Pintu kamar Presidential Suite itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagi Najwa, suara itu terdengar seperti vonis penjara yang baru saja dimulai.Ruangan itu sangat luas, dengan jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Harum bunga mawar dan lili memenuhi udara, berpadu dengan aroma diffuser mewah yang seharusnya membangkitkan suasana romantis. Namun, di tengah kemewahan itu, ada jurang yang sangat lebar antara dua orang yang baru saja sah menjadi suami-istri.Gus Azam masuk lebih dulu. Langkah kakinya yang beralaskan sandal hotel terasa sunyi di atas karpet tebal. Tanpa menoleh, pria itu langsung menuju area walk-in closet. Najwa berdiri mematung di tengah ruangan, meremas jemarinya yang dingin. Ia bisa mendengar suara gemerisik jubah bisht dan jas akad Gus Azam yang dilepaskan di dalam sana.Beberapa menit kemudian, Gus Azam keluar. Ia sudah berganti pakaian dengan sarung batik gelap dan baju koko putih bersih yang dikancingkan hingga ke leher. Wajahnya tampak segar, mungkin baru saja membasuh muka, namun sorot matanya tetap datar. Ia berjalan melewati Najwa begitu saja, menuju sofa panjang di sudut ruangan untuk mengambil tasbihnya.Najwa menelan ludah. Kini gilirannya untuk mengganti pakaiannya. Dengan langkah berat, ia masuk ke dalam ruang ganti yang dipenuhi cermin itu.Tangannya yang masih dihiasi henna putih tampak gemetar saat ia perlahan melepas jarum satu per satu dari hijab syar'i-nya. Butuh waktu lama bagi Najwa untuk membuka kerudung yang menutup dadanya itu.Saat kain sutra itu akhirnya terlepas, rambut cokelat gelap Najwa jatuh terurai di pundaknya. Ia menatap pantulannya di cermin. Ini adalah kedua kalinya Gus Azam akan melihat rambutnya setelah pertemuan pertama di taman pesantren saat Najwa belum memakai hijab. Najwa kemudian mengganti baju pengantinnya yang berat dengan gaun tidur satin berwarna putih tulang. Gaun itu sangat elegan, berlengan panjang, dan menutup hingga mata kaki, namun tetap memberikan kesan seorang istri yang ingin tampil cantik di depan suaminya.Najwa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia keluar dari ruang ganti dengan rambut yang ia biarkan tergerai indah, aromanya harum karena perawatan salon sebelum akad. Ia melangkah ragu menuju tengah ruangan, tempat Gus Azam sedang duduk terdiam.Najwa berdiri hanya beberapa meter dari suaminya. Ia sengaja berdiri di posisi yang memungkinkan Gus Azam melihatnya dengan jelas. Ia ingin tahu, apakah rambutnya yang indah ini yang selama ini menjadi kebanggaannya sebagai wanita kota bisa menarik sedikit saja perhatian pria itu?Namun, harapan itu hancur dalam hitungan detik.Gus Azam mendongak sejenak saat merasakan kehadiran Najwa, tapi matanya langsung dialihkan ke arah lantai. Ia tidak memberikan pujian, tidak ada tatapan kagum, bahkan tidak ada satu pun kata sambutan. Gus Azam justru berdiri, mengambil sajadah tipis milik pesantrennya dari dalam tas kecil, dan membentangkannya di atas lantai marmer yang dingin, mengabaikan empuknya karpet hotel.Deg.Jantung Najwa terasa diremas. Ia berdiri di sana dengan rambut terurai, merasa sangat terbuka dan rentan, tapi suaminya justru memilih untuk menghadap kiblat."Gus..." suara Najwa pecah, nyaris berbisik. "Apa Gus tidak lelah? Acara tadi sangat panjang. Mungkin Gus ingin... minum sebentar? Aku bisa pesankan ke room service kalau Gus lapar."Gus Azam hanya berhenti sejenak saat merapikan posisi sajadahnya. Ia tidak menjawab. Tidak ada kata-kata seperti, "Terima kasih, Najwa, kamu Istirahatlah terlebih dulu." Pria itu justru mengangkat tangannya, memulai shalat malam."Allahu Akbar..."Suara itu sangat lirih, namun bagi Najwa, itu adalah pembatas yang sangat tegas. Gus Azam lebih memilih bicara dengan Tuhannya daripada dengan wanita yang baru saja ia beri mas kawin di depan ribuan orang. Najwa terduduk lesu di tepi ranjang yang berhias mawar. Ia memandangi punggung suaminya yang mulai tenggelam dalam khusyuknya shalat.Satu rakaat, dua rakaat... Gus Azam tidak berhenti. Air mata yang sejak tadi ditahan Najwa akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia merasa sangat nyesek.Bayangan ia akan dipuji, atau setidaknya diajak bicara tentang bagaimana perasaannya hari ini, musnah total. Ia merasa seperti pengganggu di kamar ini.Najwa meraih bantal, memeluknya erat-erat untuk meredam isak tangis yang mulai sesak di dada. