Gairah dalam Selimut Kabut

Penulis Selanara
28 January 2026

Sore itu, Martina kembali ke pondoknya. Kabut menipis, menyisakan garis-garis cahaya. Ia duduk di tepi ranjang, mengingat mimpi semalam, dan untuk pertama kalinya ia tidak mengutuk dirinya sendiri. Ia mengakuinya sebagai gejala—bukan perintah. Keinginan bisa datang tanpa izin; keputusan tetap miliknya.

Ia menulis satu kalimat di buku catatan kecilnya: Aku tidak akan membiarkan mimpi menentukan langkahku. Di bawahnya, ia menambahkan: Aku akan berjaga.

Malam turun lagi. Kabut kembali, namun kini Martina siap. Ia menyalakan lampu, membuka jendela, membiarkan udara dingin membersihkan sisa-sisa racun di dadanya. Jika mimpi itu datang lagi, ia akan menghadapinya dengan mata terbuka. Karena di gunung ini, ketakutan bukan untuk ditindas, melainkan untuk dipahami—lalu dilampaui.

Dan di kejauhan, jalan aspal berkilau samar. Dunia Herda dan dunia Martina masih bertaut, penuh risiko. Namun satu hal kini jelas baginya: apa pun yang mengganggu tidurnya, apa pun yang menguji tekadnya, ia tidak akan menyerahkan kendali. Gunung ini telah mengajarkannya satu kebenaran sederhana—bertahan bukan berarti menutup hati, melainkan memilih dengan sadar, bahkan ketika gemetar.

Kabut kembali turun dan suara hutan merapatkan jarak, langkah kaki berhenti di depan pondok Martina. Ketukan terdengar ragu—bukan keras, bukan pula sembunyi. Martina yang sedang menyiapkan kayu bakar membeku sejenak. Nalurinya mengenali irama itu sebelum pikirannya sempat menyusun alasan. Ia membuka pintu.

Herda berdiri di sana, jaketnya basah oleh tetes gerimis, wajahnya lelah namun fokus. Tidak ada rombongan. Tidak ada pengawal. Hanya pria yang membawa beban kota hingga ke ambang pondok kayu.

“Aku tidak lama,” katanya pelan. “Aku hanya perlu memastikan kau baik-baik saja.”

Martina menatapnya lama. Ada ribuan kata di ujung lidahnya—amarah, kecurigaan, rindu—namun yang keluar hanya, “Masuklah.” Kata itu terasa seperti menyerahkan kunci, sekaligus menutup gerbang.

Di dalam, cahaya lampu temaram membuat bayangan menari di dinding. Keheningan mengembang. Mereka berdiri terlalu dekat tanpa berniat mendekat. Aroma hutan bercampur wangi Herda—sebuah memori yang membuat nadi Martina berdenyut. Herda meletakkan map di meja, sengaja menjauhkan urusan dunia dari jarak mereka.

“Aku tidak datang untuk membujuk,” katanya. “Aku datang karena malam-malam di sini… terasa lebih jujur.”

Martina tertawa kecil, getir. “Kejujuran sering kali datang terlambat.”

Herda mengangguk. Lalu, tanpa aba-aba, ia mengulurkan tangan—bukan untuk meraih, melainkan menawarkan. Martina menatap telapak tangan itu. Detik meregang. Ketika akhirnya ia menyentuhnya, sentuhan itu seperti percikan kecil yang menyambar cepat. Tidak berbahaya, namun mengingatkan betapa mudah api kembali menyala.

Mereka duduk. Terlalu dekat. Bahu bersentuhan. Napas saling bertabrakan. Kata-kata menjadi jarang. Herda mengusap punggung tangan Martina dengan ibu jarinya—gerakan sederhana yang terasa berlebihan. Martina menutup mata sejenak, mengizinkan sensasi itu mengalir tanpa menuntut apa pun.

“Kau tahu ini candu,” bisik Martina, nyaris tak terdengar.

“Aku tahu,” jawab Herda. “Dan aku juga tahu candu selalu meminta harga.”

Ia mendekatkan dahi ke dahi Martina. Tidak ada ciuman—hanya jarak tipis yang membuat tubuh Martina tegang oleh antisipasi. Herda menyusuri garis rahang Martina dengan napasnya, meninggalkan panas yang tertahan. Martina merespons dengan menggenggam jaketnya, menarik sedikit—cukup untuk mengakui keinginan, tidak cukup untuk menenggelamkan diri.

