Pertemuan Dua Dunia

Penulis Selanara
28 January 2026

Pertemuan demi pertemuan di balai desa berubah menjadi arena panas yang menguras emosi. Meja kayu tua yang biasanya menjadi saksi pembagian pupuk dan perayaan panen kini dipenuhi peta, catatan, dan suara-suara yang meninggi. Martina berdiri di depan warga, menunjuk lembaran-lembaran kertas yang telah ia susun berhari-hari—peta mata air, jalur rawan longsor, ladang-ladang yang akan terputus jika resort benar-benar dibangun.

Ia tidak lagi hanya berbicara dengan perasaan. Ia berbicara dengan data. Dengan ingatan kolektif desa. Dengan luka-luka lama yang pernah ditimbun waktu, namun belum sembuh sepenuhnya.

“Jika lereng ini dibuka,” katanya sambil menunjuk garis merah di peta, “air dari Sendang Lirih akan mengering dalam dua musim. Kalau itu terjadi, sawah di bawah akan mati. Kita tidak hanya kehilangan hutan, tapi kehilangan hidup.”

Suaranya tenang, namun di balik ketenangan itu ada sesuatu yang bergetar, seperti bom nuklir yang disimpan terlalu lama—cukup satu sentuhan untuk memicu ledakan. Beberapa warga menunduk. Yang lain saling pandang. Kebenaran tidak selalu mudah diterima ketika berhadapan dengan uang yang nyata di depan mata.

Herda, yang terbiasa dengan negosiasi dingin, mendapati dirinya terpancing. Ia berencana mengunjungi lereng, melihat sendiri kerja Martina dan penduduk desa lainnya di ladang untuk mencari celah caranya menaklukkan gadis itu. Akan tetapi, ada keteguhan yang tak bisa dibeli. Herda mengamati semua itu dari kejauhan. Ia terbiasa dengan negosiasi di ruang rapat berpendingin udara, tempat angka lebih berharga daripada manusia. Namun di sini, ia menghadapi sesuatu yang berbeda. Tidak ada kontrak yang bisa segera ditandatangani, tidak ada senyum basa-basi yang bisa meredakan penolakan Martina. Gadis itu seperti batu karang—diam, namun memecah ombak.

Ia memutuskan untuk turun langsung ke lereng. Melihat sendiri ladang, kebun, dan kerja keras yang selama ini hanya ia lihat sebagai lahan. Ia ingin menemukan celah. Setiap orang punya harga, pikirnya. Ia hanya belum menemukannya pada Martina.

Suatu sore dalam misinya, di bawah langit yang mulai memerah, Herda menemukan Martina pulang dari kebunnya. Punggungnya sedikit membungkuk karena keranjang penuh sayur, namun langkahnya mantap. Mereka bertemu di bawah pohon pinus tua yang akarnya mencuat seperti ular raksasa.

Perang tak terelakkan. Mereka berdebat di bawah pohon pinus tua.

"Kau menghalangi kemajuan," kata Herda.

"Kau menyebutnya kemajuan karena tak tinggal di sini," jawab Martina.

Angin berdesir di antara jarum-jarum pinus. Untuk sesaat, tak ada yang bicara. Herda merasakan sesuatu yang asing—bukan marah, melainkan tertantang. Perempuan ini tidak gentar, tidak tunduk pada status atau kekayaannya.

“Kau hidup dalam masa lalu,” ujar Herda akhirnya.

“Dan kau hidup tanpa akar,” balas Martina.

Perang itu tidak selesai di sana. Ia hanya menunggu bentuk yang lebih kasar.

Seminggu kemudian, deru mesin diesel memecah kesunyian Lembah Hijau. Matahari baru naik sepenggalah ketika dua buldozer kuning cerah merayap naik, rantainya menggigit tanah dengan suara yang membuat burung-burung beterbangan panik. Di depan gerbang kayu sederhana yang menandai batas hutan lindung desa, Martina sudah berdiri.

Ia mengenakan kemeja flanel lusuh dan sepatu bot berlumur tanah. Tidak ada senjata di tangannya. Hanya tubuh kecil yang tegap, berdiri seperti pohon jati paling keras kepala.

“Pergi dari sini, Tuan Herda!” teriaknya. Suaranya menggema, memantul di lereng-lereng hijau.

Herda turun dari jeepnya, mendengus remeh. "Kamu menghalangi kemajuan, Martina. Tanah ini akan jauh lebih berguna jika menjadi destinasi elit daripada sekadar hutan liar."

"Hutan ini tidak liar, Tuan. Kamulah yang liar karena ingin merusak keseimbangan yang sudah ada selama ribuan tahun hanya demi dompetmu yang sudah penuh," balas Martina tajam.

"Singkirkan kayu-kayu penghalang itu," perintah Herda pada operator alat berat tanpa sedikit pun menoleh pada Martina.

"Langkahi dulu mayatku, Tuan Herda!" Suara Martina menggelegar, membuat beberapa burung pipit berterbangan dari dahan pinus.

Herda menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.

"Martina, kita sudah membicarakan ini di balai desa. Secara hukum, sebagian lahan ini sudah diserahkan warga kepadaku. Jangan jadi martir untuk sesuatu yang sudah selesai."

Martina tertawa sinis, matanya menatap tajam langsung ke manik mata Herda. "Hukum yang mana? Hukum yang ditulis di atas kertas oleh orang-orang kota yang tidak pernah tahu rasanya kehausan saat mata air kering? Warga menyerahkan tanah karena kau menjejalkan janji-janji palsu ke mulut mereka yang sedang lapar!"

