa yang hilang. Namun ada sesuatu yang berbeda. Kali ini, tidak ada suara ibunya yang mengoreksi, tidak ada tangan hangat yang membimbing. Yang ada hanya dirinya, mencoba menyalin kenangan ke dalam rasa makanan. Ketika kuah mulai mengental dan aroma semakin pekat, Yui merasakan perasaan campur aduk. Ada kehangatan karena berhasil mengulang masakan ibunya, tapi juga ada kekosongan karena ia menikmatinya seorang diri. Yui mengambil mangkuk keramik tua yang ada di lemari, menuangkan nikujaga perlahan. Uap panas mengepul, memenuhi udara dengan wangi yang menenangkan.

Ruang makan rumah itu sederhana, hanya meja kayu bulat rendah di atas tatami. Yui duduk seorang diri dengan mangkuk nikujaga di depannya. Ia menatap mangkuk itu lama, seakan menatap ke masa lalu. Di hadapannya Yui dapat membayangkan ibunya tengah tersenyum, menyendok nikujaga untuknya. Di samping ibunya, ayahnya tertawa kecil sambil menambahkan nasi ke mangkuknya sendiri. Semua begitu nyata di ingatan, meski kini hanya ada dirinya dan keheningan.

Dengan tangan bergetar, Yui menyendok sepotong kentang, meniupnya pelan, lalu memasukkannya ke mulut. Rasa manis gurih langsung menyebar, lembut, hangat—nyaris sama persis dengan buatan ibunya. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Namun kali ini, ia tidak hanya menangis karena kehilangan. Ada rasa bangga juga, karena untuk pertama kalinya ia berhasil menghadirkan kembali sepotong kenangan lewat masakan. Yui menyendok lagi, lalu lagi, membiarkan setiap suapan memenuhi kekosongan dalam hatinya. Meski ia makan seorang diri, nikujaga itu berhasil memberikan kehangatan, dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke Hokkaido, Yui merasa sedikit lebih kuat untuk menghadapi hari esok.