Ciuman itu akhirnya terjadi, pelan dan terukur. Bukan ledakan, melainkan gelombang yang berulang. Bibir bertemu, berpisah, kembali bertemu—seolah mereka sedang menguji batas yang rapuh. Tangan Herda berhenti di pinggang Martina, jari-jarinya menahan diri. Martina merasakan gemetar halus yang ia kenali sebagai perjuangan.

Ia membalas dengan menyentuh tengkuk Herda, merasakan ketegangan di sana. Dunia menyempit. Kayu, kabut, dan waktu menyatu dalam ritme napas. Tidak ada yang ditanggalkan selain pertahanan. Tidak ada yang diambil selain kehadiran. Mereka berdiri terlalu dekat untuk sekadar kebetulan.

Napas Herda hangat di leher Martina, membuat bulu kuduknya meremang. Tangan pria itu menyusuri sisi tubuhnya dengan keyakinan yang membuat lutut Martina melemah—bukan meremas, melainkan menekan perlahan, seolah menandai wilayah yang diingatnya dengan sangat baik. Martina membalas dengan menarik kerah jaket Herda, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lapar dan tak sabar. Ciuman itu tidak rapi; ada gigitan kecil, desahan tertahan, dan denyut yang tak lagi disembunyikan. Tubuh mereka saling mencari, menempel, merasakan panas yang kian menebal di ruang sempit pondok.

Herda memutar Martina hingga punggungnya menyentuh dinding kayu yang dingin, Sentuhan Herda semakin berani, menyusuri lekuk yang dikenalnya, berhenti cukup lama untuk menyiksa, lalu bergerak lagi dengan ritme yang membuat kepala Martina terasa berdenyut. Ia menutup mata, menyerah pada sensasi yang membuat dunia mengecil menjadi napas, kulit, dan desir kayu.

Dengan gerakan lambat namun pasti, jemari Herda menyelusup ke balik kain baju Martina, menemukan kehangatan kulit yang membuat napasnya tersendat. Sentuhan itu tidak kasar—justru terlalu sadar, terlalu mengenal—membuat Martina tersentak dan mendesah tanpa suara. Ia merasakan tubuhnya bereaksi dengan cara yang tak bisa ia kendalikan, seolah setiap saraf menyala oleh sentuhan yang menuntut namun menahan. Martina mencengkeram lengan Herda, bukan untuk menghentikan, melainkan untuk bertahan dari gelombang yang naik cepat di dadanya.

Herda menunduk ke ceruk leher Martina, sementara tangannya bergerak perlahan, mengeksplorasi dengan kesabaran yang menyiksa. Setiap jeda terasa lebih kejam daripada dorongan, setiap sentuhan lebih berbahaya karena dilakukan dengan kesadaran penuh. Martina menutup mata, tubuhnya menegang lalu melembut, terombang-ambing antara ingin menyerah dan takut tenggelam.

“Kita tidak boleh,” kata Martina, dengan sisa-sisa pertahanannya.

“Kita bisa berhenti,” jawab Herda, jujur. “Atau kita bisa mengakui ini ada—tanpa mengikatnya.”

Mereka memilih jalan ketiga: membiarkan romantisme itu berdenyut tanpa janji. Sentuhan berlanjut, lembut namun mendesak—punggung tangan, bahu, rambut—seperti hujan yang tak pernah benar-benar jatuh deras, tapi cukup untuk membasahi. Martina merasakan tubuhnya merespons, dan untuk sekali ini ia tidak memarahi diri sendiri. Ia mengizinkan—tanpa menyerahkan.

Ketika jarak mulai memanggil bahaya, Herda mundur lebih dulu. Napasnya berat. Matanya gelap oleh keinginan yang ditahan. “Aku harus pergi sebelum aku lupa alasan kenapa aku datang.”

Martina mengangguk. Dadanya naik turun. “Alasanmu selalu punya tenggat.”

Herda tersenyum miring. “Dunia bisnis tidak menunggu siapa pun.”

Di ambang pintu, mereka berhenti. Tidak ada pelukan perpisahan. Hanya tatapan yang menyimpan sisa panas. “Apa pun yang terjadi,” kata Herda, “aku akan menyelesaikannya dengan bersih.”

“Bersih itu jarang,” balas Martina. “Jujur lebih mungkin.”

Herda mengangguk, menerima. Ia melangkah keluar, kabut menelan siluetnya. Martina menutup pintu perlahan, bersandar di kayu yang dingin. Di dadanya, candu itu masih berdenyut—menggoda dan berbahaya—namun kini ia tahu rasanya. Ia tidak perlu mengejarnya. Ia juga tidak perlu menolaknya.

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Bottom of Form