Singlet

28 January 2026

Pertama. Apakah kalian pernah tidur bareng om-om sangar yang berkumis ? (BUKAN MESUM!)

Kedua. Apakah kalian pernah dapat feeling kalo adegan tidur bersama om-om make baju singlet itu berbahaya ?

Ketiga. Apakah kalian pernah merasakan virus bau ketek yang mematikan dari om-om ?

RAMA PERNAH.

    Setelah kejadian taksi gelap mematikan yang Rama alami sebelumnya, ini adalah kelanjutan cerita mematikan setelah itu.
    ....

    Rama sampai di pelabuhan penyeberangan kapal ferry Pagimana menuju Gorontalo dalam keadaan kumuh. Telah terenggut semua ketampanannya oleh mobil taksi gelap itu.
    Setelah merasakan teraniaya oleh om-om di dalam mobil Avanza yang Ia naiki itu, Rama langsung segera membeli tiket kapal. 
    Sebagai lelaki sejati, Rama ingin merasakan kerasnya kehidupan bermalam di atas kapal dengan membeli tiket ekonomi (HEMAT).
    ....

    Biasanya Rama naik kapal bersama keluarganya dan memesan tiket bisnis atau kamar. Tapi kali ini Ia pergi sendiri, mengeluarkan biaya sendiri, masak –masak sendiri, nyuci baju sendiri, tidur pun sendiri (sambil bernyanyi). 
    Hemat dalam perjalanan kehidupan bermalam di atas kapal nanti adalah sebuah keharusan. Agar dirinya tidak akan mati kelaparan di atas kapal selama berlayar. 
    ....
    Kelas ekonomi di kapal Ferry adalah tempat tidur papan panjang tanpa kasur, yang disediakan untuk penumpang kapal tidur bersama-sama dengan orang-orang lain yang tak saling kenal. Kita harus memesan kasur jika tidak ingin merasakan kerasnya tidur di atas papan. 
    Tapi naas. Rama terlambat.
    Saat itu kasur yang disewakan telah habis dipesan penumpang-penumpang yang lebih duluan ada di kapal. Mau tak mau Ia akan tidur dengan keadaan “tulang vs papan”.
    Tapi saat itu Ia beruntung. Dirinya masih mendapatkan tempat kosong di sisi pinggir. Ia tidak mau tidur di tengah. Apalagi diapit orang-orang yang Ia tak kenal.
Rama takut terjadi pencabulan pada dirinya. Rama khawatir cowok se-tjakepnya (mungkin) yang sedang berkelana sendirian di atas kapal, terus mendapatkan tempat tidur di tengah, diapit oleh orang-orang tak dikenal, apalagi om-om sangar berkumis tebal. Bisa-bisa Ia sampai di Gorontalo dalam keadaan HAMIL. Loh?
    Tragedi paling buruk ini pun dimulai. 
    ....

    Di atas kapal, Rama langsung menaruh tas ransel bawaannya di tempat yang Ia pilih (dipinggir). Kemudian memutuskan untuk sejenak mencari makan sebelum kapal berangkat dan tempat tidurnya sementara Ia percayakan pada tas ransel agar tidak diambil orang brengsek.
    Tak ada bayangan buruk yang akan terjadi di dalam pikirannya.
    Sekitar sejam, dirinya selesai makan di pelabuhan dan kembali naik ke kapal. Rama memilih untuk duduk-duduk nonton sambil ngemil di cafe ekonomi kapal yang tersedia. Kebetulan sangat dekat bersebelahan dengan tempat tidurnya. 
    Tiba-tiba, ada yang berubah ketika Ia melihat ke arah  tempat tidurnya.
    ....

    Di sebelah kanan ransel tempat tidurnya yang tadi masih kosong tak ada orang dan barang, kini sudah ada satu tas ransel, satu kardus kecil dan satu buah helm. Beruntung seseorang itu tidak menaruh sekaligus dengan motornya di atas tempat tidurnya.
    Hal itu menandakan bahwa telah ada penghuni di samping tempat tidurnya. Dan Ia masih belum tau siapa seseorang misterius itu. 
    Rama melanjutkan nonton dan ngemil di cafe tempat duduknya. 
    ....

