Labirin Pikiran Martina

Penulis Selanara
28 January 2026

POV : Martina

Martina berdiri di tepi tebing, membiarkan rambut panjangnya dicambuk angin kencang. Ia menatap ke arah jalan aspal jauh di bawah sana—jalur yang membawa Herda kembali ke peradaban.

"Siapa kau sebenarnya, Martina?" batinnya menyiksa. "Hanya seorang gadis desa dengan kuku-kuku yang kotor karena tanah. Bagaimana bisa kau berpikir pria seperti dia benar-benar akan menetap di sini?"

Overthinking itu mulai memakan kewarasannya. Ia mulai menganalisis setiap detik di dalam gua dengan kacamata kecurigaan. Sentuhan itu: Apakah itu cinta, atau hanya nafsu sesaat seorang pria yang manipulatif dan mencari hiburan di tengah pelarian dari badai? Kemudian tentang janji itu: "Aku akan kembali," katanya. Tapi bukankah itu kalimat standar para penakluk sebelum mereka meninggalkan daerah jajahannya?

Dunia mereka berbeda. Herda terbiasa dengan lantai marmer, wangi kopi mahal, dan wanita-wanita kota yang kulitnya halus terawat. Sedangkan Martina? Ia berbau keringat, matahari, dan getah pohon.

"Aku hanyalah sebuah eksotisme baginya," bisik Martina pada pepohonan yang membisu. "Sebuah piala yang ingin ia menangkan karena aku sulit didapatkan. Setelah ia mendapatkan jiwaku dan tubuhku malam itu, permainan selesai. Dia sudah menang." Cibirnya pada diri sendiri.

Kepedihan terbesar Martina bukanlah kehilangan cinta, melainkan kenyataan bahwa ia telah membiarkan musuh melihat bagian paling rapuh dari dirinya. Ia merasa seperti pengkhianat. Setiap kali ia melihat warga desa yang menatapnya dengan penuh harap agar proyek itu benar-benar batal, Martina merasa ingin berteriak.

"Kalian berharap pada orang yang salah! Aku telah menyerahkan hatiku pada serigala yang memakai jas mahal!"

Bahkan, ia mulai merasa jijik pada dirinya sendiri saat teringat bagaimana ia merespons ciuman Herda. Apakah itu sebuah bentuk kekalahan? Apakah tubuhnya telah mengkhianati prinsipnya?

Ia mulai membayangkan Herda di Jakarta, duduk di bar mewah bersama teman-temannya, menceritakan tentang "gadis gunung yang liar" yang berhasil ia taklukkan di dalam gua demi melicinkan proyeknya. Bayangan itu membuat dada Martina sesak, seolah oksigen di gunung itu tiba-tiba menghilang.

"Dia tidak akan pernah mengorbankan jutaan dolar demi seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara memakai gaun pesta," Martina tertawa getir, air mata panas mengalir di pipinya yang memerah karena angin dingin.

Ia kemudian memutuskan untuk berhenti menunggu. Ia mengambil parang, kembali bekerja dengan kalap, menebas semak-semak dengan tenaga yang berlebihan—berusaha mengusir bayangan Herda dari setiap sel sarafnya. Namun, setiap kali ia menyeka keringat di lehernya, ia seolah masih bisa merasakan jejak bibir Herda di sana. Dan itu adalah siksaan yang paling kejam.

Martina menebas semak itu sekali lagi, lebih keras dari yang diperlukan. Parang beradu dengan batang muda hingga getarnya menjalar ke pergelangan tangannya. Rasa nyeri itu justru ia sambut—seolah sakit fisik mampu menenggelamkan hiruk-pikuk pikirannya. Ia terengah, dadanya naik turun, napasnya berat dan tak teratur. Keringat bercampur air mata, dan ia tak lagi tahu mana yang asin karena kerja, mana yang pahit karena luka batin.

“Berhenti,” bisiknya pada dirinya sendiri. Namun tubuhnya menolak patuh. Ia terus bekerja hingga lengannya gemetar, hingga matanya berkunang. Baru ketika parang itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi tumpul, Martina tersungkur berlutut.

Tanah lembap menyentuh telapak tangannya. Hangat. Nyata. Gunung ini nyata. Tidak seperti kenangan yang mengabur dan pikiran yang berputar tanpa ujung.

Martina bukan perempuan yang mudah jatuh cinta. Ia tidak memiliki banyak pengalaman menjalin relasi atas nama cinta. Ia menunduk, rambutnya menutupi wajah. Untuk pertama kalinya sejak Herda pergi, Martina membiarkan tangisnya pecah tanpa disaring oleh amarah atau logika. Tangis yang tidak berusaha kuat. Tangis yang mengakui satu hal paling menakutkan: ia rindu.

