Arini gegas bersiap pergi ke supermarket. Tidak lupa, ia membawa kartu yang ditinggalkan Gibran tadi pagi. Saat itu Gibran mengatakan Arini bisa menggunakan kartu itu untuk membeli keperluan rumah. Arini tidak tahu apa yang harus dibelinya. Namun sekarang, Gibran sudah memberikannya ide.
Arini memandangi kartu berwarna hitam di tangannya. Ia sedikit menyesal. Sebenarnya, Arini lebih suka uang cash. Itu lebih memudahkannya kala ingin jajan jajanan di pinggir jalan. Sayang sekali pedagang kaki lima tidak menerima pembayaran dengan kartu.
Ah … kenapa aku mendadak bodoh. Aku punya uang sendiri ‘kan, batin Arini. Ia masih bekerja, dan punya penghasilan sendiri. Juga … karena kini tidak ada tanggungan apa-apa, ia bisa membelikannya untuk hal-hal yang sebelumnya ia tahan untuk tidak membelinya.
Memikirkannya, mau tidak mau Arini teringat akan ibunya dan juga Azril. Arini sudah terbiasa memberikan sebagian besar gajinya kepada ibunya. Jadi sekarang ia tidak tahu, bagaimana cara membelanjakan uangnya, sementara untuk keperluan rumah, ia memakai uang Gibran.
Arini berpikir sejenak. Ya! Ia harus menabung. Entah sampai kapan pernikahan itu berlangsung. Kalau kehamilannya lancar, setidaknya mereka akan bersama selama satu tahun. Setelah itu, ia harus mempunyai cukup tabungan untuk hidupnya. Mungkin ia akan membuka bisnisnya sendiri.
Arini tersenyum miris kala pemikiran itu datang dengan sendirinya. Ia kemudian mengangkat tangannya. Ada cincin pernikahan di jari manisnya. Ia kini sudah menjadi istri dari Gibran. Istri sementara.
Matahari sudah mencapai puncaknya kala Arini keluar dari apartemen. Seperti biasa, ia akan diantar sopir yang setia menunggunya di bawah. Ia bahkan tidak tahu sopirnya itu tinggal di mana, dan apakah ia tidur atau tidak. Pasalnya setiap ia akan pergi, pria itu ada di sana.
“Pak, Bapak tinggal di mana?” tanya Arini.
“Tuan muda menyewakan kontrakan untuk saya di belakang apartemen, Nyonya. Itu juga akan memudahkan Nyonya muda kalau-kalau mau pergi setiap waktu,” jawab sopir tersebut.
Arini berdehem. Panggilan ‘Nyonya muda’ terlalu baru baginya. Ia tidak terbiasa.
“Memang sebelumnya Bapak tinggal di mana?” tanya Arini lagi. Ia baru pindah ke apartemen Gibran kurang dari satu bulan. Jadi, mungkin sopir itu juga tinggal di kontrakan kurang lebih memiliki kurun waktu yang sama dengannya.
“Sebelumnya saya tinggal di rumah utama, bersama para asisten rumah tangga yang lainnya. Ada paviliun di belakang rumah Tuan besar. Kami semua tinggal di sana.” Sang sopir menjelaskan.
Ada rasa bersalah muncul di benak Arini. Paviliun yang sang sopir ceritakan pasti lebih nyaman daripada kontrakan. Tapi sopir itu rela pindah hanya untuk melayaninya. Arini kemudian bertanya, “Bapak lebih suka tinggal di kontrakan atau di paviliun?”
“Sama saja, Nyonya. Saya ‘kan di sini bekerja, harus siap dengan segala keadaan. Lagipula, saya mendapatkan majikan yang sangat baik, dan saya sangat merasa beruntung. Kehidupan keluarga saya di desa menjadi lebih baik berkat Tuan. Hanya saja bedanya, kalau tinggal di rumah besar, saya tidak perlu memikirkan pengeluaran harian lagi. Makanan untuk kami sudah disediakan. Sedangkan di kontrakan, saya harus membelinya sendiri. Tapi jangan salah paham, Nyonya. Saya tidak mengeluhkan apa-apa. Lagipula, Tuan muda juga memberikan uang tambahan untuk biaya makan saya.”
“Ah … seperti itu …,” gumam Arini.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di supermarket. Arini turun di depan pintu utama, sementara sang sopir mengendarai mobilnya menuju ke tempat parkir.