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar dari kejauhan. Mahkotanya yang indah malam ini terasa seperti hiasan tak berguna. Gus Azam sama sekali tidak tertarik melihatnya.Hampir satu jam berlalu. Gus Azam akhirnya mengakhiri shalatnya dengan salam. Najwa menghapus air matanya dengan cepat, mencoba tetap terlihat tegar. Ia berharap setelah shalat, Gus Azam akan menoleh, atau setidaknya bertanya mengapa ia belum tidur.Gus Azam berbalik, tapi ia langsung mengambil tasbih kayu dan mulai berdzikir. Ia duduk bersila di atas sajadah, membelakangi Najwa lagi. Suara putaran butiran tasbih yang beradu pelan menjadi satu-satunya melodi di kamar mewah itu."Gus..." Najwa memberanikan diri mendekat. Ia duduk bersimpuh di atas karpet, beberapa langkah di belakang sajadah suaminya. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang sembab. "Apa aku melakukan kesalahan hari ini? Apa sikapku tadi ada yang memalukan keluarga Al-Hidayah di depan para Kyai?"Suara Najwa bergetar hebat. Ia ingin kepastian. Ia lebih suka dimarahi daripada didiamkan seperti benda mati.Gus Azam menghentikan putaran tasbihnya. Ia tidak menoleh, tapi kepalanya sedikit miring ke arah suara Najwa. Namun, bibir itu tetap membisu. Ia hanya menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa lelah yang amat sangat, atau mungkin sebuah permohonan maaf yang tersangkut di tenggorokan. Ia kemudian berdiri, melipat sajadahnya dengan sangat rapi, dan meletakkannya di atas meja kecil.Tanpa berkata apa-apa, Gus Azam berjalan menuju sisi lain ranjang yang sangat luas itu. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga sebatas dada, dan memejamkan mata. Ia tidur memunggungi Najwa, menyisakan ruang yang sangat lebar di antara mereka seolah ada tembok kasat mata yang tak boleh dilewati.Najwa terpaku. Malam pertama yang ia bayangkan akan diisi dengan doa bersama atau obrolan ringan, berakhir dengan punggung yang dingin. Ia merangkak naik ke atas ranjang, berbaring di tepi sisi lainnya, sejauh mungkin. Ia menatap langit-langit kamar hotel, mendengarkan deru AC yang seolah mengejek kesepiannya.Isak tangis Najwa tidak bisa lagi ditahan. Ia membekap mulutnya dengan selimut agar suaranya tidak terdengar keras. Bahunya terguncang hebat. Ia merasa sangat terhina sebagai seorang istri. Di luar sana, sahabat-sahabatnya menganggapnya sangat beruntung. Tapi di sini, ia hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa ia telah menikahi sebuah kebisuan yang mematikan."Ya Allah... kuatkan aku," bisik Najwa di sela tangisnya yang pilu.Di sisi lain ranjang, mata Gus Azam sebenarnya terbuka lebar. Ia mendengar setiap isakan kecil Najwa. Ia mendengar napas istrinya yang tersengal menahan sakit hati. Tangan Gus Azam mengepal di balik selimut. Hatinya bergejolak hebat antara rasa ingin berbalik memeluk istrinya dan ketakutan luar biasa akan pengkhianatan masa lalu yang belum sembuh. Ia tahu ia menyakiti Najwa, tapi lidahnya terasa lumpuh untuk bicara.Maka, Gus Azam memilih untuk tetap diam. Tetap membisu. Membiarkan malam pertama mereka hanya diisi oleh suara tangis Najwa yang hancur dan gemerlap lampu Jakarta yang tiba-tiba terasa sangat suram.Pintu kamar Presidential Suite itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagi Najwa, suara itu terdengar seperti vonis penjara yang baru saja dimulai.Ruangan itu sangat luas, dengan jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Harum bunga mawar dan lili memenuhi udara, berpadu dengan