Mimpi yang Mengganggu

Penulis Selanara
28 January 2026

Malam itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya, merayap masuk melalui celah-celah dinding kayu pondok Martina yang sederhana. Di tengah kesunyian yang mencekamnya, Martina jatuh ke dalam tidur yang gelisah, di mana alam bawah sadarnya mulai menenun benang-benang gairah yang selama ini ia tekan dengan logika.

Dalam mimpinya, Martina tidak sedang berada di dalam gua yang dingin, melainkan di sebuah hamparan padang rumput ilalang yang berwarna keperakan di bawah cahaya bulan purnama. Suasananya sunyi, hanya ada suara deru napasnya sendiri yang memburu. Tiba-tiba, sepasang tangan yang sangat ia kenali melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau hujan—aroma khas Herda—seketika melumpuhkan pertahanannya.

Martina memejamkan mata, kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada bahu kokoh yang terasa begitu nyata dalam dunia mimpinya.

"Kau tidak bisa lari dari apa yang sudah kau rasakan, Martina," bisik suara berat Herda tepat di telinganya, mengirimkan gelombang panas yang menjalar hingga ke ujung jemari kakinya.

Dalam mimpi yang semakin liar itu, Herda membalikkan tubuh Martina dengan perlahan namun penuh dominasi. Tatapan pria itu tidak lagi dingin atau penuh perhitungan bisnis; matanya berkilat dengan rasa lapar yang murni. Jemari Herda yang panjang mulai menelusuri garis leher Martina, turun perlahan menuju dadanya yang naik-turun dengan cepat.

Martina merasakan sensasi kulit bertemu kulit yang begitu intens. Ia bermimpi mereka kembali di gua, namun kali ini tanpa rasa takut akan badai. Di bawah sinar rembulan yang menembus ilalang, Herda melepas satu demi satu penghalang di antara mereka dengan gerakan yang terasa seperti siksaan yang nikmat.

Ciuman Herda tidak lagi hanya di bibir. Pria itu menjelajahi setiap inci kulit Martina—pundaknya yang kecokelatan, lengannya yang kuat, hingga ke lekuk tubuh yang selama ini tertutup kain flanel kasar. Martina mengerang kecil dalam tidurnya, tangannya mencengkeram sprei ranjangnya seolah sedang menjambak rambut hitam Herda yang halus.

Gairah itu terasa meledak-ledak, sebuah perpaduan antara kerinduan yang menyakitkan dan keinginan untuk menyerah sepenuhnya. Martina merasa seolah-olah tubuhnya adalah bagian dari tanah pegunungan ini yang sedang digali, namun bukan oleh mesin-mesin berat, melainkan oleh kelembutan yang memabukkan. Setiap sentuhan Herda dalam mimpinya terasa seperti janji yang ingin ia percayai, sebuah penyatuan yang mengaburkan batas antara cinta dan obsesi.

Saat puncak gairah itu hampir merenggut kesadarannya bahkan di dalam mimpi, wajah Herda tiba-tiba menjauh, memudar menjadi kabut kelabu. Martina terbangun dengan sentakan keras. Napasnya tersengal-sengal, kulitnya basah oleh keringat meskipun udara pegunungan sedang menggigit tulang. Ia meraba sisi tempat tidurnya yang kosong—hanya ada bantal kayu yang keras dan dingin.

"Sial," umpatnya lirih, suaranya parau.

Ia duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Jantungnya masih berdegup kencang karena sisa-sisa mimpi tadi. Ia merasa sangat terhina oleh tubuhnya sendiri. Bagaimana mungkin di saat logisnya mengutuk pria itu, tubuh dan mimpinya justru merindukan sentuhannya dengan begitu primitif?

"Kau benar-benar sudah gila, Martina," bisiknya pada kegelapan kamar.

Overthinkingnya semakin menjadi-jadi. Ia mulai berprasangka bahwa mungkin Herda telah melakukan semacam "sihir" padanya. Bagaimana jika momen di gua itu memang sengaja dirancang Herda untuk meninggalkan bekas yang tak terhapuskan di ingatannya, agar ia tidak lagi punya kekuatan untuk melawan?

Ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah lembah yang masih gelap. Rasa haus akan kehadiran pria itu bercampur dengan rasa benci pada kelemahannya sendiri. Martina merasa seperti tawanan dalam tubuhnya sendiri, menunggu seseorang yang mungkin saat ini sedang tertawa di atas penderitaannya di lantai atas sebuah gedung pencakar langit.

Martina tidak bisa membiarkan racun ini terus mengalir. Baginya, mimpi itu adalah sebuah pengkhianatan dari dalam dirinya sendiri. Ia merasa seolah-olah benteng pertahanannya—gunung yang ia jaga—telah runtuh bukan karena buldozer, melainkan karena getaran di perutnya setiap kali ia mengingat sentuhan Herda.

Martina memeluk tubuhnya sendiri, menggigil bukan karena dingin, melainkan karena kesadaran yang menyayat: mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Ia adalah cermin retak yang memantulkan apa yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat—kerinduan yang belum selesai, ketakutan yang belum terucap, dan amarah yang berbaur menjadi satu. Ia menegakkan punggung, menarik napas panjang, seolah ingin memaksa paru-parunya mengingatkan hati bahwa ia masih berdaulat atas dirinya sendiri.