Pertama-tama, Arini membawa troli dan masuk ke area supermarket. Hal pertama yang dicarinya adalah bahan makanan segar.
Banyak bahan yang Arini beli. Ia pikir, lebih baik membeli untuk stok beberapa hari ke depan. Ada lemari es di apartemen. Ia bisa menyimpannya di sana.
Daging, ayam, telur, ikan, aneka seafood dan beberapa macam sayuran sudah masuk ke dalam troli. Arini juga membeli bumbu masak. Ia cukup mahir memasak masakan rumahan. Selain itu, Arini juga membeli pasta, daging kalengan, dan aneka saus untuk mengantisipasi jika Gibran tidak begitu menyukai masakan rumahanan. Mereka belum akrab. Arini tidak tahu selera Gibran. Terakhir, Arini juga membeli peralatan mandi. Sedangkan untuk Gibran … ia tidak tahu biasanya Gibran memakai merek apa. Jadi ia melewatkannya.
Setelah merasa semuanya lengkap, Arini bejalan ke kasir. Ia memindai beberapa kasir, dan memilih antrian yang paling pendek. Namun, saat ia mendorong trolinya, seorang wanita tiba-tiba muncul entah dari mana dan memotong antrian. Arini kesal, tapi lebih memilih untuk mengabaikannya. Tapi wanita di depannya agaknya tidak melepaskannya begitu saja.
“Ada orang-orang tertentu yang mengira dirinya angsa, padahal sebenarnya tidak lebih dari seekor itik. Huh! Rakyat jelata yang kaget dengan uang yang tiba-tiba jatuh dari langit pasti akan kalap untuk membelanjakan uangnya.”
Arini awalnya tidak ingin ikut campur dengan kesusahan hati yang dialami wanita di depannya. Namun, ketika menyadari kalau wanita itu menatap ke arahnya, mau tidak mau ia mengangkat kepalanya. Wajah itu tidak asing baginya. Ia adalah Yesi–mantan tunangan suaminya.
“Apa masalahmu?” tanya Arini dingin.
Yesi pura-pura tertawa sambil menutup mulutnya. “Lihat! Sehari menjadi istri Gibran, kamu berani menampakkan taringmu!”
Arini menatap sepasang mata jahat itu. Yesi selalu melayangkan permusuhan padanya. Padahal, putusnya hubungannya dan Gibran tidak ada hubungannya dengannya. Lagipula Gibran berkata kalau mereka tidak pernah benar-benar bertunangan. Itu hanya hubungan dengan perjanjian. Seperti hubungan Gibran dengannya. Tapi sepertinya, Yesi begitu terobsesi dengan Gibran pada akhirnya.
“Kamu pikir kamu sudah berhasil hah? Asal kamu tahu, menantu yang direstui keluarga Gibran hanya aku! Oke, kami memang sedikit memiliki kesalahpahaman. Tapi apakah orang pacaran gak pernah salah paham? Kamu itu hanya pelampiasan Gibran! Cadangan! Menikahimu hanya untuk membuatku cemburu. Sebentar lagi kamu akan dibuang! Ingat jangan meratap kalau saatnya tiba!” Yesi masih memprovokasi walaupun Arini diam.
Arini tidak mau memikirkannya. Hubungan dibalik pernikahan dirinya dan Gibran, ia tahu betul. Ia juga sudah menyiapkan diri untuk meninggalkan Gibran ketika saatnya tiba. Tidak perlu orang lain mengingatkannya. Tapi tentu saja ia tidak mau repot-repot menjelaskannya kepada wanita di depannya itu.
“Kamu gak percaya?” Yesi agaknya mulai tidak sabar karena ekspresi Arini tidak sesuai dengan ekspektasinya.
“Sudah,” ucap Arini ringan.
“Hah?” Yesi tidak mengerti.
“Pelanggan di depanmu sudah selesai. Kamu bisa segera membayar belanjaanmu. Jangan menunda pekerjaan orang lain.” Arini menunjuk ke arah kasir dengan dagunya.
Yesi menoleh, hanya untuk melihat wajah kasir yang tampak kesal. Ia menghentakkan kaki, kemudian mendekat ke arah kasir. Tidak lupa ia juga memarahi kasir itu. “Ada apa dengan wajahmu? Kamu lupa senyum, salam, sapa yang menjadi kewajiban seorang kasir? Mau aku panggilkan manajer untuk menegurmu?”