Romansa #Romance

Bab 49

28 January 2026

Kasir itu tercengang. Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun menjalani profesinya, ia sudah banyak menemukan pelanggan yang begitu unik. Dan tipe pelanggan di depannya seharusnya berada di daftar teratas pelanggan yang wajib diwaspadai. Tapi tetap saja, ketika berhadapan langsung, ia masih sedikit gugup.

“Apa yang kamu lakukan dengan terus menatapku? Kamu tidak menginginkan matamu lagi?” bentak Yesi.

“Maafkan saya, Kak. Silakan sebelah sini.” Kasir itu sedikit membungkuk, memberi penghormatan kepada Yesi. Tidak lupa ia juga memberikan senyuman formal kepadanya.

Yesi tidak banyak membeli barang. Hanya beberapa item yang keseluruhannya adalah makanan ringan dan minuman dingin. Totalnya tidak lebih dari tiga ratus ribu.

Saat kasir menyebutkan totalnya, Yesi merogoh tasnya. Namun ia tidak bisa menemukan apa yang dicarinya. Dompetnya hilang.

“Dompetku hilang! Pasti ada pencuri di sini!” teriak Yesi.

Wajah sang kasir menjadi suram. Ia ingin pelanggan itu segera pergi. Tapi tampaknya, urusan mereka akan menjadi lebih panjang lagi.

“Cepat panggil keamanan! Pencuri itu harus ditangkap segera, sebelum pergi terlalu jauh!” bentak Yesi kepada sang kasir.

Teriakan itu mengundang perhatian dari para pengunjung lainnya. Mereka segera mengecek tas masing-masing untuk melihat dompet. Beruntung, tidak ada laporan kehilangan lainnya selain Yesi.

Segera, seorang satpam datang menghampiri, dan menanyakan apa yang terjadi.

“Dompetku hilang! Pencurinya pasti ada di sini! Segera temukan!” teriak Yesi.

“Apa Ibu ingat, di mana terakhir kali Ibu melihat dompet Ibu?” tanya satpam.

“Kamu panggil aku apa? Ibu? Apa di matamu aku terlihat seperti ibu-ibu?” Alih-alih fokus pada pertanyaannya, Yesi malah fokus pada panggilannya.

Sang satpam tercengang. Diam-diam ia melirik kasir yang bertugas di sampingnya. Sial! Kenapa disaat ia bertugas malah harus bertemu dengan pelanggan unik semacam ini? Namun begitu, ia masih harus profesional. Ia menanyakan hal serupa dengan sapaan yang berbeda.

“Maafkan saya. Apa Mbak ingat, di mana terakhir kali Mbak melihat dompet Mbak?”

Alih-alih senang, Yesi tampak naik pitam. “Apa kamu pikir aku ini mbak-mbak?”

Tidak hanya satpam itu yang terkejut, namun juga beberapa pelanggan di sekitar. Teriakannya sungguh nyaring hingga mengusik pendengaran banyak orang.

Tidak ingin melihat lelucon lebih banyak lagi, Arini hendak menggeser trolinya ke kasir lain. Namun gerakan kecilnya tertangkap mata Yesi. Ia melotot dan mengangkat jari telunjuknya ke arah Arini. “Mau ke mana kamu?” tanyanya.

“Aku sedikit buru-buru,” jawab Arini seraya melirik satpam dan kasir yang menoleh ke arahnya.

“Ah! Aku tahu! Kamu pencurinya ‘kan? Satpam! Geledah dia!” teriak Yesi.

Arini memejamkan mata. Ia sudah hampir tiba pada batas kesabarannya.

Satpam yang baru saja diperintahkan masih bergeming. Tentu saja ia tidak mau melakukan hal impulsif seperti itu. Menuduh pelanggan lain tanpa bukti … itu akan menghancurkan kariernya. Bagaimana kalau pelanggan itu tidak senang dan menuntutnya.

“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tuli?” teriak Yesi. “Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melakukannya!”

Yesi baru akan menarik tas Arini, tapi sang pemilik tas langsung melindunginya di belakang. Ia menatap Yesi dengan keengganan yang sangat nyata. “Atas dasar apa kamu menuduhku sebagai pencuri? Apa kamu punya bukti?”

“Buktinya akan segera kita temukan di dalam tasmu. Kenapa? Kamu gak berani?”

