Kedatangan Sang Arsitek Ambisi

Penulis Selanara
28 January 2026

Keheningan desa benar-benar pecah ketika deru mesin mobil mewah menggema di antara tebing dan ladang. Suara itu asing, terlalu halus dan terlalu kuat untuk jalanan sempit berbatu yang biasanya hanya dilewati motor tua dan gerobak kayu. Anak-anak berhenti bermain, ayam-ayam berlarian ke pinggir jalan, dan para warga menoleh bersamaan—seolah sebuah makhluk dari dunia lain baru saja memasuki wilayah mereka.

Mobil hitam berkilap itu berhenti di depan balai desa. Pintu terbuka perlahan, dan dari dalamnya turun seorang pria muda tampan bertubuh tegap. Namanya Herda. Wajahnya tegas dengan rahang yang seakan dipahat, hidung lurus, dan mata abu-abu yang memantulkan darah Jerman dari ayahnya. Ia mengenakan jas abu gelap yang rapi, kontras dengan debu yang menempel di sepatu kulit mahalnya. Tatapannya menyapu desa dengan cepat—bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan seperti seseorang yang sedang menghitung nilai jual.

Bagi Herda, tempat ini adalah potensi.

Ia tersenyum sopan, senyum yang terlatih dan terukur. Bersamanya datang dua orang staf yang membawa map dan tablet, berdiri sedikit di belakang seperti bayangan. Herda melangkah ke balai desa dengan langkah pasti, seolah tanah itu telah mengizinkannya sejak lama.

“Apa kabar, Bapak Ibu sekalian,” katanya lantang, suaranya bersih dan percaya diri. “Nama saya Herda Pranata. Saya datang dengan niat baik.”

Kata-kata itu disambut dengan gumaman pelan. Beberapa warga mengangguk, sebagian lainnya hanya menatap waspada. Pak Kades mempersilakan Herda duduk dan berbicara. Martina berdiri di pinggir kerumunan, lengannya terlipat, sorot matanya tak pernah lepas dari pria itu.

Herda mulai berbicara tentang angka. Tentang peluang. Tentang masa depan yang, menurutnya, terlalu lama tertunda di desa ini. Ia menyebutkan villa-villa eksklusif di lereng gunung, resor dengan pemandangan matahari terbit, jalanan beraspal, listrik stabil, dan lapangan kerja. Kata-katanya mengalir lancar, nyaris tanpa jeda, seperti presentasi yang telah ia ulang ratusan kali.

“Gunung ini indah,” katanya. “Dan keindahan seperti ini pantas dinikmati dunia.”

Beberapa warga saling pandang. Kata dunia terdengar besar, menggoda. Tanah yang selama ini hanya memberi panen pas-pasan kini disebut-sebut bisa menjadi tabungan masa depan. Uang muka, ganti rugi, kompensasi—istilah-istilah itu berputar di kepala mereka seperti koin emas yang dilemparkan ke udara.

Namun Martina melangkah maju.

“Gunung ini hidup,” katanya, suaranya tenang namun tajam. “Bukan papan catur. Jika digali dan ditutup beton, ia akan menuntut kembali.”

Suasana mendadak sunyi. Herda menoleh ke arahnya untuk pertama kali. Ia memperhatikan Martina dari ujung rambut hingga ujung kaki—pakaian sederhana, kulit kecokelatan, rambut diikat seadanya. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang sering ia berikan pada penolakan yang menurutnya akan mudah dipatahkan.

“Romantisme lokal,” katanya ringan. “Saya menghargainya. Tapi kita bicara tentang kemajuan.”

Martina tidak membalas senyum itu. “Kemajuan untuk siapa?”

Herda mengangkat cetak biru besar dan membentangkannya di atas meja balai desa. Gambar-gambar bangunan megah, kolam renang bertingkat, dan taman hijau tersusun rapi. Di sudut tertulis nama besar: Herdanzia Resort.

“Di sini,” ujar Herda sambil menunjuk, “anak-anak kalian tidak perlu lagi mencangkul di lumpur. Mereka akan bekerja di gedung megah, menerima gaji tetap, mengenakan seragam bersih.”

Pak Kades menelan ludah. Beberapa pemuda tampak terpikat. Bagi mereka, masa depan selalu terasa jauh dan samar—dan Herda memberinya bentuk yang jelas.

