“Apa sebelum pergi ke supermarket Ibu sempat mengunjungi tempat lain?” tanya manajer toko.
Yesi terdiam. Ia tidak ingin mengatakan kalau ia bahkan tidak berniat pergi ke supermarket. Jalanan macet hari ini. Saat melewati supermarket, tanpa sengaja ia melihat Arini yang baru turun dari mobil. Ia hanya ingin datang untuk mempermalukan Arini. Ia tidak tahu dompetnya berada di mana.
“Saya tidak mengunjungi tempat lain,” jawab Yesi setelah cukup lama.
“Apa ibu ke sini naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi?” tanya manajer toko lagi.
Sebenarnya itu bukan urusannya. Selama CCTV membuktikan tidak adanya pencurian seperti yang dituduhkan di supermarket tersebut, manajer toko sudah merasa puas. Tapi orang di depannya jelas terlihat ingin membuat keributan. Jadi ia harus bertindak. Atau akan ada pelanggan lain yang tidak merasa nyaman berbelanja di sana.
“Sudahlah. Karena dompetku tidak dicuri di sini, pasti telah hilang di suatu tempat. Tidak masalah kehilangan beberapa lembar uang. Aku juga bisa meminta seseorang untuk mengurus kartu-kartuku kembali. Lupakan saja,” ucap Yesi.
Yesi sudah akan pergi saat Arini tiba-tiba berkata, “kamu masih berhutang permintaan maaf padaku.”
Yesi mendengus, kemudian pergi, mengabaikan Arini sepenuhnya.
Usai kepergian Yesi, manajer toko secara pribadi meminta maaf kepada Arini. Ia bahkan menawarkan voucher belanja kepada Arini sebagai kompensasi.
Arini menolak, itu bukan salah manajer toko.
Karena penolakan Arini, manajer toko memberikan kartu pelanggan VIP kepada Arini. Kartu itu bisa digunakan untuk mendapatkan promo dan diskon dari supermarket tersebut. Kali ini, Arini menerimanya.
Insiden yang tidak menyenangkan itu terselesaikan dengan baik. Arini membayar semua belanjaannya dan pulang ke apartemen.
Sementara Yesi jelas tidak puas dengan apa yang terjadi hari ini. Saat kembali ke dalam mobilnya, ia melemparkan tas ke kursi samping pengemudi. Beberapa barang jatuh berserakan. Termasuk benda yang beberapa waktu lalu dicarinya. Dompetnya ada di sana. Benda itu pasti terjatuh saat ia buru-buru keluar dari mobil untuk mencari Arini. Ia kesal melihatnya. Sekali lagi, ia melemparkan benda itu ke kursi samping.
“Arini! Lihat saja nanti!” desis Yesi.
Yesi tidak ingin melepaskan Arini begitu saja. Ia berencana untuk mengadukan perlakuan Arini kepada Winda. Tentu saja dengan sedikit tambahan bumbu agar cerita lebih menarik. Dengan begitu, ia menginjak gas dan segera pergi ke rumah Winda.
Winda sedang memotong tangkai bunga saat Yesi datang. Ia melirik kedatangan Yesi, lalu memasukkan tangkai terakhir ke dalam vas transparan. Setelahnya, ia tersenyum, mengagumi hasil karyanya.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Winda.
Yesi melirik ke arah vas bunga di meja. Ada tiga jenis bunga di dalamnya. Bunga-bunga itu pasti kesukaan Winda.
“Terkadang, kecantikan gak bisa digabungkan, Tan. Ada beberapa kecantikan yang hanya bisa dinikmati jika hanya sendiri.” Secara tidak langsung Yesi ingin mengatakan kalau kombinasi bunga yang Winda pilih tidak sesuai.
Winda merenung, menatap vas di meja. Kombinasi warna yang dihasilkan memang sedikit berantakan. Ia kecewa dengan hasilnya. Jadi, ia memerintahkan kepada asisten rumah tangga untuk memisahkan bunga-bunga itu sesuai jenisnya ke dalam vas yang berbeda. Sementara ia sendiri menarik tangan Yesi untuk duduk di sofa ruang tengah.
“Kamu kenapa?” tanya Winda begitu mereka duduk.
“Ini semua gara-gara Arini!” adu Yesi.
“Arini?” Bagaimana bisa mereka berdua kesal dengan orang yang sama di waktu yang sama.