Rindu bukan hanya pada Herda sebagai sosok, tetapi pada versi dirinya yang muncul bersamanya—Martina yang sempat berharap tanpa rasa bersalah. Martina yang membayangkan masa depan tanpa harus selalu bertarung. Dan kesadaran itu membuat dadanya terasa robek. Karena rindu berarti ia pernah membiarkan diri percaya.

“Aku benci kau,” ucapnya lirih, entah ditujukan pada Herda, atau pada dirinya sendiri. “Aku benci karena kau membuatku meragukan siapa diriku.”

Hari-hari berikutnya, labirin pikirannya kian rumit. Martina mulai melihat tanda-tanda pengkhianatan di mana-mana. Setiap truk yang melintas di jalan bawah terdengar seperti ancaman. Setiap percakapan warga tentang “kabarnya proyek belum dibatalkan” menusuk telinganya seperti tuduhan tak terucap. Ia merasa seolah semua mata menimbangnya—menilai apakah ia masih layak dipercaya sebagai penjaga gunung.

Ia menjadi lebih pendiam. Tidak lagi berdebat lantang di balai desa. Tidak lagi berdiri paling depan saat ada tamu perusahaan datang. Orang-orang mengira ia lelah. Tak ada yang tahu bahwa ia sedang berperang dengan bayangan seorang pria yang bahkan tak hadir.

Malam adalah musuh terbesarnya. Dalam gelap, ketika suara serangga mendominasi dan angin menyelinap melalui celah jendela kayu, pikirannya tak punya tempat bersembunyi. Ia memejamkan mata, namun gua itu selalu kembali—hangat, sempit, dan penuh napas tertahan. Ia teringat bagaimana Herda memandangnya seolah dunia luar tak penting. Dan justru itulah yang paling menyakitkan. Karena tatapan itu terasa terlalu nyata untuk sekadar kebohongan.

“Bagaimana jika aku salah?” bisiknya pada kegelapan. “Bagaimana jika dia benar-benar ingin berubah?”

Pertanyaan itu membuatnya marah. Ia bangkit dari ranjang dan berjalan mondar-mandir. Berharap adalah kemewahan yang tak mampu ia bayar. Gunung tidak dibela dengan harapan, tetapi dengan kewaspadaan. Ia memaksa dirinya mengingat semua yang ia tahu tentang dunia Herda—kontrak, saham, tekanan, uang. Semua itu tidak akan runtuh hanya karena satu malam di gua.

Namun hati tidak bekerja seperti logika.

Di pagi yang kelabu, Martina berdiri di ladang sambil menatap pucuk-pucuk tanaman yang mulai menguning. Ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan dari kemungkinan ditinggalkan: ia takut jika Herda benar-benar kembali. Karena jika itu terjadi, ia harus menghadapi pilihan. Dan memilih selalu lebih menyakitkan daripada ditinggalkan.

Jika Herda kembali dan mengkhianatinya, luka itu akan final. Jika Herda kembali dan menepati janjinya, Martina harus merobohkan benteng yang susah payah ia bangun kembali. Ia harus mempertaruhkan segalanya—prinsip, kepercayaan warga, bahkan identitasnya sebagai perempuan gunung yang tak pernah tunduk pada siapa pun.

“Apa pun yang terjadi, aku yang akan menanggung akibatnya,” gumamnya.

Hari itu, ia memutuskan satu hal penting: ia tidak akan mendasarkan sikapnya pada cinta atau benci. Ia akan bersikap pada tindakan. Jika proyek itu batal, ia akan percaya pada bukti, bukan kata. Jika alat berat kembali naik, ia akan berdiri di depan mereka—tak peduli siapa yang mengirimkannya.

Keputusan itu tidak menghapus rasa sakit, tetapi memberinya pijakan.

Di kejauhan, awan bergerak pelan menyelimuti punggung Arjuno. Martina menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Herda, ia tidak bertanya apakah pria itu akan kembali. Ia bertanya apakah dirinya siap berdiri, apa pun jawabannya.

Dan di lubuk hatinya yang paling dalam, ia mengakui satu kebenaran pahit namun jujur: mencintai Herda bukan kesalahannya. Kesalahannya adalah mengira cinta bisa menggantikan perjuangan. Gunung ini tidak butuh kisah romantis. Gunung ini butuh keteguhan.

Martina mengangkat wajahnya, menantang angin. Air mata terakhir mengering di pipinya. Labirin di kepalanya belum selesai, tapi kini ia memegang benang merahnya sendiri. Ia mungkin tersesat, mungkin terluka, tetapi ia tidak akan kehilangan arah.

Jika Herda benar-benar kembali, ia tidak akan menunggu dengan harapan. Ia akan menyambut dengan kebenaran. Dan jika tidak, Martina tahu satu hal dengan pasti: gunung ini tetap berdiri. Dan begitu pula dirinya.

Top of Form

Bottom of Form