Martina melangkah mendekat. “Dan ketika mata air mengering? Ketika longsor turun karena akar pohon digantikan fondasi beton?”

Herda menghela napas, seolah sedang menghadapi murid keras kepala. “Kami punya teknologi,” katanya. “Semua sudah diperhitungkan.”

“Tidak,” jawab Martina pelan, namun tegas. “Gunung tidak pernah bisa dihitung sepenuhnya.”

Pertemuan sore itu berakhir tanpa keputusan, tetapi benih perpecahan telah ditanam. Malamnya, desa tidak lagi sunyi. Di rumah-rumah kecil, percakapan berlangsung dengan nada rendah dan wajah tegang. Ada yang mulai menghitung luas tanah warisan. Ada yang mengingat janji Herda tentang sekolah dan klinik. Ada pula yang diam, merasa sesuatu yang tak kasat mata sedang dipertaruhkan.

Herda berdiri di balkon penginapan sementara yang disiapkan untuknya. Dari sana, ia memandang lereng Arjuno yang gelap. Angin malam membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang asing—bukan takut, melainkan gangguan kecil di benaknya. Penolakan Martina terngiang, bukan karena kata-katanya, tetapi karena keyakinan di baliknya.

Namun Herda mengusir perasaan itu. Ambisi tidak tumbuh dari keraguan. Ia telah melihat terlalu banyak tanah berubah menjadi emas untuk percaya pada mitos gunung hidup.

Di sisi lain desa, Martina duduk sendirian di beranda rumahnya. Lampu menyala redup. Ia tahu, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Uang akan berbicara lebih keras dari doa, dan janji akan lebih manis dari ingatan. Tetapi Martina juga tahu satu hal: gunung tidak pernah diam ketika disakiti.

Di bawah langit yang sama, dua keyakinan berdiri saling berhadapan—satu dibangun dari beton dan angka, satu lagi dari tanah, air, dan ingatan. Dan cepat atau lambat, salah satunya akan retak.

Malam semakin larut ketika hujan tipis mulai turun, membasahi atap seng dan daun pisang. Di rumah-rumah, obrolan tentang Herdanzia Resort belum juga padam. Beberapa warga menghitung ulang batas tanah mereka dengan jari gemetar, sementara yang lain terjaga oleh ingatan lama tentang longsor di bagian barat. Desa yang biasanya satu suara kini terbelah oleh bisik-bisik.

Herda menatap layar ponselnya, membaca laporan cepat dari tim survei. Angka-angka itu seharusnya menenangkan, namun pikirannya justru kembali pada sorot mata Martina. Tidak marah, tidak memohon—hanya yakin. Keyakinan semacam itu jarang ia temui, dan selalu menyulitkan. Ia terbiasa menghadapi penolakan yang bisa dilunakkan dengan uang atau ancaman halus. Namun perempuan itu tidak menawar. Ia menutup pintu.

“Kita akan mulai dari sisi timur,” kata Herda kepada asistennya melalui telepon. “Pasang patok. Biar mereka lihat ini serius.”

Di luar, kilat menyambar singkat di punggung gunung, menyinari lereng seperti urat nadi raksasa. Herda menoleh ke jendela. Untuk sesaat, dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Ia mengerutkan kening, lalu kembali menunduk pada pekerjaannya. Ambisi, baginya, selalu menuntut pengorbanan. Ia hanya belum tahu siapa yang akan membayar paling mahal.

Di rumahnya, Martina terbangun oleh suara hujan yang semakin deras. Ia berdiri, membuka pintu, membiarkan air membasahi telapak kakinya. Dari kejauhan, ia melihat kilat yang sama. Hatinya bergetar, bukan oleh takut, melainkan oleh peringatan yang terasa akrab.

“Mereka sudah memilih,” gumamnya.

Martina tahu, mulai esok hari, kata-kata tidak lagi cukup. Ia harus bergerak lebih jauh dari sekadar penolakan. Gunung telah memberinya segalanya—bahasa, kekuatan, dan arah. Kini tiba saatnya ia mengembalikan semuanya.

Di antara hujan dan petir, dua tekad mengeras. Satu ingin membangun dunia dari beton dan keuntungan. Yang lain bersiap menjaga rumahnya, apa pun risikonya.

Dan Arjuno, diam-diam, mendengarkan.

Top of Form

Bottom of Form