aroma diffuser mewah yang seharusnya membangkitkan suasana romantis. Namun, di tengah kemewahan itu, ada jurang yang sangat lebar antara dua orang yang baru saja sah menjadi suami-istri.Gus Azam masuk lebih dulu. Langkah kakinya yang beralaskan sandal hotel terasa sunyi di atas karpet tebal. Tanpa menoleh, pria itu langsung menuju area walk-in closet. Najwa berdiri mematung di tengah ruangan, meremas jemarinya yang dingin. Ia bisa mendengar suara gemerisik jubah bisht dan jas akad Gus Azam yang dilepaskan di dalam sana.Beberapa menit kemudian, Gus Azam keluar. Ia sudah berganti pakaian dengan sarung batik gelap dan baju koko putih bersih yang dikancingkan hingga ke leher. Wajahnya tampak segar, mungkin baru saja membasuh muka, namun sorot matanya tetap datar. Ia berjalan melewati Najwa begitu saja, menuju sofa panjang di sudut ruangan untuk mengambil tasbihnya.Najwa menelan ludah. Kini gilirannya untuk mengganti pakaiannya. Dengan langkah berat, ia masuk ke dalam ruang ganti yang dipenuhi cermin itu.Tangannya yang masih dihiasi henna putih tampak gemetar saat ia perlahan melepas jarum satu per satu dari hijab syar'i-nya. Butuh waktu lama bagi Najwa untuk membuka kerudung yang menutup dadanya itu.Saat kain sutra itu akhirnya terlepas, rambut cokelat gelap Najwa jatuh terurai di pundaknya. Ia menatap pantulannya di cermin. Ini adalah kedua kalinya Gus Azam akan melihat rambutnya setelah pertemuan pertama di taman pesantren saat Najwa belum memakai hijab. Najwa kemudian mengganti baju pengantinnya yang berat dengan gaun tidur satin berwarna putih tulang. Gaun itu sangat elegan, berlengan panjang, dan menutup hingga mata kaki, namun tetap memberikan kesan seorang istri yang ingin tampil cantik di depan suaminya.Najwa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia keluar dari ruang ganti dengan rambut yang ia biarkan tergerai indah, aromanya harum karena perawatan salon sebelum akad. Ia melangkah ragu menuju tengah ruangan, tempat Gus Azam sedang duduk terdiam.Najwa berdiri hanya beberapa meter dari suaminya. Ia sengaja berdiri di posisi yang memungkinkan Gus Azam melihatnya dengan jelas. Ia ingin tahu, apakah rambutnya yang indah ini yang selama ini menjadi kebanggaannya sebagai wanita kota bisa menarik sedikit saja perhatian pria itu?Namun, harapan itu hancur dalam hitungan detik.Gus Azam mendongak sejenak saat merasakan kehadiran Najwa, tapi matanya langsung dialihkan ke arah lantai. Ia tidak memberikan pujian, tidak ada tatapan kagum, bahkan tidak ada satu pun kata sambutan. Gus Azam justru berdiri, mengambil sajadah tipis milik pesantrennya dari dalam tas kecil, dan membentangkannya di atas lantai marmer yang dingin, mengabaikan empuknya karpet hotel.Deg.Jantung Najwa terasa diremas. Ia berdiri di sana dengan rambut terurai, merasa sangat terbuka dan rentan, tapi suaminya justru memilih untuk menghadap kiblat."Gus..." suara Najwa pecah, nyaris berbisik. "Apa Gus tidak lelah? Acara tadi sangat panjang. Mungkin Gus ingin... minum sebentar? Aku bisa pesankan ke room service kalau Gus lapar."Gus Azam hanya berhenti sejenak saat merapikan posisi sajadahnya. Ia tidak menjawab. Tidak ada kata-kata seperti, "Terima kasih, Najwa, kamu Istirahatlah terlebih dulu." Pria itu justru mengangkat tangannya, memulai shalat malam."Allahu Akbar..."Suara itu sangat lirih, namun bagi Najwa, itu adalah pembatas yang sangat tegas. Gus Azam lebih memilih bicara dengan Tuhannya daripada dengan wanita yang baru saja ia beri mas kawin di depan ribuan orang. Najwa terduduk lesu di tepi ranjang yang berhias mawar. Ia memandangi punggung suaminya yang mulai tenggelam dalam khusyuknya shalat.Satu rakaat, dua rakaat... Gus Azam tidak berhenti. Air mata yang sejak tadi ditahan Najwa akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia merasa sangat nyesek.Bayangan ia akan dipuji, atau setidaknya diajak bicara tentang bagaimana perasaannya hari ini, musnah total. Ia merasa seperti pengganggu di kamar ini.Najwa meraih bantal, memeluknya erat-erat untuk meredam isak tangis yang mulai sesak di dada. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar dari kejauhan. Mahkotanya yang indah malam ini terasa seperti hiasan tak berguna. Gus Azam sama sekali tidak tertarik melihatnya.Hampir satu jam berlalu. Gus Azam akhirnya mengakhiri shalatnya dengan salam. Najwa menghapus air matanya dengan cepat, mencoba tetap terlihat tegar. Ia berharap setelah shalat, Gus Azam akan menoleh, atau setidaknya bertanya mengapa ia belum tidur.Gus Azam berbalik, tapi ia langsung mengambil tasbih kayu dan mulai berdzikir. Ia duduk bersila di atas sajadah, membelakangi Najwa lagi. Suara putaran butiran tasbih yang beradu pelan menjadi satu-satunya melodi di kamar mewah itu."Gus..." Najwa memberanikan diri mendekat. Ia duduk bersimpuh di atas karpet, beberapa langkah di belakang sajadah suaminya. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang sembab. "Apa aku melakukan kesalahan hari ini? Apa sikapku tadi ada yang memalukan keluarga Al-Hidayah di depan para Kyai?"Suara Najwa bergetar hebat. Ia ingin kepastian. Ia lebih suka dimarahi daripada didiamkan seperti benda mati.Gus Azam menghentikan putaran tasbihnya. Ia tidak menoleh, tapi kepalanya sedikit miring ke arah suara Najwa. Namun, bibir itu tetap membisu. Ia hanya menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa lelah yang amat sangat, atau mungkin sebuah permohonan maaf yang tersangkut di tenggorokan. Ia kemudian berdiri, melipat sajadahnya dengan sangat rapi, dan meletakkannya di atas meja kecil.Tanpa berkata apa-apa, Gus Azam berjalan menuju sisi lain ranjang yang sangat luas itu. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga sebatas dada, dan memejamkan mata. Ia tidur memunggungi Najwa, menyisakan ruang yang sangat lebar di antara mereka seolah ada tembok kasat mata yang tak boleh dilewati.Najwa terpaku. Malam pertama yang ia bayangkan akan diisi dengan doa bersama atau obrolan ringan, berakhir dengan punggung yang dingin. Ia merangkak naik ke atas ranjang, berbaring di tepi sisi lainnya, sejauh mungkin. Ia menatap langit-langit kamar hotel, mendengarkan deru AC yang seolah mengejek kesepiannya.Isak tangis Najwa tidak bisa lagi ditahan. Ia membekap mulutnya dengan selimut agar suaranya tidak terdengar keras. Bahunya terguncang hebat. Ia merasa sangat terhina sebagai seorang istri. Di luar sana, sahabat-sahabatnya menganggapnya sangat beruntung. Tapi di sini, ia hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa ia telah menikahi sebuah kebisuan yang mematikan."Ya Allah... kuatkan aku," bisik Najwa di sela tangisnya yang pilu.Di sisi lain ranjang, mata Gus Azam sebenarnya terbuka lebar. Ia mendengar setiap isakan kecil Najwa. Ia mendengar napas istrinya yang tersengal menahan sakit hati. Tangan Gus Azam mengepal di balik selimut. Hatinya bergejolak hebat antara rasa ingin berbalik memeluk istrinya dan ketakutan luar biasa akan pengkhianatan masa lalu yang belum sembuh. Ia tahu ia menyakiti Najwa, tapi lidahnya terasa lumpuh untuk bicara.Maka, Gus Azam memilih untuk tetap diam. Tetap membisu. Membiarkan malam pertama mereka hanya diisi oleh suara tangis Najwa yang hancur dan gemerlap lampu Jakarta yang tiba-tiba terasa sangasangatsangasangattsangasangsangasangatsangasangattsangasangatsangasangatttatsangasangatttt suram.Pintu kamar Presidential Suite itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagi Najwa, suara itu terdengar seperti vonis penjara yang baru saja dimulai. Ruangan itu sangat luas, dengan jendela kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang tak pernah tidur. Harum bunga mawar dan lili memenuhi udara, berpadu dengan aroma diffuser mewah yang seharusnya membangkitkan suasana romantis. Namun, di tengah kemewahan itu, ada jurang yang sangat lebar antara dua orang yang baru saja sah menjadi suami-istri.
