Pagi berikutnya, Gibran mucul di kantor pagi-pagi sekali. Semua karyawan terkejut, pasalnya, pria itu baru saja melangsungkan pernikahan kemarin. Bukankah terlalu cepat untuknya masuk kerja. Tidak kah ia ingin pergi bulan madu.
Satu-satunya yang tidak menampakkan keterkejutannya adalah Jim. Pria itu tahu betul apa yang terjadi.
Tadi malam, tepat ketika ia sampai di rumahnya, Gibran menelepon.
“Belikan pembalut!”
“Apa?”
Jim bukan tidak tahu benda itu. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Gibran, baru pertama kalinya ia medapati permintaan yang aneh seperti itu. Namun pada detik berikutnya, ia baru sadar kalau Gibran baru saja melangsungkan pernikahan. Pembalut itu … untuk istrinya ‘kan? Jadi … semalam … sudah dipastikan tidak terjadi apa yang seharusnya terjadi. Walaupun Jim belum menikah, tapi ia jelas tahu lebih baik dari bosnya itu.
Dan tentang pembalut itu … Jim tidak tahu harus membeli jenis yang mana. Ada puluhan jenis di minimarket.
“Beli saja semuanya. Biarkan Arini memilihnya sendiri nanti.”
Akhirnya, Jim datang ke hotel dengan kantong belanjaan besar di tangannya. Orang yang tidak tahu akan mengira kalau Jim adalah sales pembalut yang akan menawarkan barang jualannya. Ia membawa banyak pembalut dengan berbagai merek. Apalagi yang lebih memalukan daripada itu semua. Bosnya sungguh senang menyiksanya bahkan di hari bahagianya.
Akan tetapi, mengingat malam berdarah bosnya, Jim menyunggingkan sedikit senyuman jahat. Bukankah periode menstruasi wanita berkisar sekitar satu minggu? Itu artinya … selama satu minggu ke depan, bosnya itu tidak bisa melakukan apa-apa pada istrinya. Memikirkannya, Jim merasa membawa kantong belanjaan berisi aneka pembalut ke hotel tidak terlalu memalukan lagi.
Mungkin karena senyum jahat Jim terlalu kentara, Gibran melihatnya. Ia melempar lembaran kertas di atas meja, dan jatuh tepat di dada Jim. Pria itu gegas mengangkat kepalanya, hanya untuk melihat wajah dingin Gibran. Ini … sungguh tidak enak dipandang. Apakah ia akan menerima getahnya gara-gara bosnya gagal di malam pernikahannya?
“Jangan terlalu banyak berpikir! Sepertinya kamu terlalu santai akhir-akhir ini,” ucap Gibran seraya menyipitkan kedua matanya.
“Ah … itu tidak benar, Pak,” sangkal Jim.
“Apa yang kamu pikirkan tercetak jelas di dahimu. Kenapa repot-repot menyangkalnya?” desis Gibran.
Tanpa sadar, tangan Jim terulur untuk mengusap dahinya. Bosnya itu … sedang bercanda ‘kan?
“Bagaimana dengan orang yang dipukuli pria itu. Apa sudah dibawa ke rumah sakit?” tanya Gibran.
“Saya sudah memerintahkannya. Tapi dia menolak. Dia mengatakan itu hanya luka kecil, cukup dikompres dan diberi salep,” jawab Jim.
“Kalau begitu, berikan tambahan uang padanya sebagai bentuk kompensasi,” titah Gibran.
“Baik,” jawab Jim.
Gibran sepertinya sudah selesai dengan perintahnya, tapi Jim masih belum pergi. Hingga ia bertanya, “ada apa lagi?”
“Baru-baru ini ada kabar anak yang meninggal setelah mengalami gagal ginjal akut. Pihak lain mengklaim itu disebabkan oleh obat batuk sirup. Setelah berita itu keluar, banyak masyarakat yang mengadukan hal serupa. Sampai hari kemarin, tercatat lebih dari dua puluh kasus.” Jim berkata dengan hati-hati.
“Apakah sudah diselidiki, obat batuk sirup itu berasal dari perusahaan kita atau bukan?” tanya Gibran. Pasalnya, obat batuk sirup adalah salah satu produk best selling di HAWI Farma.