    Tanpa Ia sadari seseorang misterius yang akan tidur bersama dirinya (BUKAN MESUM) itu sudah menempatkan dirinya di samping tempat tidurnya. 
    Pandangan pertama Rama kepada orang itu (BUKAN JATUH CINTA), langsung mengubah perasaannya mulai gak enak. Lagi-lagi seorang misterius itu adalah sosok om-om. 
    Om-om seram. Berkumis tebal dengan wajah terlihat lusuh mungkin karena kecapek-an.
    Namun bukan kumis yang membuat Rama takut, tapi pakaiannya. 
    Orang itu memakai baju SINGLET.
    Sekali lagi. 
    SINGLET.
    S
    I
    N
    G
    L
    E
    T.

    Sebuah kaos tanpa lengan untuk menutupi bulu ketek seseorang.
    Sekali lagi.
    Kaos tanpa lengan yang MENUTUPI BULU KETEK.
    ....

    Perasaan Rama semakin gak enak. Hati dan pikirannya mulai kacau. 
    Rasanya ingin memecahkan gelas kopi yang Ia pegang. Tapi sepertinya gak bisa. Karena gelas kopinya berbahan plastik. BUKAN KACA. 
    “Aaagggrrrrrhhh” Rama panik.
    Ingin rasanya minta tolong kembali doraemon untuk meminjam baling-baling bambu, agar dirinya bisa langsung terbang ke gorontalo, tanpa harus dengan kapal ferry malam itu. Rama bingung. Ia tak bisa. Satu tempat tidur dengan om-om baju singlet itu.  
    “Agggggrrrrrhhhh” hatinya tak tenang. 
    Sudah sekitar satu jam kapal berlayar. Rama masih duduk di kursi café di dekat tempat tidurnya. 
    Sementara om-om berkumis dengan baju SINGLET itu mungkin karena capek dia tertidur dengan sentosa pulas di tempatnya. Di samping tempat tidur Rama. Dengan gaya tidur tangan di atas perutnya. 
    Rama sedikit bersyukur.
    ....

    Tampilan layar TV di cafe mulai hilang dan Rama tak ada lagi teman berbincang. Lama-kelamaan Ia ngantuk. Orang-orang disekitarnya juga sudah mulai tertidur dan bermimpi indah dengan harapan mereka masing-masing.
    Pandangan Rama balik lagi kearah tempat tidurnya. 
    Ada om-om baju singlet yang tidur di samping tempat tidurnya. Ketakutannya terhadap baju SINGLET yang seseorang itu pakai membuatnya dilema. 
    Antara dirinya harus terima tidur di sampingnya, atau memilih pindah ke tempat lain, tapi harus tidur dengan beralaskan kardus kayak gelandangan. Dirinya jadi seperti anak Oma yang tersesat tak tau arah di atas kapal. 
    “Aggggrrrrhhhhh!!!” Rama semakin bingung.
    Semakin dirinya dilema, semakin Ia ngantuk dan semakin indah mimpi om-om baju SINGLET itu di tempatnya. 
    Mungkin saat itu dia telah bermimpi jadi superhero superman berkostum SINGLET. 
    Tidak ! Rama tidak bisa bayangkan hal itu. 
    Akhirnya Rama putuskan, dengan menarik napas yang panjang, Ia harus terima kenyataan. Mau tak mau, dengan harapan Ia akan berumur panjang sampai esok pagi, maka terpaksa Ia menuju tempat tidur di samping dia (om-om superman berkostum SINGLET).
    Rama berjalan menuju ke tempat tidurnya. Di pinggir.
    ....