Gus Azam masuk lebih dulu. Langkah kakinya yang beralaskan sandal hotel terasa sunyi di atas karpet tebal. Tanpa menoleh, pria itu langsung menuju area walk-in closet. Najwa berdiri mematung di tengah ruangan, meremas jemarinya yang dingin. Ia bisa mendengar suara gemerisik jubah bisht dan jas akad Gus Azam yang dilepaskan di dalam sana.
Beberapa menit kemudian, Gus Azam keluar. Ia sudah berganti pakaian dengan sarung batik gelap dan baju koko putih bersih yang dikancingkan hingga ke leher. Wajahnya tampak segar, mungkin baru saja membasuh muka, namun sorot matanya tetap datar. Ia berjalan melewati Najwa begitu saja, menuju sofa panjang di sudut ruangan untuk mengambil tasbihnya.
Najwa menelan ludah. Kini gilirannya untuk mengganti pakaiannya. Dengan langkah berat, ia masuk ke dalam ruang ganti yang dipenuhi cermin itu. Tangannya yang masih dihiasi henna putih tampak gemetar saat ia perlahan melepas jarum satu per satu dari hijab syar'i-nya. Butuh waktu lama bagi Najwa untuk membuka kerudung yang menutup dadanya itu.
Saat kain sutra itu akhirnya terlepas, rambut cokelat gelap Najwa jatuh terurai di pundaknya. Ia menatap pantulannya di cermin. Ini adalah kedua kalinya Gus Azam akan melihat rambutnya setelah pertemuan pertama di taman pesantren saat Najwa belum memakai hijab. Najwa kemudian mengganti baju pengantinnya yang berat dengan gaun tidur satin berwarna putih tulang. Gaun itu sangat elegan, berlengan panjang, dan menutup hingga mata kaki, namun tetap memberikan kesan seorang istri yang ingin tampil cantik di depan suaminya.
Najwa menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia keluar dari ruang ganti dengan rambut yang ia biarkan tergerai indah, aromanya harum karena perawatan salon sebelum akad. Ia melangkah ragu menuju tengah ruangan, tempat Gus Azam sedang duduk terdiam.
Najwa berdiri hanya beberapa meter dari suaminya. Ia sengaja berdiri di posisi yang memungkinkan Gus Azam melihatnya dengan jelas. Ia ingin tahu, apakah rambutnya yang indah ini yang selama ini menjadi kebanggaannya sebagai wanita kota bisa menarik sedikit saja perhatian pria itu?
Namun, harapan itu hancur dalam hitungan detik.
Gus Azam mendongak sejenak saat merasakan kehadiran Najwa, tapi matanya langsung dialihkan ke arah lantai. Ia tidak memberikan pujian, tidak ada tatapan kagum, bahkan tidak ada satu pun kata sambutan. Gus Azam justru berdiri, mengambil sajadah tipis milik pesantrennya dari dalam tas kecil, dan membentangkannya di atas lantai marmer yang dingin, mengabaikan empuknya karpet hotel.
Deg.
Jantung Najwa terasa diremas. Ia berdiri di sana dengan rambut terurai, merasa sangat terbuka dan rentan, tapi suaminya justru memilih untuk menghadap kiblat.
"Gus..." suara Najwa pecah, nyaris berbisik. "Apa Gus tidak lelah? Acara tadi sangat panjang. Mungkin Gus ingin... minum sebentar? Aku bisa pesankan ke room service kalau Gus lapar."
Gus Azam hanya berhenti sejenak saat merapikan posisi sajadahnya. Ia tidak menjawab. Tidak ada kata-kata seperti, "Terima kasih, Najwa, kamu Istirahatlah terlebih dulu." Pria itu justru mengangkat tangannya, memulai shalat malam.
"Allahu Akbar..."
