POV : Nadine
Nadine percaya pada kesan pertama—bukan karena romantis, melainkan karena ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan sejak kesan pertama itu muncul. Sejak kecil, dunia belajar berputar mengikuti langkahnya. Ayahnya, Surya Raksana, menyebutnya “kekuatan raksasa”: jaringan, modal, nama keluarga, dan kepercayaan diri yang tumbuh tanpa banyak bantahan. Maka ketika ia melihat Herda untuk pertama kalinya di ruang tamu kaca kantor ayahnya—tenang, tajam, dan tampak kelelahan yang disembunyikan—sesuatu berderak di dadanya. Bukan sekadar tertarik. Ia jatuh hati.
Herda tidak menatapnya lama. Justru itu yang memicu api. Pria itu memberi salam sopan, lalu kembali pada pembicaraan bisnis, seolah Nadine hanyalah latar. Nadine, yang terbiasa menjadi pusat gravitasi, merasakan tantangan yang asing dan menggelitik. Ia tidak melihatku sebagai trofi, pikirnya. Ia melihat dunia lain.
Sejak hari itu, Nadine mengatur langkah dengan presisi yang sama seperti ia mengatur peluncuran merek atau akuisisi perusahaan. Ia mengumpulkan informasi—riwayat Herda, proyek yang batal, pinalti yang menggunung, reputasi yang terancam. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami medan. Ia ingin masuk bukan sebagai bayangan ayahnya, tetapi sebagai solusi yang tak terelakkan. “Aku bisa membantumu,” gumamnya pada cermin, mencoba nada yang tepat.
Polemik muncul cepat, bahkan sebelum ia bergerak jauh. Ayahnya menganggap segalanya sebagai transaksi.
“Perasaan adalah bonus,” kata Raksana suatu malam. Nadine membantah, untuk pertama kalinya dengan suara bergetar.
“Aku tidak ingin ia merasa terjerat.” Raksana tertawa kecil.
“Tak ada orang besar yang bebas dari simpul.” Kalimat itu menghantam, memaksa Nadine menimbang batas antara keinginan dan kendali.
Ia memilih jalur yang ia kenal: mendekat lewat kerja. Nadine mengusulkan inisiatif kolaborasi yang tampak bersih—forum keberlanjutan, pendanaan transisi, penataan ulang citra. Ia hadir di setiap rapat Herda, tak mencuri perhatian, hanya hadir dengan ide-ide tajam dan eksekusi rapi. Perlahan, Herda mulai melihatnya—bukan sebagai syarat, melainkan sebagai mitra. Senyum kecil itu, pengakuan singkat di akhir presentasi, menjadi bahan bakar yang membuat Nadine berani melangkah lebih dekat.
Namun, semakin dekat, semakin jelas dinding tak kasatmata itu. Herda sering menahan tatapannya, seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin dibagi. Nadine menangkap isyarat itu, dan cemburu muncul tanpa nama. Ia tahu ada perempuan lain—bukan dari gosip, melainkan dari cara Herda menolak kenyamanan yang ia tawarkan. Ada dunia yang tidak bisa kubeli, akunya dalam hati, dan pengakuan itu membuatnya marah sekaligus tertantang.
Nadine lalu menggunakan kekuatan raksasanya dengan cara yang ia yakini paling aman: menciptakan kebutuhan. Ia mengatur momentum media, memperhalus narasi publik, membuka pintu yang semula tertutup. Ia memastikan setiap langkah Herda terasa lebih ringan saat ia ada. Tetapi setiap kali Herda berterima kasih, Nadine merasakan jarak yang sama. Aku membantu, tapi belum menyentuh, pikirnya. Aku hadir, tapi belum dipilih.
Polemik batin itu menggerogoti malam-malamnya. Ia bertanya pada dirinya sendiri apakah ini cinta atau sekadar obsesi terhadap sesuatu yang tak bisa ia kuasai. Ia teringat masa kecil—ketika ia belajar bahwa menang berarti memiliki. Kini, pelajaran itu retak. Herda bukan properti. Ia manusia dengan luka dan pilihan. Dan Nadine, yang jarang diminta menunggu, mendapati dirinya terjebak dalam waktu.
Suatu sore, ia memberanikan diri. Bukan dengan ultimatum, melainkan kejujuran yang mentah. “Aku tertarik padamu,” katanya sederhana, di sebuah Caffe sunyi yang dipilih Herda. Tidak ada janji, tidak ada syarat. Hanya pernyataan. Herda terdiam lama, lalu menjawab dengan kehati-hatian yang menyakitkan. “Aku menghargainya. Tapi aku sedang berperang dengan hidupku sendiri.” Nadine mengangguk, tersenyum, dan menahan runtuhnya dunia kecil di dadanya.