    Rama duduk di samping orang itu yang telah tertidur pulas dengan mimpi menjadi superman berkostum SINGLET. 
    Sesaat kemudian keadaan mulai tak enak.
    Entah sengaja atau tidak, seolah dia ingin mengusir keberadaan Rama di sampingnya.
    Secara tiba-tiba om-om itu langsung mengubah gaya tidurnya, menjadi gaya bebas. Dengan posisi kedua lengan tangannya terbuka, diangkat mengarah ke atas kepalanya dan saat itu juga telah terlihat jelas, hutan lebat hujan tropis yang seharusnya tertutupi bendungan lengan, kini telah di buka dan siap untuk banjir. 
    Yang rama khawatirkan TERJADI.
    BANJIR BAU KETEK.
    Sekali lagi. 
    BAU KETEK. 
    ....

    Sekarang yang ada di pikiran Rama adalah bagaimana caranya bisa tetap tidur dengan nyenyak, nyaman, dan selamat dari aroma bau bangkai (ketek om-om) yang bisa membunuhnya secara perlahan.  
    Ia sadar, bahwa Ia harus bisa sampe di gorontalo dalam keadaan HIDUP.
    Sekali lagi.
    "AKU HARUS HIDUP."
    “Agggrrrrhhh.... DORAEMON ??? OMAA ??? TOLONG !!!” perasaan Rama berantakan.  
    ....

    Tak sampai lima menit kemudian.
    Keadaan semakin memburuk. 
    Aroma aneh dari ketek om-om itu mulai tercium tajam. Kemudian semakin meluas dan merusak sel-sel jaringan tubuh Rama. 
    Ia sampai susah bernapas.
    Semakin dirinya bernapas, semakin Ia merasa berada di kapal tempat pembuangan bangkai-bangkai hewan, tumbuhan, bahkan manusia. 
    Ia ingin bisa bernapas menggunakan insang. Tapi GAK BISA.
    Akhirnya Rama mencoba berinisiatif untuk bertempur melawan virus bau ketek itu. 
    Segera Ia mengambil parfum didalam tas, kemudian menyemprotkannya ke udara. Ke jaket yang Ia pakai. Ke tasnya sebagai bantal kepala. Dan, terakhir ke arah ketek om-om itu. 
    Untungnya dia gak sadar. 
    Rama semakin ngantuk. 
    "KAMPRET!!!" gumamnya.
    ....

    Akhirnya perlahan aroma bau ketek om-om superman berkostum SINGLET itu menghilang.

Rama merebahkan diri di tempat tidurnya. Keadaan mulai membaik. .... 10 menit kemudian. .... KAMPRET ! Pasukan dari parfum Rama ternyata kalah dengan virus bau ketek si om-om itu. Ia PANIK (lagi). Kembali Rama menyemprotkan parfum ke udara. Ke jaket, ke tasnya, dan ke ketek om-om itu sebanyak mungkin. Perang dunia ke-2 dimulai lagi. “Aaaaagggggrrrhhhhh” Rama mencoba tidur dengan menutup wajahnya menggunakan jaket. Posisi tidurnya harus membelakangi om-om kampret itu. Perlahan tapi kampret, keadaan membaik kembali. Sampai pada akhirnya Rama benar-benar tertidur setelah berperang melawan virus mematikan itu. Beruntungnya Rama ngantuk berat saat itu. ....

    Rama terbangun dengan adzan subuh. Pagi datang hati pun riang. 
    Tapi, Ia melihat om-om kampret itu masih damai dalam tidurnya, bermimpi indah menjadi superman di sampingnya.
    Entahlah. 
    Yang terpenting baginya berhasil hidup malam itu. Tanpa luka. Tak ada pencabulan terjadi oleh om-om berbaju SINGLET itu kepada dirinya.
    ....

    Beruntung, Rama terselamatkan oleh kantuk.
    Rama jadi semakin berhati-hati dengan orang di sekitarnya. 
    Terutama kepada orang yang memakai baju SINGLET. Yang sangat berpeluang menebar virus bau ketek. 
    WASPADALAH.
    ....
    Sekitar pukul setengah delapan pagi, kapal ferry yang Rama naiki akhirnya sandar di pelabuhan Gorontalo.
    Ia turun. Kemudian bergegas melanjutkan perjalanan rencana kegiatannya.
    Ia meninggalkan om-om berbaju singlet itu dengan baik-baik. Tanpa kata putus. Eh loh?

    Keadaan membaik sebagaimana dunia semestinya.