Romansa #Romance

Bab 47

28 January 2026

Winda tersenyum. “Itu bagus,” jawabnya, “hanya saja … setelah papa, di keluarga kita tidak ada lagi anak yang menjadi dokter. Aku berpikir akan memasukkan Gio ke jurusan kedokteran. Itu akan meneruskan silsilah keluarga kita,” lanjutnya.

Mertuanya hanya mempunyai satu putra, yaitu suaminya. Alih-alih menjadi dokter, Harun malah memilih jurusan bisnis. Lalu setelah itu, Gibran juga mengambil jurusan bisnis. Dan Gio … Winda pikir, akan sangat bagus bagi Gio untuk menjadi seorang dokter. Bukankah perusahaan farmasi akan lebih baik dipimpin oleh seorang yang ahli dibidang kedokteran. Setidaknya, itulah yang Winda pikirkan.

“Apa kamu sudah membicarakannya dengan Gio?” tanya Harun. “Papa pikir, Gio tidak terlalu ingin menjadi dokter.”

Sejauh yang Harun amati, anak bungsunya ini memiliki tempramen bebas dan suka main-main. Selain itu, nilai akademiknya juga bisa dibilang kurang bagus. Gio baik dalam olahraga, jadi ia ragu, apakah Gio bisa masuk fakultas kedokteran.

“Pa, mungkin akan sulit pada awalnya. Tapi, sebagai orang tua, bukankah kita mempunyai kewajiban untuk mengarahkan masa depan anak-anak.” Winda mencoba membujuk.

Harun menatap istrinya dengan tatapan rumit. Ia ingat betul, saat Gibran lulus sekolah menengah atas, Winda berkata agar membiarkan anak-anak memilih masa depannya sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Karena, pilihan yang dibuat sendiri, akan membuat anak menjadi bertanggungjawab. Sebagai orang tua, mereka hanya perlu mendukung dengan fasilitas dan materil. Winda bahkan tak segan-segan mengirim Gibran ke luar negeri untuk belajar. Saat itu ia mengatakan, sebagai anak sulung, Gibran lebih baik belajar mandiri sejak awal.

Tapi, mengapa saat ini Winda mengatakan hal berbeda.

Winda agaknya menyadari keraguan di mata sang suami. Ia menambahkan, “Pa, ini hanyalah ide Mama. Kalaupun nantinya Gio tidak setuju, Mama tidak akan memaksa. Mama hanya sedikit khawatir karena Gio masih suka bermain-main. Sifatnya sama sekali tidak sama dengan anak sulung kita.”

Mendengar Winda menyebut Gibran sebagai anak sulung mereka, hati Harun menghangat. Apa yang baru saja ia pikirkan. Istrinya tidak pernah membedakan antara Gibran dan Gio. Ia selalu memperlakukan mereka dengan sama.

Karena tidak ingin membahas hal yang sama, Winda mengalihkan pembicaraan, “oh iya, Pa. Bagaimana dengan menantu kita? Kapan dia akan ke sini? Apa Gibran tidak mengatakan sesuatu?”

“Mungkin mereka masih butuh privasi,” jawab Harun.

Winda mengembuskan napas berat, seolah menyesal. “Bukan apa-apa, Pa. Bertahun-tahun, tidak pernah ada anak perempuan di rumah kita. Mama hanya akan sangat senang kalau Arini ada di sini. Kami bisa mempelajari resep bersama-sama. Atau mungkin belanja bersama.”

Harun tertawa mendengarnya. “Kamu bicaralah dengan Gibran. Tanyakan padanya, kapan mereka akan pindah ke rumah kita.”

“Hemmm … sebenarnya aku mempunyai ide yang lebih baik. Untuk menambah keakraban antara mertua dan menantu, bagaimana kalau aku langsung menghubungi Arini saja?” Winda hanya berpikir, sebagai anggota baru di dalam keluarga, Arini tidak mungkin menolak permintaan mertuanya bukan?

“Terserah kamu saja,” jawab Harun pada akhirnya.

Arini yang sedang mertuanya bicarakan sedang ada di apartemen Gibran. Tadi pagi, Gibran mengantarkannya kembali ke apartemen. Setelah itu, sang suami pergi ke kantor. Arini bosan, tapi ia masih cuti. Jadi, ia hanya diam di kamar sambil mengingat-ingat kejadian tadi malam.

Seharusnya, itu adalah malam pernikahan mereka. Siapa sangka, ia malah datang bulan. Beruntung mereka belum memulainya. Kalau tidak, ia akan sangat merasa tidak nyaman terhadap Gibran.