“Iya! Jadi tadi ‘kan aku ketemu Arini di supermarket. Waktu aku mau bayar, aku baru sadar kalo dompet aku ketinggalan. Arini melihatnya. Tapi, bukannya bantu aku bayarin dulu, malah mempermalukan aku.” Yesi cemberut seolah telah menerima penghinaan yang sangat besar. “Dia sangat angkuh, Tan. Padahal ‘kan uang yang dipake buat belanja juga uang Gibran. Apa salahnya pinjemin aku beberapa ratus ribu dulu. Nanti juga pasti dibayar kok. Aku gak niat minta.”
Mendengar itu, amarah Winda tersulut. Arini ini! Berani-beraninya menyombongkan uang yang bukan miliknya. Benar-benar menantu parasit!
“Aku malu, Tan! Aku gak mau balik lagi ke supermarket itu. Di sana aku diliatin banyak orang, jadi tontonan. Aku udah kayak badut!” Yesi memasang wajah cemberut usai mengatakannya. Hal itu memancing empati dari Winda.
“Sudah-sudah … kamu jangan ngambek lagi ya. Gak lama lagi, Arini sama Gibran akan pindah ke sini. Kita lihat saja, saat itu, apa Arini masih bisa menjadi sombong.”
Yesi diam-diam tersenyum mendengarnya. Namun pada detik berikutnya, ia kembali memasang wajah menyedihkan.
“Ada apa lagi?” tanya Winda.
“Arini … dia … dia menyombongkan diri padaku, Tan. Dia mengejekku karena dia berhasil menikahi Gibran. Aku sakit hati,” ucap Yesi lirih.
“Apa kamu masih menginginkan Gibran?” tanya Winda. “Bukankah kamu sudah punya pacar yang seorang importir mobil mewah itu?”
“Ah … lupakan pria gak berguna itu! Aku muak sama dia. Aku mencampakkannya!” jawab Yesi kesal. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, kalau ia yang justru dicampakkan.
Winda terpaku. Ia jelas tidak begitu memperhatikan apa yang Yesi alami di pesta pernikahan Gibran. Saat itu fokusnya hanya menunggu keluarga Arini yang bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya.
“Baiklah kalau begitu. Tante akan membantumu.”
“Tapi bagaimana? Gibran sekarang sudah menikah dengan Arini.”
“Memangnya kenapa kalau sudah menikah? Itu sama sekali bukan masalah. Kamu tunggu saja kabar baiknya.”
Dengan adanya Yesi, Winda tidak perlu lagi mendorong Gio untuk menjadi dokter. Ah … ia harus akui kalau putra satu-satunya memang kurang pandai dalam hal akademik. Mungkin memang benar, sifat turun dari gen ayah, sementara kecerdasan turun dari gen ibu. Ia juga kurang pandai dalam hal akademik, dan sekarang turun kepada Gio. Sementara sifatnya … kalau dipikir-pikir, sifat Gio juga tidak sama dengan Harun yang pekerja keras. Bagaimana sifat Gio begitu melenceng dan tidak ada bagus-bagusnya? Hal yang baik darinya hanya satu hal. Ia pemuda yang tampan. Mengingatnya, Winda menggelengkan kepala tanpa daya.
“Apa rencana Tante?” tanya Yesi.
Winda tersenyum. “Tidak masalah siapa yang menjadi istri Gibran di atas kertas. Yang terpenting adalah, siapa yang bisa melahirkan anak untuknya. Kamu mengerti apa yang Tante maksud ‘kan, Yesi?”
Wajah Yesi berubah seketika. Jika Yesi tidak salah tangkap, bukankah secara tidak langsung Winda ingin Yesi melahirkan anak Gibran. Tapi, bagaimana caranya? Dari mana datangnya seorang anak jika tidak berhubungan?
“Dua minggu lagi, Tante akan mengadakan pesta ulang tahun pernikahan. Kamu datanglah bersama dengan orang tuamu. Jangan lupa dandan yang cantik.”
“Tante ….”
“Kamu siap ‘kan, Yesi?”
Wajah Yesi memerah. Ia kemudian mengangguk. Tidak masalah jalan apa yang diambil. Asalkan itu bisa membuatnya bersama dengan Gibran, semua pada akhirnya akan baik-baik saja.