"Ini bukan janji palsu!" Herda menaikkan nada bicaranya.

"Lihat sekelilingmu. Anak-anak di sini harus berjalan berkilo-meter hanya untuk sekolah. Jika resort ini berdiri, akan ada jalan aspal, ada listrik yang stabil, ada pekerjaan dengan gaji layak. Kau ingin mereka selamanya memanggul kayu bakar seperti ini?"

Martina melangkah maju, memperpendek jarak. Bau harum tanah dan pinus yang menguar dari tubuhnya tiba-tiba menyergap indra penciuman Herda, membuatnya tertegun sejenak.

"Pekerjaan apa?" tanya Martina rendah, suaranya bergetar oleh amarah.

"Menjadi tukang sapu di bangunan yang dulunya adalah kebun mereka? Menjadi pelayan yang menuangkan wine untuk tamu-tamu kayamu sementara mereka sendiri dilarang menginjak rumputnya? Kau tidak membawa kemajuan, Herda. Kau membawa perbudakan modern."

"Martina! Sudah, Nak, jangan cari keributan," ujar Pak Kades dengan wajah cemas. Pak Kades dan beberapa warga datang tergesa. “Martina, sudah,” katanya cemas. “Uang muka sudah dipakai. Untuk balai, untuk bayar utang.”

Martina menoleh dengan tatapan kecewa yang mendalam.

"Atap balai bisa diperbaiki, Pak. Tapi kalau hutan ini gundul dan longsor menimbun desa kita, balai itu pun tidak akan tersisa."

Herda terdiam. Ia terbiasa menghadapi negosiator ulung di ruang rapat yang dingin, namun ia tidak pernah menghadapi seseorang yang bicara dengan seluruh jiwanya. Ia memperhatikan helai-helai rambut Martina yang tersangkut di bulu matanya yang lentik, dan bagaimana keringat di dahi gadis itu justru membuatnya tampak lebih bersinar daripada model mana pun yang pernah ia temui di Jakarta.

Herda terdiam. Untuk pertama kalinya, kata-kata gagal keluar dengan rapi. Ia menatap Martina—keringat di dahinya, rambut yang tersangkut di bulu mata lentik, dan keyakinan yang membuatnya tampak lebih bersinar daripada siapa pun yang pernah ia temui.

“Kau keras kepala,” gumamnya.

"Dan kau buta," balas Martina telak. "Kau punya segalanya, tapi kau tidak punya rasa hormat pada kehidupan."

Martina duduk bersila di depan buldozer, memejamkan mata, melantunkan doa dan nyanyian kuno gunung. Suara itu rendah, bergetar, menyatu dengan angin.

Herda menatapnya lama. Lalu ia mengangkat tangan. “Matikan mesinnya.”

“Tuan, jadwal—”

“Matikan,” perintahnya tegas. Mesin berhenti. Sunyi turun kembali ke lembah.

Herda belum kalah. Martina belum menang. Namun untuk pertama kalinya, dua dunia itu berhenti bertabrakan—menatap satu sama lain, sadar bahwa pertempuran ini jauh lebih dalam dari sekadar tanah.

Mesin-mesin itu terdiam, namun keheningan yang tercipta justru terasa lebih berat daripada derunya. Asap tipis masih mengepul dari knalpot buldozer, bercampur dengan kabut pagi yang perlahan turun kembali ke lembah, seolah gunung sedang menarik napas panjang. Para operator saling pandang, tak yakin apakah penundaan ini berarti kemenangan atau hanya jeda sebelum benturan yang lebih keras.

Martina membuka matanya perlahan. Tanah di bawah telapak kakinya terasa hangat, seakan menyimpan denyut yang sama dengan jantungnya. Ia tidak menoleh ke belakang, namun ia tahu Herda masih berdiri di sana. Kehadirannya terasa seperti bayangan—belum pergi, belum juga sepenuhnya menguasai.

Pak Kades mendekat, suaranya gemetar. “Nak, kau sudah cukup hari ini.”

Martina bangkit berdiri, menepuk debu di celananya. “Ini baru permulaan, Pak.”

Herda melangkah mundur, menatap hutan di balik gerbang kayu. Untuk pertama kalinya, ia melihatnya bukan sebagai denah proyek, melainkan sebagai sesuatu yang… bernapas. Angin menggoyang pucuk pinus, menurunkan jarum-jarum kering ke tanah seperti hujan kecil. Ada rasa tak nyaman yang menyelinap, rasa yang tak bisa ia laporkan dalam bentuk grafik.

“Kita kembali besok,” katanya singkat pada timnya. Namun suaranya kehilangan keyakinan yang biasa.

Saat jeep hitam itu berbalik arah, Martina berdiri tegak mengawasinya hingga menghilang di tikungan. Ia tahu penundaan ini bukan akhir. Tekanan akan datang dalam bentuk lain—surat resmi, aparat, bahkan mungkin perpecahan di dalam desa sendiri.

Sore itu, beberapa warga menghampirinya. Tidak semua berani bicara keras, tetapi mata mereka menyimpan pertanyaan yang sama: Sampai kapan kita bisa bertahan?

Martina menatap mereka satu per satu. “Selama gunung ini berdiri,” katanya pelan.

Di kejauhan, awan gelap mulai berkumpul di puncak Arjuno. Angin berubah arah. Dan di antara desir dedaunan, seolah ada janji tua yang kembali diingatkan—bahwa siapa pun yang mencoba menaklukkan gunung tanpa hormat, akan lebih dulu ditaklukkan oleh dirinya sendiri.

Babak baru telah dimulai.

Top of Form

Bottom of Form