POV: Herda
Jakarta menyambut Herda dengan langit kusam dan gedung-gedung yang berdiri seperti pengadilan bisu. Di lantai dua puluh delapan, ruang rapat itu berkilau—meja panjang dari kaca, kursi kulit yang dingin, pendingin udara yang menggerus napas. Tak ada bau tanah basah, tak ada kabut. Hanya angka-angka yang menunggu untuk dibacakan seperti vonis.
“Pasal penalti berlaku,” kata penasihat hukum perusahaan dengan suara datar. “Pemutusan sepihak kontrak pembangunan resort memicu denda awal 20 milyar, belum termasuk klaim kerugian operasional dan opportunity loss.”
Herda mengangguk. Ia sudah tahu. Ia hanya ingin mendengar seberapa kejam bunyinya ketika diucapkan. Di layar, tabel berganti grafik. Panah merah turun seperti luka yang digoreskan berulang.
“Dengan negosiasi maksimal,” lanjut sang penasihat, “kita bisa menekan total penalti menjadi maksimal 10 milyar. Itu pun dengan syarat jaminan aset.”
“Jaminan apa?” tanya Herda, suaranya rendah.
“Dua properti di Singapura, saham minoritas di anak usaha energi, dan—” jeda singkat, “—nama baik.”
Kata terakhir itu menggelinding pelan namun menghantam keras. Nama baik. Sesuatu yang dibangun bertahun-tahun, runtuh dalam satu keputusan yang diambil karena sebuah gunung—dan seorang perempuan yang berdiri tegak di hadapannya tanpa meminta apa pun.
“Baik,” kata Herda. “Lanjutkan.”
Rapat berakhir tanpa tepuk tangan. Pintu tertutup. Herda tinggal sendiri, memandangi pantulan wajahnya di dinding kaca. Ia tampak lebih tua dari kemarin. Bukan karena lelah, melainkan karena ia akhirnya berhenti bersembunyi di balik kalkulasi.
Teleponnya bergetar. Nomor tak dikenal. Ia menimbang sejenak sebelum menjawab.
“Herda,” suara di seberang terdengar hangat namun penuh kendali. “Kita belum pernah bertemu, tapi aku mengenalmu. Aku Raksana.”
Herda mengenal nama itu. Taipan tua yang berurat emas di berbagai sektor—perbankan, properti, pelabuhan. Pria yang jarang menelpon tanpa alasan.
“Aku mendengar tentang keputusanmu,” lanjut Raksana. “Berani. Mahal.”
“Saya tidak sedang mencari pujian,” jawab Herda.
“Bagus,” Raksana tertawa pelan. “Bagaimana kalau aku menawarkan solusi?”
Mereka kemudian bertemu sore itu di sebuah restoran privat. Kayu gelap, pelayan nyaris tak bersuara. Raksana datang dengan setelan sederhana yang mahalnya tak perlu diumumkan. Matanya tajam, senyumnya tenang—jenis senyum orang yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan tanpa harus mengangkat suara.
“Kau menghadapi penalti besar,” kata Raksana tanpa pembuka. “Investor tidak suka preseden.”
“Saya menyadarinya.”
“Aku bisa menutup lubang itu,” lanjutnya. “Modal segar. Reputasi. Jaringan.”
Herda menahan diri. “Dan harganya?”
Raksana mengaduk tehnya. “Kita bangun proyek lain. Bersih. Cepat. Aku bawa lahannya. Kau bawa nama dan eksekusi.”
Herda mengangguk pelan. “Itu terdengar seperti bisnis.”
“Belum selesai,” Raksana menatap langsung. “Aku ingin kau menikahi putriku.”
Kalimat itu jatuh tanpa gema. Herda tak langsung bereaksi. Ia memandang wajah Raksana—tak ada gurauan di sana.
“Saya tidak mencampuradukkan urusan pribadi dengan bisnis,” kata Herda akhirnya.
“Semua orang bilang begitu,” balas Raksana. “Sampai mereka membutuhkan kepastian.”
Herda menghela napas. “Saya bahkan tidak mengenal putri Anda.”
Raksana tersenyum tipis. “Kau akan mengenalnya. Nadine keras kepala, terbiasa dituruti, dan—” ia memilih kata dengan sengaja, “—hidupnya cepat. Banyak orang menilai itu sebagai masalah. Aku menyebutnya energi.”
Herda mengingat Martina—cara ia berdiri menghadang, cara ia memilih jujur meski gemetar. Energi yang berbeda. Arah yang berlawanan.
“Sayang sekali mungkin saya bukan kandidat yang tepat,” kata Herda. “Saya sedang—” ia berhenti, memilih kejujuran yang tak lengkap, “—memikul konsekuensi.”