“Kompensasi apa yang akan aku terima kalau seandainya dompet itu tidak ditemukan?”

“Aku akan minta maaf!”

Arini mendengus. Ia sungguh kesal dengan orang seperti Yesi. Seumur hidup, Arini jarang kehilangan kesabaran. Bertahun-tahun hidup dengan ibu yang ia anggap ibu kandungnya, mendapatkan perlakukan yang tidak adil, tapi Arini masih sabar. Tapi entah mengapa, satu hari menghadapi Yesi, ia sudah kehilangan kesabarannya.

Ah … Arini ingat. Ia sedang menstruasi kini. Sejak dulu, emosinya selalu tidak bagus setiap kali ia mendapatkan tamu bulanannya. Yesi sungguh tidak beruntung karena mencari masalah ketika Arini sedang berada dalam mood yang buruk.

“Kenapa kamu diam saja? Kamu takut?” tanya Yesi.

Arini melangkah ke meja kasir, kemudian menghamburkan isi tasnya di sana. Dompet, ponsel, kartu akses apartemen, lip balm, dan hand cream. Ia kemudian menoleh ke arah Yesi. “Silakan meminta maaf sekarang juga, karena aku sedang buru-buru. Suamiku sebentar lagi pulang, aku harus memasak untuknya.”

Mendengar kata ‘suami’, jantung Yesi berdebar. Ia tidak suka Arini menyebut Gibran sebagai suami, walaupun itu adalah sebuah fakta.

“Aku menunggu,” ucap Arini.

“Si-siapa yang tahu kamu telah membuang dompetku, dan mengambil uangnya!” Yesi masih mengelak.

“Kalau begitu, berapa jumlah uang di dalam dompetmu?” tanya Arini.

“I-Itu … mana aku ingat! Aku punya banyak uang!” jawab Yesi. Ia sudah tidak bisa mengontrol kata-katanya sendiri. Di tambah dengan tatapan dari banyak pengunjung, ia mulai merasa tertekan.

Arini mendesah. Ia sudah tidak ingin terlibat dengan kekacauan itu lagi. Jadi ia berkata, “segera minta maaf, dan aku tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi.”

“Dompet itu gak ada di dalam tasmu bukan berarti kamu bebas dari tuduhan. Kamu tepat di belakangku saat mengantri di kasir. Hanya kamu yang bisa mencurinya! Oh … aku tahu. Kamu pasti menyembunyikan dompet itu di dalam bajumu ‘kan? Satpam, cepat geledah bajunya!” Yesi masih bersikeras.

Satpam itu ketakutan. Saat Arini melemparkan isi tasnya, ia bisa melihat kartu akses sebuah apartemen. Ia sangat familiar dengan benda itu. Temannya sesama satpam ada yang bertugas di sana. Apartemen itu adalah apartemen mewah dengan keamanan tinggi. Hanya orang-orang kaya yang bisa membeli unit di sana. Dan melihat pengunjung di depannya memiliki itu … mau tidak mau ia menjadi khawatir, takut menyinggung seseorang.

Akan tetapi, saat ia kembali melirik Yesi, rasa takutnya bertambah. Jelas pengunjung yang tengah marah itu juga bukan orang yang mudah dihadapi. Ia merasa dilema, dan ingin mengundurkan diri segera.

“Ada apa ini?” Sebuah suara membuat semua orang menoleh. Manajer toko datang. Kasir dan satpam yang dilema menjadi sumringah. Penyelamatnya datang.

Satpam maju dan menceritakan apa yang terjadi.

“Ibu silakan ikut saya ke ruang pemantauan,” ucap manajer toko.

Kali ini Yesi tidak menolak dipanggil ‘ibu’. Ia juga bersikap kooperatif untuk ikut.

Arini yang menjadi tersangka ikut di belakang setelah membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

Di ruang pemantauan, CCTV diputar. Di mulai dari masuknya Yesi, hingga berakhir di kasir. Tidak ada interaksi dengan orang lain. Ia hanya berkeliling sebentar, mengambil beberapa barang, lalu menyerobot antrian di kasir.

CCTV juga menunjukkan perbincangan tidak bersahabat dengan Arini. Namun, dalam jarak seperti itu, sulit untuk Arini mengambil dompet Yesi. Kemungkinannya nol persen. Jadi, bisa disimpulkan, dompet Yesi sudah tidak berada di tempatnya sebelum ia memasuki supermarket.