Setelah itu, ia kembali ke ayahnya dengan sikap yang berubah. “Jika Papi ingin kerja sama, biarkan aku melakukannya tanpa pernikahan,” katanya putus asa. Raksana menatapnya lama. Bagaimanapun, ia memandang Herda sebagai sebuah potensi. “Kau melemah,” ucap ayahnya.
Dunia bisnis menagih kepastian. Ayahnya menunggu keputusan. Media mengendus. Nadine berada di tengah pusaran, mencintai seorang pria yang mungkin tak akan memilihnya, dan menantang sistem yang membesarkannya. Ia menatap kota dari jendela, menyadari bahwa untuk pertama kalinya, ia tidak tahu bagaimana menang.
Nadine bukan penyabar. Ia kembali menemui Herda. Ruang kerja Herda sore itu setengah gelap. Tirai belum ditutup, tapi matahari Jakarta sudah condong, menyisakan cahaya keemasan yang tipis. Herda berdiri di depan papan kaca, menandai ulang skema restrukturisasi proyek. Ketukan sepatu terdengar tegas dari belakang.
“Kau selalu bekerja seolah dunia akan runtuh kalau kau berhenti lima menit,” suara Nadine terdengar, ringan tapi mengandung tuntutan.
Herda menoleh. “Kalau aku berhenti, angka-angka itu tidak berhenti,” jawabnya datar.
Nadine melangkah masuk tanpa diminta, menaruh tasnya di kursi, lalu menyilangkan tangan. Ia menatap Herda lama—terlalu lama untuk sekadar rekan bisnis. “Papi ingin jawaban,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Dan aku ingin kejujuran,” Nadine menyambung cepat. “Bukan versi rapat. Versi manusia.”
Herda menghela napas, meletakkan spidol. “Nadine, aku sudah jujur. Aku belum siap—”
“Belum siap atau tidak mau?” potong Nadine, suaranya meninggi sedikit sebelum ia menahannya.
“Kau selalu menghindar di kalimat itu.” Keheningan menegang. Nadine melangkah lebih dekat, menurunkan suara.
“Aku tidak bodoh, Herda. Aku tahu kau membawa beban. Aku tahu ada masa lalu. Tapi aku ada di sini—aku membantu, aku membuka jalan. Kenapa itu tidak cukup?”
Herda menatapnya, mata lelah tapi teguh. “Karena ‘cukup’ bukan soal bantuan. Ini soal pilihan.”
Kata itu menghantam. Nadine tertawa kecil, getir. “Pilihan?” Ia menggeleng. “Aku tidak pernah diperlakukan sebagai opsi. Sejak kapan aku jadi sesuatu yang bisa kau tunda?”
“Nadine—”
“Tidak,” katanya cepat.
“Dengarkan aku.” Ia mendekat satu langkah lagi, jarak mereka menyempit.
“Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Aku tidak bermain-main. Tapi kau…” suaranya bergetar sesaat, lalu mengeras, “…kau membuatku merasa seolah aku harus membuktikan nilai diriku.”
Herda terdiam. “Itu bukan niatku.”
“Tapi begitu efeknya padaku,” balas Nadine.
“Setiap kali kau menarik diri, egoku berteriak. Aku ingin melangkah lebih jauh hanya untuk memastikan aku bisa. Dan aku benci perasaan itu.”
Ia memalingkan wajah, menelan napas.
“Aku tidak tahu kapan perasaan ini berubah,” lanjutnya lirih.
“Dari ingin dekat… menjadi takut kalah.”
Herda melangkah mendekat, tapi berhenti sebelum menyentuh.
“Aku tidak ingin menjadi medan perang egomu.”
Nadine menoleh cepat. “Dan aku tidak ingin menjadi perempuan yang menunggu tanpa kepastian.” Matanya berkaca-kaca, namun sorotnya tajam.
“Jika kau memilih pergi, katakan. Jangan biarkan aku berharap karena aku mampu memaksamu tinggal.”
Kalimat itu menggantung—jujur, berbahaya.
Di koridor, Nadine menyandarkan punggung ke dinding, menutup mata. Tangannya mengepal. Bukan patah hati yang membuatnya gemetar—melainkan kenyataan bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang tidak bisa ia menangkan dengan kekuatan, uang, atau nama besar.
Dan justru karena itulah, ia semakin menginginkannya.
Top of Form
Bottom of Form
Top of Form
Bottom of Form