“Pemerintah masih melakukan investigasi. Tapi … berita ini menimbulkan kekhawatiran publik. Banyak netizen di sosial media menyatakan larangan untuk menggunakan obat batuk sirup. Saya pikir, hal ini akan mengganggu penjualan kita.”
Gibran terdiam. Ia tahu betul akibat dari kasus ini akan seperti apa. Saat ini, gejolak influencer sangat kuat. Banyak selebgram atau tiktoker yang mampu menjual ataupun menghentikan bisnis orang lain hanya dengan konten mereka. Orang-orang awam yang menontonnya hanya bisa percaya. Kebanyakan tidak akan repot-repot untuk menyelidiki ulang bahan dan kandungan di dalam obat. Walaupun nantinya hasil penyelidikan keluar, keraguan di hati masyarakat akan selalu ada. Memikirkannya, Gibran memijat ruang di antara alisnya.
Selama bertahun-tahun sejak berdirinya, HAWI Farma selalu jujur dalam berbisnis. Mereka mempunyai tim ahli yang kompeten. Setiap bahan dan kandungan dilaporkan secara jujur kepada pihak BPOM. Tapi karena beberapa orang berbisnis secara curang, perusahan mereka mau tidak mau menerima akibatnya juga.
“Bagaimana di luar negeri, apa ada kasus serupa?” tanya Gibran. Jika kasus yang terjadi di dalam negeri adalah karena obatnya, itu berarti obat yang ia ekspor ke luar negeri kemungkinan akan mengalami masalah serupa. Jika tidak, maka perusahaannya akan aman.
“Sejauh ini, kasus serupa dilaporkan terjadi di Gambia dan Uzbekistan. Ratusan anak dinyatakan meninggal,” jawab Jim.
“Kita tidak mengekspor obat ke sana ‘kan?” tanya Gibran.
“Tidak, Pak,” jawab Jim.
“Baik, saya mengerti. Kamu atur pertemuan dengan dewan direksi setelah jam makan siang nanti,” titah Gibran.
“Baik, Pak,” jawab Jim seraya berlalu.
Di sisi lain, Harun juga tengah membaca berita yang sama dengan apa yang Jim laporkan pada Gibran. Ia tengah ada di rumah kini, dengan tablet di tangan, dan kopi di meja, Harun tampak santai. Akhir-akhir ini ia jarang ke kantor. Semua pekerjaannya sudah diserahkan kepada Gibran. Ia ingin pensiun sambil menunggu kehadiran cucu.
“Ada apa, Pa?” Winda mendekat dan duduk di samping Harun. Pandangannya fokus pada apa yang tengah dibaca suaminya.
“Kasus ini akan membesar. Papa yakin, akan ada sedikit gejolak di perusahaan. Mungkin ada juga beberapa tekanan dari para pemegang saham,” jawab Harun tanpa menoleh.
“Masalah sebesar itu, kenapa Papa terlihat senang?” tanya Winda bingung.
“Papa hanya berpikir, bisakah Gibran menyelesaikannya. Jika dia bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan baik, Papa akan secara resmi mundur dari perusahaan. Kasus ini akan membuktikan, apakah dia layak atau tidak.” Kali ini, Harun menoleh ke arah Winda.
Dulu, sebelum papanya menyerahkan perusahaan sepenuhnya ke tangannya, ia juga menerima ‘tantangan’ tidak tertulis. Saat itu, banyak bencana terjadi. Termasuk tsunami besar yang memporakporandakan provinsi terbarat di negaranya. Perusahaan mengirim sejumlah bantuan ke lokasi bencana. Ia juga pergi secara pribadi, dan membentuk tim sukarelawan. Walaupun bukan seorang dokter, ia membawa tim ahli saat pergi.
Saat itu Harun hanya sekedar ingin melaksanakan tugas dari sang papa. Namun ia tidak menyangka, melihat banyaknya korban, hatinya tersentuh. Jiwa kemanusiaannya bergerak. Ternyata itulah tujuan sang papa. Dengan melihat langsung kematian, ia akan lebih menghargai kehidupan. Sehingga, muncul tekad dalam dirinya untuk membuat obat terbaik yang bisa menyelamatkan banyak nyawa. Bisnis ini … bukan hanya tentang uang. Tapi kepuasan setelah menyelamatkan nyawa, itulah bagian terbaiknya.
Harun terlalu fokus mengenang masa lalu. Ia tidak sadar, wajah Winda sudah berubah suram.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Harun kemudian.