Gibran? Apakah suaminya itu akan pulang ke apartemen atau ke rumahnya? Arini tidak tahu. Hubungan mereka belum sampai ke sana. Namun, ia masih tetap harus bertanya bukan?

Arini mengambil ponselnya, hendak menghubungi Gibran saat tiba-tiba ada panggilan masuk. Nomornya tidak dikenal. Jadi, Arini tidak langsung mengangkatnya. Barulah setelah beberapa detik berlalu, Arini mengangkatnya.

“Halo,” sapanya.

“Arini, ini Mama,” ucap seseorang di seberang sana.

Mama? Arini termenung sejenak. Ia memanggil ibunya dengan panggilan ‘ibu’. Lalu, darimana datangnya ‘mama’ ini? Mungkinkah orang iseng? Atau orang salah sambung? Tapi jelas wanita di seberang sana memanggilnya ‘Arini’. Oh … mungkin ini adalah penipu yang pura-pura sebagai anggota keluarga, lalu ujung-ujungnya minta transferan. Ia sering melihat beritanya di televisi.

“Mama, apa Mama mendapatkan sinyal dari alam sana?” tanya Arini, “aku sangat merindukan Mama. Apa Mama mendapatkan perlakuan yang baik dari malaikat?”

“Apa yang kamu bicarakan. Mama bicara dari rumah, bukan dari alam baka.” Wanita di seberang sana terdengar marah dan juga bingung. Menantunya ini sungguh bodoh.

“Ya … ya … aku tahu, Ma. Mama tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku di sini baik-baik saja. Mama yang tenang di sana ya. Nanti, begitu aku ada waktu, aku akan mengunjungi makam Mama dan menaburkan bunga di atasnya.”

Winda menarik ponselnya. Ucapan terakhir Arini membuatnya naik pitam. Apakah menantunya ini mengutuknya untuk segera mati. Ia ingin mengatakan hal lain, tapi Arini segera menyela.

“Sudah dulu ya, Ma. Aku ada urusan penting dulu.”

Setelah mengatakannya, Arini gegas menutup panggilan itu. Kemudian ia bahkan memblokir nomor asing itu. “Hah! Dasar penipu bodoh! Kamu pikir, aku akan terjerat begitu? Tidak akan!” Ia kemudian tertawa setelahnya. Membayangkan wajah kesal si penipu, ia tertawa lagi.

Winda memandangi ponsel di tangannya. Hatinya bergemuruh. Sungguh sial mendapatkan Arini sebagai menantu. Wanita itu memang bermulut racun dan berotak dangkal. Bisa-bisanya memutuskan panggilan secara sepihak dengan mertuanya. Bahkan saat ia mencoba menghubunginya lagi, nomornya sudah diblokir.

Arini masih tertawa setelah beberapa detik lamanya. Sampai kemudian, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Kali ini, pesan itu datang dari Gibran.

[Kamu sudah makan siang?] tanya Gibran.

Kebetulan sekali. Sebelumnya Arini akan bertanya, apa Gibran akan pulang ke apartemen atau ke rumahnya nanti sore.

[Belum] balas Arini.

[Apa kamu merasa bosan? Kamu bisa berjalan-jalan atau membeli beberapa bahan masakan di supermarket]

[Apa kamu akan pulang?]

[Ya]

[Kalau begitu, aku akan membeli beberapa bahan makanan di supermarket. Aku akan memasak makan malam]

[Aku akan sampai jam tujuh]

[Baik]

Tangan Arini membeku sesaat. Ia bingung, balasan apa yang harus ia berikan. Dan setelah berpikir cukup lama. Arini akhirnya sudah memutuskan akan mengirimkan apa.

[Menu apa yang kamu inginkan untuk makan malam?] Arini kembali bertanya.

[Aku tidak pilih-pilih makanan. Tapi aku kurang suka pedas dan makanan yang terlalu manis]

[Aku mengerti]

Tidak ada balasan lagi dari Gibran. Status ponselnya juga sudah berubah dari online menjadi terakhir dilihat. Arini gegas bersiap pergi ke supermarket. Tidak lupa, ia membawa kartu yang ditinggalkan Gibran tadi pagi. Saat itu Gibran mengatakan Arini bisa menggunakan kartu itu untuk membeli keperluan rumah. Arini tidak tahu apa yang harus dibelinya. Namun sekarang, Gibran sudah memberikannya ide.