“Justru itu,” Raksana mencondongkan tubuh. “Aku butuh menantu yang tahu harga keputusan. Nadine butuh jangkar. Dan kau butuh pintu keluar.”
“Dengan pernikahan sebagai kontrak?” tanya Herda tajam.
“Sebagai aliansi,” jawab Raksana tenang. “Kau akan aman. Proyekmu kembali bernapas. Media akan lupa. Investor akan kembali.”
Herda tersenyum tanpa humor. “Dan jika saya menolak?”
Raksana mengangkat bahu. “Dunia tidak akan runtuh. Hanya akan menjadi lebih sempit.”
Malam menutup kota. Herda berjalan keluar tanpa kesepakatan. Udara terasa berat. Di mobil, ia memijat pelipis. Angka-angka berputar, wajah-wajah rapat, dan di antara semuanya—bayangan pondok kayu dan kabut yang menyimpan panas yang ditahan.
Teleponnya bergetar lagi. Pesan singkat dari penasihat hukum: Investor utama mengajukan gugatan tambahan. Media mulai bergerak.
Herda memejamkan mata. Ia melihat dua jalan yang sama-sama curam. Di satu sisi, pernikahan sebagai pintu darurat—aman, rapi, dan dingin. Di sisi lain, membayar harga penuh—uang, reputasi, dan mungkin masa depan yang tak terpetakan.
Ia membalas pesan singkat kepada Raksana: Saya perlu waktu. Jawaban datang cepat: Waktu adalah kemewahan. Aku memberimu tiga hari. Tiga hari. Angka kecil dengan bobot besar.
Malam itu, Herda kembali ke apartemennya yang sunyi. Ia membuka jas, menaruhnya sembarang. Dari jendela, kota berkilau seperti mesin raksasa yang tak pernah tidur. Ia menuang segelas air, lalu duduk. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia membiarkan dirinya merasakan—takut, rindu, dan kemarahan yang tidak mencari kambing hitam.
Ia mengirim pesan yang ia ragu-ragukan sejak siang: Aku di Jakarta. Tekanan berat. Aku belum memilih. Balasan tidak datang segera. Dan anehnya, penantian itu terasa jujur.
Keesokan harinya, Herda bertemu Nadine—singkat, formal. Perempuan itu datang dengan percaya diri yang berisik. Tawanya cepat, komentarnya tajam, matanya menilai tanpa menahan. Ia berbicara tentang pesta, rencana, dan apa yang ia inginkan. Tidak ada ruang untuk diam. Tidak ada ruang untuk gunung.
“Kau terlalu serius,” kata Nadine, menyeringai. “Ayah bilang kau keras kepala. Aku suka pria yang bisa dikendalikan.”
Herda menatapnya tenang. “Aku tidak bisa dikendalikan.”
Nadine tertawa, kali ini lebih keras. “Semua pria bilang begitu.”
Pertemuan berakhir tanpa kehangatan. Tanpa kebencian. Hanya ketidakcocokan yang telanjang.
Di kantor, angka-angka menunggu. Denda ditegaskan. Aset disiapkan. Telepon berdenting tanpa henti. Herda menandatangani satu berkas demi berkas lain, merasakan setiap goresan pena sebagai langkah menjauh dari jalan mudah.
Malam ketiga, ia berdiri di balkon, menatap kota yang memantulkan keputusannya. Ia membayangkan Raksana, tawaran rapi itu. Ia membayangkan Martina, tatapan yang tidak meminta, hanya menuntut kejujuran.
Herda mengetik satu kalimat, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Akhirnya ia mengirim: Aku menolak aliansi itu. Aku akan bayar harganya.
Ponsel bergetar. Bukan dari Raksana. Dari Martina. Satu kalimat pendek: Apa pun pilihanmu, pastikan itu milikmu. Martina tidak tahu bahwa salah satu pilihan yang dihadapkan pada Herda adalah menikahi perempuan lain.
Di tengah sunyi apartemen, bayangan Martina datang tanpa diundang—cara rambutnya jatuh di bahu, garis rahangnya yang tegas ketika menahan emosi, dan kehangatan yang tersimpan di balik sikap kerasnya. Ingatan itu menyapu Herda seperti gelombang panas, mengaburkan kota di balik kaca. Ia membayangkan napasnya yang dekat, aroma tanah basah yang selalu melekat padanya, dan sentuhan yang tertahan namun menjanjikan.
Tubuh Herda merespons sebelum pikirannya sempat mengerem—denyut yang mengeras di perut, tarikan napas yang memendek, dan ketegangan yang memusat, memaksa ia berdiri dan berjalan, mencoba menenangkan hasrat yang tiba-tiba membara. Bayangan itu tak memberinya kepuasan; justru meninggalkan kekosongan yang menggigit—kerinduan yang tajam, berbahaya, dan tak mudah dipadamkan.
Top of Form
Bottom of Form