Suara itu sangat lirih, namun bagi Najwa, itu adalah pembatas yang sangat tegas. Gus Azam lebih memilih bicara dengan Tuhannya daripada dengan wanita yang baru saja ia beri mas kawin di depan ribuan orang. Najwa terduduk lesu di tepi ranjang yang berhias mawar. Ia memandangi punggung suaminya yang mulai tenggelam dalam khusyuknya shalat.
Satu rakaat, dua rakaat... Gus Azam tidak berhenti. Air mata yang sejak tadi ditahan Najwa akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia merasa sangat nyesek. Bayangan ia akan dipuji, atau setidaknya diajak bicara tentang bagaimana perasaannya hari ini, musnah total. Ia merasa seperti pengganggu di kamar ini.
Najwa meraih bantal, memeluknya erat-erat untuk meredam isak tangis yang mulai sesak di dada. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar dari kejauhan. Mahkotanya yang indah malam ini terasa seperti hiasan tak berguna. Gus Azam sama sekali tidak tertarik melihatnya.
Hampir satu jam berlalu. Gus Azam akhirnya mengakhiri shalatnya dengan salam. Najwa menghapus air matanya dengan cepat, mencoba tetap terlihat tegar. Ia berharap setelah shalat, Gus Azam akan menoleh, atau setidaknya bertanya mengapa ia belum tidur.
Gus Azam berbalik, tapi ia langsung mengambil tasbih kayu dan mulai berdzikir. Ia duduk bersila di atas sajadah, membelakangi Najwa lagi. Suara putaran butiran tasbih yang beradu pelan menjadi satu-satunya melodi di kamar mewah itu.
"Gus..." Najwa memberanikan diri mendekat. Ia duduk bersimpuh di atas karpet, beberapa langkah di belakang sajadah suaminya. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya yang sembab. "Apa aku melakukan kesalahan hari ini? Apa sikapku tadi ada yang memalukan keluarga Al-Hidayah di depan para Kyai?"
Suara Najwa bergetar hebat. Ia ingin kepastian. Ia lebih suka dimarahi daripada didiamkan seperti benda mati.
Gus Azam menghentikan putaran tasbihnya. Ia tidak menoleh, tapi kepalanya sedikit miring ke arah suara Najwa. Namun, bibir itu tetap membisu. Ia hanya menghela napas panjang sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa lelah yang amat sangat, atau mungkin sebuah permohonan maaf yang tersangkut di tenggorokan. Ia kemudian berdiri, melipat sajadahnya dengan sangat rapi, dan meletakkannya di atas meja kecil.
Tanpa berkata apa-apa, Gus Azam berjalan menuju sisi lain ranjang yang sangat luas itu. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga sebatas dada, dan memejamkan mata. Ia tidur memunggungi Najwa, menyisakan ruang yang sangat lebar di antara mereka seolah ada tembok kasat mata yang tak boleh dilewati.
Najwa terpaku. Malam pertama yang ia bayangkan akan diisi dengan doa bersama atau obrolan ringan, berakhir dengan punggung yang dingin. Ia merangkak naik ke atas ranjang, berbaring di tepi sisi lainnya, sejauh mungkin. Ia menatap langit-langit kamar hotel, mendengarkan deru AC yang seolah mengejek kesepiannya.
Isak tangis Najwa tidak bisa lagi ditahan. Ia membekap mulutnya dengan selimut agar suaranya tidak terdengar keras. Bahunya terguncang hebat. Ia merasa sangat terhina sebagai seorang istri. Di luar sana, sahabat-sahabatnya menganggapnya sangat beruntung. Tapi di sini, ia hanyalah seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa ia telah menikahi sebuah kebisuan yang mematikan.
"Ya Allah... kuatkan aku," bisik Najwa di sela tangisnya yang pilu.
Di sisi lain ranjang, mata Gus Azam sebenarnya terbuka lebar. Ia mendengar setiap isakan kecil Najwa. Ia mendengar napas istrinya yang tersengal menahan sakit hati. Tangan Gus Azam mengepal di balik selimut. Hatinya bergejolak hebat antara rasa ingin berbalik memeluk istrinya dan ketakutan luar biasa akan pengkhianatan masa lalu yang belum sembuh. Ia tahu ia menyakiti Najwa, tapi lidahnya terasa lumpuh untuk bicara.
Maka, Gus Azam memilih untuk tetap diam. Tetap membisu. Membiarkan malam pertama mereka hanya diisi oleh suara tangis Najwa yang hancur dan gemerlap lampu Jakarta yang tiba-tiba terasa sangat suram.