Ia mengambil air dari kendi, membasuh wajahnya berkali-kali. Air dingin itu menampar kesadarannya. “Bangun,” katanya lirih pada bayangannya di permukaan air. “Kau tidak boleh dikalahkan oleh bayangan.” Namun kata-kata itu terasa rapuh. Setiap kali ia memejamkan mata, kabut dan ilalang perak itu kembali mengambang di benaknya, mengundang rasa bersalah yang membuat tengkuknya menegang.

Subuh belum menyingsing ketika suara aneh terdengar dari luar—sebuah derap pelan, tertahan, seperti sepatu yang mencoba meniru langkah angin. Martina menegang. Nalurinya yang terasah oleh gunung bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia meraih senter dan parang, membuka pintu setipis mungkin. Kabut masih tebal, menggulung di antara pepohonan. Suara itu datang lagi, kali ini lebih jelas, disertai bisik-bisik yang terputus.

Martina melangkah keluar, menyusuri sisi pondok, menahan napas. Dari balik rumpun pakis, ia melihat dua sosok berhenti di jalur lama—jalur yang seharusnya tak lagi digunakan. Mereka membawa tas punggung besar, bergerak cepat, menandai sesuatu di tanah. Bukan warga desa. Bukan pula pendaki biasa.

Jantung Martina berdebar. Ia teringat mimpi yang mengoyak pertahanannya, dan kemarahan itu menemukan sasaran baru. “Tidak,” bisiknya. “Tidak malam ini.” Ia menyalakan senter dan mengarahkan cahaya tepat ke wajah mereka. “Hentikan,” katanya tegas. “Ini wilayah warga. Kalian tidak punya izin.”

Dua sosok itu terkejut. Salah satunya mundur selangkah, yang lain mencoba tersenyum. “Kami hanya lewat,” katanya cepat, suaranya tak meyakinkan.

“Lewat tidak menandai tanah,” balas Martina. Ia melangkah maju, parang tergenggam mantap. Bukan ancaman kosong—sekadar pernyataan posisi. Dalam hening yang tegang itu, kabut berputar seperti penonton bisu.

Mereka saling pandang, lalu berbalik pergi tanpa banyak kata. Langkah mereka cepat menghilang di kelokan. Martina berdiri terpaku beberapa detik, memastikan mereka benar-benar pergi. Baru setelah itu lututnya terasa lemas. Ia bersandar pada batang pinus, menghembuskan napas panjang.

Pagi datang dengan warna pucat. Martina menghadap Pak Kades bersama beberapa pemuda, menceritakan kejadian semalam. Wajah-wajah mengeras. Ini bukan kebetulan. Ada tangan-tangan yang mencoba menyelinap, memancing kekacauan, menguji batas kesabaran. Mereka sepakat memperketat ronda, menutup jalur lama, dan melaporkan setiap gerak mencurigakan.

Di tengah kesibukan itu, ponsel Martina bergetar. Nama Herda muncul lagi, seperti gema dari mimpi yang ingin ia tolak. Ia menatap layar lama sebelum akhirnya mengangkat. “Ada orang asing semalam,” katanya tanpa salam. “Bukan timmu, bukan warga.”

“Aku tahu,” jawab Herda cepat. “Aku mendapat kabar serupa. Ada pihak ketiga yang bermain kotor. Aku sedang mengurusnya.”

Martina menutup mata. Nada suaranya ingin percaya, namun hatinya menahan. “Kau mengerti sekarang?” katanya pelan. “Ini bukan tentang kita. Ini tentang keselamatan orang-orang di sini.”

“Aku mengerti,” jawab Herda. Ada kelelahan di sana, dan sesuatu yang terdengar seperti penyesalan. “Aku akan datang siang ini. Dengan bukti.”

Martina tak menjawab. Ia mematikan panggilan, menyelipkan ponsel ke saku. Di hadapannya, gunung berdiri tenang, seolah menantang: apakah kau akan goyah lagi, atau kau akan memilih berdiri?

Siang hari, Herda tiba dengan berkas dan wajah yang lebih keras dari sebelumnya. Pertemuan digelar cepat. Ia memaparkan jaringan perusahaan bayangan yang mencoba mengambil alih proyek melalui tekanan dan intimidasi. Nama-nama disebut, alur uang dipetakan. Warga mendengarkan dengan rahang mengeras. Martina memperhatikan dari sisi ruangan—ia mencari kebohongan, celah, nada yang tak sinkron. Yang ia temukan adalah ketegangan yang tak dibuat-buat.

“Aku tidak meminta simpati,” kata Herda akhirnya. “Aku meminta waktu untuk memutus rantai ini. Dan aku bersedia diawasi penuh.”

Martina berdiri. Suaranya tenang, namun setiap kata memantul di dinding kayu. “Waktu bukan milikmu sendirian. Kami akan mengawasi. Jika ada satu pelanggaran lagi, kami bertindak.”

Herda mengangguk. Tatapan mereka bertemu—bukan tatapan gua, bukan tatapan mimpi. Ini tatapan dua orang yang berdiri di sisi yang sama dari jurang, sadar bahwa satu langkah salah bisa menjatuhkan semua.